Scroll untuk baca artikel
Kisah Viral Misteri

Beredar Video Bayangan Misterius di Jalan Petang, Apakah Ini Jalan Angker?

10
×

Beredar Video Bayangan Misterius di Jalan Petang, Apakah Ini Jalan Angker?

Share this article

 

Bayangan di Jalan TikTok Petang

Jalan TikTok. Begitu orang-orang menyebutnya. Bukan nama resmi, tentu saja. Hanya julukan untuk jalur sempit berliku yang membelah hutan pinus, dihiasi lampu-lampu tumblr usang dan mural-mural grafiti yang memudar. Tempat sempurna bagi para kreator konten, terutama saat petang menjelang.

Risa adalah salah satunya. Pengikutnya masih ribuan, bukan jutaan. Namun, ia punya ambisi besar. Video-videonya selalu detail, penuh dengan sudut pandang unik dan narasi yang menarik. Jalan TikTok adalah tambang emas konten baginya.

Sore itu, mendung menggantung rendah. Risa tiba dengan tripod dan kamera kesayangannya. Udara mulai dingin, dan kabut tipis mulai merayap dari balik pepohonan. Warna jingga senja berpadu dengan hijaunya pinus, menciptakan palet visual yang magis.

Ia mulai merekam, berbicara ke lensa dengan antusiasme yang terpancar. “Lihatlah keindahan ini, teman-teman! Jalan TikTok memang tidak pernah mengecewakan. Setiap sudutnya menyimpan cerita…” Kalimatnya terhenti.

Di ujung jalan, di antara siluet pepohonan yang menjulang, ada sesuatu. Sebuah bayangan. Bentuknya samar, namun jelas lebih gelap dari kegelapan di sekitarnya. Seolah sebuah lubang hitam yang bergerak perlahan.

Risa mengernyit. Mungkin hanya ilusi optik, pantulan cahaya yang aneh. Atau mungkin seseorang yang sedang berjalan. Ia mengarahkan kamera ke arah itu, namun bayangan itu menghilang, seolah melebur ke dalam hutan.

Ia menggelengkan kepala, tertawa kecil pada dirinya sendiri. “Mungkin aku terlalu lelah,” gumamnya. Ia melanjutkan merekam, mencoba melupakan insiden aneh itu. Malam itu, ia pulang dengan rekaman yang memuaskan.

Di rumah, saat mengedit, jantung Risa berdesir. Di salah satu frame, tepat di belakangnya saat ia berbicara ke kamera, bayangan itu muncul lagi. Lebih jelas kali ini. Mirip siluet manusia, tinggi dan kurus, berdiri diam.

Bulu kuduknya merinding. Itu bukan pantulan. Itu bukan orang lewat. Bagaimana mungkin ia tidak melihatnya saat merekam? Kamera tidak berbohong. Ada sesuatu di sana.

Rasa penasaran mengalahkan rasa takutnya. Ia mulai mencari informasi tentang Jalan TikTok. Legenda urban, cerita horor, insiden aneh. Ternyata, jalan itu memang punya reputasi.

Banyak yang menyebutnya angker. Ada cerita tentang “Penunggu Pohon Gantung,” sebuah sosok bayangan yang muncul saat senja. Konon, itu adalah arwah seorang gadis yang menghilang bertahun-tahun lalu.

Clara namanya. Seorang gadis muda yang gemar melukis. Ia terakhir terlihat di Jalan TikTok, sketsanya ditemukan di bawah Pohon Gantung yang kini sudah mati. Kasusnya tidak pernah terpecahkan.

Risa mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu hanya kebetulan. Namun, bayangan Clara dalam cerita itu terus menghantuinya. Apakah bayangan yang ia lihat adalah Penunggu Pohon Gantung?

Dua hari kemudian, Risa kembali ke Jalan TikTok. Kali ini bukan untuk konten, melainkan untuk mencari tahu. Ia membawa senter dan nyali yang sedikit menciut. Senja kembali menyelimuti.

Ia berjalan perlahan, matanya menyapu setiap sudut. Udara terasa lebih dingin, sunyi mencekam. Hanya suara angin yang berdesir melalui dedaunan pinus.

Di dekat Pohon Gantung, ia berhenti. Pohon itu memang terlihat menyeramkan, dahan-dahannya kering dan meranggas. Tiba-tiba, sebuah bisikan samar terdengar, seperti hembusan napas di telinganya.

“Tolong…”

Risa tersentak. Jantungnya berdebar kencang. Ia menoleh ke belakang, tidak ada siapa-siapa. Ia meremas senter di tangannya, rasa takut mulai menguasai.

Lalu, bayangan itu muncul lagi. Kali ini tidak samar. Ia berdiri tegak di samping Pohon Gantung, siluetnya memanjang dan tipis. Tidak ada mata, tidak ada wajah, hanya bentuk hitam pekat yang tak tembus cahaya.

Keringat dingin membasahi punggung Risa. Ia ingin lari, namun kakinya terasa terpaku. Bayangan itu tidak bergerak mendekat, namun ia merasakan kehadirannya yang menekan, seolah memenuhi seluruh ruang.

Sebuah sensasi aneh menjalar. Bukan dingin, melainkan sebuah kesedihan yang mendalam. Seolah bayangan itu membawa beban bertahun-tahun. Apakah ini arwah Clara?

Risa mengangkat kamera, meskipun tangannya gemetar. Ia merekam bayangan itu, seolah ingin membuktikan kewarasannya. Ia ingin merekam bukti, sesuatu yang bisa diperlihatkan kepada dunia.

Tiba-tiba, bayangan itu bergerak. Bukan ke arahnya, melainkan ke arah sebuah batu besar yang tertutup lumut di bawah pohon. Perlahan, bayangan itu mengulurkan “tangannya” ke arah batu tersebut.

Seolah ada isyarat. Sebuah petunjuk. Risa menatap batu itu, lalu kembali menatap bayangan. Bayangan itu tetap di sana, tidak bergerak, seolah menunggu.

Rasa takut Risa bercampur dengan dorongan yang aneh. Dorongan untuk membantu. Ia mendekati batu besar itu dengan hati-hati. Lumut tebal menyelimutinya.

Ia menggeser lumut-lumut itu. Di bawahnya, sebuah ukiran samar terlihat. Bukan nama, bukan tanggal. Hanya sebuah simbol aneh, mirip lingkaran dengan tiga garis melengkung di dalamnya.

Saat Risa menyentuh ukiran itu, bayangan di belakangnya tiba-tiba bergetar hebat. Bentuknya membesar, lalu menyusut, seolah berjuang untuk eksis. Sebuah erangan pelan terdengar, bukan dari Risa, tapi dari udara di sekitarnya.

Lalu, bayangan itu menunjuk lagi. Kali ini ke arah tanah di samping batu. Tanah itu terlihat lebih gembur, seolah baru saja digali. Risa menelan ludah.

“Apa… apa yang harus aku lakukan?” bisik Risa, suaranya tercekat. Bayangan itu tidak menjawab, hanya terus menunjuk, dengan desakan yang terasa.

Risa mulai menggali dengan tangannya yang kosong. Tanah itu memang lunak. Ia menggali dan menggali, napasnya tersengal. Rasa ngeri bercampur dengan adrenalin.

Beberapa sentimeter di bawah permukaan, jemarinya menyentuh sesuatu yang keras. Sebuah kotak kayu kecil, lapuk dan lembab. Aroma tanah basah dan sesuatu yang busuk menyeruak.

Ia menarik kotak itu keluar. Kotak itu terikat dengan tali rami yang hampir putus. Risa menatap kotak itu, lalu menatap bayangan yang masih berdiri diam.

Dengan tangan gemetar, Risa membuka kotak itu. Di dalamnya, terbaring sebuah buku sketsa kecil, basah dan rusak. Dan di bawahnya, sebuah liontin perak berkarat.

Liontin itu berbentuk hati, dengan inisial “C” dan “J” terukir samar di permukaannya. Clara dan John. John, kekasih Clara yang juga menghilang tak lama setelah Clara.

Tiba-tiba, bayangan itu bergerak cepat. Bukan lagi sebuah siluet, tapi seolah kumpulan asap gelap yang berputar. Ia melayang di atas kotak, seolah mengamati isinya.

Lalu, ia melesat ke atas, menembus dahan-dahan Pohon Gantung yang kering. Dalam sekejap, bayangan itu menghilang sepenuhnya, lenyap ke dalam kegelapan malam.

Rasa dingin yang menusuk lenyap. Udara kembali normal. Risa terduduk di tanah, terengah-engah, memegang erat kotak itu. Ia merasa kelelahan, namun juga sebuah pencerahan.

Bayangan itu bukan hantu yang menakutkan. Ia adalah pesan. Sebuah petunjuk. Clara tidak menghilang begitu saja. Ia dikubur di sini. Dan liontin itu, mungkin kunci untuk mengungkap pembunuhnya.

Risa segera menghubungi polisi. Mereka awalnya skeptis, tentu saja. Cerita tentang bayangan dan bisikan dianggap omong kosong. Namun, penemuan kotak dan liontin itu cukup untuk membuat mereka bertindak.

Pagi harinya, tim forensik datang. Tanah di sekitar Pohon Gantung digali. Beberapa jam kemudian, sebuah penemuan mengejutkan dibuat. Kerangka manusia, terpendam di sana.

Liontin di tangan Risa adalah bukti kuat. Kasus Clara dibuka kembali. Investigasi mendalam pun dilakukan. Buku sketsa itu, meskipun rusak, berisi beberapa petunjuk.

Risa tidak lagi mengunjungi Jalan TikTok untuk konten. Pengalaman itu mengubahnya. Ia tahu keindahan jalan itu menyembunyikan tragedi. Dan bayangan itu, telah menemukan kedamaiannya.

Namun, terkadang, saat senja merayap, dan kabut tipis mulai menyelimuti, Risa masih merasakan. Sebuah hembusan angin dingin, bisikan samar di telinganya. Seolah bayangan itu berterima kasih. Atau mungkin, masih mengawasi.

Bayangan di Jalan TikTok Petang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *