Scroll untuk baca artikel
Provinsi Sumatera Utara

Warga Geger! Penjual Bunga Tua Ini Menghilang Secara Misterius di Tengah Pasar

14
×

Warga Geger! Penjual Bunga Tua Ini Menghilang Secara Misterius di Tengah Pasar

Share this article

Warga Geger! Penjual Bunga Tua Ini Menghilang Secara Misterius di Tengah Pasar

Hilangnya Sang Penjual Bunga: Misteri di Sudut Kota

Pagi selalu datang membawa aroma melati dan mawar dari keranjang anyaman Pak Karto. Di sudut jalan itu, dekat kedai kopi tua, ia adalah mercusuar kehangatan. Sosok ringkih dengan senyum tulus, Pak Karto adalah bagian tak terpisahkan dari denyut nadi kota.

Setiap hari, tanpa kecuali, sejak fajar menyingsing, ia ada di sana. Menata bunganya dengan jemari keriput, menyapa pejalan kaki dengan suara serak namun menenangkan. Ia lebih dari sekadar penjual bunga; ia adalah pendengar setia, pemberi nasihat bijak, dan penjaga rahasia kota.

Anisa, seorang penulis lepas yang sering menghabiskan pagi di kedai kopi itu, adalah salah satu pelanggannya. Ia selalu membeli satu tangkai mawar putih, sekadar untuk menyapa Pak Karto. Ada kedamaian yang aneh dari kehadiran lelaki tua itu.

Namun, suatu pagi yang cerah, kedamaian itu pecah. Keranjang anyaman kosong. Kursi lipatnya terlipat rapi, bersandar pada tembok. Aroma melati yang biasa tercium, kini hanya bayangan.

Pak Karto tidak ada.

Awalnya, Anisa berpikir ia mungkin sakit. Mungkin hanya cuti sebentar, hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Para pemilik toko di sekitarnya pun saling pandang, mencoba menepis kegelisahan yang mulai merayapi.

Satu hari berlalu. Kemudian dua. Tiga. Kekosongan di sudut jalan itu semakin terasa. Bukan hanya Anisa yang merasakan, tetapi seluruh lingkungan. Sebuah lubang menganga di kain tenun keseharian mereka.

Suara-suara bisik-bisik mulai terdengar. “Kemana Pak Karto?” “Ada apa dengannya?” Pertanyaan-pertanyaan itu melayang di udara, tanpa jawaban. Kecemasan berubah menjadi kekhawatiran yang dingin.

Anisa memutuskan untuk bertindak. Ia merasa memiliki ikatan khusus dengan Pak Karto, lebih dari sekadar penjual dan pembeli. Ada sesuatu yang salah, firasat gelap yang tak bisa ia abaikan.

Ia mulai bertanya kepada para pedagang lain. Ibu Ningsih, pemilik warung nasi, hanya menggelengkan kepala. “Saya tidak melihatnya, Nduk. Tidak ada yang tahu.” Wajahnya terlihat pucat.

Penjual koran di seberang jalan, Pak Budi, pun tak bisa memberikan petunjuk. “Terakhir kali saya lihat, dia sedang menyiram bunganya. Itu kemarin lusa, saat senja.” Matanya menyiratkan ketakutan.

Polisi pun dihubungi, namun responsnya tidak secepat yang Anisa harapkan. “Penghilangan orang tua? Mungkin lupa jalan pulang, Nona. Biar kami selidiki.” Nada bicara mereka terdengar meremehkan.

Anisa tahu itu lebih dari sekadar lupa jalan pulang. Pak Karto adalah pria yang sangat teratur. Ia tidak punya keluarga dekat yang bisa dihubungi. Ia hidup sederhana, hanya bunga-bunganya yang menjadi sahabat.

Malam itu, Anisa tak bisa tidur. Bayangan senyum Pak Karto terlintas di benaknya. Ia ingat, beberapa minggu sebelumnya, Pak Karto pernah berkata sesuatu yang aneh.

“Dunia ini menyimpan banyak rahasia, Nduk. Beberapa di antaranya tidak seharusnya terkuak.” Suaranya waktu itu terdara lebih serius dari biasanya.

Apakah perkataan itu petunjuk? Atau hanya bualan seorang kakek tua? Anisa merasa otaknya berputar, mencari kepingan teka-teki.

Keesokan harinya, Anisa mengunjungi rumah Pak Karto. Sebuah gubuk kecil di pinggir kota, sederhana dan sunyi. Gerbangnya sedikit terbuka, seolah baru ditinggalkan.

Namun, lapisan debu tebal bercerita lain. Sudah beberapa hari tidak ada yang masuk. Jendela-jendela tertutup rapat, seolah menyembunyikan sesuatu.

Anisa mendorong pintu yang tidak terkunci. Udara di dalamnya pengap dan dingin. Rumah itu kecil, hanya ada satu kamar tidur dan dapur mungil. Semua tertata rapi, bersih, seolah pemiliknya baru saja pergi sebentar.

Di atas meja kecil di ruang tamu, ada sebuah buku tua. Sampulnya usang, tanpa judul. Anisa membukanya perlahan. Isinya bukan catatan keuangan atau diary.

Itu adalah sebuah buku sketsa. Gambar-gambar bunga yang rumit, detail yang menakjubkan. Tapi di tengah-tengah sketsa bunga biasa, ada satu halaman yang menarik perhatiannya.

Sketsa bunga yang belum pernah ia lihat. Kelopaknya hitam pekat, tangkainya berduri tajam, dan di tengahnya, sebuah inti berwarna merah darah. Bunga itu tampak mengerikan, namun memesona.

Di bawah sketsa itu, ada tulisan tangan Pak Karto, kecil dan rapi: “Bunga Malam. Mekar saat kegelapan paling pekat. Membuka jalan yang tak terlihat.”

Jantung Anisa berdegup kencang. Apa artinya ini? Apakah Pak Karto terlibat dalam sesuatu yang lebih gelap dari yang ia bayangkan?

Ia terus mencari. Di laci meja, ia menemukan sebuah kotak kayu kecil. Di dalamnya, ada beberapa koin kuno dan sebuah liontin perak berbentuk bunga melati. Liontin itu terasa dingin di tangannya.

Tidak ada petunjuk lain. Tidak ada surat, tidak ada pesan. Seolah Pak Karto hanya menghilang begitu saja, meninggalkan jejak minimalis.

Polisi akhirnya datang ke rumah Pak Karto, namun mereka tidak menemukan apa-apa yang “menarik”. “Hanya rumah orang tua biasa,” kata salah satu petugas, ekspresinya bosan.

Kasus Pak Karto mulai dingin. Orang-orang mulai melupakannya, menganggapnya sebagai salah satu dari sekian banyak orang yang lenyap di kota besar. Namun, Anisa tidak bisa.

Bunga sketsa itu menghantuinya. “Bunga Malam.” Ia mencoba mencari tahu tentang bunga itu di internet, di buku-buku botani. Tidak ada yang cocok.

Semakin ia mencari, semakin ia merasa terjebak dalam jaring misteri. Pak Karto yang sederhana, ternyata menyimpan rahasia. Rahasia yang mungkin membawanya pergi.

Beberapa minggu kemudian, Anisa kembali ke sudut jalan itu. Keranjang anyaman Pak Karto masih ada, kini ditutupi debu. Aroma melati telah lenyap sepenuhnya.

Namun, saat ia berbalik untuk pergi, pandangannya menangkap sesuatu. Di sela-sela retakan trotoar, tumbuh setangkai bunga kecil. Kelopaknya gelap, hampir hitam.

Bunga itu terlihat asing, aneh. Tidak ada di kebun kota, tidak dijual di toko bunga manapun. Anisa berjongkok, mengamatinya lekat-lekat.

Warnanya gelap pekat, nyaris seperti malam. Bentuknya tak lazim, dengan sedikit duri halus di tangkainya. Sebuah sensasi dingin menjalari jemarinya saat ia menyentuhnya.

Bukan hanya itu. Di tengah kegelapan kelopaknya, samar-samar, Anisa melihat sebuah inti merah darah. Persis seperti sketsa di buku Pak Karto.

Bunga Malam.

Napas Anisa tertahan di tenggorokan. Ini bukan kebetulan. Ini adalah pesan, atau mungkin sebuah jejak yang ditinggalkan Pak Karto.

Apakah bunga ini tumbuh begitu saja? Atau apakah seseorang menanamnya di sana? Dan jika iya, untuk apa? Untuk siapa?

Ia memetik bunga itu dengan hati-hati. Kehadirannya di sana terasa begitu janggal, begitu menyeramkan. Seolah-olah bunga itu adalah sisa dari sebuah ritual kuno, atau pintu menuju dimensi lain.

Anisa kembali ke rumahnya, membawa bunga misterius itu. Semakin lama ia menatapnya, semakin ia merasa ketakutan. Pak Karto bukan hanya hilang. Ia mungkin telah pergi ke tempat yang tak terjangkau akal sehat.

Malam itu, bunga itu diletakkannya di samping laptopnya. Ketika kegelapan memeluk kota, Anisa bersumpah ia melihat kelopak bunga itu sedikit berdenyut. Seolah bernapas.

Dan dari balik kelopak hitamnya, seberkas cahaya merah redup memancar. Cahaya yang terasa dingin, namun memanggil.

Anisa merasa seperti berdiri di tepi jurang. Misteri Pak Karto tidak terpecahkan. Sebaliknya, ia kini dihadapkan pada pertanyaan yang lebih besar, lebih menakutkan.

Apakah Pak Karto menemukan “jalan yang tak terlihat” yang ia tulis? Apakah ia melangkahinya, masuk ke dalam kegelapan yang diwakili oleh Bunga Malam?

Sosok tua penjual bunga yang ramah itu telah lenyap, meninggalkan jejak yang nyaris tak terlihat. Hanya sebuah bunga aneh, dan sebuah misteri yang membeku dalam waktu.

Dan Anisa tahu, bunga itu bukan sekadar bunga. Ia adalah kunci, atau mungkin peringatan, dari sebuah dunia yang tersembunyi. Dunia yang kini, entah bagaimana, telah menyentuhnya.

Misteri Pak Karto belum berakhir. Itu baru saja dimulai. Dan Anisa, sang penulis, kini menjadi bagian dari narasi yang lebih gelap, lebih rumit dari yang pernah ia bayangkan.

Suara angin malam berdesir, seolah membisikkan nama Pak Karto. Dan di sudut jalan yang kini sunyi, tak ada lagi aroma melati, hanya bayangan kegelapan yang ditinggalkan oleh seorang penjual bunga yang hilang.

Sosok Tua Penjual Bunga yang Hilang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *