Bayangan Seragam Terakhir
Anya selalu memimpikan sayap. Sejak kecil, ia terpesona oleh para pramugari, anggun melangkah di lorong pesawat. Kini, impian itu nyata, ia diterima di maskapai Garuda Abadi.
Hari pertamanya adalah orientasi di markas besar. Bangunan tua itu menyimpan sejarah panjang, lorong-lorongnya berliku misterius. Aroma debu dan masa lalu begitu kental.
Manajernya, Bu Retno, menugaskannya ke gudang arsip. “Kita perlu inventarisasi seragam lama,” katanya. “Banyak yang harus didata ulang, Anya.”
Gudang itu gelap dan lembap, jauh dari kemegahan terminal. Rak-rak baja berkarat menjulang tinggi, dipenuhi kotak-kotak usang. Anya menyalakan senter ponselnya.
Di sudut terjauh, di balik tumpukan kain lapuk, ia menemukan sebuah peti kayu. Tidak terkunci, hanya diselubungi jaring laba-laba tebal. Rasa penasaran Anya membuncah.
Dibukanya peti itu perlahan. Di dalamnya, terlipat rapi, adalah sebuah seragam pramugari. Model kuno, dengan kerah tinggi dan logo burung garuda yang berbeda.
Warna biru tuanya masih pekat, namun terasa dingin saat disentuh. Ada noda samar di bagian lengan, seperti bekas tumpahan yang mengering. Seragam itu memancarkan aura aneh.
Anya meraihnya, merasakan kainnya yang tebal dan berat. Sebuah pin nama kecil masih tersemat di dada. Terukir: “Kirana Dewi – FLT 713”.
Mendadak, hawa dingin merayap dari seragam itu. Bukan dingin biasa, melainkan dingin yang menusuk tulang. Anya bergidik, namun tetap memegang seragam itu erat.
Ia membawa seragam itu ke meja inventaris. Bu Retno terkejut melihatnya. “Itu seragam lama sekali, Anya,” ucapnya. “Dari penerbangan yang… bermasalah.”
Bu Retno enggan menjelaskan lebih lanjut. “Simpan saja, kita akan menanganinya nanti,” katanya. Namun sorot matanya menyimpan cerita kelam.
Anya memutuskan membawa seragam itu ke apartemennya. Ia ingin membersihkannya, mungkin mencari tahu tentang “FLT 713” itu. Sebuah perasaan aneh mendorongnya.
Malam itu, seragam tergantung di lemari pakaiannya. Kamar Anya terasa lebih dingin dari biasanya. Ada bisikan samar, seperti angin melewati celah jendela yang tertutup.
Anya terbangun di tengah malam. Bisikan itu semakin jelas, memanggil namanya. Cahaya bulan menembus jendela, menerangi lemari. Pintu lemari sedikit terbuka.
Seragam itu bergoyang pelan, seolah ada yang baru saja menyentuhnya. Anya merasakan bulu kuduknya merinding. Ia memejamkan mata, berusaha meyakinkan diri bahwa itu hanya mimpi.
Esoknya, Anya mencari informasi tentang Penerbangan 713. Ia menemukan artikel lama yang menguning. Penerbangan itu menghilang tanpa jejak puluhan tahun lalu.
Tidak ada bangkai pesawat ditemukan, tidak ada puing. Hanya misteri yang membungkus hilangnya seluruh penumpang dan kru. Termasuk pramugari bernama Kirana Dewi.
Seragam itu kini terasa seperti beban. Namun, setiap kali Anya ingin menyingkirkannya, ada kekuatan tak kasat mata yang menahannya. Seolah seragam itu memanggilnya.
Suatu sore, saat Anya sedang merapikan seragamnya sendiri, ia melihat pantulan di cermin. Di belakangnya, samar-samar, seragam lama itu tampak lebih jelas.
Seolah ada sosok di dalamnya, berdiri tegak. Wajahnya kabur, namun matanya terasa menatap tajam. Anya membalikkan badan, namun tidak ada apa-apa di sana.
Hanya seragam tua itu, tergantung tak bergerak. Jantung Anya berdebar kencang. Ia mulai merasa seragam itu tidak hanya dingin, tapi juga hidup.
Beberapa hari kemudian, Anya mendapat jadwal penerbangan malam. Ia sedang menyiapkan kopernya, saat tiba-tiba seragam lamanya jatuh dari gantungan.
Tergeletak di lantai, seolah sengaja. Anya merasa dorongan aneh untuk membawanya. Sebuah bisikan halus berkelebat di benaknya, “Ikutlah… pulang…”
Ia mencoba mengabaikannya, namun dorongan itu terlalu kuat. Dengan ragu, Anya melipat seragam itu dan menyelipkannya di dasar kopernya. Ia merasa gila.
Di dalam pesawat, udara dingin menusuk bahkan di ketinggian jelajah. Anya merasa gelisah. Ia terus menatap ke arah bagasi tempat kopernya disimpan.
Tiba-tiba, lampu kabin berkedip-kedip. Mesin pesawat mengeluarkan suara aneh. Penumpang mulai panik. Anya merasakan kedinginan yang menusuk.
Bukan dingin AC, melainkan dingin yang sama seperti saat ia menyentuh seragam itu pertama kali. Ia melihat bayangan samar di ujung lorong pesawat.
Sebuah siluet, mengenakan seragam lama. Siluet itu bergerak perlahan, mendekat. Rambutnya tergerai, menutupi wajahnya. Namun Anya tahu siapa itu.
Itu Kirana Dewi. Rohnya, terperangkap dalam seragam itu. Ia mencari sesuatu, atau ingin menyelesaikan sesuatu yang belum tuntas. Anya merasa jiwanya terancam.
Bisikan di telinganya semakin jelas. “Kembalikan… apa yang hilang…” Suara itu dingin dan bergetar, penuh kesedihan dan kemarahan.
Pesawat bergetar hebat. Alarm peringatan berbunyi nyaring. Para kru berusaha menenangkan penumpang, namun kepanikan meluas. Anya merasa pandangannya kabur.
Ia melihat Kirana Dewi kini berada tepat di depannya. Matanya kosong, namun penuh rasa sakit. Seragamnya berkibar, seolah ada angin kencang di dalam kabin.
Anya jatuh berlutut, berusaha bernapas. Ia meraih ponselnya, mencari foto seragam itu. Ia harus mengakhiri semua ini. Ia tidak bisa bertahan lebih lama.
Dengan tangan gemetar, ia membuka koper di bagasi. Seragam itu terlipat rapi, namun terasa berdenyut. Anya mengangkatnya, lalu melemparkannya ke lantai pesawat.
“Pergi!” teriaknya, suaranya tercekat. “Pulang! Jangan ganggu aku!” Ia tidak peduli jika penumpang lain menganggapnya gila.
Saat seragam itu menyentuh lantai, getaran pesawat mereda. Lampu kembali normal. Suara mesin kembali stabil. Kedinginan itu menghilang seketika.
Bayangan Kirana Dewi lenyap. Keheningan aneh menyelimuti kabin, seolah tak ada yang terjadi. Anya terengah-engah, gemetar di seluruh tubuhnya.
Ia mengambil seragam itu lagi. Kali ini, ia merasakannya dengan jelas. Ada sesuatu di saku kecilnya. Sebuah liontin perak, berukir inisial “KD”.
Anya yakin, inilah yang dicari Kirana. Benda terakhir yang terhubung dengannya. Ia menyimpannya, merasakan beban yang terangkat dari pundaknya.
Setibanya di darat, Anya segera pergi ke sebuah kuil kuno. Dengan bantuan seorang biksu, ia melakukan ritual pelepasan. Liontin itu ia kubur di bawah pohon.
Ia berharap Kirana Dewi akhirnya menemukan kedamaian. Seragam itu ia bakar habis, abu-abunya ia tebarkan ke lautan. Ia tidak ingin ada jejak tersisa.
Anya kembali bekerja, namun pengalaman itu mengubahnya. Setiap kali ia terbang, ia merasakan angin dingin di bahunya. Bisikan samar masih terkadang muncul.
Ia selalu memastikan saku seragamnya kosong. Dan di setiap penerbangan, di kedalaman malam, ia merasa tidak pernah sendirian. Bayangan seragam lama itu selalu ada.
Menemaninya dalam setiap perjalanan, sebuah peringatan abadi. Bahwa ada misteri yang takkan pernah terpecahkan. Dan beberapa kisah takkan pernah benar-benar berakhir.











