Langkah Berat di Tanah Kering Gunung Sibayak
Debu mengepul setiap kali sepatu bot kami menjejak. Gunung Sibayak, di puncak musim kemarau, menyuguhkan pemandangan tandus namun memikat. Kami berempat—Rendi, Bram, Lia, dan Doni—memulai pendakian dengan semangat membara. Udara kering menusuk paru, menjanjikan tantangan yang sesungguhnya.
Lia, yang dikenal sensitif, adalah yang pertama merasakan kejanggalan. Di tengah jalur kerikil yang menanjak, ia tiba-tiba berhenti. Matanya menyapu horizon, seolah mencari sesuatu yang tak kasat mata. “Ada yang aneh,” bisiknya, suaranya nyaris hilang ditiup angin.
Kami menoleh, mencari apa yang ia maksud. Hanya ada bebatuan kering, semak belukar yang meranggas, dan langit biru pekat. Bram, sang pemimpin kelompok, menenangkan Lia, menganggapnya hanya kelelahan awal. Kami melanjutkan perjalanan.
Langkah kami terus berlanjut, irama monoton sepatu beradu batu. Namun, perlahan, sebuah ritme lain menyusup. Suara langkah berat, teratur, seolah mengikuti tepat di belakang kami. Padahal, tak ada siapa pun di sana.
Doni, si paling ceria, mencoba mencairkan suasana dengan lelucon. “Mungkin itu Bigfoot Sibayak sedang jogging pagi!” tawanya hambar. Tapi matanya tak bisa menyembunyikan kegelisahan yang mulai tumbuh.
Kabut tipis tiba-tiba menyelimuti, meski langit terang benderang. Pemandangan di sekitar kami seolah bergeser, jalur yang familiar mendadak asing. Panasnya udara beradu dengan hawa dingin yang menusuk tulang, menciptakan sensasi yang membingungkan.
Jantung berdebar lebih cepat dari langkah kaki. Keheningan yang aneh mencengkeram. Bahkan desiran angin pun terdengar seperti bisikan misterius. Kami mencoba mengabaikannya, namun rasa diawasi semakin kuat, menusuk hingga ke tulang.
Waktu terasa memanjang dan memendek tak beraturan. Kami kehilangan jejak berapa jam telah berlalu, berapa jauh kami telah berjalan. Memori tentang permulaan pendakian mulai kabur, digantikan kabut ketakutan yang merayap perlahan.
Bram berulang kali mengecek peta, dahinya berkerut dalam kebingungan. “Jalurnya… berubah,” gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri. Kompas seolah berputar gila, menunjuk arah yang tak masuk akal. Kami tersesat, tanpa disadari.
Di lapisan debu tebal, terukir jejak kaki. Bukan jejak sepatu kami, melainkan jejak telanjang yang besar dan berat. Jejak itu muncul dan menghilang secara misterius, seolah tak memiliki asal-usul, hanya ada begitu saja.
Lia mencengkeram lengan Bram, wajahnya pucat pasi. “Itu… mengikuti kita,” bisiknya, suaranya bergetar. Udara di sekitar kami terasa menebal, dan aroma aneh, seperti tanah basah bercampur belerang, mulai tercium samar.
Kami mempercepat langkah, mencoba menjauh dari jejak-jejak aneh itu. Namun, suara langkah berat di belakang kami justru terdengar semakin dekat, seolah berlari mengejar. Debu mengepul di belakang kami, bukan dari jejak kaki kami.
Tiba-tiba, Doni tersandung akar kering yang entah dari mana muncul. Ia terjatuh, dan saat ia bangkit, matanya membelalak. “Ada yang melihat kita,” desisnya, menunjuk ke arah tebing yang curam. Hanya ada bayangan pepohonan.
Malam tiba tanpa peringatan, kegelapan menelan segalanya dengan cepat. Kami memutuskan mendirikan tenda di sebuah dataran kecil yang lapang, berharap kegelapan akan menyembunyikan kami. Dingin menusuk tulang, bahkan di dalam tenda.
Suara langkah berat itu kembali, kini begitu dekat, mengelilingi kami. Debu di luar tenda bergeser, seolah ada sesuatu yang besar bergerak di sekitar kami. Kami menahan napas, tak berani bergerak, bahkan untuk sekadar berbisik.
Sebuah bayangan raksasa terpantul di dinding tenda, membungkuk. Jantung kami berdegup tak beraturan, memukul-mukul rusuk. Bau tanah kering bercampur dengan aroma amis yang memualkan, menusuk hidung kami.
Lalu, suara itu… desisan rendah, seperti ular raksasa yang lapar, mengelilingi tenda kami. Sebuah erangan pilu menyusul, memecah keheningan malam. Kami meringkuk, saling berpegangan, tak sanggup bersuara.
Bram menyalakan senter, cahayanya menembus kegelapan, menyapu sekeliling. Sekilas, kami melihat mata merah menyala di balik pepohonan kering, menatap lurus ke arah tenda kami. Tatapan itu dingin, kosong, namun penuh ancaman.
Dan kemudian, hanya kegelapan dan keheningan yang tersisa. Suara desisan menghilang, langkah berat itu lenyap. Tapi langkah berat itu… terasa di dada kami, beresonansi dengan detak jantung yang nyaris lepas.
Kami tak tahu berapa lama kami bertahan dalam ketakutan itu. Mungkin jam, mungkin hanya menit. Namun terasa seperti keabadian. Keringat dingin membasahi tubuh, bercampur dengan debu gunung yang menempel di kulit.
Saat fajar pertama menyingsing, kami tak menunggu. Tanpa komando, kami membongkar tenda secepat kilat. Ransel disampirkan sembarangan, tak peduli isinya. Hanya satu tujuan: keluar dari gunung terkutuk ini.
Kami berlari menuruni gunung yang kini terasa seperti jebakan mematikan. Langkah kami tak lagi berat karena beban ransel, melainkan karena horor yang tak terlukiskan. Setiap batu yang terinjak adalah pengingat akan malam itu.
Matahari terbit, namun tak membawa kelegaan. Bayangan menari di setiap sudut pandang, seolah sosok tak kasat mata itu masih mengikuti. Kami terus berlari, tak peduli arah, hanya ingin keluar dari cengkeraman gunung yang telah berubah.
Tenggorokan kami kering kerontang, paru-paru terasa terbakar. Namun rasa takut jauh lebih dominan daripada rasa haus. Kami hanya ingin mencapai kaki gunung, merasakan kembali sentuhan peradaban yang aman.
Lia sesekali berbalik, matanya liar mencari-cari. “Dia masih di sana,” bisiknya, napasnya tersengal. Kami tak berani melihat ke belakang, takut akan apa yang mungkin kami temukan, atau apa yang mungkin menemukan kami.
Kami ditemukan tim SAR di kaki gunung, dalam keadaan syok dan dehidrasi parah. Cerita kami dianggap halusinasi akibat kelelahan ekstrem dan kurangnya oksigen di ketinggian. Tak ada yang percaya pada ‘Bigfoot’ atau ‘mata merah’.
Tapi kami tahu yang sebenarnya. Luka di jiwa kami jauh lebih dalam dari goresan di tubuh. Rasa dingin yang menusuk, aroma amis yang memuakkan, dan terutama… suara langkah berat itu, masih menghantui tidur kami.
Debu kering Gunung Sibayak seolah menempel di jiwa, tak terhapuskan. Setiap kali angin berdesir, kami teringat desisan itu. Setiap bayangan panjang, kami teringat mata merah yang menatap kami dari kegelapan.
Kami tak pernah lagi mendaki gunung, tak pernah lagi mencari petualangan di alam liar. Gunung Sibayak, dengan keindahan tandusnya, kini menjadi monumen bisu bagi ketakutan kami. Misteri di tanah kering itu, tetap menjadi rahasia yang tak terpecahkan.
Dan kadang, di tengah malam yang sunyi, kami bisa mendengar. Suara langkah berat, teratur, mengentak di kejauhan. Sebuah pengingat bahwa kami pernah bertemu sesuatu yang tak seharusnya kami temui, di tanah kering Gunung Sibayak.





