Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Timur

Misteri Kabut di Jalur Sepi Menuju Air Terjun Blawan Kembali Jadi Perbincangan

12
×

Misteri Kabut di Jalur Sepi Menuju Air Terjun Blawan Kembali Jadi Perbincangan

Share this article

Misteri Kabut di Jalur Sepi Menuju Air Terjun Blawan Kembali Jadi Perbincangan

Jalan Sepi Menuju Air Terjun Blawan: Kisah di Balik Kabut

Arya menatap peta lusuh di tangannya, jemarinya meraba garis tipis yang mengular di antara hijau hutan. Tujuan akhirnya: Air Terjun Blawan. Bukan sekadar air terjun, melainkan legenda yang tersembunyi jauh di balik perkebunan kopi di lereng Ijen.

Orang-orang di desa terakhir telah memperingatkan, tatapan mereka sarat makna yang tak terucap. “Jangan pergi sendirian,” kata seorang tua, suaranya bergetar. “Jalan itu… punya ceritanya sendiri.”

Arya, seorang petualang dan fotografer yang haus misteri, hanya tersenyum. Kisah-kisah horor lokal justru menjadi daya tarik baginya. Ia ingin menangkap keindahan yang tersembunyi, bahkan jika itu diselimuti aura kelam.

Mobilnya melaju pelan, meninggalkan aspal mulus. Jalanan kini berubah menjadi bebatuan lepas dan tanah liat yang licin. Pepohonan menjulang tinggi, kanopi daunnya menghalangi sinar matahari, menciptakan lorong teduh yang terasa dingin.

Hening mulai merayap. Hening yang bukan sekadar ketiadaan suara, melainkan hening yang menelan. Suara mesin mobilnya sendiri terasa asing, memecah kesunyian yang mencekam.

Beberapa kilometer masuk, kabut tipis mulai menyelimuti. Bukan kabut pagi biasa, ini kabut yang terasa padat, dingin, dan seolah bernyawa. Kabut yang perlahan menelan pandangan, membatasi dunia Arya hanya pada beberapa meter di depannya.

Ia menghentikan mobil sebentar, mematikan mesin. Sepi. Benar-benar sepi. Tidak ada suara serangga, kicau burung, atau desiran angin. Hanya kebekuan yang menusuk, seolah hutan itu sendiri menahan napas.

Perasaan tidak nyaman mulai tumbuh, merayap dari punggungnya ke tengkuk. Arya mencoba mengabaikannya, mengatakan pada diri sendiri itu hanya imajinasinya. Namun, jantungnya berdetak lebih cepat.

Ia melanjutkan perjalanan. Kabut semakin tebal, membuat jarak pandang semakin terbatas. Pohon-pohon di sisi jalan tampak seperti siluet raksasa, bayangan-bayangan samar yang bergerak di tepi penglihatan.

Tiba-tiba, ia melihatnya. Sekilas, di balik tirai kabut, ada sesuatu yang bergerak. Putih, pucat, dan melayang. Arya mengerem mendadak, tubuhnya menegang.

Ia menatap kosong ke depan, menembus kabut. Tidak ada apa-apa. Hanya pepohonan yang diselimuti embun, diam tak bergerak. Apakah itu hanya ilusi optik? Atau kelelahan yang mulai menyerang?

“Pasti cuma daun yang tertiup angin,” gumamnya, mencoba meyakinkan diri. Namun, getaran dingin menjalari tulang belakangnya.

Arya melanjutkan perjalanan. Jalanan semakin menyempit, dan ia merasa seolah pepohonan semakin merapat, membentuk terowongan alami yang gelap. Udara menjadi lebih dingin, dingin yang menusuk hingga ke sumsum.

Lalu, ia mendengarnya. Bisikan. Sangat samar, seperti gumaman angin yang membawa kata-kata yang tak bisa ia tangkap. Bisikan itu seolah mengelilinginya, datang dari segala arah.

Arya mengunci jendela mobil, berharap bisa menghentikan suara itu. Tapi bisikan itu tetap ada, menembus kaca, meresap ke dalam mobil, ke dalam benaknya.

Rasanya seperti ada seseorang yang sedang berbicara, tepat di telinganya, namun tak ada satu pun kata yang jelas. Hanya nada-nada yang meliuk, kadang terdengar seperti tawa, kadang seperti tangisan.

Ia mempercepat laju mobil. Keindahan air terjun kini bukan lagi fokus utamanya. Yang ia inginkan hanyalah mencapai tempat itu, mengambil beberapa foto, dan segera kembali.

GPS di ponselnya mulai bermasalah. Sinyal hilang-timbul, dan panah biru yang menunjukkan posisinya berputar-putar tak tentu arah. Arya merasa tersesat, meskipun ia yakin masih berada di jalur yang benar.

Waktu terasa melar. Ia merasa sudah mengemudi selama berjam-jam, namun jarum jam di dasbor baru bergeser sedikit. Apakah ia terjebak dalam lingkaran waktu yang aneh?

Sekali lagi, ia melihatnya. Kali ini lebih jelas. Sosok wanita berambut panjang, mengenakan kain putih lusuh, berdiri di tepi jalan. Wajahnya tertutup rambut, namun Arya bisa merasakan tatapan kosong yang menusuk.

Ia membanting setir, mobilnya sedikit oleng. Ketika ia menoleh lagi, sosok itu sudah menghilang, seolah larut ke dalam kabut yang semakin pekat.

Napas Arya memburu. Keringat dingin membasahi dahinya. Ia tidak bisa lagi mengabaikan apa yang terjadi. Jalan ini, hutan ini, memang menyimpan sesuatu.

Ia terus mengemudi, dengan jantung berdebar kencang. Kabut kini begitu tebal, sampai-sampai ia harus menyalakan lampu jauh. Cahaya lampu menembus kabut, menciptakan lorong cahaya yang terasa seperti terowongan menuju dimensi lain.

Tiba-tiba, jalanan terbuka sedikit. Arya bisa melihat samar-samar tebing curam di depannya. Dan dari balik kabut, ia mendengar suara gemuruh air. Air Terjun Blawan.

Namun, air terjun itu tidak terlihat megah seperti di foto. Ia diselimuti kabut tebal, suaranya terdengar seperti raungan teredam. Udara di sekitarnya terasa sangat dingin, bahkan lebih dingin dari sebelumnya.

Ia memarkir mobilnya. Hening kembali menyergap, hanya dipecahkan oleh gemuruh air yang tak jelas asalnya. Arya ragu untuk turun, namun rasa penasaran dan dorongan untuk menyelesaikan misinya terlalu kuat.

Ia meraih kameranya, menggenggamnya erat-erat seolah itu adalah jimat pelindung. Kakinya melangkah keluar dari mobil, menginjak tanah yang terasa lembap dan dingin.

Begitu ia melangkah lebih jauh, kabut di sekitarnya seolah bergerak, membentuk pusaran. Bisikan-bisikan semakin jelas, kini terdengar seperti nama-nama yang dipanggil. Nama-nama yang tak ia kenal.

Ia menoleh ke arah air terjun. Dari balik tirai kabut, ia melihat bayangan-bayangan bergerak. Bukan satu, melainkan banyak. Mereka melayang di antara tebing, seolah menari dalam keheningan.

Bayangan-bayangan itu tampak seperti manusia, namun bentuknya samar, tidak jelas. Mereka bergerak perlahan, mendekat ke arah Arya.

Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. Otaknya berteriak untuk lari, namun kakinya terasa terpaku di tempat. Rasa takut yang murni, tak terlukiskan, mencengkeramnya.

Bisikan-bisikan itu kini berubah menjadi gumaman yang lebih keras, seolah mereka semua berbicara bersamaan. Arya merasa kepalanya pusing, seolah ada sesuatu yang mencoba merasukinya.

Ia mengangkat kamera, tangannya gemetar. Ia mencoba mengambil foto, berharap bisa menangkap apa yang ia lihat. Namun, lensa kamera hanya menangkap hamparan kabut putih yang tebal.

Tiba-tiba, salah satu bayangan melayang mendekat, lebih cepat dari yang lain. Arya bisa merasakan hawa dingin yang menusuk ketika bayangan itu melewatinya. Ia merasakan sentuhan dingin, seperti jari-jari es yang menyentuh pipinya.

Teriakan tertahan di tenggorokannya. Ia menjatuhkan kamera, berbalik, dan berlari. Ia tidak peduli lagi dengan foto, dengan misinya. Yang ia inginkan hanyalah keluar dari tempat terkutuk ini.

Ia berlari sekuat tenaga, kembali ke mobilnya. Bisikan-bisikan dan gumaman itu seolah mengejarnya, mengelilingi dirinya. Rasa dingin menusuknya dari segala arah.

Arya melompat masuk ke mobil, mengunci semua pintu, dan memutar kunci kontak. Mesin mobil meraung, memecah kesunyian yang mengerikan. Ia memutar kemudi dan melaju pergi, tanpa menoleh ke belakang.

Jalan pulang terasa lebih panjang, lebih gelap. Kabut masih setia menyelimuti, namun kini ia tidak lagi melihat bayangan atau mendengar bisikan. Mungkin mereka sudah puas, atau mungkin mereka membiarkannya pergi.

Ketika ia akhirnya melihat lampu-lampu desa di kejauhan, Arya merasakan kelegaan yang luar biasa. Ia berhasil keluar. Ia selamat.

Namun, ia tahu bahwa ia tidak akan pernah sama lagi. Jalan sepi menuju Air Terjun Blawan telah mengukir bekas luka yang tak terlihat dalam dirinya.

Ia tidak pernah menceritakan detail kejadian itu kepada siapapun. Setiap kali ia melihat foto-foto hutan berkabut, atau mendengar bisikan angin di malam hari, ia teringat sentuhan dingin di pipinya.

Air Terjun Blawan tetap menjadi misteri. Sebuah tempat di mana batas antara dunia nyata dan dunia lain menjadi kabur, tempat di mana jiwa-jiwa yang tersesat menanti di balik tirai kabut abadi.

Dan Arya, sang petualang pemberani, kini tahu bahwa ada beberapa misteri yang sebaiknya dibiarkan tak terpecahkan, tersembunyi jauh di balik jalan-jalan sepi yang tak berujung.

Jalan Sepi Menuju Air Terjun Blawan: Kisah di Balik Kabut

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *