Bayangan Terakhir: Penumpang Senyap di Bus Bekasi-Bandung
Malam merangkak pelan, memeluk Terminal Bekasi dalam sunyi. Lampu-lampu merkuri menumpahkan cahaya kuning pucat, menari di genangan hujan yang baru saja reda. Udara dingin dan lembap menyusup, membawa aroma aspal basah dan knalpot yang memudar.
Pak Budi, sopir bus AKAP “Bintang Kejora,” menghela napas panjang. Shift malam selalu terasa lebih berat, lebih panjang, lebih sepi. Ia menanti keberangkatan terakhir menuju Bandung, pukul 00.30 WIB, bus yang nyaris kosong.
Satu per satu, beberapa penumpang yang tersisa turun. Mereka adalah jiwa-jiwa lelah yang telah menempuh perjalanan jauh, kini disambut kegelapan malam. Bus kini benar-benar kosong, hanya Pak Budi dan kenangan sisa hari.
Ia memeriksa spion, memastikan tidak ada lagi barang tertinggal. Sebuah ketenangan singkat menyelimutinya, sebelum perjalanan panjang dimulai. Namun, pandangannya terhenti. Di anak tangga bus, ada sesosok bayangan.
Wanita tua itu berdiri di ambang pintu, seperti muncul dari ketiadaan. Rambutnya disanggul rapi, mengenakan kebaya lusuh berwarna cokelat gelap. Wajahnya pucat, nyaris tanpa ekspresi, seolah diukir dari pualam tua.
Matanya, entah mengapa, terasa begitu kuno dan dingin. Tak ada senyum, tak ada sapaan, hanya tatapan lurus ke depan. Pak Budi tertegun, merasa ada yang janggal. Biasanya penumpang akan menyapa atau bertanya.
“Mau ke mana, Bu?” tanya Pak Budi, suaranya sedikit tercekat. Wanita itu hanya mengangguk pelan, tanpa suara. Ia melangkah masuk, gerakannya halus, nyaris tak terdengar, seperti daun jatuh di pagi buta.
Ia memilih kursi paling belakang, di pojok kiri. Posisi yang aneh untuk penumpang tunggal. Biasanya orang akan memilih kursi di depan, dekat sopir, untuk merasa lebih aman atau sekadar mengobrol.
Pak Budi mencoba mengabaikan perasaan ganjil itu. Mungkin wanita itu hanya lelah, atau memang pendiam. Ia memutar kunci, mesin diesel meraung pelan, memecah kesunyian terminal yang mencekam.
Bus melaju, perlahan meninggalkan hiruk pikuk Bekasi yang tidur. Jalanan mulai gelap, hanya diterangi lampu depan bus dan sesekali kilatan petir jauh di ufuk. Hujan kembali rintik, menabuh kaca depan.
Pak Budi melirik spion tengah. Wanita itu masih di sana, duduk tegak. Ia tidak menyandar, tidak bergerak, seperti patung yang disemayamkan. Tatapannya lurus ke depan, menembus kegelapan di luar jendela.
Rasa dingin merayap dari belakang, bukan dingin AC, melainkan dingin yang menusuk tulang. Pak Budi mengencangkan kerah jaketnya. Ia mencoba fokus pada jalan, namun pandangannya terus tertarik ke spion.
Setiap beberapa menit, ia melirik. Wanita itu tak pernah mengubah posisinya. Terlalu kaku, terlalu diam. Bahkan dalam pantulan spion, ia terlihat seperti siluet buram, bukan sosok yang nyata dan bernapas.
Tiba-tiba, suara radio bus mendesis, memecah keheningan. Stasiun yang tadinya jernih kini dipenuhi statis, diselingi bisikan-bisikan samar. Pak Budi mencoba mengganti saluran, namun hasilnya sama.
Ia mematikan radio. Lebih baik sunyi daripada mendengar suara-suara aneh itu. Namun, kesunyian itu justru terasa lebih berat, seolah dipenuhi oleh kehadiran tak terlihat yang menekan indranya.
Melalui spion, ia merasa tatapan wanita itu kini lebih intens. Seperti sepasang mata hantu yang mengawasinya. Ia bisa merasakan bulu kuduknya merinding, meskipun ia mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanya kelelahan.
Saat melintasi daerah Karawang yang sepi, kabut tipis mulai turun. Jalanan menjadi licin, pandangan terbatas. Pak Budi mengemudi lebih hati-hati, namun ketegangan di dalam bus semakin terasa.
Ia kembali melirik spion. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Wanita itu tidak lagi di kursi belakang. Ia kini duduk di baris ketiga dari belakang, dua kursi lebih dekat dengannya.
Bagaimana bisa? Pak Budi tidak mendengar suara langkah, tidak ada gesekan pakaian. Ia hanya muncul di sana, seperti teleportasi. Keringat dingin mulai membasahi dahinya, meskipun udara bus dingin.
Ia menelan ludah. “Ibu butuh sesuatu?” tanyanya, suaranya gemetar. Wanita itu tidak menjawab. Hanya tatapan dingin itu yang kini terasa lebih dekat, lebih menghujam. Ada sesuatu yang tak wajar di sana.
Pak Budi mencoba menenangkan diri. Mungkin ia memang pindah saat Pak Budi fokus mengemudi. Ya, itu pasti. Ia hanya terlalu lelah dan paranoid. Tapi, nalurinya berteriak bahwa ada yang salah.
Bau aneh mulai tercium di dalam bus. Bau tanah basah bercampur melati, namun ada sedikit aroma apek, seperti kain lama yang disimpan di peti mati. Bau itu terasa begitu kuat, menyesakkan napas.
Ia melaju lebih cepat, berharap segera tiba di Bandung. Setiap tikungan, setiap guncangan bus, membuat jantungnya berdebar kencang. Ia takut melirik spion lagi, namun rasa ingin tahu itu terlalu kuat.
Akhirnya, ia menyerah pada desakan hatinya. Ia melirik spion lagi. Kali ini, wanita itu duduk di baris kedua. Hanya satu baris di belakangnya. Begitu dekat, begitu nyata, namun terasa begitu tak masuk akal.
Pak Budi merasakan napasnya tertahan di tenggorokan. Wanita itu kini terlihat lebih jelas. Kebayanya yang lusuh tampak basah di beberapa bagian. Rambutnya, meski tersanggul rapi, tampak sedikit acak-acakan.
Dan matanya. Matanya kini terlihat jelas di spion. Kelopak mata yang cekung, dengan lingkaran hitam pekat di bawahnya. Pupilnya membesar, seolah menyerap seluruh cahaya yang ada. Ada kesedihan dan kehampaan di sana.
Ia memacu bus lebih kencang, jarum speedometer menunjuk angka yang tak seharusnya di jalan berkabut. Ia ingin melarikan diri, melarikan diri dari tatapan itu, dari bau itu, dari hawa dingin yang menusuk.
Tiba-tiba, ia merasakan embusan napas dingin di tengkuknya. Pak Budi menegang. Ia tahu ia tidak sendirian di kursi kemudi. Ia tahu ada yang berdiri di belakangnya, begitu dekat.
Ia tidak berani menoleh. Jantungnya berdebar seperti genderang perang. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Ia mencengkeram kemudi erat-erat, buku-buku jarinya memutih.
“Siapa… siapa Anda?” bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar. Tidak ada jawaban, hanya keheningan yang lebih pekat, lebih dingin. Namun, ia merasakan kehadiran itu begitu nyata, begitu menakutkan.
Bayangan di spion kini sangat jelas. Wanita itu berdiri tepat di belakang kursinya, wajahnya hanya beberapa inci dari kepalanya. Bibirnya yang pucat sedikit terbuka, seperti ingin mengatakan sesuatu.
Pak Budi menutup mata rapat-rapat selama sepersekian detik, berdoa agar semua ini hanya mimpi. Ketika ia membuka mata, bayangan itu masih di sana. Ia bisa melihat detail kerudung yang ia kenakan.
Kerudung itu berwarna abu-abu kusam, dengan sulaman bunga melati yang nyaris pudar. Terlihat sangat tua, sangat usang, seolah sudah berusia puluhan tahun. Dan itu basah, meneteskan air ke lantai bus.
Ia tiba-tiba teringat. Aroma melati yang tercium. Aroma tanah basah. Dan dingin yang menusuk. Semua itu bukan kebetulan. Ini bukan penumpang biasa. Ini adalah sesuatu yang lain.
Bus tiba-tiba tersentak keras, seolah menabrak sesuatu yang tak terlihat. Pak Budi terlempar ke depan, kepalanya membentur kemudi. Rasa pusing melanda, pandangannya berputar.
Ia berusaha mengendalikan bus, yang kini melaju oleng di jalanan yang licin. Setelah beberapa detik yang terasa seperti keabadian, ia berhasil menstabilkan kemudi. Napasnya terengah-engah.
Dengan sisa keberanian yang ia miliki, Pak Budi melirik spion. Kosong. Wanita itu tidak ada. Tidak di belakangnya, tidak di kursi baris kedua, tidak di manapun di dalam bus. Ia menghilang.
Bus itu kembali sunyi, hanya suara wiper yang membersihkan kaca depan. Namun, rasa dingin itu masih ada, dan bau melati busuk itu masih menusuk hidung. Pak Budi mengemudi sisa perjalanan dalam kebisuan yang mencekam.
Saat bus akhirnya memasuki Terminal Bandung yang sepi, fajar mulai menyingsing. Cahaya keperakan memudar, namun tidak menghapus bayangan dari pikirannya. Ia memarkir bus, mesin dimatikan.
Ia turun dari kursi kemudi, kakinya terasa lemas. Ia melangkah ke belakang bus, memeriksa setiap kursi. Kosong. Tidak ada tanda-tanda wanita tua itu. Tidak ada apa pun yang tertinggal.
Namun, saat ia mencapai kursi paling belakang, di pojok kiri, tempat wanita itu duduk pertama kali, ia menemukan sesuatu. Tergeletak di lantai, basah dan lusuh, adalah sehelai kerudung abu-abu kusam.
Sulaman bunga melati di kerudung itu kini terlihat lebih jelas, namun warnanya benar-benar pudar, seperti telah dicuci ribuan kali atau terendam dalam lumpur. Kerudung itu dingin, dan lembap.
Pak Budi mengambilnya dengan jemari gemetar. Kerudung itu terasa berat, seolah menyimpan beban tak terucap. Ia menjatuhkannya lagi, seolah terbakar. Ini adalah kerudung yang sama yang ia lihat di spion.
Keesokan harinya, ia mencoba mencari tahu. Bertanya kepada teman sesama sopir, kepada petugas terminal. Ia bercerita tentang penumpang misterius itu, meskipun ia tahu ceritanya akan terdengar gila.
Seorang petugas terminal tua, dengan wajah penuh kerutan, mendengarkan kisahnya dengan saksama. Setelah Pak Budi selesai, petugas itu menatapnya dengan pandangan nanar.
“Dulu, Pak Budi,” kata petugas itu pelan, suaranya serak. “Ada kecelakaan bus di jalur itu. Puluhan tahun lalu. Bus Bintang Kejora juga.”
“Bus itu terperosok jurang di daerah Karawang. Tidak ada yang selamat,” lanjutnya. “Salah satu penumpangnya adalah seorang wanita tua, ia duduk di kursi paling belakang. Rambutnya disanggul, pakai kebaya.”
“Ia selalu memakai kerudung abu-abu dengan sulaman melati,” tambahnya, matanya menatap jauh. “Jasadnya tak pernah ditemukan utuh. Hanya beberapa barang, termasuk kerudungnya yang basah dan lusuh.”
Pak Budi merasakan darahnya berdesir dingin. Ia tak bisa berkata-kata. Wanita itu, kerudung itu, bau melati itu, semua terhubung. Ia telah mengantar pulang arwah yang tak pernah sampai di tujuannya.
Sejak malam itu, Pak Budi tak pernah lagi mengambil rute malam Bekasi-Bandung. Ia memilih jalur lain, rute siang. Namun, setiap kali ia melihat spion busnya yang kosong, ia bisa merasakan tatapan itu.
Ia bisa mencium samar bau melati basah, dan hawa dingin yang menusuk. Ia tahu, bayangan terakhir dari bus Bekasi-Bandung itu akan selamanya menghantuinya, sebuah misteri yang tak terpecahkan.








