Scroll untuk baca artikel
Cerita Profesi

Penampakan Misterius di Dalam Kabin — Kru dan Penumpang Masih Syok

12
×

Penampakan Misterius di Dalam Kabin — Kru dan Penumpang Masih Syok

Share this article

 

 

Sosok di Kursi Kru yang Kosong

Malam itu, Kapten Aris melayang di atas Samudra Hindia. Di ketinggian jelajah 35.000 kaki, kokpit Boeing 747 kargo itu terasa seperti kapsul terisolasi. Hanya suara dengung mesin dan sesekali transmisi radio yang menemani kesunyian.

Dimas, co-pilotnya, sudah pulas di ruang istirahat kru. Penerbangan dari Jakarta menuju Amsterdam ini masih panjang. Aris menikmati ketenangan, matanya memindai panel instrumen yang berpendar hijau.

Pandangannya melirik ke kursi co-pilot. Kursi itu kosong, sandaran kepalanya sedikit miring ke samping. Aris bersumpah melihat pantulan samar di layar navigasi. Seolah ada seseorang duduk di sana.

Dia mengedipkan mata, memfokuskan pandangan. Tidak ada. Mungkin hanya kelelahan, pikirnya. Jam terbangnya minggu ini memang cukup padat. Aris kembali menatap panel.

Lima belas menit kemudian, hawa dingin aneh merayap di kokpit. Bukan dingin AC, melainkan hawa menusuk tulang yang tak lazim. Bulu kuduk Aris merinding, meskipun dia tak mengerti mengapa.

Matanya kembali tertarik ke kursi kosong. Kali ini, tidak ada pantulan. Tapi sebuah siluet. Sangat tipis, nyaris transparan. Namun jelas membentuk sosok seorang pria.

Sosok itu duduk tegak, menghadap ke depan, seolah sedang memantau landskap malam. Aris menahan napas. Jantungnya mulai berdebar kencang, memompakan adrenalin ke seluruh tubuhnya.

Dia menggosok matanya kasar. Menggelengkan kepala. Ini pasti halusinasi. Efek kurang tidur, tekanan pekerjaan, dan kesendirian di tengah samudra luas. Itu saja.

Aris mencoba meraih interkom untuk membangunkan Dimas. Tangannya gemetar. Kerongkongannya tercekat. Kata-kata tidak mau keluar. Dia merasa konyol jika menceritakan hal ini.

Bagaimana jika Dimas menganggapnya gila? Seorang kapten yang berhalusinasi di tengah penerbangan penting. Reputasinya akan hancur. Kariernya tamat.

Dia menarik napas dalam-dalam. Memaksakan diri untuk tenang. Ini hanya bayangan. Dia pasti bisa mengusirnya. Aris berulang kali memejamkan mata dan membukanya lagi.

Namun, setiap kali dia membuka mata, sosok itu masih di sana. Semakin jelas. Dia bisa melihat detail samar pada seragam pilot yang dikenakannya. Seragam kuno, seolah dari era lama.

“Siapa di sana?” bisik Aris, suaranya parau. Kokpit itu tetap sunyi, hanya suara mesin yang menderu. Sosok itu tidak bergerak, tidak merespons. Hanya duduk diam.

Aris meraih senter kecilnya. Dia menyalakannya dan mengarahkannya ke kursi co-pilot. Cahaya senter menembus sosok itu, seolah tidak ada apa-apa di sana. Hanya udara kosong.

Namun, di matanya, sosok itu tetap terlihat. Sebuah anomali yang membingungkan. Membuat Aris merasa terjebak di antara kenyataan dan sesuatu yang tak terjelaskan.

Dia mencoba menyentuh kursi itu. Tangannya menembus ke dalam apa yang dia lihat sebagai “sosok” itu. Tidak ada apa-apa. Hanya kain jok kursi yang dingin di bawah jemarinya.

Aris menarik tangannya kembali. Dinginnya kursi itu terasa menusuk, seolah menyalurkan hawa kematian. Dia menatap sosok itu lagi, kali ini dengan ketakutan murni.

Sosok itu perlahan menoleh. Gerakannya lambat, patah-patah, seperti boneka tua. Aris merasa darahnya membeku. Mata sosok itu, atau di mana seharusnya mata berada, menatapnya.

Tidak ada bola mata yang terlihat, hanya rongga hitam pekat. Namun, Aris bisa merasakan tatapan itu. Tatapan yang dingin, kosong, dan penuh kesedihan yang tak terhingga.

“Apa yang kau inginkan?” Aris nyaris tidak bisa bicara. Tenggorokannya kering. Keringat dingin membasahi punggungnya, meskipun suhu di kokpit semakin turun drastis.

Tiba-tiba, suara statis tajam memecah kesunyian interkom. Aris terlonjak. Dia meraih headset-nya, mengira ada panggilan darurat. Tapi tidak ada. Hanya statis.

Statis itu menghilang secepat ia datang. Aris menoleh ke sosok itu. Sosok itu kini mengangkat tangan kanannya. Jemarinya menunjuk ke arah panel kontrol di depan Aris.

Aris mengikuti arah tunjukan itu. Tangan hantu itu mengarah pada salah satu tombol, tombol untuk mematikan sistem navigasi otomatis. Otaknya berteriak, ini tidak mungkin.

Pilot selalu menggunakan autopilot untuk penerbangan jarak jauh. Mematikannya secara mendadak bisa menyebabkan masalah serius. Namun, sosok itu menunjuknya lagi. Lebih mendesak.

Tiba-tiba, pesawat itu bergetar hebat. Alarm peringatan berbunyi nyaring. “Turbulensi ekstrem!” Suara komputer berteriak, menggantikan kesunyian yang mencekam.

Aris panik. Dia melihat ke radar cuaca. Tidak ada badai. Tidak ada awan cumulonimbus. Langit tampak jernih, hanya bertabur bintang. Ini tidak masuk akal.

Guncangan semakin parah. Pesawat seolah terlempar ke atas dan ke bawah, seperti mainan di tengah badai tak terlihat. Aris berpegangan pada kemudi dengan sekuat tenaga.

Sosok di kursi co-pilot itu kini menunjuk lagi, kali ini ke arah tuas pendorong. Jemarinya seolah memaksa Aris untuk mendorong tuas pendorong maju, menambah kecepatan.

Aris bingung. Dalam turbulensi, prosedur standar adalah mengurangi kecepatan, bukan menambahnya. Tapi ada sesuatu dalam tatapan kosong sosok itu yang memaksanya.

Instingnya berteriak untuk tidak mengikuti. Namun, ketakutan yang lebih besar, rasa tidak berdaya, mendorongnya. Aris menggerakkan tuas pendorong. Mesin menderu lebih keras.

Pesawat itu menukik tajam ke bawah. Alarm “Pull Up! Pull Up!” meraung. Aris merasa perutnya melilit. Dia sudah membuat kesalahan fatal. Dia akan mati di sini.

Sosok itu menunjuk lagi. Kali ini ke layar navigasi. Sebuah titik kecil berkedip di sana, jauh di bawah posisi mereka saat ini. Titik itu, Aris sadar, adalah sebuah pulau kecil.

Pulau itu tidak ada di peta penerbangan mereka. Sebuah anomali. Sosok itu menunjuk ke sana, lalu ke tombol yang tadi. Tombol navigasi otomatis.

Aris mengerti. Sosok itu tidak menyuruhnya mematikan navigasi. Sosok itu menyuruhnya mengubah navigasi. Menuju ke titik aneh itu, lalu mematikan autopilot untuk mengambil alih secara manual.

Dia dengan cepat mengubah koordinat di sistem navigasi. Alarm “Turbulensi” mereda. Guncangan berhenti. Pesawat stabil kembali. Seolah tidak ada apa-apa yang terjadi.

Aris menoleh ke sosok itu. Sosok itu tersenyum samar. Sebuah senyum yang tak terlihat, namun Aris bisa merasakannya. Lalu, secepat kilat, sosok itu menghilang.

Kokpit kembali sunyi, hanya suara mesin yang mendengung pelan. Hawa dingin menghilang. Aris menatap kursi co-pilot yang kini benar-benar kosong. Tubuhnya gemetar hebat.

Dia mencoba menenangkan diri. Dia melihat ke layar navigasi. Titik aneh itu masih ada. Sebuah pulau kecil yang tidak tercatat di rute penerbangan resmi.

Dimas terbangun beberapa menit kemudian, menguap lebar. “Ada masalah, Kapten?” tanyanya, suaranya serak. “Aku merasa sedikit guncangan tadi.”

Aris menggeleng. “Tidak ada. Hanya sedikit turbulensi ringan. Sudah berlalu,” jawabnya, suaranya sendiri terdengar asing di telinganya. Dia tidak berani menceritakan apa pun.

Sisa penerbangan berjalan normal. Aris mendaratkan Boeing 747 itu dengan mulus di Schiphol, Amsterdam. Setelah itu, dia tidak bisa tidur selama berhari-hari.

Dia mencari tahu tentang penerbangan di rute yang sama. Mencari kecelakaan pesawat di sekitar Samudra Hindia. Data penerbangan lama. Apa pun yang bisa menjelaskan.

Beberapa minggu kemudian, di sebuah forum penerbangan online yang usang, dia menemukan sebuah artikel lama. Sebuah artikel tentang hilangnya pesawat kargo pada tahun 1978.

Pesawat itu, sebuah Boeing 747 kargo, menghilang tanpa jejak di atas Samudra Hindia. Tidak ada puing, tidak ada sinyal. Seluruh kru, termasuk co-pilot, dinyatakan hilang.

Lokasi terakhir yang diperkirakan pesawat itu berada, sebelum menghilang, persis di atas koordinat pulau kecil yang ditunjukkan oleh sosok itu. Pulau yang tidak ada di peta.

Aris melihat foto co-pilot yang hilang itu. Jantungnya berhenti berdetak. Wajah di foto itu, meskipun buram, sangat mirip dengan siluet yang dia lihat. Seragam yang sama.

Dia tidak pernah terbang sendirian lagi. Setiap kali Dimas beristirahat, Aris akan selalu melirik kursi co-pilot. Kursi itu selalu kosong. Namun tidak pernah terasa kosong lagi.

Sosok itu tidak pernah muncul lagi. Tetapi kehadirannya, bayangan yang tak terlihat, selalu ada. Menemani Aris dalam setiap penerbangan panjangnya.

Apakah itu roh yang terjebak? Sebuah peringatan? Atau hanya sisa-sisa trauma yang mencari penebusan? Aris tidak tahu. Dia hanya tahu satu hal.

Dia tidak pernah lagi mempertanyakan hal-hal yang tidak bisa dijelaskan. Dia tahu ada sesuatu di luar pemahaman manusia. Sesuatu yang melayang di antara bintang-bintang.

Dan kadang-kadang, sesuatu itu memilih untuk menunjukkan dirinya. Di kursi kru yang kosong. Menunggu. Mengawasi. Selamanya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *