
Layover Terakhir Seorang Teman
Kabar itu datang seperti hantaman balok es di tengah gurun. Rizky, sahabatku, tewas. “Serangan jantung,” kata laporan resmi, di Bandara Internasional Garuda Kencana. Anehnya, dia sedang dalam layover terakhirnya sebelum kembali ke tanah air.
Aku tidak percaya. Rizky adalah gunung es. Sehat, atletis, dan selalu punya rencana cadangan. Serangan jantung? Di usia dua puluh sembilan? Ini lebih dari sekadar kebetulan, ini adalah anomali yang menusuk.
Namun, seminggu setelah pemakamannya, sebuah paket tiba. Isinya: USB drive usang, tanpa label, dan selembar kertas bertuliskan koordinat acak. “Jangan percaya apa pun, kecuali ini,” pesan terakhirnya, dikirim beberapa jam sebelum dia ditemukan tak bernyawa.
Pikiranku berputar. Rizky bukan tipe yang mati mendadak. Dia terlalu sehat, terlalu berhati-hati. Koordinat itu menunjuk ke satu tempat: Bandara Garuda Kencana, tempat layovernya. Sebuah bisikan curiga mulai tumbuh, melilit hatiku.
Aku terbang ke sana, menembus zona waktu dan kabut duka. Bandara itu adalah labirin baja dan kaca, dipenuhi bisikan asing dan langkah kaki tergesa. Sebuah mikrokosmos dunia, tempat cerita dimulai dan berakhir tanpa jejak.
Aku merasa setiap pasang mata mengamatiku. Para pelancong, petugas keamanan, bahkan pramugari yang tersenyum ramah. Semuanya tampak seperti bagian dari sebuah sandiwara besar yang aku tidak mengerti naskahnya.
Petugas informasi menggeleng. Keamanan tersenyum sopan, namun informasinya minim. Rizky hanya seorang penumpang transit, salah satu dari jutaan yang melintas. Tidak ada yang mencurigakan, mereka bersikeras.
Aku mencoba mengakses rekaman CCTV. Alasan birokrasi yang rumit menjadi tameng. “Privasi penumpang,” kata seorang petugas berwajah dingin. Seolah-olah kematian Rizky adalah urusan pribadi yang tak perlu diusut.
Aku tahu mereka berbohong. Atau menyembunyikan sesuatu. Firasatku berteriak, mengingatkanku pada Rizky yang selalu waspada, selalu melihat di balik tirai. Dia pasti telah melihat sesuatu yang tidak seharusnya.
USB drive itu menjadi satu-satunya petunjuk. Aku mencolokkannya ke laptop di kamar hotel bandara yang pengap. Sebuah folder terenkripsi muncul, dilindungi dengan sandi rumit. Aku mencoba tanggal lahir, nama ibu, bahkan angka keberuntungan Rizky. Nihil.
Lalu aku teringat kebiasaan lamanya. Kata sandi paling rumit adalah yang paling sederhana. Tanggal keberangkatan penerbangan terakhirnya, digabungkan dengan nomor kursinya. Layar berkedip, folder terbuka.
Di dalamnya ada sebuah video pendek, hanya beberapa detik. Goyang, gelap, lalu siluet seseorang yang buram. Sebuah desisan samar, seperti gesekan logam, lalu kegelapan. Tidak ada suara, hanya visual yang mengganggu.
Video itu tidak merekam kematiannya. Itu merekam penemuannya. Sebuah jalur tersembunyi, di balik panel dinding yang tampak biasa. Jalur yang digunakan untuk sesuatu yang gelap, sesuatu yang membuat Rizky terbunuh.
Aku kembali ke bandara, kali ini dengan mata yang berbeda. Aku mencari detail, kejanggalan. Di mana letak panel itu? Video itu terlalu buram, tetapi ada detail samar: sebuah plang bertuliskan “Maintenance Access” dan nomor seri yang samar.
Aku menghabiskan jam-jam berikutnya menyusuri setiap lorong servis, setiap sudut terpencil. Bau disinfektan bercampur dengan aroma kopi dan jet fuel. Waktu terasa melambat, setiap langkahku dipenuhi ketegangan.
Di sebuah lorong servis di dekat gerbang keberangkatan yang sepi, aku menemukannya. Panel baja usang, tampak sama seperti ribuan panel lainnya. Namun, ada goresan kecil yang tersembunyi, jejak kuku yang familiar.
Itu pasti Rizky. Dia pasti mencoba membukanya. Tanganku gemetar saat meraba permukaannya. Tidak ada pegangan, tidak ada celah. Aku mencoba mendorong, menarik, bahkan menendangnya pelan. Tidak bergerak.
Lalu aku teringat desisan di video itu. Gesekan logam. Aku memeriksa setiap sambungan, setiap baut. Salah satunya terasa sedikit longgar. Aku mengeluarkan jepit rambut dari sakuku, mencoba memutar baut itu.
Bunyi “klik” yang nyaris tak terdengar memecah keheningan. Panel itu bergeser sedikit, menampakkan celah sempit yang gelap. Di dalamnya, sebuah lorong sempit, remang-remang, berbau apek.
Jantungku berdebar tak karuan. Ini dia. Ini yang Rizky temukan. Ini yang membunuhnya. Aku menyalakan senter ponsel, melangkah masuk. Lorong itu berliku, menurun, seperti urat nadi raksasa di bawah perut bandara.
Suara dengung mesin pesawat terdengar lebih jauh, lebih teredam. Aku melangkah hati-hati, waspada terhadap setiap bayangan, setiap suara. Lorong itu terasa tak berujung, seperti sebuah jebakan yang menungguku.
Lalu aku melihatnya. Sebuah ruangan kecil di ujung lorong, diterangi lampu redup. Di dalamnya, tumpukan koper-koper usang, beberapa terbuka, memperlihatkan isi yang aneh. Bukan pakaian, bukan oleh-oleh.
Tumpukan uang tunai dalam berbagai mata uang, bungkus-bungkus plastik berisi bubuk putih, dan senjata api yang diselipkan di antara lapisan kain. Sebuah sindikat besar. Ini bukan sekadar penyelundupan biasa.
Ini adalah operasi berskala internasional, bersembunyi di jantung salah satu bandara tersibuk di dunia. Rizky tidak hanya melihatnya, dia pasti punya bukti. Mungkin dia mencoba merekam lebih banyak.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari lorong di belakangku. Jantungku mencelos. Mereka tahu aku di sini. Mereka telah mengikutiku. Aku mematikan senter ponsel, bersembunyi di balik tumpukan koper.
Bayangan seorang pria tinggi, berbadan tegap, melintas di depan pintu masuk ruangan. Dia memegang senter, menyapukan cahayanya ke setiap sudut. Aku menahan napas, berharap kegelapan akan melindungiku.
Dia berhenti. Cahaya senternya menyapu tepat di atasku. Aku bisa merasakan tatapannya, meskipun aku tidak bisa melihat matanya. Keringat dingin membasahi punggungku. Ini adalah akhir.
Tiba-tiba, sebuah alarm kebakaran berbunyi nyaring di seluruh penjuru bandara. Suara sirine yang memekakkan telinga memenuhi lorong. Pria itu mengumpat, berbalik, dan berlari kembali ke arah pintu masuk.
Aku tidak tahu siapa yang membunyikan alarm itu, atau apakah itu kebetulan. Tapi aku tidak menyia-nyiakan kesempatan. Aku merayap keluar dari persembunyianku, berlari secepat yang kubisa kembali ke panel rahasia.
Aku tidak tahu bagaimana cara menutupnya, jadi aku membiarkannya terbuka. Biarkan mereka panik. Biarkan mereka tahu bahwa rahasia mereka telah terungkap. Aku berlari, menembus lorong, menuju cahaya di ujung.
Aku keluar dari panel, napas terengah-engah, kembali ke hiruk pikuk bandara. Orang-orang berlarian, mencari tahu apa yang terjadi dengan alarm. Aku berbaur di antara mereka, mencoba terlihat setenang mungkin.
Mataku menyapu kerumunan. Tidak ada lagi bayangan yang mengikutiku. Setidaknya untuk saat ini. Aku tahu aku belum aman. Aku telah melihat terlalu banyak, menemukan terlalu banyak.
Aku segera menuju gerbang keberangkatan terdekat. Tidak peduli ke mana tujuannya, aku harus keluar dari bandara ini. Aku harus melaporkan apa yang kutemukan. Aku harus menuntaskan misi Rizky.
Sambil menunggu boarding, aku mengirim email ke beberapa kontak jurnalis investigasi yang Rizky pernah ceritakan. Lampiran video pendek dan beberapa detail yang kutemukan. Lalu aku menghapus email itu dari ponselku.
Ponselku bergetar. Sebuah pesan tak dikenal: “Permainan baru saja dimulai.” Layover terakhir Rizky bukan akhir, melainkan awal. Awal dari perburuanku, atau perburuanku oleh mereka.
Aku melihat sekeliling, setiap wajah terasa mencurigakan. Setiap bisikan terdengar seperti ancaman. Bandara, yang dulunya adalah tempat transisi, kini terasa seperti medan perang yang tak terlihat.
Dan aku tahu, aku tidak bisa berhenti sekarang. Tidak sampai aku menemukan kebenaran di balik setiap bayangan di bandara itu. Tidak sampai keadilan ditegakkan untuk layover terakhir seorang teman.











