
Aku Melihat Seseorang Berdiri di Sayap Pesawat
Langit di luar jendela pesawat membentang tanpa batas, birunya begitu pekat. Di ketinggian 30.000 kaki, dunia tampak damai, seolah masalah di bawah sana tak pernah ada. Aku bersandar di kursi dekat jendela, mencoba memejamkan mata, namun kegelisahan samar terus mengusik.
Penerbangan lintas benua ini seharusnya rutin, membosankan. Lampu kabin diredupkan, sebagian besar penumpang terlelap. Hanya suara dengung mesin yang mengisi keheningan, ritme monoton yang meninabobokan. Aku meraih selimut tipis, berharap bisa menyusul mereka ke alam mimpi.
Namun, sesuatu menarik perhatianku. Di luar sana, di sayap kiri pesawat, ada bayangan. Awalnya kupikir itu hanya pantulan cahaya atau ilusi optik karena kelelahan. Aku menggosok mata, lalu menatap lagi, lebih saksama.
Siluet itu masih di sana. Lebih dari sekadar bayangan. Itu adalah sosok. Seseorang. Berdiri tegak di atas sayap, melawan embusan angin mematikan. Jantungku seketika berdebar tak karuan, darah serasa membeku dalam nadi.
Mustahil. Tidak mungkin. Pesawat sedang melaju dengan kecepatan ratusan kilometer per jam. Suhu di luar sana membekukan. Bagaimana bisa ada orang di sana, begitu saja, tanpa pelindung? Pikiranku berputar kacau, mencoba mencari penjelasan logis.
Aku menempelkan wajah ke kaca jendela yang dingin. Sosok itu jelas. Tinggi, ramping, mengenakan sesuatu yang tampak seperti jubah panjang, gelap. Rambutnya, jika itu memang rambut, melambai-lambai aneh, seperti sulur-sulur tak beraturan.
Yang paling mengerikan adalah posturnya. Tegap, seolah tak terpengaruh oleh angin kencang yang seharusnya merobeknya berkeping-keping. Ia tidak berpegangan pada apa pun. Hanya berdiri, diam, menatap lurus ke depan, seolah mengamati cakrawala.
Apakah aku sedang berhalusinasi? Kelelahan memang seringkali memicu hal-hal aneh. Aku mencubit lenganku sendiri, keras. Rasa sakitnya nyata. Jadi, apa yang kulihat ini juga nyata? Rasa takut mencengkeramku, dingin dan tajam.
Aku melirik sekeliling. Penumpang di sebelahku mendengkur pelan. Pramugari terlihat sibuk di dapur, jauh di depan sana. Tak ada yang menyadari kengerian yang terbentang di luar jendela ini. Aku sendirian dengan pemandangan yang tak masuk akal ini.
Perlahan, aku mengangkat tangan, mencoba menarik perhatian pramugari. Tapi kata-kata tertahan di tenggorokan. Bagaimana aku bisa menjelaskan ini? “Maaf, ada orang di sayap pesawat kita?” Mereka pasti mengira aku gila, atau mabuk.
Aku menatap sosok itu lagi. Kali ini, seolah merasakan tatapanku, kepalanya sedikit menoleh. Tidak banyak, hanya sepersekian inci. Namun, itu cukup. Aku merasakan sepasang mata tak terlihat menusuk menembus kaca, menembus diriku.
Keringat dingin membasahi punggungku. Ada sesuatu yang sangat tua, sangat dingin, dan sangat menakutkan dari tatapan yang tak terlihat itu. Itu bukan tatapan manusia. Itu adalah tatapan dari sesuatu yang tak seharusnya ada di sini.
Aku menarik diri dari jendela, terhuyung mundur sedikit. Jantungku berdetak secepat kuda pacu. Aku mencoba menarik napas dalam-dalam, menenangkan diri. Ini pasti mimpi buruk. Aku akan memejamkan mata, dan saat kubuka, semuanya akan hilang.
Aku menutup mata rapat-rapat, menghitung sampai sepuluh. Satu, dua, tiga… Setiap angka terasa seperti beban berat. Aku bisa merasakan denyutan di pelipisku. Sepuluh. Perlahan, kelopak mataku terbuka, penuh harap.
Sosok itu masih di sana. Sama tegaknya, sama diamnya, sama mengerikannya. Bahkan, rasanya kini ia sedikit lebih dekat, atau mungkin hanya perasaanku saja. Rasa putus asa menyelimuti. Aku tidak bisa lari dari ini.
Aku harus memberi tahu seseorang. Siapa pun. Aku menekan tombol panggilan pramugari. Lampu kecil menyala di atas kursiku. Beberapa detik kemudian, seorang pramugari muda dengan senyum ramah mendekat. “Ada yang bisa saya bantu, Pak?”
Suaranya menenangkan, tapi tidak menghilangkan kengerian yang kualami. “Maaf,” kataku, suara bergetar. “Bisakah Anda melihat ke luar jendela?” Aku menunjuk ke arah sayap, tanganku gemetar tak terkendali.
Pramugari itu sedikit mengernyit, mungkin bingung. Ia membungkuk sedikit, melongok ke arah yang kutunjuk. Ia melihat sayap, lalu melihatku lagi. Senyumnya sedikit memudar, digantikan ekspresi khawatir. “Tidak ada apa-apa, Pak. Hanya sayap pesawat.”
“Tidak! Lihat lagi!” desakku, hampir berteriak. “Ada seseorang di sana! Jubah gelap, berdiri tegak!” Aku bisa merasakan tatapan beberapa penumpang lain yang terbangun dan mulai memperhatikan. Wajah pramugari itu berubah menjadi prihatin.
“Bapak mungkin sedikit lelah,” katanya lembut. “Penerbangan panjang memang bisa membuat kita berhalusinasi. Mungkin Bapak ingin segelas air hangat, atau teh?” Ia mencoba meraih tanganku, seolah ingin menenangkanku.
Aku menarik tanganku. “Saya tidak berhalusinasi! Lihatlah!” Aku menunjuk lagi, kali ini dengan lebih banyak urgensi. Tapi saat mataku kembali ke jendela, sayap itu kosong. Kosong. Sosok itu telah menghilang.
Napas tertahan di tenggorokan. Bagaimana? Kapan? Aku melihat sekeliling, panik. Para penumpang yang tadi terbangun kini kembali ke posisinya, seolah tak ada yang terjadi. Pramugari menatapku dengan tatapan kasihan.
“Tuh kan, Pak,” katanya. “Tidak ada apa-apa. Mungkin Bapak mimpi buruk?” Ia tersenyum tipis, mencoba meyakinkan. Aku hanya bisa menggelengkan kepala, tak bisa berkata-kata. Pikiranku kalut.
Apa yang baru saja terjadi? Apakah aku benar-benar gila? Atau apakah sosok itu memang ada, dan entah bagaimana, hanya aku yang bisa melihatnya? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar tak henti di benakku, membuat kepalaku pusing.
Sisa penerbangan terasa seperti siksaan. Aku tidak bisa lagi memejamkan mata. Setiap kali melirik jendela, aku merasa jantungku melompat. Meskipun sayap itu tetap kosong, bayangan sosok berjubah itu terus menari di sudut pandatganku.
Aku merasakan tatapan sesekali dari pramugari dan beberapa penumpang. Mereka pasti mengira aku sakit jiwa. Rasa malu bercampur dengan ketakutan yang mendalam. Aku tahu apa yang kulihat. Itu nyata.
Ketika pesawat akhirnya mendarat, aku adalah salah satu yang pertama keluar. Aku ingin segera menjauh dari benda besi raksasa itu, dari jendela yang menjadi saksi bisu kengerianku. Tapi rasa lega itu hanya sesaat.
Di bandara, aku segera dijemput oleh petugas keamanan dan tim medis. Rupanya, pramugari telah melaporkan “penumpang yang mengalami disorientasi parah”. Aku diinterogasi, diperiksa, dan akhirnya diberi resep obat penenang.
Mereka bilang aku mengalami kelelahan ekstrem dan stres pasca-trauma. Mungkin ada riwayat trauma yang tidak kusadari. Mereka menyarankan untuk beristirahat dan menemui psikiater. Aku mengangguk, lelah untuk berdebat.
Namun, di dalam hati, aku tahu kebenarannya. Aku tidak gila. Aku melihatnya. Seseorang berdiri di sayap pesawat. Sesuatu yang bukan manusia, sesuatu yang melampaui pemahaman. Mereka tidak percaya, dan aku tidak punya bukti.
Sejak hari itu, hidupku berubah. Setiap kali naik pesawat, aku selalu memilih kursi di tengah, jauh dari jendela. Namun, bayangan sosok berjubah gelap itu tak pernah benar-benar hilang dari benakku. Ia menghantuiku dalam mimpi, dalam setiap hembusan angin dingin.
Kadang, di tengah malam yang sunyi, aku merasa seolah ada tatapan dingin yang mengawasiku dari kejauhan. Sebuah gema dingin dari tatapan tak terlihat yang kualami di ketinggian puluhan ribu kaki.
Aku mencoba mencari informasi, membaca cerita-cerita aneh tentang penerbangan. Tidak ada yang serupa dengan pengalamanku. Hanya cerita-cerita pilot yang melihat objek tak dikenal, tapi tidak ada yang menyebutkan sosok berdiri di sayap.
Mungkin itu hanya untukku. Sebuah penampakan pribadi, sebuah peringatan, atau sekadar lelucon kejam dari alam semesta. Aku tidak tahu. Yang jelas, aku tidak akan pernah melupakan hari itu.
Dan setiap kali aku mendengar suara dengung pesawat di langit, aku selalu bertanya-tanya. Apakah ada orang lain di luar sana, di antara jutaan penumpang, yang pernah melihatnya juga? Atau apakah aku, dan hanya aku, yang terpilh menjadi saksi dari kengerian yang tak terjelaskan itu?
Pertanyaan itu terus menggerogoti. Aku tahu ada sesuatu di luar sana, di antara awan, yang menunggu. Sesuatu yang tak seharusnya ada, yang bersembunyi di balik tabir realitas, dan kadang, menampakkan dirinya pada mereka yang cukup “beruntung” untuk melihatnya.











