Kawah Wurung, permata tersembunyi di Banyuwangi, membentangkan lanskap savana hijau dan bukit-bukit melengkung. Namun, di balik keindahannya, tersimpan bisikan kuno yang membeku. Udara di sana seringkali dingin, diselimuti kabut tebal yang merangkak perlahan. Sebuah misteri menunggu di kedalaman hutannya.
Para tetua desa sering bercerita tentang sebuah “Pintu Merah”. Bukan pintu kayu biasa, melainkan ambang batas yang tak terlihat, bersembunyi di antara pepohonan purba. Konon, ia adalah gerbang menuju dimensi lain, atau mungkin penanda sebuah larangan. Legenda ini telah diwariskan turun-temurun, sebuah peringatan yang tak pernah usang.
Pintu Merah ini tak pernah terlihat oleh mata telanjang yang tak terlatih. Hanya mereka yang berani melampaui batas kewajaran, atau yang tersesat dalam kebingungan, yang mungkin akan merasakannya. Sensasi keberadaannya merayap, bukan sebagai wujud, melainkan sebagai tekanan.
Penunggu Pintu Merah bukanlah hantu biasa yang bergentayangan. Ia adalah entitas kuno, bagian tak terpisahkan dari Kawah Wurung itu sendiri. Sebuah kesadaran purba yang telah ada sebelum manusia menjejakkan kaki. Keberadaannya terasa seperti beban di udara, sebuah tekanan yang tak terlihat namun menusuk jiwa.
Ia bukan arwah gentayangan yang mencari pembalasan atau sekadar mengganggu. Penunggu ini adalah penjaga, pelindung sebuah rahasia yang teramat kuno. Sebuah rahasia yang, jika terkuak, bisa mengubah pemahaman kita tentang realitas.
Banyak pendaki dan penjelajah yang pernah merasakan keberadaan aneh di hutan Kawah Wurung. Mereka melaporkan sensasi diikuti, bisikan samar dalam bahasa yang tak dikenal. Udara mendadak menjadi dingin, bahkan di tengah hari yang cerah.
Beberapa bahkan bersumpah melihat kilasan warna merah pekat di antara dedaunan. Bukan merah bunga atau buah, melainkan merah yang terlalu gelap, terlalu dalam. Merah yang terasa seperti darah kering, atau bara api yang nyaris padam.
Ada yang menemukan jejak kaki aneh, tidak seperti binatang hutan biasa. Jejak itu terkadang muncul dan menghilang tanpa pola, seolah-olah entitas itu mampu melayang. Atau mungkin, ia bergerak dalam dimensi yang berbeda.
Pernah ada sekelompok mahasiswa pecinta alam yang nekat berkemah terlalu dalam. Mereka tertarik oleh cerita Pintu Merah, menganggapnya sekadar mitos lokal. Keberanian mereka perlahan berubah menjadi ketakutan.
Pada malam ketiga, kabut tebal menyelimuti tenda mereka, lebih pekat dari biasanya. Lampu senter mereka menembus kegelapan hanya beberapa meter saja. Suara-suara aneh mulai terdengar dari segala arah.
Bukan suara binatang malam, melainkan seperti desisan, bisikan, dan terkadang tawa yang kering. Tawa itu seolah-olah berasal dari dalam diri mereka sendiri, mengikis kewarasan perlahan. Mereka merasa ada sesuatu yang mengawasi.
Salah satu dari mereka, bernama Risa, terbangun dengan perasaan tak nyaman. Jantungnya berdebar kencang tanpa sebab yang jelas. Udara di dalam tenda terasa begitu berat, menyesakkan napas.
Ia membuka ritsleting tenda, ingin menghirup udara segar. Di luar, kabut begitu tebal hingga pepohonan pun hanya siluet samar. Lalu, ia melihatnya, di kejauhan, sebuah titik merah menyala.
Titik itu berkedip, lalu memudar, kemudian muncul kembali di tempat lain. Seolah-olah itu adalah sepasang mata yang mengamati. Risa ingin berteriak, namun suaranya tercekat di tenggorokan.
Ia membangunkan teman-temannya dengan panik. Mereka awalnya tak percaya, mengira itu hanya halusinasi karena kelelahan. Namun, begitu mereka ikut melihat, ketakutan mulai merayap.
Titik merah itu kini tidak hanya satu. Ada beberapa, bergerak lambat di antara kabut. Mereka tidak memancarkan cahaya terang, melainkan seperti bara api yang membara dari dalam kegelapan.
Salah satu teman Risa, Dika, mencoba menyalakan api unggun untuk mengusir hawa dingin dan ketakutan. Namun, setiap kali api membesar, titik-titik merah itu seolah mendekat, menekan mereka.
Mereka memutuskan untuk membongkar kemah dan segera pergi. Namun, arah kompas mereka seolah kacau. Setiap jalan terasa sama, setiap pepohonan terlihat identik. Mereka tersesat dalam labirin kabut.
Panik mulai melanda. Bisikan-bisikan menjadi lebih jelas, seperti nama mereka dipanggil dengan nada mengejek. Udara dipenuhi bau tanah basah dan sesuatu yang amis, seperti darah.
Risa merasakan sentuhan dingin di tengkuknya. Ia menoleh cepat, namun tak ada siapa pun. Hanya kabut, dan ilusi samar seperti tirai merah yang bergetar di kejauhan. Sebuah tirai dari kegelapan.
Mereka berlari tanpa arah, menembus semak belukar yang basah. Suara tawa kering itu kini terdengar begitu dekat, seolah-olah Penunggu itu berlari di samping mereka, mengiringi kepanikan.
Dika tiba-tiba tersandung sesuatu. Ketika ia melihat ke bawah, ia melihat sebuah batu besar yang ditutupi lumut merah gelap. Bentuknya seperti ambang pintu yang kuno, terkubur di tanah.
Di samping batu itu, ada jejak tangan yang tercetak jelas di lumpur. Bukan jejak tangan manusia, melainkan jari-jari panjang yang ramping, diakhiri dengan cakar tajam. Dan warnanya, merah pekat.
Mereka tak berani melihat lebih lama. Energi dingin yang mencekam memancar dari batu itu. Seolah-olah itulah Pintu Merah yang diceritakan, bukan pintu fisik, melainkan sebuah penanda.
Mereka berhasil keluar dari hutan menjelang pagi, dengan pakaian robek dan wajah pucat pasi. Sejak kejadian itu, tak ada satupun dari mereka yang berani kembali ke Kawah Wurung.
Risa sering terbangun di malam hari dengan sensasi dingin di tengkuk. Dika sering melamun, menatap kosong, seolah-olah jiwanya tertinggal di hutan itu. Mereka semua berubah.
Pintu Merah itu mungkin tak terlihat, namun keberadaannya nyata. Ia adalah batas antara dunia kita dan sesuatu yang lebih tua, lebih gelap. Dan Penunggunya, selalu siaga.
Ia melindungi rahasia yang terkubur di jantung Kawah Wurung. Rahasia tentang apa yang ada di balik ambang merah itu. Mungkin itu adalah kunci kekuatan kuno, atau jurang kehampaan.
Entitas merah itu tidak membunuh. Ia hanya mengusir, memberi peringatan. Namun, peringatan itu jauh lebih mengerikan daripada kematian, meninggalkan trauma yang mengikis jiwa perlahan.
Kisah Pintu Merah dan Penunggunya tetap menjadi bisikan di antara penduduk lokal. Sebuah dongeng yang bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah kebenaran yang tak terucap.
Jadi, ketika Anda menjejakkan kaki di Kawah Wurung, nikmati keindahannya. Namun, jangan pernah terlalu jauh. Jangan pernah mencoba mencari Pintu Merah itu.
Karena Penunggunya selalu mengawasi. Dan Anda tak akan pernah tahu, apakah kilasan merah yang Anda lihat di antara kabut itu adalah ilusi, atau tatapan mata purba yang penuh peringatan.
Misteri Pintu Merah di Hutan Kawah Wurung tetap abadi. Sebuah kisah yang mengajarkan bahwa ada hal-hal di dunia ini yang lebih baik tetap menjadi rahasia, terkubur dalam kegelapan.




