Kamar Layover-ku Digedor Tengah Malam—Tapi Tak Ada Siapa-siapa
Malam itu, kelelahan melilit tubuhku seperti jubah berat. Penerbangan panjang dari Tokyo menuju London terhenti di sebuah kota transit yang asing, dengan janji istirahat singkat di hotel bandara yang tampak steril. Kamar 1307, begitu kuncinya berbunyi, terasa seperti sebuah kotak bisu di tengah hiruk pikuk dunia.
Aku menjatuhkan koper, melepas dasi yang mencekik, dan membiarkan tubuhku ambruk ke kasur empuk. Jam menunjukkan pukul 23.47. Aku hanya punya beberapa jam sebelum harus kembali ke terminal. Gelap menyelimuti ruangan, hanya diterangi samar oleh cahaya lampu kota yang menembus celah gorden.
Aku memejamkan mata, membiarkan kantuk menyeretku ke alam mimpi. Namun, ketenangan itu tak bertahan lama. Tiba-tiba, gedoran keras memecah keheningan, menghempaskan kantukku seketika. “DDUUUGGH!” Suaranya berat, seolah kepalan tangan menghantam pintu kayu tebal.
Jantungku melonjak, berdebar tak karuan. Pukul berapa ini? Aku melirik ponsel: 03.03 dini hari. Siapa yang akan menggedor pintu sekeras itu pada jam segini? Pikiran pertama: salah kamar. Mungkin seseorang mabuk atau terlalu lelah.
Aku bangkit perlahan, melangkah tanpa suara menuju pintu. Melalui lubang intip, aku mengamati koridor. Kosong. Hanya karpet abu-abu membentang panjang, dihiasi lampu-lampu redup yang berjarak. Tidak ada siapapun.
Aku mengernyitkan dahi. Mungkin aku salah dengar? Atau gedoran itu berasal dari kamar sebelah? Tapi suaranya begitu jelas, seolah tepat di depan pintu 1307. Aku menempelkan telinga, mencoba menangkap suara apapun.
Hening. Hanya desiran AC sentral yang mengisi keheningan, menciptakan melodi monoton yang justru mempertebal kesunyian. Aku menunggu beberapa saat, memastikan tidak ada suara lain. Perlahan, aku kembali ke ranjang.
Baru saja kepalaku menyentuh bantal, gedoran itu kembali. Kali ini lebih keras, lebih cepat, dan disertai sedikit gesekan, seolah benda berat diseret. “DUG! DUG! DUG! Srrrret!” Darahku serasa membeku. Itu bukan salah dengar.
Aku melompat, meraih ponsel, dan menyalakan senter. Ketakutan merayap dingin di punggungku. Kali ini, aku tidak hanya mengintip. Aku memutar kenop pintu, membukanya sedikit, seares celah.
Koridor tetap kosong. Lampu-lampu masih redup, dan karpet masih terhampar tak bernoda. Tidak ada jejak siapapun, tidak ada bayangan, bahkan tidak ada hembusan angin yang bisa menjelaskan suara itu.
Rasa dingin yang aneh merayap dari kakiku hingga ke tengkuk. Ini bukan dingin AC. Ini adalah dingin yang menusuk, dingin yang memberitahuku bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri.
Apakah aku bermimpi? Apakah aku terlalu lelah hingga berhalusinasi? Aku mencubit lenganku, merasakan perih yang nyata. Tidak, aku sepenuhnya sadar. Dan gedoran itu nyata.
Aku menutup pintu perlahan, menguncinya dua kali. Jantungku berdebar kencang, setiap otot menegang. Aku tidak bisa tidur lagi. Aku menyalakan lampu kamar, berharap cahaya akan mengusir kegelapan dan ketakutan.
Aku duduk di tepi kasur, memandangi pintu yang kini terasa seperti sebuah portal menuju sesuatu yang tak terlihat. Pikiranku berkecamuk. Apa yang harus kulakukan? Menelepon resepsionis? Apa yang akan kukatakan? “Ada yang menggedor kamarku, tapi tak ada siapapun di luar”? Mereka pasti mengira aku gila.
Waktu merangkak lambat. Setiap menit terasa seperti jam. Aku mencoba membaca, melihat berita, apa saja untuk mengalihkan perhatian. Namun, setiap suara kecil, setiap gesekan di luar, membuatku terlonjak.
Kemudian, terdengar lagi. Kali ini bukan gedoran. Lebih seperti gesekan panjang, diikuti erangan samar. Aku menahan napas, bulu kuduk meremang. Suara itu begitu dekat, seolah ada sesuatu yang menggesekkan tubuhnya di pintu, lalu mendesah.
Aku melompat berdiri, terpaku di tengah ruangan. Cahaya lampu membuat bayanganku menari-nari di dinding, menambah suasana mencekam. Aku tahu, aku tidak bisa lagi mengabaikannya. Ada sesuatu di luar.
Tapi apa? Dan kenapa tidak terlihat? Aku mendekati pintu lagi, kali ini dengan tangan gemetar. Aku menempelkan telingaku, mencoba menangkap detail suara erangan itu. Apakah itu manusia? Atau sesuatu yang lain?
Hening. Lagi-lagi, keheningan yang menyesakkan, yang terasa lebih berat dari suara apapun. Seperti makhluk itu tahu aku sedang mendengarkan, dan berhenti. Aku mundur perlahan, mataku tak lepas dari pintu.
Aku memutuskan untuk tidak membuka pintu lagi. Apa pun yang ada di luar sana, aku tidak ingin melihatnya. Aku menghabiskan sisa malam dengan duduk bersandar di dinding terjauh dari pintu, memandangi gagang pintu yang sesekali tampak bergerak samar, atau itu hanya imajinasiku?
Kegelapan perlahan memudar, digantikan oleh cahaya biru keabuan fajar. Burung-burung mulai berkicau di luar jendela, memecah keheningan yang mencekam. Rasa lega membanjiri diriku. Malam itu sudah berakhir.
Aku buru-buru mengemas barang, ingin segera keluar dari kamar itu. Ketika aku memutar kenop pintu, ada sedikit keraguan. Apakah aku akan menemukan sesuatu di luar? Sebuah catatan? Sebuah tanda?
Tidak ada. Koridor tampak normal. Tidak ada noda aneh di pintu, tidak ada coretan, tidak ada apa pun yang bisa menjelaskan kejadian semalam. Seolah-olah semuanya hanyalah mimpi buruk yang mengerikan.
Aku berjalan cepat menuju lift, tidak menoleh ke belakang. Di lobi, seorang resepsionis tersenyum ramah. “Selamat pagi, Tuan. Bagaimana pengalaman menginap Anda?”
Aku terdiam sejenak. Haruskah aku bertanya? “Semuanya baik,” kataku, mencoba terdengar normal. “Hanya… apakah kamar 1307… apakah ada sesuatu yang aneh tentang kamar itu?”
Senyum resepsionis sedikit memudar. Matanya berkedip, seolah terkejut dengan pertanyaanku. “Kamar 1307?” dia mengulang, suaranya sedikit lebih pelan. “Tidak, Tuan. Tidak ada apa-apa. Kamar itu… jarang sekali kosong.”
Sebuah getaran dingin menjalari tulang belakangku. “Jarang kosong?” tanyaku. “Maksudnya, selalu ada tamu?”
Dia tersenyum lagi, senyum yang terasa kaku. “Ya, Tuan. Sangat populer. Kami selalu menyediakannya untuk tamu yang membutuhkan istirahat tenang.” Dia mengalihkan pandangannya ke layar komputernya. “Total tagihan Anda…”
Aku membayar, pamit, dan bergegas menuju terminal. Di dalam taksi menuju bandara, aku terus memikirkan kata-kata resepsionis itu. “Jarang kosong.” “Sangat populer.” Kenapa dia terdengar aneh saat mengatakannya?
Dan mengapa aku merasa dia tahu lebih banyak dari yang dia katakan? Kamar 1307. Sebuah angka yang kini terukir dalam ingatanku. Misteri gedoran tengah malam itu masih menggantung, tak terpecahkan.
Siapa atau apa yang menggedor pintu kamarku? Dan mengapa tidak ada jejaknya? Pertanyaan itu terus menghantuiku, jauh setelah pesawatku lepas landas, meninggalkan kota asing itu di bawah sana.
Mungkin itu hanya kelelahan. Mungkin itu hanya imajinasiku. Tapi rasa dingin yang menusuk, erangan samar, dan keheningan koridor yang terlalu sempurna, mengatakan sebaliknya. Misteri kamar layover 1307 akan selalu menjadi bayangan di sudut pikiranku.











