Scroll untuk baca artikel
Cerita Profesi

Penumpang Geger! Pria Ini Mengaku Terbang Saat Langit Berubah Mengerikan

14
×

Penumpang Geger! Pria Ini Mengaku Terbang Saat Langit Berubah Mengerikan

Share this article

 

Aku Terbang Saat Langit Jadi Merah Darah

Dunia Arion adalah sebuah kotak persegi. Rutinitasnya monoton, dipenuhi angka-angka dan laporan. Ia adalah seorang akuntan di kota kecil, jauh dari hiruk pikuk Jakarta. Hidupnya biasa, tanpa kejutan berarti.

Hingga suatu senja di bulan ketiga, langit berubah. Bukan jingga keemasan biasa, melainkan merah pekat. Merah darah yang mengerikan, seolah cakrawala terluka parah.

Jantung Arion berdesir aneh saat itu. Duduk di teras, ia merasakan sesuatu yang dingin merambat naik. Sensasi aneh, seperti gravitasi mendadak berbalik arah, menariknya dari kursi kayu.

Panik, Arion mencengkeram pegangan. Namun, tubuhnya terangkat perlahan. Kaki-kakinya menggantung di udara, lalu terangkat lebih tinggi lagi. Ia melayang, tanpa kendali.

Di atas sana, angin dingin menusuk kulit. Arion melihat atap rumahnya mengecil di bawah. Pohon-pohon pinus tampak seperti brokoli raksasa. Ia terbang, benar-benar terbang, di bawah langit yang kini nyaris hitam, diwarnai sapuan merah darah.

Jeritan tertahan di tenggorokannya. Ini bukan mimpi, bukan halusinasi. Ia merasakan udara bergegas melewati telinganya. Ketakutan mencekiknya, tetapi ia tak bisa berbuat apa-apa.

Tak lama kemudian, seperti ditarik kembali oleh tali tak terlihat, ia jatuh. Bukan meluncur, tapi melayang turun perlahan. Mendarat di rumput belakang rumahnya, Arion terengah-engah.

Langit kembali biru gelap, bintang-bintang mulai berkelip. Merah darah itu menghilang, seolah tak pernah ada. Arion terbaring di rumput, napasnya terputus-putus, pikirannya kalut.

Ia mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanya halusinasi. Mungkin kelelahan, stres pekerjaan. Namun, tubuhnya masih menggigil, dan rasa dingin di kakinya masih terasa nyata.

Beberapa minggu berlalu, Arion berusaha melupakan insiden itu. Ia bekerja lebih keras, tidur lebih larut. Berharap rutinitasnya bisa mengembalikan kewarasannya yang goyah.

Namun, langit merah darah itu kembali. Kali ini, saat Arion sedang membeli kebutuhan pokok di pasar. Matahari sudah condong, memancarkan warna-warna aneh.

Secepat kilat, warna itu berubah. Dari oranye menjadi merah tua. Lalu, merah pekat yang mengerikan. Langit seolah berteriak, dan Arion merasakan sensasi familiar itu.

Tubuhnya terangkat di tengah keramaian. Orang-orang di pasar berteriak kaget. Barang belanjaannya jatuh berserakan. Arion melayang di atas kepala mereka, ketakutan yang lebih besar kini melandanya.

Ia bukan lagi hanya melayang. Ada tarikan kuat yang menariknya ke arah timur. Ke arah hutan tua di pinggir kota, yang kabarnya menyimpan banyak misteri dan cerita seram.

Arion menatap kakinya yang tak menyentuh tanah. Ia mencoba mengendalikan arah, tapi tak bisa. Seperti sehelai daun kering yang diterbangkan badai, ia melaju cepat.

Ia melihat wajah-wajah terkejut di bawah. Beberapa menunjuk, beberapa berteriak. Sebuah sensasi mengerikan, menjadi tontonan aneh di bawah langit yang berlumuran darah.

Tiba-tiba, tarikan itu berhenti. Ia jatuh. Kali ini, cukup keras. Arion terjerembap di rerumputan lebat, dekat sebuah pohon beringin tua yang menjulang tinggi di dalam hutan.

Ketika ia mendongak, langit sudah kembali normal. Biru kehitaman. Arion terengah-engah, merasakan nyeri di punggungnya. Ia harus mencari tahu apa yang terjadi padanya.

Pencariannya dimulai dari perpustakaan kota. Buku-buku tua tentang legenda lokal, catatan sejarah kuno. Arion membaca hingga matanya perih, mencari petunjuk sekecil apa pun.

Ia menemukan beberapa referensi tentang “Langit Merah Darah” dalam manuskrip kuno. Disebutkan sebagai pertanda. Pertanda kembalinya “Penjaga Gerbang.”

Penjaga Gerbang? Apa itu? Manuskrip itu terlalu samar. Hanya berisi deskripsi tentang seseorang yang “diangkat” oleh langit, lalu “dituntun” ke sebuah tempat.

Arion juga menemukan catatan tentang sebuah konstelasi bintang yang langka. Disebut “Mata Naga.” Konstelasi itu hanya terlihat saat langit menunjukkan warna tertentu.

Mata Naga. Ia teringat cerita kakeknya, seorang astronom amatir. Kakek pernah menyebut sebuah observatorium kecil yang tersembunyi, peninggalan keluarga turun-temurun.

Observatorium itu berada di tengah hutan, tak jauh dari tempat ia jatuh tadi. Arion memutuskan untuk pergi ke sana, membawa senter dan rasa takut yang membakar.

Hutan itu gelap dan sunyi. Pohon-pohon tua menjulang tinggi, bayangannya menari-nari di bawah sinar bulan. Udara terasa dingin, penuh dengan bisikan tak terlihat.

Ia menemukan observatorium itu. Sebuah bangunan batu kecil yang ditutupi lumut, nyaris tak terlihat. Kuncinya sudah berkarat, tapi Arion berhasil membukanya.

Di dalamnya, debu tebal melapisi teleskop kuno dan rak-rak buku usang. Sebuah meja di tengah ruangan menyimpan peta langit yang digambar tangan dan jurnal tua.

Jurnal itu milik kakeknya. Arion membuka halaman-halaman yang menguning. Tulisan tangan kakek rapi, namun isi catatannya semakin lama semakin gila.

Kakek menulis tentang “sinkronisasi kosmik,” tentang energi yang “memilih” individu. Ia bahkan menyebutkan “Penjaga Gerbang” dan “Kunci Cahaya.”

“Kunci Cahaya adalah jiwa yang terpilih,” tulis kakek. “Ia akan diangkat ketika langit berdarah, dan dituntun menuju Gerbang Tersembunyi.”

Arion merasakan darahnya membeku. Kakeknya tahu. Kakeknya mungkin adalah salah satu dari mereka, atau ia telah mengamati fenomena ini sepanjang hidupnya.

Di salah satu halaman, kakek menggambar peta detail hutan. Sebuah tanda silang dilingkari, dengan tulisan: “Gerbang Tersembunyi. Hanya akan terlihat saat Kunci Cahaya tiba.”

Tiba-tiba, Arion merasakan getaran. Lantai observatorium bergetar pelan. Ia melongok ke luar jendela. Langit di atas hutan mulai berubah. Merah.

Bukan merah senja. Ini merah pekat, merah darah yang sama. Warna yang kini ia kenali dengan kengerian. Warna yang berarti ia akan terbang lagi.

Tarikan itu datang. Lebih kuat dari sebelumnya. Arion terangkat dari lantai observatorium. Ia melayang ke atas, menabrak atap yang lapuk hingga jebol.

Ia terbang di atas pepohonan, menuju tanda silang di peta kakeknya. Kecepatan angin semakin kencang, membuat matanya berair. Ia melihat ke bawah.

Di bawahnya, di tengah hutan yang gelap, sebuah lingkaran cahaya biru keperakan mulai terbentuk. Cahaya itu memancar dari tanah, semakin terang.

Arion melayang tepat di atas lingkaran itu. Merah darah di langit semakin pekat, nyaris hitam di tepiannya. Lingkaran cahaya di bawahnya membesar, berdenyut.

Ia merasakan dirinya ditarik ke bawah, menuju cahaya itu. Bukan jatuh, tapi meluncur masuk. Lingkaran itu tampak seperti portal. Gerbang.

Kakeknya tidak gila. Ia adalah Kunci Cahaya. Dan langit merah darah itu adalah penandanya. Ia akan masuk, tanpa tahu apa yang menantinya di sisi lain.

Ketakutan terbesar Arion bukanlah jatuh. Ketakutan terbesarnya adalah apa yang ada di balik gerbang itu. Apa yang akan ia temukan? Atau, lebih mengerikan lagi, apa yang akan ia menjadi?

Cahaya biru itu menelannya sepenuhnya. Langit merah darah di atas hutan berkedip sekali, lalu perlahan memudar kembali menjadi hitam pekat. Hutan itu kembali sunyi, seolah tak ada yang pernah terjadi. Kecuali, sebuah lubang di atap observatorium tua itu.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *