Aku Melihat Bayangan Duduk di Jumpseat Sebelah
Malam itu, penerbangan ke Paris terasa abadi. Jarum jam sudah melewati tengah malam, dan sebagian besar penumpang terlelap dalam kegelapan kabin yang remang. Aku, Arya, seorang jurnalis lepas yang sedang mengejar tenggat waktu, mencoba tetap terjaga dengan secangkir kopi dingin.
Hanya segelintir penumpang yang bertahan di kursi mereka. Suasana pesawat terasa sepi, hanya diisi dengung mesin yang konstan. Aku duduk di bagian belakang, dekat dengan area dapur dan toilet, sebuah lokasi yang biasanya ramai namun kini lengang.
Mataku yang lelah sesekali melirik ke arah jumpseat yang terletak di seberang lorong, dekat pintu darurat. Kursi lipat itu biasanya digunakan oleh awak kabin saat lepas landas atau mendarat. Malam ini, seharusnya kosong.
Namun, ada sesuatu di sana. Sebuah siluet samar, tak berbentuk namun jelas menyerupai figur manusia, duduk tenang di sana. Jantungku sedikit tersentak, namun segera kuusir pikiran aneh itu.
Mungkin hanya kelelahan, pikirku. Pantulan cahaya dari luar jendela atau ilusi optik akibat mata yang terlalu lama menatap layar laptop. Aku mengucek mata, lalu kembali fokus pada tulisanku.
Namun, rasa penasaran itu menggerogoti. Seperti bisikan halus yang tak mau pergi, bayangan itu terus memanggil perhatianku. Aku mengangkat kepala lagi, kali ini dengan sengaja menatap langsung ke jumpseat.
Bayangan itu masih di sana. Lebih jelas, lebih solid. Sebuah kontur gelap seorang pria yang duduk tegak, menghadap ke depan, seolah-olah dia adalah penumpang biasa.
Tapi tidak ada pramugari yang duduk di sana. Tidak ada penumpang yang diizinkan duduk di jumpseat. Dan lagi, mengapa aku tidak melihatnya naik atau turun dari kursi itu?
Keringat dingin mulai membasahi punggungku. Aku mencoba menenangkan diri, menarik napas dalam-dalam. Mungkin aku harus berjalan-jalan sebentar, ke kamar kecil, sekadar mengusir halusinasi ini.
Aku berdiri perlahan, melirik sekilas lagi ke arah bayangan itu. Ia tetap tak bergerak, seolah membeku dalam kegelapan. Tidak ada detail wajah, tidak ada tekstur pakaian, hanya sebuah bentuk hitam pekat.
Dengan langkah ragu, aku berjalan ke lorong. Setiap langkah terasa berat, seolah udara di sekitarku menjadi lebih padat. Aku melirik ke belakang, ke arah jumpseat.
Bayangan itu kini terasa lebih nyata, lebih mengancam. Aku bisa merasakan seolah sepasang mata tak terlihat sedang mengawasiku. Sensasi dingin merayap dari tengkukku.
Aku memutuskan untuk mencari pramugari. Dengan suara bergetar, aku bertanya apakah ada penumpang lain di bagian belakang pesawat. Pramugari itu tersenyum ramah, menjelaskan bahwa kabin penumpang di area ini kosong.
“Hanya Anda dan beberapa kru yang sedang istirahat, Pak,” katanya lembut. “Mengapa, apakah ada sesuatu yang Anda butuhkan?” Aku menggelengkan kepala, merasa bodoh telah bertanya.
Pramugari itu berlalu, meninggalkan aku dengan ketakutan yang semakin menjadi. Jika tidak ada siapa-siapa, lalu apa yang kulihat? Aku kembali ke kursiku, mencoba meyakinkan diri bahwa ini hanya ulah pikiran.
Namun, saat aku kembali duduk, pandanganku otomatis tertuju lagi ke jumpseat. Bayangan itu kini sedikit berbeda. Posisinya sedikit miring, seolah kepalanya menoleh.
Menoleh ke arahku.
Jantungku berpacu gila-gilaan, berdebar begitu keras hingga aku bisa merasakannya di telingaku. Aku mencoba membuang pandangan, fokus pada layar laptopku, tapi tidak bisa.
Meskipun mataku terpaku pada teks, aku tahu bayangan itu ada di sana. Aku bisa merasakan tatapannya, dingin dan menusuk. Ini bukan lagi kelelahan atau ilusi. Ini nyata.
Aku memberanikan diri, mengangkat kepala dan menatapnya lurus. Kali ini, bayangan itu terasa lebih padat, lebih gelap dari sebelumnya. Seolah kegelapan itu sendiri yang mengambil wujud.
Aku mencoba mencari detail, berharap menemukan sesuatu yang bisa menjelaskan fenomena ini. Namun, hanya ada kehampaan, lubang hitam di tempat seharusnya ada wajah.
Tiba-tiba, sebuah bisikan samar terdengar. Seperti desiran angin melalui daun kering, namun jelas membentuk kata. Aku tidak bisa mengerti apa yang dikatakan, namun ada nada kesedihan yang mendalam di dalamnya.
Bisikan itu datang dari arah jumpseat.
Aku merasakan hawa dingin menusuk tulang, jauh lebih dingin dari AC pesawat. Bulu kudukku meremang. Aku ingin berteriak, ingin lari, tapi tubuhku seolah membeku.
Bayangan itu kini sedikit bergerak. Bukan gerakan yang tiba-tiba atau kasar, melainkan sebuah pergeseran halus, seolah ia sedang menghela napas. Kemudian, kepalanya menoleh sepenuhnya ke arahku.
Meskipun tak ada mata, aku merasa ia menatapku. Menembus diriku, melihat langsung ke dalam jiwaku. Sebuah sensasi ngeri yang tak terlukiskan melingkupiku.
Aku ingin bertanya, “Siapa kau?” Namun suaraku tercekat di tenggorokan. Lidahku terasa kelu, dan bibirku tak bisa bergerak. Aku terjebak, terperangkap dalam tatapan kosongnya.
Waktu terasa berhenti. Hanya ada aku, bayangan itu, dan keheningan yang menyesakkan. Setiap detik terasa seperti berjam-jam, setiap tarikan napas terasa seperti perjuangan.
Kemudian, bayangan itu mulai melayang. Perlahan, tanpa suara, ia bangkit dari jumpseat. Tidak ada langkah kaki, tidak ada gesekan pakaian, hanya melayang di udara.
Ia bergerak mendekat.
Panik melandaku. Aku mencoba mundur, tapi punggungku sudah menempel ke sandaran kursi. Aku menutup mata erat-erat, berharap semua ini hanya mimpi buruk.
Sebuah sentuhan dingin, seperti es, menyentuh pipiku. Aku tersentak, membuka mata, dan melihat bayangan itu kini berdiri tepat di samping kursiku.
Sangat dekat. Aku bisa merasakan hawa dingin yang menusuk dari keberadaannya. Bentuknya lebih besar, lebih menguasai, menelan cahaya remang kabin.
Sebuah bisikan lain terdengar, kali ini lebih jelas, lebih mendesak. “Bantu aku…” Hanya dua kata itu, namun sarat dengan penderitaan dan keputusasaan.
Aku ingin bertanya, “Bagaimana?” Tapi tak ada suara yang keluar. Aku hanya bisa menatap bayangan itu, yang kini seolah memancarkan aura kesedihan yang tak tertahankan.
Tiba-tiba, bayangan itu melesat. Bukan bergerak, tapi lenyap, menghilang secepat kilat. Udara dingin yang menyelimutiku juga ikut sirna.
Aku terengah-engah, seperti baru saja menahan napas terlalu lama. Jantungku masih berdebar kencang, dan tubuhku gemetar hebat. Aku menoleh ke jumpseat.
Kosong. Benar-benar kosong. Seolah tak pernah ada apa-apa di sana.
Aku menoleh ke sekitar. Pramugari masih berada di depan, beberapa penumpang masih terlelap. Tidak ada yang tampaknya menyadari kengerian yang baru saja kualami.
Sisa penerbangan terasa seperti siksaan. Aku tidak bisa lagi memejamkan mata, terus-menerus melirik ke arah jumpseat. Meskipun kosong, bayangan itu seolah masih terukir di retinaku.
Ketika pilot mengumumkan bahwa kami akan segera mendarat, aku merasakan gelombang lega yang luar biasa. Lampu-lampu kota Paris mulai terlihat di bawah.
Saat pesawat mendarat dengan mulus, aku segera melepaskan sabuk pengaman. Aku ingin segera keluar dari pesawat ini, menjauh dari kenangan jumpseat itu.
Aku menjadi salah satu penumpang pertama yang keluar. Udara dingin Paris yang segar terasa seperti penyelamat. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir sisa-sisa ketakutan.
Namun, pengalaman itu membekas dalam diriku. Setiap kali aku naik pesawat, mataku otomatis mencari jumpseat. Setiap kali aku terbang di malam hari, aku merasakan bulu kudukku meremang.
Aku tak pernah bisa melupakan bisikan “Bantu aku…” itu. Bisikan yang penuh penderitaan, yang entah mengapa, terasa begitu personal.
Siapakah bayangan itu? Mengapa ia muncul kepadaku? Apakah ia seorang penumpang yang tak pernah mencapai tujuannya, terjebak di antara dimensi, atau sekadar ilusi yang terlalu nyata?
Aku tidak tahu. Dan mungkin, aku tak ingin pernah mengetahuinya. Yang jelas, sejak malam itu, setiap penerbangan malam selalu terasa sedikit lebih dingin. Dan setiap jumpseat yang kosong, selalu terasa sedikit lebih berpenghuni.











