
Wajah Kedua: Misteri di Balik Layar Live Streaming
Anya, dengan jutaan mata memandangnya, selalu merasa nyaman di depan kamera. Ruangan studio yang remang, hanya diterangi cahaya ring light, adalah dunianya. Malam itu, di tengah siaran langsung game horor, ia merasakan keanehan pertama. Bukan dari game, tapi dari kolom komentar yang tiba-tiba membludak.
“Wajah apa itu di belakangmu, Anya?” tulis seorang penonton. “Ada orang lain di ruanganmu?” tanya yang lain, nada khawatir mulai merayap di antara tawa dan emoji. Anya mengerutkan kening, melirik ke belakang bahunya. Tidak ada siapa-siapa, hanya dinding polos dan rak buku.
Ia mengabaikannya, menganggapnya sebagai trolling atau efek visual dari game. Namun, komentar serupa terus bermunculan, lebih spesifik dan mendesak. “Itu bukan orang,” ketik akun bernama ‘TheWatcher_21’, “Itu wajah.” Rasa dingin menjalar di punggung Anya, bukan karena AC.
Ia mencoba fokus kembali pada game, menertawakan komentar-komentar itu dengan paksa. Tetapi, sebuah bisikan samar, seolah dari balik layar, memaksanya menoleh ke monitor preview. Di sana, di sudut paling gelap dari bingkai kameranya, ada siluet.
Siluet itu, samar dan nyaris tak terlihat, membentuk sebuah kontur wajah. Pucat, mata cekung, dengan senyum tipis yang dingin. Itu bukan pantulan, bukan bayangan. Itu adalah sebuah penampakan. Jantung Anya berpacu. Tangannya gemetar saat mencoba mengabaikannya.
Siaran malam itu terasa sangat panjang. Setiap kali ia melirik ke monitor, wajah itu seolah menatap balik, lebih jelas, lebih nyata. Ia mengakhiri siaran dengan terburu-buru, menyisakan jutaan penonton dengan kebingungan dan ketakutan yang sama.
Begitu kamera mati, ia bergegas memeriksa studio. Ia menyalakan semua lampu, membuka lemari, bahkan mengintip di balik tirai. Tidak ada apa-apa. Kamera, kabel, dan koneksi internetnya ia periksa berulang kali. Semuanya normal. Tapi wajah itu, ia yakin, bukan rekaan.
Malam-malamnya dipenuhi mimpi buruk dan bisikan tak kasat mata. Setiap kali ia menutup mata, wajah pucat itu muncul, terkadang tersenyum, terkadang menangis tanpa suara. Anya mulai menghindari kamera, menunda siaran, membuat para penggemarnya bertanya-tanya.
Akhirnya, dorongan untuk memahami apa yang terjadi mengalahkan ketakutannya. Ia memutuskan untuk melakukan siaran lagi, kali ini dengan persiapan. Ia memasang kamera kedua, menghadap langsung ke area di belakangnya. Ia ingin membuktikan bahwa itu hanya ilusi.
Siaran dimulai. Awalnya semua normal. Komentar mengalir, donasi masuk. Anya berusaha bersikap tenang, profesional. Ia sesekali melirik monitor kamera kedua, berharap tidak menemukan apa-apa. Lalu, di menit ke-37, muncul lagi.
Kali ini, wajah itu tidak lagi samar. Ia jelas. Terlihat seorang wanita dengan rambut hitam panjang, tergerai menutupi sebagian wajahnya. Matanya hitam pekat, seolah lubang tanpa dasar. Bibirnya membentuk seringai, bukan senyum, yang mengerikan.
Kamera kedua menangkapnya dengan detail yang mengerikan. Anya tidak lagi bisa menyangkalnya. Ia bukan gila. Ia bukan korban prank. Ada sesuatu yang nyata dan mengerikan di belakangnya. Jutaan penonton, termasuk dirinya, menyaksikannya.
Komentar menjadi hiruk pikuk. Teriakan dan peringatan membanjiri layar. Beberapa menyuruhnya lari, yang lain memohon penjelasan. Anya terdiam, matanya terpaku pada monitor. Wajah itu, seolah membaca pikirannya, perlahan mendekat.
Semakin mendekat, semakin jelas detailnya. Kulitnya pucat seperti mayat, dan di dahi kirinya, ada bekas luka bakar yang mengerikan. Mata hitam itu seolah menyerap semua cahaya, dan senyum seringainya semakin melebar, menunjukkan gigi-gigi kecil dan tajam.
Rasa dingin menjalar di punggung Anya, bukan karena AC, tapi karena kehadiran yang tak terlihat itu. Ia bisa merasakan hembusan napas dingin di tengkuknya. Suara bisikan yang tadi samar, kini menjadi lebih jelas, seperti desisan ular di telinganya.
“Kau melihatku,” bisik suara itu, dingin dan merayap. “Akhirnya, kau melihatku.” Anya terkesiap, mundur dari kursinya. Ia terjatuh, namun pandangannya tak lepas dari layar. Wajah itu kini memenuhi hampir seluruh bingkai di belakangnya.
Ia mencoba berteriak, namun suaranya tercekat di tenggorokan. Kakinya lemas, badannya menggigil hebat. Wajah itu, entitas misterius itu, kini menempel erat di punggungnya, seolah menjadi bayangannya yang hidup.
Para penonton panik. Beberapa mulai merekam layar mereka. Ada yang melaporkan ke polisi, ada yang mencoba menelepon Anya. Namun, tidak ada yang bisa mereka lakukan. Mereka hanya bisa menyaksikan kengerian itu secara real-time.
Wajah itu, yang kini melekat pada Anya, mulai berubah. Ia tidak lagi hanya menempel. Ia seperti menyatu, perlahan-lahan menyerap fitur Anya. Kulit Anya mulai memucat, matanya menggelap, dan senyumnya sendiri mulai meregang menjadi seringai yang sama.
Ini bukan sekadar penampakan. Ini adalah posesi. Anya merasa kesadarannya ditarik mundur, ke dalam jurang kegelapan. Ia berjuang, berteriak dalam hati, namun tubuhnya tidak lagi menuruti perintahnya. Ia hanya bisa menyaksikan dirinya sendiri berubah.
Siaran langsung masih berjalan. Jutaan mata menyaksikan transformasi mengerikan itu. Anya yang ceria dan penuh semangat, kini digantikan oleh sosok pucat dengan mata kosong dan senyum dingin yang bukan miliknya.
Suara bisikan itu kini menggema di seluruh ruangan, namun bukan hanya di telinga Anya. Para penonton di seluruh dunia mendengar desisan itu, seolah ia keluar langsung dari speaker mereka. “Kau milikku sekarang,” bisik suara itu, menggema.
Tangan Anya, atau tangan entitas itu, perlahan terangkat ke arah kamera. Jari-jarinya yang panjang dan kurus menari di udara, seolah mengundang. Senyum seringai itu semakin lebar, menunjukkan kekuasaan penuh atas tubuh yang kini ia tempati.
Tiba-tiba, layar menjadi gelap. Siaran terputus. Keheningan mencekam menyelimuti studio, dan juga jutaan rumah penonton. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi pada Anya. Apakah ia menghilang? Apakah ia sepenuhnya dikuasai?
Pintu studio Anya ditemukan terkunci dari dalam. Tidak ada tanda-tanda perlawanan, tidak ada jejak. Hanya kamera yang masih terpasang, dan ring light yang masih menyala, menerangi kekosongan yang mengerikan.
Polisi menyelidiki, namun tidak menemukan apa-apa. Tidak ada bukti kejahatan, tidak ada penjelasan logis. Kasus Anya menjadi misteri yang tidak terpecahkan, sebuah cerita horor urban yang beredar di kalangan streamer dan penggemar.
Namun, di beberapa sudut gelap internet, bisikan terus beredar. Ada yang bersumpah melihat kilasan wajah itu, di balik pantulan layar mereka sendiri. Terkadang di cermin, terkadang di layar ponsel saat sedang selfie.
Konon, “wajah kedua” itu adalah entitas yang haus perhatian, yang mencari inang di era digital. Ia tertarik pada mereka yang paling terekspos, yang paling dilihat. Ia tidak ingin menyakiti, ia hanya ingin dilihat. Dan setelah dilihat, ia ingin menjadi.
Dan mereka yang melihatnya, yang merasakan kehadirannya, seringkali menemukan diri mereka sendiri mulai merasa diawasi. Sebuah bayangan samar di sudut mata, sebuah bisikan dingin saat sendirian.
Wajah pucat dengan mata cekung dan senyum dingin itu mungkin hanya mitos bagi sebagian orang. Namun, bagi Anya, dan bagi mereka yang sempat melihatnya di siaran langsungnya, itu adalah realitas tergelap yang pernah ada.
Dan di era di mana setiap orang adalah potensi bintang di balik kamera, pertanyaan itu tetap menghantui: apakah ada “wajah kedua” yang menunggumu, tepat di belakang bahu, siap untuk mengambil alih layar dan hidupmu?
Mungkin lain kali, saat kau melakukan video call atau merekam story, luangkan waktu sejenak untuk melirik ke belakang bahumu. Atau periksa pantulan di layar. Siapa tahu, ada seseorang, atau sesuatu, yang ikut memandangimu.
Mungkin, wajah itu sudah ada di sana, menunggu gilirannya untuk menjadi pusat perhatian. Menunggu momen yang tepat untuk muncul di kameramu, untuk menjadi “wajah kedua” yang takkan pernah bisa kau lupakan.








