Scroll untuk baca artikel
Kisah Viral Misteri

Heboh! Sosok Siluet Misterius Muncul di Tengah Foto Pernikahan — Siapa Dia?

10
×

Heboh! Sosok Siluet Misterius Muncul di Tengah Foto Pernikahan — Siapa Dia?

Share this article

Heboh! Sosok Siluet Misterius Muncul di Tengah Foto Pernikahan — Siapa Dia?

Siluet Pernikahan yang Tak Diundang: Bisikan dari Tirai Malam

Angin pagi berbisik dingin di Kebun Raya Mawar Hitam, menyelimuti Elara dalam balutan gaun pengantin putihnya. Hari besar telah tiba, namun jantungnya berdebar bukan hanya karena antisipasi kebahagiaan. Sebuah firasat aneh merayap, tak diundang.

Matahari pagi menerobos dedaunan, menciptakan mozaik cahaya dan bayangan di altar yang megah. Aroma mawar dan melati bercampur dengan kelembaban tanah, menciptakan suasana magis. Namun, di balik tirai keindahan itu, ada sesuatu yang terasa salah.

Saat Elara menatap pantulan dirinya di cermin antik, bayangan tipis melintas di sudut matanya. Sebuah siluet wanita, samar dan transparan, berdiri sesaat di ambang pintu. Gaunnya tampak kuno, menari dalam hembusan angin yang tak ada.

Elara menoleh cepat, namun tak ada siapa pun di sana. Hanya tirai sutra yang bergoyang lembut, seolah baru saja disentuh. Jantungnya berdebar kencang, sebuah dentuman tak wajar di tengah kegembiraan yang seharusnya.

“Hanya kelelahan,” bisiknya pada diri sendiri, mencoba menepis bayangan itu. Persiapan pernikahan memang menguras tenaga, mungkin pikirannya hanya bermain-main. Ia menarik napas dalam, berusaha menenangkan gejolak di dadanya.

Namun, di aula penerimaan tamu, bisikan-bisikan mulai terdengar. Para pelayan saling pandang, mata mereka sesekali melirik ke arah jendela besar yang menghadap taman belakang. Elara menangkap potongan percakapan tentang “wanita bergaun putih.”

“Apa yang mereka bicarakan?” Elara bertanya pada salah satu pengiring pengantinnya, Lia. Lia hanya tersenyum gugup, “Oh, mungkin legenda lama tempat ini. Setiap tempat tua punya ceritanya sendiri, Elara.”

Legenda. Kata itu terasa dingin, menusuk. Kebun Raya Mawar Hitam adalah lokasi impian Arjun, calon suaminya. Sebuah tempat bersejarah, indah, namun menyimpan aura misterius yang tak terucapkan.

Arjun, dengan senyum menawannya, datang menghampiri. “Kau tampak tegang, Sayang. Sebentar lagi semua akan selesai, dan kita akan memulai hidup baru.” Tangannya menggenggam erat, namun Elara merasakan dingin yang menusuk.

Di tengah keramaian tamu, saat Elara dan Arjun berfoto di bawah lengkungan bunga, sebuah bayangan kembali muncul. Kali ini lebih jelas, di antara pepohonan rimbun di kejauhan. Siluet itu menyerupai seorang wanita bergaun pengantin.

Ia berdiri diam, mengamati mereka. Tidak ada wajah, hanya bentuk samar yang menakutkan. Sebuah firasat buruk merayap di punggung Elara, mengencangkan cengkeraman ketakutan di hatinya.

“Lihat itu, Arjun,” bisiknya, menunjuk. Arjun mengikuti arah pandangannya, lalu mengerutkan kening. “Tidak ada apa-apa, Elara. Mungkin pantulan cahaya. Kau terlalu banyak berpikir.”

Keraguan Arjun terasa seperti tamparan. Apakah ia satu-satunya yang melihat? Apakah ini hanya halusinasi yang muncul dari stres pra-pernikahan? Namun, rasa dingin di udara terasa nyata.

Malam itu, setelah resepsi yang meriah, Elara tak bisa tidur. Setiap suara angin, setiap gesekan dahan pohon, terasa seperti langkah kaki. Ia bangkit, melangkah ke jendela kamar pengantin mereka.

Di bawah rembulan purnama, taman itu tampak seperti lukisan surealis. Dan di tengah-tengahnya, di dekat kolam teratai, siluet itu kembali. Kali ini, ia terlihat sedang menari, perlahan dan anggun.

Namun, tariannya terasa seperti ratapan. Sebuah kesedihan yang tak terucapkan terpancar dari setiap gerakannya. Elara merasakan nyeri di dadanya, seolah kesedihan itu menular.

Ia buru-buru membangunkan Arjun. “Arjun, bangun! Dia ada di sana lagi!” Arjun menggeliat, mengusap mata. “Siapa? Elara, apa yang kau bicarakan?” Ia melirik ke jendela, menghela napas.

“Tidak ada apa-apa, Elara. Hanya bayangan pohon dan ilusi cahaya bulan,” katanya, suaranya dipenuhi kantuk. “Kau harus istirahat. Ini hari paling penting dalam hidup kita, jangan biarkan imajinasimu menguasai.”

Kata-katanya menusuk. Elara merasa sendirian dengan ketakutannya. Ia mundur dari jendela, membiarkan siluet itu menari dalam kesendiriannya. Siapakah dia? Apa yang ia inginkan?

Keesokan harinya, Elara mulai mencari tahu. Ia bertanya pada Pak Budi, penjaga kebun yang sudah puluhan tahun bekerja di sana. Pak Budi seorang pria tua dengan mata yang tampak tahu banyak hal.

“Siluet itu, Pak Budi,” Elara memulai hati-hati. “Apa Anda pernah melihatnya? Wanita bergaun pengantin?” Pak Budi terdiam sejenak, tatapannya menerawang jauh ke masa lalu.

“Legenda mengatakan,” Pak Budi berbisik, suaranya serak, “ada seorang pengantin wanita yang ditinggalkan di altar ini, puluhan tahun lalu. Tunangannya menghilang begitu saja, tanpa jejak.”

“Ia menunggu dan menunggu, sampai akhirnya jiwanya terpaku di sini,” lanjut Pak Budi. “Terperangkap dalam gaun pengantinnya, mencari jawaban, mencari penutupan. Dia disebut ‘Pengantin Malam’.”

Jantung Elara mencelos. Pengantin Malam. Jadi, ia bukan berhalusinasi. Siluet itu nyata, sebuah arwah yang kesepian. “Apa yang terjadi pada tunangannya?” tanya Elara.

Pak Budi menggeleng. “Itu bagian dari misteri. Hanya saja, setelah kejadian itu, beberapa pernikahan di sini berakhir dengan musibah. Kecelakaan, pengantin yang sakit mendadak, atau rahasia gelap yang terungkap.”

Sebuah dingin merayap di tulang Elara. Apakah Pengantin Malam mencoba memperingatinya? Atau apakah ia hanya kesepian, mencari teman dalam penderitaannya? Ia harus tahu lebih banyak.

Elara memutuskan untuk mencari arsip lama Kebun Raya. Di ruang arsip yang berdebu, ia menemukan kotak tua berisi kliping koran dan catatan-catatan lama. Banyak yang usang, sulit dibaca.

Satu artikel menarik perhatiannya: tentang hilangnya seorang pengusaha muda bernama Satria, tepat di hari pernikahannya, lima puluh tahun lalu. Calon istrinya bernama Sekar.

“Sekar…” bisik Elara. Nama yang indah, penuh kesedihan. Ia membaca lebih lanjut. Satria menghilang setelah pertengkaran hebat dengan calon mertuanya, yang tidak menyetujui pernikahan itu.

Namun, ada catatan tangan di margin, ditulis dengan tinta pudar: “Bukan mertua. Ada pihak ketiga. Rahasia gelap. Sebuah intrik.” Elara menggigil. Rahasia gelap? Intrik apa?

Malam berikutnya, siluet itu muncul lagi. Kali ini, ia tidak menari. Ia berdiri tegak, menghadap Elara, seolah mencoba menyampaikan sesuatu. Tangannya terangkat, menunjuk ke arah hutan di belakang kebun.

Elara memberanikan diri. Ia melangkah mendekat ke jendela, berusaha membaca gerakan siluet itu. Ia merasakan udara di sekitarnya menjadi dingin, dan aroma mawar yang membusuk memenuhi hidungnya.

Siluet itu bergerak, mengarah ke sebuah paviliun kecil yang jarang digunakan. Kemudian, ia lenyap seolah ditarik oleh bayangan malam. Elara tahu ia harus pergi ke sana.

Pagi-pagi sekali, tanpa memberitahu Arjun, Elara menyelinap ke paviliun. Udara di dalamnya pengap dan berbau lumut. Di sudut ruangan, ia melihat sebuah peti kayu kecil yang tersembunyi.

Dengan tangan gemetar, Elara membukanya. Di dalamnya, ada sebuah buku harian tua yang terikat kulit. Debu menempel di jari-jarinya saat ia membukanya. Itu adalah buku harian Sekar.

Setiap halaman penuh dengan tulisan tangan yang indah, namun isinya dipenuhi kesedihan dan keputusasaan. Sekar menulis tentang Satria, cinta sejatinya, dan tentang hari pernikahannya.

Ia juga menulis tentang seorang teman dekat Satria, yang diam-diam menyimpan perasaan terhadap Sekar. Nama itu membuat Elara terpaku: “Bayu.” Nama yang terdengar asing, namun menyimpan aura tak menyenangkan.

Di halaman terakhir, tulisan Sekar menjadi lebih tergesa-gesa, hampir tidak terbaca. Ia menulis tentang “pengkhianatan yang tak termaafkan,” tentang “rahasia yang dikubur,” dan tentang “cinta yang dihancurkan.”

“Satria tidak menghilang begitu saja,” Sekar menulis. “Dia dibunuh. Dibunuh oleh seseorang yang paling ia percayai. Seseorang yang ingin merebut segalanya dariku.”

Jantung Elara berdebar keras. Siapa pembunuhnya? Nama Bayu terus terngiang. Lalu sebuah nama lain muncul, samar-samar dalam tulisan yang kabur: “Keluarga… keturunan…”

Tiba-tiba, Elara mendengar langkah kaki mendekat. Ia buru-buru menutup buku harian itu, menyembunyikannya. Arjun masuk, wajahnya tampak khawatir. “Elara, apa yang kau lakukan di sini? Semua orang mencarimu.”

“Aku hanya… mencari udara segar,” Elara tergagap. Arjun mendekat, matanya menatap tajam. “Kau aneh akhir-akhir ini, Elara. Ada apa?” Ada nada dingin dalam suaranya yang membuat Elara merinding.

Saat Arjun mendekat, Elara melihat sesuatu yang membuatnya membeku. Di pergelangan tangannya, ada bekas luka samar, bentuknya menyerupai simbol yang sama dengan yang ia lihat di buku harian Sekar.

Sebuah simbol keluarga. Simbol keluarga Satria. Dan itu bukan simbol keluarga Arjun. Ini adalah simbol keluarga Bayu. Sebuah garis keturunan yang terhubung dengan tragedi masa lalu.

“Arjun…” Elara berbisik, suaranya tercekat. “Siapa… siapa kakekmu?” Arjun tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. “Kakekku? Seorang pria terhormat, tentu saja.”

Elara mundur selangkah. Mata Arjun terlihat berbeda, ada bayangan gelap di dalamnya. Siluet Pengantin Malam tidak hanya memperingatkannya tentang tempat ini, tetapi tentang Arjun sendiri.

Apakah Arjun adalah keturunan dari Bayu, si pengkhianat? Apakah ia mewarisi rahasia gelap itu, atau bahkan kutukannya? Elara merasakan dingin yang menusuk, jauh lebih dalam dari sekadar hawa dingin malam.

Hari pernikahan telah tiba. Elara berjalan di lorong, gaun putihnya melambai. Setiap langkah terasa berat, dipenuhi keraguan dan ketakutan. Tamu-tamu tersenyum, kamera berkedip.

Di altar, Arjun tersenyum, uluran tangannya menunggu. Namun, Elara tidak melihat Arjun. Ia melihat bayangan lain di belakangnya, samar namun jelas. Siluet Pengantin Malam.

Kali ini, siluet itu tidak lagi sedih. Ada kemarahan yang membara di dalam dirinya. Tangannya terangkat, bukan lagi menunjuk, melainkan mendorong. Mendorong, seolah memberinya peringatan terakhir.

Elara merasakan bisikan tanpa suara di telinganya: “Jangan…” Sebuah peringatan yang tak terbantahkan. Sebuah kebenaran yang pahit. Ia menatap Arjun, dan melihat sesuatu yang belum pernah ia sadari.

Mata Arjun, senyumnya, semuanya tiba-tiba terlihat seperti topeng. Topeng yang sama yang dipakai oleh pengkhianat di masa lalu. Topeng yang menyembunyikan kebenaran yang mengerikan.

Di depan semua orang, di altar yang sakral, Elara berhenti. Ia menarik napas dalam, membiarkan tatapan semua orang tertuju padanya. Arjun tampak bingung, senyumnya memudar.

“Aku tidak bisa,” bisik Elara, suaranya nyaris tak terdengar namun menggema di keheningan. “Aku tidak bisa menikahimu.” Kata-kata itu menggantung di udara, menciptakan gelombang kejut.

Arjun mengerutkan kening, ekspresinya berubah menjadi marah. “Apa yang kau bicarakan, Elara?” Suaranya rendah, mengancam. Elara melihat siluet di belakang Arjun, mengangguk perlahan.

Siluet itu kini terlihat damai. Tugasnya telah selesai. Peringatannya telah disampaikan. Ia mulai memudar, lenyap bersama bayangan di balik altar.

Elara menatap Arjun, kini tanpa rasa takut. Ia telah melihat kebenaran. “Aku tahu siapa dirimu,” katanya, suaranya kini tegas dan jelas. “Dan aku tahu apa yang keluargamu sembunyikan.”

Reaksi Arjun adalah cerminan kegelapan itu. Wajahnya memucat, matanya melebar. Ia tahu Elara telah mengungkap rahasia yang telah terkubur selama puluhan tahun.

Elara membalikkan badan, meninggalkan altar, meninggalkan pernikahan yang tak jadi. Ia meninggalkan kemewahan, janji palsu, dan kutukan yang mengintai.

Di belakangnya, ia mendengar keributan, bisikan-bisikan, dan kemarahan Arjun. Namun, Elara tidak peduli. Ia merasa bebas, meski hatinya hancur.

Ia telah mendengarkan bisikan dari tirai malam. Bisikan dari siluet tak diundang yang menyelamatkannya dari takdir yang jauh lebih gelap.

Di luar gerbang Kebun Raya Mawar Hitam, Elara menoleh ke belakang. Siluet itu tidak ada lagi. Hanya ada kedamaian yang aneh, seolah beban berat telah terangkat.

Namun, Elara tahu, misteri itu tidak sepenuhnya hilang. Bayangan masa lalu, rahasia yang terkubur, akan selalu mengintai. Dan ia akan selalu mengingat pengantin wanita yang tak diundang itu.

Siluet Pernikahan yang Tak Diundang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *