Scroll untuk baca artikel
Cerita Profesi

Misteri Toilet Terkunci yang ‘Memanggil’ Lagi — Fenomena Ini Terekam Jam 2 Siang

14
×

Misteri Toilet Terkunci yang ‘Memanggil’ Lagi — Fenomena Ini Terekam Jam 2 Siang

Share this article

Toilet Itu Memanggil Lagi—Padahal Sudah Dikunci

Ardi selalu menganggap rumahnya di pinggir kota sebagai oase ketenangan. Sebuah tempat di mana ia bisa melarikan diri dari hiruk pikuk Jakarta, fokus pada desain grafisnya, dan menikmati kesendirian. Namun, ketenangan itu mulai terkikis, bukan oleh kebisingan luar, melainkan oleh suara aneh yang berasal dari dalam.

Suara itu pertama kali muncul seminggu yang lalu. Desiran air yang samar, seperti keran yang menetes, padahal Ardi yakin semua keran sudah tertutup rapat. Ia memeriksanya, bahkan sampai ke dapur dan wastafel kamar mandi tamu, tapi tidak menemukan apa-apa.

Keesokan harinya, suara itu kembali, sedikit lebih jelas. Bukan lagi tetesan, melainkan seperti gemericik air yang mengalir perlahan. Kali ini, Ardi menyadari sumbernya: kamar mandi utama, yang pintunya selalu ia kunci.

Kamar mandi itu jarang digunakan. Hanya sesekali jika ada tamu yang menginap, itupun sudah lama tidak terjadi. Ardi sendiri lebih sering menggunakan kamar mandi di lantai bawah, demi kepraktisan.

Ia mendekati pintu kayu mahoni itu, telinganya menempel pada permukaannya yang dingin. Gemericik itu terdengar jelas, disusul suara seperti sesuatu yang berputar di dalam saluran. Itu suara toilet disiram, pikirnya, namun itu mustahil.

Pintu itu terkunci, seperti biasa. Kuncinya tergantung di gantungan kunci di dekat pintu kamar tidur Ardi. Ia mengambilnya, mencoba membuka pintu, namun putaran kunci terasa kosong. Kunci itu tidak mau masuk ke lubangnya.

Ardi mengerutkan kening. Mungkin kuncinya berkarat atau macet. Ia mencoba lagi, sedikit memaksa, namun hasilnya nihil. Suara di dalam berhenti sejenak, lalu kembali, kali ini terdengar lebih dalam, lebih berat.

Seperti pusaran air yang tak kunjung berhenti. Ardi merasa merinding. Ia meninggalkan pintu itu, mencoba mengabaikannya. Pasti hanya masalah pipa lama, atau mungkin angin yang masuk ke ventilasi.

Malam itu, suara itu berubah. Bukan lagi gemericik, melainkan desahan samar, seperti seseorang yang menghela napas panjang. Itu berasal dari balik pintu kamar mandi, seakan-akan ada yang hidup di dalamnya.

Ardi tidak bisa tidur. Ia bangkit, menyalakan lampu, dan duduk di sofa ruang tamu. Keheningan rumah terasa mencekam, diselingi desahan ritmis dari lantai atas. Setiap hembusan napas itu terasa semakin dekat, semakin nyata.

Pagi harinya, ia mencoba mencari tukang kunci. Namun, tukang kunci langganannya sedang tidak di tempat, dan tukang kunci lain yang ia hubungi tidak bisa datang secepatnya. Ardi memutuskan untuk menunggu.

Ia mencoba fokus pada pekerjaannya, tapi pikirannya terus melayang ke pintu terkunci itu. Suara desahan itu kini lebih jelas, terkadang diselingi suara seperti air yang beriak pelan. Seperti sebuah danau kecil di dalam sana.

Ketika sore tiba, ketegangan Ardi mencapai puncaknya. Desahan itu kini terdengar seperti bisikan. Bisikan yang tidak jelas, namun terasa mengundang. Seperti seseorang sedang mencoba memanggilnya, namun suaranya tertahan.

Ia berjalan perlahan menuju pintu kamar mandi. Dingin menusuk dari celah di bawah pintu. Ardi berjongkok, mencoba melihat ke dalam, namun hanya kegelapan yang menyambutnya. Ia mencoba menempelkan telinganya lagi.

Bisikan itu semakin kuat. Bukan kata-kata yang jelas, melainkan rangkaian suku kata yang berulang, terdengar seperti “pulang… pulang… pulang…” Ardi terkesiap. Ini tidak mungkin. Ini pasti imajinasinya saja.

Ia mundur beberapa langkah, jantungnya berdegup kencang. Bagaimana mungkin ada suara seperti itu dari balik pintu yang terkunci rapat? Dan siapa yang memanggilnya pulang? Ia sudah di rumahnya sendiri.

Malam kedua, bisikan itu semakin mendominasi. Ardi merasa tercekik oleh kehadirannya. Ia mendengar suara air yang menggelegak, seperti mendidih, disusul erangan pelan yang menyayat hati.

Ia yakin, itu bukan lagi masalah pipa. Ada sesuatu di dalam sana. Sesuap ketakutan merayap di punggungnya. Ia mencoba menenangkan diri, mencari penjelasan logis. Mungkin tetangga sebelah? Tapi mereka jauh.

Ia mencari di internet, mengetikkan kata kunci “suara aneh dari kamar mandi terkunci” dan “rumah berhantu”. Hasilnya membuat bulu kuduknya berdiri. Banyak cerita serupa, tentang entitas yang terperangkap atau memanggil.

Beberapa kisah menyebutkan bahwa entitas itu mencoba menarik penghuni rumah ke dalam dimensi mereka. Yang lain berbicara tentang arwah yang mencari jalan pulang, terjebak di tempat yang salah.

Ardi mencoba untuk tidak percaya. Ia adalah orang yang rasional. Tapi pengalaman yang ia alami ini nyata, terlalu nyata untuk diabaikan sebagai delusi semata. Ia mulai merasa terkunci di rumahnya sendiri.

Pintu kamar mandi itu seperti mata yang mengawasinya, meski tertutup. Setiap suara dari dalam, setiap bisikan, setiap desiran, terasa seperti tarikan. Sebuah undangan yang tidak bisa ia tolak sepenuhnya.

Ia mencoba memutar kenop pintu. Dinginnya menusuk, seperti menyentuh es. Kenop itu tidak bergerak sama sekali, terkunci rapat. Namun, Ardi bersumpah ia merasakan getaran halus, seolah ada yang mendorongnya dari dalam.

Pagi ketiga, Ardi bangun dengan lingkaran hitam di bawah matanya. Ia tidak bisa tidur sama sekali. Bisikan itu telah berubah menjadi nyanyian yang monoton, seperti lagu pengantar tidur yang menyeramkan.

“Pulang… pulang… bergabunglah denganku…” kata-kata itu kini jelas, meskipun masih terdengar samar. Itu adalah suara wanita, lembut namun penuh kesedihan, bercampur dengan suara gemericik air.

Ardi merasa kepalanya pusing. Ia harus melakukan sesuatu. Ia tidak bisa hidup seperti ini. Ia memutuskan untuk mendobrak pintu itu. Apa pun yang ada di baliknya, ia harus menghadapinya.

Ia mengambil palu dari gudang. Tangannya gemetar saat ia berdiri di depan pintu. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberanian. “Keluar dari sana!” teriaknya, suaranya parau.

Nyanyian itu berhenti seketika. Keheningan yang tiba-tiba jauh lebih menakutkan daripada suara apa pun. Ardi mengangkat palu, bersiap untuk memukul kenop atau engselnya.

Tiba-tiba, ia merasakan hawa dingin yang menusuk tulang, bukan hanya dari bawah pintu, tetapi merayapi seluruh tubuhnya. Rambut di tengkuknya berdiri. Kenop pintu itu, yang tadi terkunci rapat, mulai berputar.

Perlahan, sangat perlahan, kenop itu berputar ke arah berlawanan jarum jam. Ardi menjatuhkan palunya, terkesiap. Ia melihat dengan mata kepala sendiri, kenop itu bergerak tanpa disentuh.

Kemudian, suara kunci yang berkarat terdengar, seretan logam yang mengerikan. Pintu itu, yang tadi terkunci, kini tidak lagi. Kenop berhenti berputar. Udara dingin semakin pekat, memenuhi koridor.

Ardi membeku di tempat. Jantungnya berdebar sangat kencang, seolah ingin melompat keluar dari dadanya. Ia ingin lari, tapi kakinya terasa terpaku di lantai.

Pintu itu, yang tadinya tertutup rapat, kini mulai terbuka. Bukan karena didorong, melainkan seperti ditarik dari dalam. Sebuah celah kecil muncul, hanya selebar satu jari.

Dari celah itu, Ardi tidak melihat apa-apa selain kegelapan yang pekat. Kegelapan yang terasa lebih hitam dari malam tergelap sekalipun. Namun, dari dalam kegelapan itu, sebuah suara muncul.

Itu bukan lagi bisikan atau nyanyian. Itu adalah suara yang jelas, meskipun terdengar basah dan beriak, seolah-olah diucapkan dari dalam air. Suara itu menyebut namanya.

“Ardi…” Suara itu lembut, namun dingin dan penuh keputusasaan. “Masuklah… bergabunglah denganku di sini… di dalam keheningan abadi…”

Suara itu terdengar seperti wanita, namun ada resonansi yang sangat dalam, seperti gema dari sumur tua. Ardi bisa merasakan tarikan yang kuat, sebuah dorongan tak kasat mata yang menariknya mendekat.

Dari balik celah pintu, ia mencium aroma aneh. Bukan bau amis atau busuk, melainkan bau lumut basah dan tanah lembab, seperti gua bawah tanah yang tersembunyi selama ribuan tahun.

Ardi bisa melihat, atau lebih tepatnya merasakan, sesuatu bergerak di dalam kegelapan itu. Sebuah bentuk samar, tidak jelas, namun terasa sangat besar dan kuno.

Ia tahu, jika ia melangkah lebih dekat, jika ia membuka pintu itu lebih lebar, ia tidak akan pernah kembali. Sesuatu yang telah memanggilnya dari dalam toilet itu akan menelannya utuh.

Dengan sisa tenaga dan keberanian yang ia miliki, Ardi berbalik dan berlari. Ia tidak peduli dengan palu yang ia jatuhkan, atau pintu yang kini sedikit terbuka. Ia hanya ingin keluar.

Ia keluar dari rumahnya, berlari tanpa arah, tanpa tujuan, hanya ingin menjauh dari suara dan kehadiran yang mencekam itu. Ia tidak pernah kembali ke rumah itu.

Rumah itu kini kosong, pintunya terkunci rapat dari luar, namun di dalam, pintu kamar mandi di lantai atas tetap terbuka sedikit. Dan dari sana, kadang-kadang, masih terdengar desahan air.

Sebuah nyanyian monoton, yang sesekali menyebut nama, menunggu seseorang yang cukup penasaran untuk mendekat. Menunggu seseorang yang berani mendengarkan ketika toilet itu memanggil lagi.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *