Scroll untuk baca artikel
Cerita Profesi

Baru Terjadi! Sosok Gelap Muncul di Luar Jendela — Bukan Manusia?

11
×

Baru Terjadi! Sosok Gelap Muncul di Luar Jendela — Bukan Manusia?

Share this article

 

Bayangan di Luar Jendela

Senja merangkak perlahan, memeluk rumah tua di pinggir hutan dengan tirai kelabu. Anya, seorang seniman yang mencari ketenangan, baru seminggu menempati tempat terpencil itu. Hanya suara hujan yang memecah kesunyian.

Api di perapian menari, memantulkan cahaya jingga pada lukisan-lukisan setengah jadi. Aroma tanah basah dan kayu lapuk memenuhi udara. Anya menyesap teh hangatnya, mencoba mengusir dingin yang merayap.

Tiba-tiba, sebuah gerakan menarik perhatiannya. Di luar jendela besar ruang tamu, di balik tirai hujan lebat, ada sesuatu. Sebuah siluet gelap, nyaris tak terlihat.

Jantung Anya berdesir. Ia mencondongkan tubuh, menajamkan pandangan. Siluet itu berdiri diam, seolah mengawasinya dari kegelapan yang pekat.

Pikiran pertamanya adalah pohon tumbang atau bayangan dahan yang menari. Angin memang bertiup kencang, menggoyangkan dedaunan di luar sana. Ia mencoba meyakinkan diri.

Namun, siluet itu terlalu tegak, terlalu statis untuk dahan pohon. Bentuknya samar, namun ada kesan postur manusiawi yang sulit diabaikan. Ketakutan mulai merayap.

Anya memejamkan mata sesaat, lalu membukanya lagi. Siluet itu masih di sana, tak bergerak. Dingin di ruangan seolah bertambah, bukan dari angin, melainkan dari rasa ngeri yang menusuk.

Ia memaksa dirinya berdiri, mendekati jendela. Setiap langkah terasa berat, seolah kakinya terpaku. Gorden tebal itu terasa seperti penghalang yang rapuh.

Saat Anya mencapai jendela, ia meraih gagang kunci. Jemarinya gemetar. Ia menarik sedikit gorden, mengintip lebih jelas ke luar.

Hanya kegelapan dan hujan yang menyambutnya. Siluet itu telah menghilang. Tidak ada jejak, tidak ada tanda-tanda keberadaan. Seolah hanya ilusi yang ditiupkan angin.

Malam itu, Anya tak bisa tidur nyenyak. Setiap derit lantai, setiap hembusan angin, terasa seperti langkah kaki. Ia terus-menerus melihat ke arah jendela, meyakinkan diri bahwa tidak ada apa-apa.

Pagi tiba, membawa sinar matahari yang menenangkan. Anya mencoba menertawakan ketakutannya sendiri. Mungkin hanya kelelahan atau imajinasinya yang terlalu liar.

Ia menghabiskan hari dengan melukis, mencoba melupakan insiden semalam. Namun, bayangan itu tetap menghantui sudut pikirannya, sebuah noda hitam dalam ketenangan yang ia cari.

Malam berikutnya, hujan kembali. Dan bersama hujan, siluet itu kembali. Kali ini, ia lebih dekat. Bentuknya lebih jelas, meskipun masih diselimuti kegelapan.

Anya melihatnya dari dapur, saat ia sedang membuat teh. Bayangan itu berdiri di dekat pohon pinus tua, sedikit lebih dekat ke rumah daripada semalam.

Ia tidak bisa lagi meyakinkan diri itu hanya dahan. Postur itu, meski samar, jelas milik seseorang. Atau sesuatu. Rasa dingin yang lebih menusuk merayapi tulang punggungnya.

Ia mematikan lampu dapur, bersembunyi di balik kegelapan. Ia menatap lekat, mencoba memahami. Apa yang diinginkan bayangan itu? Mengapa ia ada di sana?

Bayangan itu tidak bergerak, hanya berdiri diam, menghadap rumah. Seolah ia sedang mengamati, menunggu. Atau mungkin, menyampaikan sesuatu tanpa suara.

Anya merasa diawasi. Bukan hanya oleh bayangan itu, tetapi oleh seluruh rumah. Dinding-dinding tua seolah berbisik, menceritakan rahasia kelam yang tak terucap.

Ia berlari ke kamar, mengunci pintu, dan menarik gorden tebal. Ia mencoba membaca buku, namun setiap kata terasa hampa. Pikirannya dipenuhi bayangan di luar jendela.

Hari-hari berikutnya menjadi neraka. Setiap malam, bayangan itu muncul. Kadang di tempat yang sama, kadang bergeser sedikit, seolah menguji keberanian Anya.

Ketakutan berubah menjadi obsesi. Anya mulai mencari tahu tentang rumah itu. Ia mengunjungi perpustakaan kota, mencari arsip lama, bertanya pada penduduk setempat.

Rumah itu memang memiliki sejarah kelam. Pemilik sebelumnya, sebuah keluarga kecil, menghilang secara misterius puluhan tahun lalu. Tidak ada mayat yang ditemukan, hanya asumsi.

Polisi menutup kasus itu sebagai kecelakaan atau pelarian. Namun, gosip di desa mengatakan hal lain. Ada yang menyebut kutukan, ada yang menyebut pembunuhan tersembunyi.

Tidak ada yang pernah tinggal lama di rumah itu setelahnya. Anya adalah orang pertama yang berani. Sekarang ia mengerti alasannya.

Suatu malam, saat bayangan itu muncul, Anya tidak lari. Ia menyalakan semua lampu di rumah, seolah menantang kegelapan. Ia ingin tahu.

Ia mendekati jendela lagi, kali ini tanpa rasa takut yang melumpuhkan. Ia merasakan desakan rasa ingin tahu yang kuat, mengatasi teror.

Bayangan itu tampak lebih padat malam itu. Ia melihat sesuatu di tangan bayangan itu. Sebuah kilatan samar, seperti logam.

Jantung Anya berdebar kencang, namun bukan karena takut, melainkan karena antisipasi. Ia tahu, malam ini sesuatu akan terungkap.

Bayangan itu mengangkat tangannya, menunjuk ke arah tanah, tepat di bawah jendela. Gerakannya lambat, disengaja. Seolah memberi petunjuk.

Anya terpaku. Ia menatap titik yang ditunjuk. Hujan masih turun, membasahi tanah pekarangan. Tidak ada apa-apa di sana, hanya rumput basah.

Namun, bayangan itu terus menunjuk. Dengan desakan yang lebih kuat. Seolah ada sesuatu yang tersembunyi, yang harus ia temukan.

Ia memakai jas hujan dan sepatu bot, lalu membuka pintu depan. Udara dingin menerpa wajahnya. Ia melangkah keluar, menuju titik yang ditunjuk bayangan.

Bayangan itu masih berdiri di tempatnya, mengawasinya. Anya merasakan tatapan itu, namun kali ini terasa seperti bimbingan, bukan ancaman.

Ia berlutut di tanah basah, mengamati. Rumput di sana tampak lebih tinggi, seolah menutupi sesuatu. Ia mulai menyibakkannya dengan tangan.

Jemarinya menyentuh sesuatu yang keras dan dingin. Bukan batu. Ia terus menggali, mengikis tanah basah dengan ujung jarinya.

Terkuaklah sebuah kotak kayu kecil, usang dan basah. Kotak itu terkubur dangkal, nyaris tak terlihat. Anya menariknya keluar, jantungnya berdegup tak karuan.

Ia membawanya masuk, meletakkannya di meja. Kotak itu tidak terkunci. Anya membuka penutupnya dengan hati-hati.

Di dalamnya, tergeletak sebuah buku harian tua dan sebuah medali perak yang berkarat. Buku harian itu basah di beberapa bagian, namun sebagian besar tulisannya masih terbaca.

Anya menyalakan lampu meja, mendekatkan buku harian itu. Tulisannya tangan, rapi namun tergesa-gesa. Itu adalah buku harian Sarah, putri dari keluarga yang menghilang.

Tanggal terakhir di buku harian itu adalah hari di mana keluarga itu menghilang. Isi tulisannya membuat darah Anya membeku.

Sarah menulis tentang ayah dan ibunya yang menemukan sesuatu yang mengerikan di hutan, dekat batas properti. Sesuatu yang seharusnya tetap terkubur.

“Mereka tidak bisa memberitahu siapa pun,” tulis Sarah. “Ada orang-orang yang mengawasi. Mereka menginginkan apa yang Ayah temukan.”

Tulisan itu berlanjut dengan ketakutan yang meningkat. Mereka mencoba melarikan diri, namun tidak berhasil. Malam itu, mereka diserang.

“Bukan hantu,” tulis Sarah dengan tulisan yang semakin kacau. “Bukan kecelakaan. Mereka adalah orang-orang dari kota. Mereka ingin membungkam kami.”

Kata-kata terakhirnya adalah sebuah nama, sebuah nama yang familiar. Nama seorang pengusaha terkemuka di kota itu, yang baru meninggal setahun lalu.

Dan medali perak itu, sebuah medali kehormatan dari sebuah organisasi rahasia yang tidak pernah diakui secara resmi. Organisasi yang konon memiliki pengaruh besar di balik layar.

Anya menatap keluar jendela. Bayangan itu tidak ada lagi. Ia menghilang. Misinya telah selesai. Ia telah membimbing Anya pada kebenaran yang terkubur.

Kini, rasa takutnya telah bergeser. Bukan lagi pada bayangan di luar jendela, melainkan pada kebenaran yang ia temukan. Kebenaran yang sangat berbahaya.

Ia memegang buku harian itu erat-erat. Ia tahu ia harus melakukan sesuatu. Kebenaran ini tidak bisa dibiarkan terkubur lagi.

Malam itu, Anya menghubungi polisi, menceritakan semuanya. Awalnya mereka skeptis, namun bukti fisik dari buku harian dan medali itu terlalu kuat.

Kasus lama dibuka kembali. Penyelidikan yang mendalam dimulai, mengungkap jaringan korupsi dan kejahatan yang meluas, jauh melampaui apa yang dibayangkan siapa pun.

Rumah tua itu kini tidak lagi terasa menakutkan. Justru terasa seperti saksi bisu, penjaga kebenaran. Bayangan di luar jendela telah menemukan kedamaiannya.

Namun, Anya tahu, kebenaran memiliki harga. Ia telah melihat apa yang tidak seharusnya ia lihat, mengungkap apa yang seharusnya tetap tersembunyi.

Ia telah menjadi bagian dari misteri itu. Dan terkadang, bahkan setelah bayangan menghilang, jejaknya tetap melekat, membisikkan peringatan tentang kegelapan yang selalu ada di luar jendela.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *