Scroll untuk baca artikel
Cerita Profesi

Panggilan Penumpang Misterius Gegerkan Bandara, Tak Ada Identitas Terdeteksi

11
×

Panggilan Penumpang Misterius Gegerkan Bandara, Tak Ada Identitas Terdeteksi

Share this article

 

Panggilan Penumpang Misterius Gegerkan Bandara, Tak Ada Identitas Terdeteksi

Aku Dipanggil Penumpang yang Tak Ada di Daftar

Malam itu dingin, dengan gerimis tipis yang menempel di kaca mobilku. Aku Rudi, seorang pengemudi taksi online yang sudah melakoni profesi ini selama lima tahun. Jarang sekali ada hal aneh terjadi, paling hanya penumpang mabuk atau rute yang tak jelas.

Namun, malam ini berbeda. Sebuah notifikasi pesanan masuk ke ponselku, dengan nama yang tidak biasa: “Ayu Lestari”. Lokasi penjemputan terpampang di layar, sebuah alamat di pinggir kota yang nyaris tak pernah dilewati.

Aku mengernyit. Biasanya, pesanan dari area ini selalu ramai, tapi kali ini sepi sekali. Waktu menunjukkan pukul satu dini hari, saat jalanan sudah mulai lengang.

Aku tetap melaju, mengikuti petunjuk GPS. Rasa tidak nyaman mulai merayap. Udara di dalam mobil terasa lebih dingin, padahal AC sudah aku matikan sejak tadi.

Sesampainya di titik penjemputan, yang kulihat hanyalah sebuah rumah tua berarsitektur kolonial, dikelilingi pagar besi berkarat dan tanaman liar. Lampu-lampu rumah itu padam, gelap gulita seolah tak berpenghuni.

Aku mematikan mesin, lalu mencoba menghubungi penumpang. Nada sambung berdering, namun tak ada yang mengangkat. Aku mencoba lagi, hasilnya sama.

“Aneh,” gumamku. Aku memutuskan untuk menunggu sebentar, mungkin saja sinyalnya jelek. Lima menit berlalu, kemudian sepuluh. Tak ada tanda-tanda kehidupan di rumah itu.

Aku sudah bersiap menekan tombol “Batalkan Pesanan”, ketika tiba-tiba, sebuah suara halus menyapa dari kursi belakang. “Maaf, lama menunggu ya?”

Jantungku serasa melompat ke tenggorokan. Aku menoleh ke belakang dengan cepat. Tak ada siapa-siapa. Kursi penumpang kosong melompong.

Aku menelan ludah. Keringat dingin mulai membasahi punggungku. “Siapa itu?” tanyaku, suaraku tercekat.

Tak ada jawaban. Hanya keheningan yang mencekam, diselingi suara rintik hujan yang semakin deras di atap mobil. Aku mengira mungkin aku terlalu lelah dan berhalusinasi.

Aku meraih ponsel, berniat mengecek kembali daftar pesanan. Namun, di layar aplikasi, tertera status “Perjalanan Dimulai”. Bagaimana bisa? Aku bahkan belum menekan tombol apa pun.

Lebih mencengangkan lagi, destinasi sudah terpampang jelas: sebuah alamat di pusat kota, tepat di seberang sebuah pemakaman tua. Aku tak pernah melihat alamat itu sebelumnya.

Aku mencoba menenangkan diri. Mungkin ini hanya glitch aplikasi, atau ulah iseng seseorang. Tapi sensasi dingin di dalam mobil dan suara tadi sungguh nyata.

Aku menyalakan mesin kembali, memutuskan untuk mengikuti saja petunjuk itu. Toh, aku sudah terlanjur “memulai perjalanan”. Aku melaju perlahan, dengan mata awas menatap spion tengah.

Aku merasa ada kehadiran di kursi belakang. Bukan sosok fisik, tapi semacam aura. Bau melati samar-samar tercium, bercampur aroma tanah basah.

Setiap kali aku melewati lampu jalan, aku melirik spion. Aku bersumpah melihat pantulan samar, seperti siluet seorang wanita dengan rambut panjang, di kursi belakang. Namun, ketika aku memfokuskan pandangan, pantulan itu menghilang.

Bulu kudukku merinding. Aku menguatkan genggaman pada setir. Aku mencoba berpikir logis, tapi logikaku seolah lumpuh oleh ketakutan yang samar.

Perjalanan terasa sangat panjang. Jalanan semakin sepi, dan gerimis berubah menjadi hujan lebat. Setiap tetes yang menghantam kaca seolah berbisik, mengolok-olok kegilaanku.

Akhirnya, kami tiba di alamat tujuan. Sebuah rumah bergaya lama, terawat rapi, dengan cahaya temaram dari dalam. Aku menoleh ke belakang, lagi-lagi kosong.

“Sudah sampai, Bu,” kataku, mencoba memberanikan diri. Suaraku bergetar.

Tak ada jawaban. Aku menunggu. Lalu, tiba-tiba, notifikasi berbunyi lagi: “Perjalanan Selesai. Terima kasih!” Dan di bawahnya, tertera jumlah pembayaran tunai.

Aku terdiam. Bagaimana bisa? Aku tak pernah menerima uangnya, apalagi melihat penumpangnya. Aku meraih ponselku, melihat detail perjalanan.

Dan di sana, di kursi sampingku, tergeletak setumpuk uang tunai. Rapi, terlipat, seolah baru saja diletakkan. Jumlahnya persis seperti yang tertera di aplikasi.

Tanganku gemetar saat meraih uang itu. Dingin. Rasanya seperti memegang es. Aku segera memasukkannya ke saku, lalu bergegas keluar dari mobil.

Aku berdiri di bawah guyuran hujan, menatap rumah itu dan pemakaman di seberangnya. Kepalaku pusing. Apa yang baru saja terjadi? Apakah aku gila?

Aku segera kembali ke mobil dan melaju pergi secepat mungkin. Malam itu, aku tidak mengambil pesanan lagi. Aku hanya ingin pulang, mandi, dan melupakan semuanya.

Namun, kejadian itu tak bisa hilang dari pikiranku. Esok harinya, aku mencoba mencari tahu tentang alamat penjemputan dan pengantaran itu.

Alamat penjemputan, rumah kolonial tua, ternyata sudah lama kosong. Penduduk sekitar menyebutnya “Rumah Senyap”, karena tak pernah ada yang menempatinya setelah kejadian nahas bertahun-tahun lalu.

Aku bertanya kepada beberapa warga tua. Mereka bercerita tentang sebuah kecelakaan tragis di dekat rumah itu, sekitar lima belas tahun yang lalu. Sebuah mobil menabrak pohon, dan penumpangnya, seorang wanita muda bernama Ayu Lestari, meninggal di tempat.

Jantungku berdebar kencang. Nama itu… Ayu Lestari. Nama yang sama persis dengan penumpang misteriusku.

Aku kemudian mencari tahu tentang alamat tujuan. Itu adalah rumah keluarga Lestari, tempat Ayu tinggal sebelum meninggal. Kini, rumah itu dihuni oleh adiknya dan suaminya.

Semua potongan teka-teki itu seolah menyatu, membentuk gambaran yang mengerikan. Aku telah menjemput seorang penumpang yang sudah lama tiada, mengantarkannya pulang.

Aku merinding lagi. Tapi mengapa aku? Mengapa aku yang terpilih? Apakah ada hubungannya dengan jalan yang kulewati malam itu? Atau mungkin, ini adalah tugas yang harus kuselesaikan tanpa kusadari?

Aku memutuskan untuk tidak menceritakan kejadian ini kepada siapa pun. Siapa yang akan percaya? Mereka pasti mengira aku berhalusinasi atau terkena gangguan jiwa.

Uang tunai itu masih kusimpan. Aku tak tahu harus berbuat apa dengannya. Rasanya tidak pantas untuk kubelanjakan, seolah-olah itu adalah upah dari dunia lain.

Beberapa minggu berlalu. Aku kembali menjalani rutinitasku sebagai pengemudi. Namun, setiap kali ada pesanan masuk di malam hari, aku selalu merasa was-was.

Aku selalu mengecek nama penumpang dengan lebih saksama. Setiap kali melewati jalanan sepi, atau rumah-rumah tua, bulu kudukku selalu merinding.

Kejadian itu telah mengubahku. Aku tak lagi melihat malam sebagai waktu untuk mencari nafkah semata, tapi sebagai selubung misteri yang menyimpan banyak rahasia.

Ada rasa penasaran yang tak bisa kupungkiri. Apakah Ayu Lestari benar-benar pulang? Apakah arwahnya kini menemukan kedamaian? Aku berharap begitu.

Kadang, aku masih mencium samar bau melati di dalam mobilku, terutama di malam hari. Itu adalah pengingat, bahwa aku pernah menjemput penumpang yang tak ada di daftar.

Sebuah pengalaman yang tak bisa kujelaskan dengan akal sehat, namun sangat nyata dalam ingatanku. Aku dipanggil penumpang yang tak ada di daftar, dan selamanya, misteri itu akan selalu menghantuiku.

Aku masih mengemudi, melewati jalanan kota yang ramai dan sepi. Setiap bayangan, setiap suara, kini memiliki makna baru. Dunia ini, ternyata, lebih luas dari yang kita kira.

Dan terkadang, di tengah kesunyian malam, aku masih merasa ada “seseorang” yang duduk di kursi belakang, mengawasi perjalananku. Tak kasat mata, namun kehadirannya terasa.

Misteri itu tetap ada, tak terpecahkan sepenuhnya. Tapi aku tahu, aku telah menjadi bagian dari sesuatu yang tak terjelaskan, sebuah rahasia yang dibawa oleh hembusan angin malam.

Aku, Rudi, pengemudi taksi online, telah menjadi saksi bisu sebuah perjalanan pulang yang paling aneh dan tak terlupakan dalam hidupku.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *