Baik, ini dia artikel misteri “Teror Kamar 7B” dengan batasan paragraf 4 baris dan nuansa yang menegangkan, sekitar 1.200 kata.
Teror Kamar 7B: Simfoni Kegelapan di Hotel Abadi
Langit Jakarta memudar, membiarkan malam merangkul kota. Di sudut kumuh yang terlupakan waktu, berdiri Hotel Abadi. Sebuah struktur tua, berlumut, dengan jendela-jendela kosong seperti mata mati yang menatap kehampaan. Kabar burung tentang tempat ini selalu sama: Hotel Abadi adalah rumah bagi desisan masa lalu, terutama Kamar 7B.
Aku Ardi, seorang jurnalis investigasi. Reputasiku dibangun dari keberanian menelusuri kisah-kisah yang membuat bulu kuduk berdiri. Tantangan terbaru ini, Kamar 7B, adalah puncak dari semua kegilaan yang pernah kudengar. Sebuah ruang terkutuk, tempat hilangnya akal sehat dan nyawa.
Manajer hotel, seorang pria tua bernama Pak Budi, menyambutku dengan tatapan cemas. Kerutan di wajahnya lebih dalam dari usia sebenarnya. Ia mencoba mencegahku, “Nak, Kamar 7B bukan untuk orang hidup. Ia menyimpan rahasia yang tak seharusnya diusik.”
Aku hanya tersenyum tipis. Ketakutan Pak Budi justru memicu rasa penasaranku. Aku membayar sewa, tanda persetujuan tak terucap dengan takdir yang menanti. Koper di tangan, senter di saku, dan sebuah kamera siap merekam setiap anomali.
Koridor menuju Kamar 7B terasa seperti lorong waktu. Udara dingin menyergap, berbau apek, lumut, dan sesuatu yang sulit didefinisikan—seperti bau keputusasaan yang mengering. Lampu-lampu redup berkedip, menciptakan bayangan menari di dinding.
Di ujung koridor, pintunya tampak. Kayu gelap, catnya mengelupas, dengan angka “7B” yang nyaris tak terlihat. Aura berat memancar darinya, seolah menarik napas dari paru-paruku. Jantungku berdebar, bukan karena takut, tapi karena antisipasi.
Kunci berputar dengan enggan. Bunyi deritannya memecah kesunyian yang mencekam. Aku mendorong pintu perlahan. Sebuah embusan udara dingin menyambutku, lebih pekat dari sebelumnya. Rasanya seperti memasuki pusaran waktu beku.
Di dalamnya, kegelapan meraja. Tirai-tirai tebal menghalangi cahaya matahari. Debu tebal menyelimuti setiap permukaan, membentuk lapisan kuno. Sebuah tempat tidur usang, meja rias tua, dan lemari pakaian kosong menjadi saksi bisu.
Aku menyalakan senter. Sorotnya menari di dinding, memperlihatkan noda-noda aneh yang tak bisa kuidentifikasi. Ada coretan-coretan samar, seperti goresan kuku putus asa. Sebuah sensasi aneh menjalar di punggungku, seperti ada mata yang mengawasiku.
Malam pertama adalah tentang pengamatan. Aku memasang kamera inframerah di setiap sudut. Peralatan perekam suara disebar. Aku duduk di tengah ruangan, merasakan setiap denyut ketidaknyamanan. Keheningan itu sendiri adalah suara teror.
Sekitar pukul dua dini hari, suhu ruangan tiba-tiba anjlok drastis. Napasku berubah menjadi kabut. Aku melihatnya, sebuah bayangan tipis melintas di tepi penglihatanku, terlalu cepat untuk ditangkap kamera. Sebuah bisikan samar terdengar.
Bisikan itu seperti rintihan, atau mungkin nyanyian. Terlalu pelan untuk dimengerti, namun cukup jelas untuk membuat bulu kudukku meremang. Aku mencoba memfokuskan pendengaranku, tetapi suara itu menghilang secepat ia datang.
Aku mencoba tidur, namun setiap kerutan di dinding, setiap desiran angin di luar, terasa seperti ancaman. Mimpi buruk menghampiri, tentang anak kecil yang menangis dan wanita yang berteriak. Aku terbangun dengan keringat dingin.
Pagi harinya, rekaman kamera menunjukkan anomali. Bola-bola cahaya kecil melayang-layang. Pada rekaman suara, bisikan itu lebih jelas, namun tetap tak bisa dimengerti. Ada juga suara seperti goresan, seolah sesuatu sedang mencakar dinding.
Aku memeriksa dinding yang terekam. Di balik lapisan debu tebal, terdapat goresan-goresan dalam. Bukan coretan, tapi ukiran yang disengaja. Bentuknya aneh, seperti simbol-simbol kuno yang asing bagiku.
Aku memutuskan untuk mencari arsip Hotel Abadi. Pak Budi enggan membantu, namun setelah desakan, ia menunjukkan sebuah ruangan kecil di bawah tanah. Di sana, tumpukan dokumen tua berdebu menanti.
Berjam-jam aku menelusuri laporan polisi, surat kabar lama, dan buku tamu. Aku menemukan beberapa kasus aneh terkait Kamar 7B. Dua kasus hilangnya penghuni tanpa jejak, satu kasus bunuh diri misterius, dan beberapa penghuni yang tiba-tiba gila.
Satu artikel menarik perhatianku: “Tragedi Keluarga Kusuma, 1978”. Sebuah keluarga, ayah, ibu, dan seorang anak perempuan bernama Lia, adalah penghuni pertama Kamar 7B. Lia menghilang, dan ibunya, Nyonya Kusuma, kemudian ditemukan tewas di kamar itu.
Polisi menyimpulkan Nyonya Kusuma bunuh diri karena depresi akibat kehilangan putrinya. Namun, ada kejanggalan. Nyonya Kusuma dikenal sebagai wanita yang sangat kuat dan penyayang. Ia tak mungkin menyerah begitu saja.
Artikel lain menyebutkan Nyonya Kusuma sering terlihat “berbicara sendiri” di Kamar 7B setelah kehilangan Lia. Tetangga mendengar tangisan dan nyanyian aneh dari kamar itu di malam hari. Sebuah obsesi, mungkin.
Aku kembali ke Kamar 7B dengan informasi baru. Goresan di dinding. Sebuah simbol. Aku mencari di buku-buku lama, di internet. Akhirnya kutemukan. Simbol kuno untuk “pemanggilan” atau “jembatan ke alam lain.”
Malam kedua. Aku lebih siap. Atau setidaknya, aku mencoba meyakinkan diriku. Aku menempatkan perekam di dekat dinding dengan goresan simbol. Aku ingin tahu apa yang Nyonya Kusuma coba panggil.
Suhu kembali anjlok. Bisikan semakin jelas. Kali ini, aku bisa membedakan kata-kata: “Lia… pulang… kembali…” Sebuah suara wanita. Dan di sela-sela itu, tangisan seorang anak.
Lalu, sebuah objek di meja rias, sebuah sisir tua, tiba-tiba bergeser. Bukan jatuh, tapi meluncur pelan. Seolah didorong oleh tangan tak kasat mata. Jantungku berdebar kencang. Ini bukan lagi sekadar hawa dingin.
Aku merasakan tekanan di dadaku, seperti ada beban tak terlihat yang menindih. Udara terasa berat, pengap. Aku mulai terbatuk. Pandanganku kabur sesaat. Aku melihat bayangan hitam pekat di sudut ruangan.
Bentuknya menyerupai manusia, namun lebih tinggi, lebih kurus, dengan anggota tubuh yang terlalu panjang. Ia tak bergerak, hanya berdiri di sana, mengawasiku. Aku mencoba menyalakan senter ke arahnya, namun sorotnya tembus begitu saja.
Suara tangisan Lia semakin keras. Suara Nyonya Kusuma memanggil-manggil. Aku merasa terperangkap dalam simfoni kegilaan. Aku meraih perekam suara. Aku harus mendapatkan bukti nyata.
Tiba-tiba, sebuah suara dentuman keras menggema dari balik lemari pakaian tua. Aku tersentak. Apakah ada ruang rahasia? Aku mendorong lemari itu dengan sekuat tenaga. Ternyata ada.
Di baliknya, sebuah pintu kecil tersembunyi. Ukirannya sama persis dengan simbol di dinding. Kuncinya tidak ada. Aku mencoba membukanya paksa, tetapi pintu itu terkunci rapat.
Aku memeriksa kembali artikel lama. Ada sebuah catatan kecil di margin: “Sebuah liontin perak dengan ukiran khusus.” Liontin itu mungkin kuncinya. Aku mencari di antara barang-barang Nyonya Kusuma yang tersisa di arsip hotel.
Aku menemukannya! Sebuah liontin perak usang dengan ukiran simbol yang sama persis. Aku kembali ke Kamar 7B. Ketegangan semakin meningkat. Suara-suara memanggilku, mendesakku.
Kutempelkan liontin itu ke ukiran di pintu. Sebuah klik pelan terdengar. Pintu itu terbuka, menampakkan sebuah ruang sempit, gelap, dan berbau amis. Ruangan itu lebih dingin dari Kamar 7B itu sendiri.
Di tengah ruangan, ada sebuah altar kecil. Di atasnya, sebuah boneka lusuh yang sudah membusuk, dan beberapa benda aneh: rambut kering, kuku, dan tetesan lilin hitam. Sebuah buku usang tergeletak terbuka.
Aku mengambil buku itu. Itu adalah jurnal Nyonya Kusuma. Tulisannya compang-camping, dipenuhi keputusasaan dan kegilaan. Ia menulis tentang Lia yang sakit parah, tentang dokter yang menyerah.
Ia menulis tentang suara-suara yang membisikinya, menjanjikan Lia bisa kembali. Suara-suara itu mengajarkan ritual. Ritual pemanggilan, ritual penukaran, ritual yang mengerikan.
Nyonya Kusuma percaya ia bisa membawa Lia kembali. Namun, ia harus membayar harga. Harga yang tak terbayangkan. Ia harus “memberi” sesuatu agar Lia bisa “mengambil” kembali.
Ritual itu, sepertinya, membutuhkan sebuah “jangkar” atau “jalan masuk” bagi sesuatu dari alam lain. Kamar 7B, dengan sejarahnya yang kelam, telah menjadi tempat yang sempurna. Simbol-simbol itu, ukiran di dinding, semuanya adalah bagian dari ritual.
Ketika Lia meninggal, Nyonya Kusuma tidak bisa menerima. Ia melakukan ritual itu, berharap membawa putrinya kembali. Namun, yang datang bukan Lia. Yang datang adalah entitas lain, entitas yang haus.
Entitas itu menjanjikan Lia akan kembali, tetapi ia membutuhkan lebih banyak. Ia membutuhkan energi. Entitas itu mulai menarik kehidupan dari Nyonya Kusuma, membuatnya gila, hingga akhirnya ia menyerah.
Dan entitas itu, yang kini terikat pada Kamar 7B, terus haus. Ia menarik siapa pun yang berani masuk, menguras energi mereka, memutarbalikkan pikiran mereka, hingga mereka menjadi “jangkar” baru.
Aku merasakan cengkeraman tak terlihat di leherku. Bayangan hitam di sudut ruangan semakin besar, semakin jelas. Ia bukan lagi bayangan, melainkan sebuah bentuk yang mengancam. Matanya merah menyala.
Suara Lia dan Nyonya Kusuma semakin kencang, memekakkan telinga. Mereka bukan lagi bisikan, tapi jeritan. Jeritan penderitaan, jeritan penyesalan, jeritan yang menusuk jiwa.
Aku merasakan energinya menyedotku, mencoba menarikku ke dalam pusaran kegilaannya. Aku harus keluar. Aku harus pergi. Dengan sisa tenaga, aku merangkak keluar dari ruangan rahasia itu.
Aku menarik lemari untuk menutup kembali pintu rahasia. Entitas itu meraung, suara yang bukan berasal dari dunia ini. Ia mencoba meraihku, namun aku berhasil menutup pintu dengan cepat.
Aku berlari keluar dari Kamar 7B. Tak peduli lagi dengan peralatan yang tertinggal. Aku berlari menyusuri koridor, melewati Pak Budi yang terkejut melihatku. Aku tidak berhenti sampai aku berada di luar Hotel Abadi.
Napas tersengal, tubuh gemetar. Aku melihat kembali ke arah Hotel Abadi. Kamar 7B terasa seperti mata yang menatapku. Aku membawa serta jurnal Nyonya Kusuma, bukti dari kegilaan itu.
Kisah “Teror Kamar 7B” menjadi artikel yang mengguncang dunia jurnalisme. Aku menulis setiap detail, setiap bisikan, setiap koresan. Dunia membaca, merinding, namun tak sepenuhnya percaya.
Aku tahu kebenarannya. Aku merasakannya. Dan aku tahu, entitas itu masih di sana. Terjebak, ya, namun juga menunggu. Menunggu mangsa baru. Menunggu seseorang yang cukup bodoh untuk membuka kembali pintu terkutuk itu.
Hotel Abadi kini ditutup total, disegel oleh pemerintah. Namun, kegelapan Kamar 7B tidak hilang. Ia hanya tidur. Terkadang, di malam yang sangat sunyi, aku masih mendengar bisikan itu.
Bisikan yang memanggil, menjanjikan sesuatu, dan meminta sesuatu sebagai gantinya. Aku tahu aku tidak akan pernah kembali ke sana. Tapi aku juga tahu, Kamar 7B akan selalu ada, menunggu.
Menunggu simfoni kegelapannya kembali dimainkan. Menunggu seseorang yang cukup berani, atau cukup putus asa, untuk menjadi bagian dari melodi mengerikan itu. Dan di setiap malam, aku bertanya-tanya, siapa korban selanjutnya?









