Rekaman Suara dari Kamar Kos 7B: Bisikan Terakhir Lina
Kamar Kos 7B di Wisma Senja selalu diselimuti aura aneh. Bahkan sebelum aku menginjakkan kaki di sana, desas-desus sudah berbisik di lorong-lorong gelap. Namun, sebagai mahasiswa perantau, harga sewa yang murah adalah daya tarik tak tertandingi.
Aku, Arif, menemukan perekam suara itu tersembunyi di bawah kasur. Sebuah model lama, berdebu, seolah ditinggalkan tergesa-gesa. Rasa penasaran mengalahkan naluri untuk mengabaikannya begitu saja.
Malam itu, ditemani secangkir kopi hitam dan keheningan kamar, aku menekan tombol “play”. Desiran statis memenuhi ruangan, disusul suara-suara samar yang tak kukenali. Sepertinya rekaman itu sudah sangat lama.
Tiba-tiba, sebuah bisikan lirih terdengar. Sangat pelan, hampir tak terdengar, seolah seseorang berbicara pada dirinya sendiri. Kemudian, suara gesekan, seperti sesuatu yang diseret di lantai kayu.
Jantungku berdebar lebih cepat. Keheningan kamar 7B terasa semakin mencekam. Aku memutar volume lebih tinggi, berusaha menangkap setiap detail dari rekaman yang aneh ini.
Ada jeda panjang, hanya suara napas yang terengah-engah. Lalu, sebuah melodi. Sebuah lagu pengantar tidur anak-anak, dinyanyikan dengan nada sumbang, terdistorsi, seolah berasal dari tenggorokan yang tercekat.
Rasa dingin merayapi punggungku. Lagu itu berhenti tiba-tiba, digantikan oleh suara garukan panik. Kuku-kuku yang mengikis permukaan keras, berulang-ulang, semakin cepat, semakin keras.
Dan kemudian, sebuah pekikan. Bukan pekikan biasa, melainkan jeritan putus asa yang menggema, penuh ketakutan yang tak terlukiskan. Jeritan itu terpotong begitu saja, seolah sumber suara itu menghilang dalam sekejap.
Perekam itu sunyi. Hanya statis yang tersisa. Tanganku gemetar saat menekan tombol stop. Siapa yang merekam ini? Apa yang sebenarnya terjadi di kamar ini sebelum aku menempatinya?
Keesokan harinya, aku mencoba mencari tahu. Pak Harun, pemilik kos, seorang pria tua dengan wajah keras, selalu tampak gelisah setiap kali aku menyebut kamar 7B. “Itu kamar biasa, Nak. Tidak ada apa-apa,” katanya singkat, menghindari tatapanku.
Tapi matanya tak bisa menyembunyikan sesuatu. Ada bayangan ketakutan di sana, seolah ia tahu lebih banyak dari yang ia katakan. Aku tidak menyerah. Aku mulai bertanya pada penghuni kos lainnya.
Sebagian besar menghindar, memalingkan muka. Namun, seorang mahasiswi senior di lantai bawah, Rina, akhirnya mau bicara, meskipun dengan bisikan dan mata yang terus melirik ke arah tangga.
“Kamar 7B… itu dulunya ditempati Lina,” Rina memulai, suaranya nyaris tak terdengar. “Dia mahasiswi arsitektur, sangat pendiam. Suatu malam, dia menghilang begitu saja.”
“Menghilang?” tanyaku, merasakan bulu kudukku berdiri. “Bagaimana bisa? Tidak ada yang tahu ke mana dia pergi?” Rina menggelengkan kepala, wajahnya pucat pasi.
“Polisi datang, tapi tidak ada jejak. Seolah ditelan bumi. Setelah itu, kamar itu kosong berbulan-bulan. Banyak yang bilang, Lina tidak pernah benar-benar pergi.”
Malam itu, aku kembali mendengarkan rekaman itu. Dengan informasi tentang Lina, setiap suara menjadi lebih mengerikan. Bisikan itu, apakah itu Lina? Lagu pengantar tidur, apakah ada hubungannya dengan dirinya?
Garukan panik… apakah dia mencoba melarikan diri? Dan jeritan itu… apa yang mengakhirinya? Aku memutar ulang bagian garukan berulang kali. Suaranya terdengar seperti berasal dari dalam dinding.
Keesokan harinya, aku memeriksa dinding di kamar 7B. Setiap inci. Aku mengetuk, mendengarkan, mencari keanehan. Di balik lemari pakaian tua, ada bagian dinding yang terasa berbeda. Sedikit lebih tipis.
Dengan senter, aku memeriksa celah-celah kecil. Aku menemukan goresan-goresan halus di sana, mirip dengan suara garukan di rekaman. Dan sebuah retakan kecil, cukup besar untuk mengintip.
Aku mendekatkan mata. Gelap gulita di dalamnya. Tapi kemudian, senterku menangkap pantulan. Sebuah benda kecil, seperti mata yang mengawasiku dari kegelapan.
Dengan dorongan rasa takut dan penasaran yang campur aduk, aku menggunakan obeng untuk memperbesar retakan itu. Bagian dinding itu ternyata hanya lapisan tipis, mudah pecah.
Di balik dinding, ada ruang kosong yang sempit. Dan di dalamnya, tergeletak sebuah boneka lusuh, dengan satu mata terlepas. Boneka itu mengenakan gaun putih kecil, persis seperti yang sering digambarkan Lina.
Namun, bukan boneka itu yang membuatku membeku. Di belakang boneka, di dinding belakang ruang sempit itu, terdapat tulisan-tulisan acak yang terukir dengan kuku. “JANGAN”, “DIAM”, “IBU”.
Dan di bagian bawah, tergores kasar sebuah nama: “LINA”. Jantungku berpacu tak karuan. Ini adalah tempat persembunyian Lina. Tapi mengapa? Dan mengapa dia menulis itu?
Aku memeriksa kembali rekaman suara. Lagu pengantar tidur itu… apakah itu untuk boneka itu? Atau untuk Lina sendiri, menenangkan dirinya dalam ketakutan yang mencekik?
Malam itu, keheningan kamar 7B terasa lebih berat. Aku merasa tidak sendiri. Bisikan-bisikan samar seolah muncul dari setiap sudut, meskipun perekam suara sudah kuletakkan jauh-jauh.
Aku mendengar suara langkah kaki pelan di luar pintu. Lalu, sebuah ketukan. Perlahan, satu ketukan. Kemudian dua. Tiga. Persis seperti irama lagu pengantar tidur yang terdistorsi itu.
Aku tidak bergerak. Aku menahan napas. Ketukan itu berhenti. Tetapi aku bisa merasakan hawa dingin yang menusuk, seolah ada sesuatu yang mengawasiku dari celah pintu.
Bau apek dan amis samar tercium, seperti tanah basah yang baru digali. Aku tahu, ini bukan halusinasi. Kamar 7B menyimpan lebih dari sekadar rekaman suara.
Aku tidak bisa tidur malam itu. Setiap bayangan adalah sosok, setiap suara creaking adalah bisikan. Rekaman itu telah membuka pintu ke sebuah misteri yang tak seharusnya kubuka.
Keesokan paginya, aku mengemasi barang-barangku. Tanpa ragu, tanpa menoleh ke belakang. Aku menyerahkan kunci kepada Pak Harun yang tampak terkejut namun tak banyak bicara.
“Sudah tidak betah, Nak?” tanyanya, suaranya serak. Aku hanya mengangguk, tanpa bisa menjelaskan kengerian yang kurasakan. Dia hanya menghela napas, seolah sudah menduganya.
Aku meninggalkan Wisma Senja, tetapi suara-suara dari rekaman itu terus menghantuiku. Jeritan Lina, garukan panik, dan melodi pengantar tidur yang sumbang. Mereka menjadi bisikan abadi dalam ingatanku.
Kamar Kos 7B tetap ada, mungkin sudah ditempati penghuni baru yang tak tahu apa-apa. Namun, aku tahu, di balik dinding tipis itu, ada rahasia gelap yang takkan pernah terungkap sepenuhnya.
Dan boneka lusuh itu, dengan satu mata yang menatap kosong, mungkin masih berada di sana. Menunggu. Menunggu siapa pun yang berani mendengarkan bisikan terakhir dari Lina.








