
Bayangan di Belakang Luna Andromeda
Luna Andromeda, ratu jagat maya, hidup dalam sorotan gemerlap. Setiap unggahan adalah karya seni, setiap senyum memikat jutaan pengikut. Ia adalah personifikasi kesempurnaan, ikon kecantikan dan gaya hidup yang diidolakan.
Namun, di balik filter dan tawa, ada sesuatu yang bersembunyi. Sebuah bayangan yang menari di tepi pandang, tak terdefinisikan. Sebuah kehadiran yang mulai dirasakan Luna, dingin dan mengancam, bahkan di tengah keramaian.
Awalnya, hanya gangguan kecil dalam rekaman video. Cahaya berkedip aneh, distorsi sesaat di latar belakang. Penggemar mengira itu kesalahan teknis, atau mata yang lelah setelah seharian menatap layar.
Luna sendiri mulai merasakan dingin yang aneh di punggungnya. Seperti ada seseorang yang berdiri tepat di belakangnya, bernapas di tengkuknya, namun tak ada siapa-siapa saat ia menoleh.
Energinya terkuras, senyumnya terasa dipaksakan. Mata panda yang tak bisa disembunyikan riasan tebalnya menjadi semakin gelap setiap hari. Ia sering terbangun tengah malam, merasa diawasi, didengar.
Bisikan tipis merayap di telinganya, nama yang tak ia kenali, atau janji-janji mengerikan tentang ketenaran abadi. Suara itu terasa seperti gema dari kegelapan paling dalam, mengikat jiwanya perlahan.
Produktivitas Luna menurun drastis, jadwalnya kacau balau. Tim manajemennya khawatir, menyarankan istirahat. Namun Luna menolak, terobsesi untuk terus tampil sempurna di depan kamera, seolah ada yang mendorongnya.
Di antara jutaan, ada Ria, seorang penggemar setia namun jeli. Ia mulai menyadari pola, kejanggalan yang terulang dalam konten Luna. Bukan hanya glitch, tapi figur buram di sudut bingkai, semakin sering muncul.
Sebuah siluet yang melintas terlalu cepat untuk dicerna logika, namun meninggalkan kesan yang mendalam. Ria mulai menyimpan dan menganalisis setiap video baru Luna, mencari petunjuk yang lebih jelas.
Ria memutar ulang, memperlambat, memperbesar video-video Luna. Ada sesuatu di sana, bergerak di balik gorden, di cermin yang memantulkan wajah Luna. Bentuk yang tidak jelas, namun terasa menakutkan, menghantui.
Seolah bayangan itu semakin nyata, semakin berani muncul di depan lensa. Ria merasa ada yang tidak beres, intuisi gelap membisikkan bahaya yang tak terlihat oleh mata telanjang.
Luna mulai menghindari cermin, merasa ada yang mengintip balik dari baliknya. Ia mengunci pintu kamar, menarik tirai tebal, tapi tak ada bedanya. Kehadiran itu selalu ada, bernapas di lehernya, di kamarnya.
Setiap sudut gelap terasa hidup, menyimpan ancaman tak kasat mata yang siap menerkam. Luna mulai berhalusinasi, melihat bayangan bergerak di dinding, mendengar langkah kaki di lorong sepi apartemennya.
Ia mencoba bercerita kepada asistennya, kepada teman-temannya. Namun, mereka hanya menatapnya khawatir, menyarankan ia menemui psikolog. Mereka mengira Luna kelelahan, stres karena tekanan ketenaran.
Tidak ada yang percaya bahwa ada sesuatu yang nyata, sesuatu yang bukan dari dunia ini, melekat padanya. Luna merasa sendirian, terperangkap dalam jaring ketakutan yang ditenun oleh entitas tak dikenal itu.
Ria menyelami forum-forum horor dan legenda urban yang usang. Ia menemukan cerita kuno tentang entitas yang disebut “Parasit Ketenaran” atau “Penjaga Sorotan”. Makhluk yang memakan cahaya dan perhatian.
Mereka tumbuh dari popularitas, dari jutaan pasang mata yang memuja. Semakin besar sorotan, semakin kuat bayangan itu menjadi, sampai akhirnya ia mengklaim inangnya, menguras habis esensi mereka.
Cerita-cerita itu menjelaskan bagaimana korban mulai memudar, kehilangan semangat hidup, hingga akhirnya hanya menyisakan cangkang. Ria merasakan kengerian yang menusuk, menghubungkan setiap detail dengan Luna.
Luna Andromeda adalah inang sempurna bagi parasit semacam itu. Jutaan pengikut, sorotan tak henti, energi yang tak terbatas. Ria tahu ia harus memperingatkan Luna, meskipun ia tidak tahu bagaimana.
Luna mengumumkan siaran langsung maraton, merayakan jutaan pengikut baru. Penggemar bersorak, membanjiri kolom komentar dengan kegembiraan. Mereka tidak tahu bahaya yang mengintai di balik layar.
Ria merasakan firasat buruk yang mendalam, mencoba memperingatkan di kolom komentar siaran pengumuman. Peringatannya tenggelam di antara pujian dan emoji hati, seperti bisikan di tengah badai.
Siaran langsung dimulai, Luna tampak pucat, matanya cekung, namun senyumnya dipaksakan. Suasana canggung menyelimuti ruangan, senyum Luna terasa dingin, bukan miliknya yang hangat dan ceria.
Tiba-tiba, lampu berkedip liar, suara statis memenuhi audio. Penggemar bertanya-tanya, mengira itu masalah koneksi. Namun Ria tahu, ini adalah permulaan.
Di belakang Luna, sebuah bayangan hitam pekat mulai memadat. Awalnya hanya samar, seperti asap yang menggumpal. Lalu, perlahan, ia mengambil bentuk yang lebih jelas, lebih menakutkan.
Bukan lagi siluet buram, tapi bentuk yang jelas, tinggi, tanpa fitur wajah. Seolah terbuat dari kegelapan itu sendiri, menyerap cahaya di sekitarnya, membuat ruangan terasa lebih dingin.
Tangan kurus dan memanjang menjulur dari gumpalan kegelapan, mendekati Luna yang membeku di kursinya. Jeritan Luna tertahan di tenggorokannya, matanya membelalak ketakutan, tanpa bisa bergerak.
Penggemar di chatroom panik, bertanya-tanya apa yang terjadi. Beberapa mengira itu lelucon, bagian dari konten horor. Lainnya berteriak minta bantuan, meminta Luna melihat ke belakang.
Luna terbatuk keras, darah menetes dari sudut bibirnya, mengotori bajunya. Wajahnya memudar dengan cepat, kulitnya keriput, seolah usianya menua drastis dalam hitungan detik di depan mata jutaan orang.
Bayangan itu menyelimuti Luna sepenuhnya, seperti jubah hitam pekat yang melahapnya. Lalu, perlahan, ia menyusut, seolah menyatu dengan tubuh Luna, diserap ke dalam kulit dan tulangnya.
Ketika bayangan itu hilang, Luna kembali terlihat, duduk tegak di kursi. Namun matanya kosong, tak ada lagi kilau hidup di sana. Senyumnya aneh, dingin, bukan senyum Luna Andromeda yang dikenal dunia.
Luna bangkit, menatap kamera dengan tatapan tanpa jiwa yang membuat merinding. Ia mengucapkan terima kasih kepada penggemar dengan suara berbisik, serak dan dalam.
Suara yang bukan miliknya, suara yang lebih tua, lebih berat, lebih menyeramkan. Chatroom meledak dengan kebingungan dan ketakutan, banyak yang keluar dari siaran, tak sanggup menyaksikan.
Ria menjauh dari layar, jantungnya berdegup kencang di dadanya. Ia tahu apa yang baru saja terjadi, kebenaran yang mengerikan dan tak terbayangkan. Luna Andromeda telah tiada, hanya cangkang yang tersisa.
Bayangan itu kini berjalan di bawah cahaya, menggunakan tubuhnya. Mengambil alih kehidupannya, ketenarannya, dan energinya. Parasit itu telah memenangkan pertempurannya.
Akun Luna Andromeda tetap aktif, unggahan terus berlanjut seperti biasa. Kontennya semakin gelap, semakin aneh, namun jumlah pengikutnya terus naik secara eksponensial.
Karena entitas itu kini bebas, menyerap lebih banyak ketenaran, lebih banyak perhatian. Dan mungkin, di belakang influencer lain, bayangan serupa mulai terbentuk, menunggu saat yang tepat untuk mengklaim inangnya.
Siapa tahu, mungkin di balik layar ponsel Anda sekarang, ada sesuatu yang mengintip. Menikmati cahaya yang Anda berikan, tumbuh dari perhatian yang Anda curahkan. Dan menunggu.








