Scroll untuk baca artikel
Cerita Profesi

“Fenomena Aneh di Sebuah Kabin — Senter Merah Itu Menyala Tanpa Pemilik

10
×

“Fenomena Aneh di Sebuah Kabin — Senter Merah Itu Menyala Tanpa Pemilik

Share this article

 

Senter Merah dari Ujung Kabin

Hutan itu menelan suara kota, membiarkan Arif tenggelam dalam keheningan yang lama ia dambakan. Kabin kayu tua itu, warisan dari kakeknya, berdiri kokoh di tengah belantara, jauh dari keramaian dan sinyal ponsel. Arif datang mencari ketenangan, inspirasi untuk tulisan barunya, dan mungkin sedikit pelarian.

Malam pertama berlalu tenang, hanya diisi derit angin dan gemericik sungai. Arif merasa damai, menikmati secangkir kopi hangat di beranda. Ia merenungkan bab-bab yang akan ia tulis, membiarkan imajinasinya melayang bebas. Kabin itu terasa seperti pelukan hangat dari masa lalu.

Namun, ketenangan itu tak bertahan lama. Saat tengah malam menjelang, ketika bulan sabit menyabit di antara ranting-ranting pinus, sebuah bintik merah muncul. Cahaya itu berkedip, samar, di ujung kabin, tepat di balik jendela kamar tidur yang tak terpakai.

Arif mengira itu hanya pantulan cahaya bulan atau ilusi optik. Ia mengucek mata, mengintip lagi, namun cahaya itu sudah lenyap. “Mungkin hanya kelelahan,” gumamnya, mencoba meyakinkan diri. Ia kembali ke mejanya, melanjutkan membaca, namun pikirannya terusik.

Malam kedua, cahaya merah itu kembali. Kali ini lebih jelas, lebih lama. Ia berdenyut perlahan, seperti detak jantung yang melambat, di tempat yang sama. Arif berdiri, mendekati jendela ruang tamu, mencoba melihat lebih baik. Jantungnya berdebar pelan.

Tidak ada apa-apa di luar sana, hanya kegelapan hutan yang pekat. Cahaya itu seolah melayang di udara, tanpa sumber yang jelas. Ia menghilang secepat ia muncul, meninggalkan Arif dengan rasa penasaran yang bercampur gelisah. Ini bukan ilusi.

Ia mencoba mencari penjelasan logis. Mungkin ada hewan liar dengan mata yang memantulkan cahaya? Tapi cahaya itu terlalu stabil, terlalu berbentuk. Atau mungkin ada pendaki tersesat? Namun, siapa yang akan membawa senter merah di tengah hutan belantara?

Rasa damai yang dicari Arif mulai terkikis. Ia merasakan sensasi aneh, seolah-olah ada mata tak terlihat yang mengawasinya. Setiap derit kayu, setiap embusan angin di luar, terasa seperti bisikan misterius. Malam-malamnya menjadi lebih panjang.

Cahaya merah itu kini menjadi tamu tetap setiap malam. Ia tidak hanya berkedip, tetapi kadang bergerak perlahan. Dari ujung kabin, ia bisa bergeser sedikit ke arah pepohonan, lalu kembali lagi. Polanya tak menentu, namun kehadirannya pasti.

Arif mulai tidur tidak nyenyak, terjaga oleh setiap suara. Ia bahkan memasang tirai tebal di jendela yang mengarah ke ujung kabin. Namun, itu tidak membantu. Ia tahu cahaya itu ada di luar sana, bahkan jika ia tak bisa melihatnya langsung.

Suatu malam, saat hujan deras mengguyur, cahaya merah itu muncul lagi. Kali ini, ia tampak lebih besar, lebih intens. Arif memberanikan diri, mendekati jendela perlahan. Ia menarik sedikit tirai, mengintip keluar ke dalam kegelapan yang basah.

Cahaya itu tidak lagi samar. Ia memancar kuat, menembus tirai hujan. Dan yang lebih mengerikan, ia tidak lagi hanya berdiam di ujung kabin. Cahaya itu bergerak, perlahan tapi pasti, mendekat ke arah dinding tempat ia berdiri.

Jantung Arif berpacu kencang. Ia bisa merasakan hawa dingin yang merayap di punggungnya, bukan hanya karena suhu, tetapi karena ketakutan. Siapa atau apa yang membawa senter merah itu? Dan mengapa ia mendekat?

Ia menahan napas, menempelkan telinganya ke dinding kayu. Ia bersumpah mendengar sesuatu. Suara gesekan lembut, seperti kain yang bergeser di kayu basah. Lalu, langkah kaki. Satu, dua, tiga langkah, sangat pelan, sangat dekat.

Cahaya merah itu kini menyorot tepat ke arah jendelanya, menembus tirai tipis. Arif bisa melihat bayangan kabur di balik kaca, sebuah siluet. Bukan siluet manusia normal. Bentuknya terlalu tinggi, terlalu kurus, dan kepalanya condong ke satu sisi.

Napas Arif tercekat. Ia mundur perlahan, menjauhi jendela. Ia mencari sesuatu untuk membela diri, matanya menyapu seisi ruangan. Sebuah linggis tua di sudut. Ia meraihnya, genggamannya bergetar hebat. Ia tahu ia harus menghadapi ini.

Tiba-tiba, cahaya merah itu bergerak cepat. Ia tidak lagi menyorot jendela, melainkan melesat ke atas, ke atap kabin. Lalu, sebuah suara. Bukan langkah kaki, bukan gesekan. Itu adalah suara desisan, seperti udara yang keluar dari balon.

Arif menahan napas, mendengarkan. Desisan itu diikuti oleh suara benda jatuh. Bukan suara keras, lebih seperti sesuatu yang ringan menabrak tanah basah. Lalu, hening. Hutan kembali menelan semua suara.

Ia menunggu, linggis di tangan, selama entah berapa lama. Tidak ada lagi cahaya merah. Tidak ada lagi suara. Hanya tetesan hujan yang sesekali menabrak atap. Keberaniannya perlahan kembali, digantikan oleh rasa penasaran yang kuat.

Dengan hati-hati, Arif mendekati pintu belakang. Ia membuka kuncinya perlahan, menarik napas dalam-dalam, lalu mendorong pintu terbuka. Udara dingin dan lembap menerpa wajahnya. Ia menyalakan senter biasa miliknya, menyapu kegelapan.

Di tanah basah, tepat di bawah ujung kabin tempat cahaya merah itu selalu muncul, tergeletak sesuatu. Benda itu kecil, bundar, dan berwarna merah tua. Bukan senter. Itu adalah sebuah liontin.

Arif membungkuk, mengambilnya. Liontin itu terbuat dari kayu yang diukir halus, berbentuk seperti mata yang terbuka. Di bagian tengahnya, ada batu permata kecil berwarna merah gelap, yang memantulkan cahaya senternya. Ini adalah sumber cahaya merah itu.

Namun, bagaimana liontin ini bisa memancarkan cahaya sendiri? Dan mengapa ia selalu muncul di tempat yang sama? Arif membalik liontin itu. Di bagian belakang, terukir sebuah nama: “Clara.” Dan di bawahnya, serangkaian angka: “1942.”

Ia kembali ke dalam, hatinya masih berdebar. Liontin itu terasa dingin di telapak tangannya. Siapa Clara? Dan apa hubungan tahun 1942 dengan kabin ini? Ia tidak pernah mendengar cerita tentang nama itu dari kakeknya.

Malam itu, Arif tidak bisa tidur sama sekali. Ia menghabiskan sisa malamnya dengan liontin di tangan, menatapnya dalam-dalam. Ia tahu ada rahasia di balik kabin ini, rahasia yang kini memanggilnya dengan cahaya merah misterius.

Keesokan paginya, ia mulai mencari. Ia memeriksa setiap sudut kabin, setiap celah. Ia menemukan sebuah papan lantai yang longgar di bawah tempat tidur di kamar yang tak terpakai, kamar yang menghadap ke ujung kabin. Di bawahnya, sebuah kotak kayu tua.

Kotak itu berdebu, terkunci dengan gembok berkarat. Arif mencari kunci yang cocok, dan akhirnya menemukan sebuah kunci kecil di laci meja kakeknya. Dengan gemetar, ia membuka gembok itu. Di dalamnya, ada sebuah buku harian yang usang.

Buku harian itu milik seorang wanita bernama Clara. Tanggal pertama tertulis tahun 1942. Arif mulai membaca. Clara adalah penghuni kabin ini sebelum kakeknya, seorang wanita yang hidup sendiri dan memiliki kepekaan spiritual yang kuat.

Ia menulis tentang “entitas” yang hidup di hutan, roh-roh kuno yang kadang-kadang berkomunikasi dengannya. Dan yang paling mengejutkan, Clara sering menulis tentang “mata merah” yang mengawasinya dari ujung kabin, sebuah tanda peringatan atau kehadiran.

Ia bahkan menggambar liontin yang kini dipegang Arif, menyebutnya sebagai “pelindung” dan “penghubung.” Clara menulis bahwa mata merah itu kadang memancarkan cahaya sendiri, membimbingnya pada saat-saat genting atau mengungkapkan kebenaran yang tersembunyi.

Arif membaca hingga halaman terakhir. Clara menulis tentang sebuah rahasia terpendam di dalam kabin, sebuah kejahatan yang terjadi di masa lalu. Ia mencoba mengungkapkannya, namun usahanya terhalang. Catatan terakhirnya sangat singkat: “Mata merah itu menunjukkan jalannya. Aku harus pergi.”

Buku harian itu berakhir di sana. Tidak ada penjelasan tentang apa yang terjadi pada Clara. Arif menatap liontin di tangannya, lalu ke jendela kamar yang menghadap ke ujung kabin. Apakah cahaya merah itu adalah roh Clara, mencoba membimbingnya?

Rasa takut bercampur dengan rasa takjub. Ia tidak lagi melihat cahaya merah itu sebagai ancaman, melainkan sebagai petunjuk. Ada sesuatu yang harus ia temukan, sesuatu yang Clara tinggalkan. Dan mata merah itu akan terus mengawasinya.

Hutan itu kini terasa berbeda. Bukan lagi tempat pelarian, melainkan labirin misteri. Arif tahu ia tidak bisa pergi. Ia harus mengikuti cahaya merah itu, apa pun kebenarannya. Petualangannya di kabin ini baru saja dimulai.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *