Di tepian desa terpencil, tersembunyi sebuah ladang yang selalu diselimuti kabut tipis, bahkan di tengah hari. Warga mengenalnya sebagai Sawah Hitam, bukan karena warnanya, melainkan karena aura misterius yang selalu menyelimutinya. Pemiliknya adalah Pak Kartolo, seorang petani tua dengan tatapan mata yang dalam dan senyum jarang.
Ia adalah sosok pendiam, hidupnya didedikasikan sepenuhnya pada tanah. Setiap fajar menyingsing, ia sudah berada di sana, berinteraksi dengan tanaman seolah mereka adalah makhluk hidup. Suara cangkulnya beradu dengan tanah adalah melodi pagi desa.
Awalnya, Pak Kartolo sama seperti petani lainnya. Ia pergi pagi, pulang senja, membawa hasil panen yang melimpah. Namun, seiring musim berganti, sesuatu mulai berubah dalam dirinya. Matanya tampak semakin jauh, seolah jiwanya tertinggal di antara petak-petak sawah.
Ia mulai menghabiskan waktu lebih lama di Sawah Hitam. Terkadang, ia tak pulang hingga larut malam, membuat Bu Kartini, istrinya, gelisah. Ketika ditanya, Pak Kartolo hanya akan menjawab singkat, "Ladang memanggil."
Bu Kartini melihat perubahan itu dengan cemas. Suaminya yang dulu hangat, kini sering termenung, pandangannya kosong. Ia berbicara sendiri di malam hari, gumaman yang tak jelas, seolah sedang bernegosiasi dengan sesuatu yang tak kasat mata.
Warga desa mulai berbisik. Mereka melihat Pak Kartolo berjalan ke ladang dengan langkah aneh, seperti ditarik oleh kekuatan tak terlihat. Ada yang bersumpah melihat bayangan hitam bergerak di antara tanaman saat ia berada di sana.
Suatu pagi, di hari yang kelabu, Pak Kartolo melangkah menuju Sawah Hitam. Langkahnya mantap, namun tatapannya kosong, seperti ditarik oleh kekuatan tak kasat mata. Ia tidak berpamitan, hanya menatap istrinya sekilas dengan sorot yang tak terbaca.
Bu Kartini merasakan firasat buruk yang menusuk tulang. Ia melihat suaminya menghilang di balik kabut, seolah Sawah Hitam membuka mulutnya untuk menelannya. Detik itu, ia tahu ada yang tidak beres.
Malam tiba, namun Pak Kartolo tak kunjung pulang. Bu Kartini panik, lalu memanggil tetangga. Seluruh desa pun bergerak, membawa obor, menyisir setiap jengkal Sawah Hitam yang dingin dan membisu.
Mereka mencari hingga dini hari, memanggil nama Pak Kartolo berulang kali. Suara mereka memantul di antara petak-petak sawah, namun tak ada sahutan. Hanya embun dingin yang menempel di kulit dan bau tanah basah yang menusuk hidung.
Tidak ada jejak. Tidak ada sandal, tidak ada caping, bahkan tidak ada bekas injakan kaki yang jelas. Seolah Pak Kartolo menguap begitu saja, ditelan oleh keheningan ladang yang mencekam itu.
Hanya satu hal yang mereka temukan: sebuah cangkul tua milik Pak Kartolo, tertancap tegak di tengah petak paling luas. Pegangannya masih basah oleh embun, namun tak ada tanda-tanda perjuangan atau perlawanan.
Sawah Hitam seolah menelan Pak Kartolo bulat-bulat, tanpa jejak, tanpa petunjuk. Tanah yang selama ini memberi kehidupan, kini terasa dingin dan tak ramah. Angin yang berhembus di sana membawa bisikan aneh, seolah menertawakan pencarian mereka.
Kepanikan berubah menjadi ketakutan yang mencekam. Desa itu tak lagi sama, diselimuti bayang-bayang misteri. Para tetangga mulai menghindari Sawah Hitam, bahkan sekadar melintasinya. Suasana desa berubah muram.
Beberapa hari kemudian, Mbah Joyo, sesepuh desa yang disegani karena pengetahuannya tentang hal-hal gaib, memutuskan untuk turun tangan. Ia adalah satu-satunya yang berani memasuki Sawah Hitam tanpa rasa takut, atau setidaknya, tanpa menunjukkannya.
Mbah Joyo melakukan ritual sederhana di tengah ladang. Ia membakar kemenyan, mengucapkan mantra-mantra kuno yang hanya ia pahami. Udara di sekitarnya terasa semakin berat, dingin, dan dipenuhi energi tak kasat mata.
Ketika ritual selesai, wajah Mbah Joyo pucat pasi. Ia menatap Sawah Hitam dengan sorot yang belum pernah dilihat warga sebelumnya: campuran antara kengerian dan rasa hormat yang mendalam.
"Ladang ini… ia bukan hanya tanah," bisik Mbah Joyo, suaranya serak. "Ia memiliki kehendaknya sendiri. Ia haus. Dan Pak Kartolo… ia terlalu dekat. Terlalu mendengarkan panggilannya."
Mbah Joyo menjelaskan bahwa Sawah Hitam adalah entitas purba yang sangat tua, lebih tua dari desa itu sendiri. Ia memiliki kesadaran, dan terkadang, ia memilih "juru kunci"nya sendiri dari antara manusia.
Pak Kartolo, dengan dedikasi dan kesunyiannya, telah menjadi targetnya. Ladang itu memanggilnya, perlahan-lahan menyerap jiwanya, hingga akhirnya menariknya ke dalam. Ia tidak menghilang, ia hanya "kembali" ke asal.
"Ia tidak mati," kata Mbah Joyo dengan nada bergetar. "Ia hanya menjadi bagian dari ladang itu sendiri. Jiwanya terikat, selamanya mengawasi, selamanya mengabdi pada Sawah Hitam."
Sejak hari itu, Sawah Hitam menjadi tanah terlarang. Tak ada yang berani mendekat, apalagi mengolahnya. Rumput-rumput liar tumbuh subur, seolah merayakan kemenangan. Desa itu hidup dalam bayang-bayang ketakutan dan misteri yang tak terpecahkan.
Terkadang, di malam-malam berangin, warga desa bersumpah mendengar suara Pak Kartolo berbisik dari Sawah Hitam. Sebuah gumaman pelan, seperti sedang berbicara dengan tanah, atau mungkin, sedang memanggil yang lain.
Beberapa orang mengaku melihat sosok samar bergerak di antara kabut di Sawah Hitam pada dini hari. Sebuah bayangan tinggi, kurus, yang menyerupai Pak Kartolo, seolah masih mengawasi ladang yang kini menjadi penjara abadinya.
Misteri Pak Kartolo tak pernah terpecahkan. Ia menjadi legenda kelam, sebuah cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi. Setiap kali kabut turun di Sawah Hitam, penduduk desa bergidik, teringat akan petani yang tak pernah pulang.
Sawah Hitam tetap ada di sana, sunyi dan misterius, sebuah monumen bisu bagi Pak Kartolo yang hilang. Dan desa itu tahu, jauh di lubuk hati mereka, bahwa ladang itu masih haus, masih menunggu "juru kunci"nya yang berikutnya. Ia tak pernah benar-benar melepaskan.




