Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Timur

Suara Tertawa dari Pohon Tua

15
×

Suara Tertawa dari Pohon Tua

Share this article

Suara Tertawa dari Pohon Tua

Tawa Sang Pohon Tua: Misteri Lembah Sunyi

Di kedalaman Lembah Sunyi, tersembunyi sebuah desa yang namanya nyaris tak tercantum di peta. Penduduknya hidup dalam bayangan legenda kuno, bisikan-bisikan ketakutan yang merayap di antara pepohonan. Pusat dari segala kengerian itu adalah sebuah pohon tua raksasa, yang akarnya menancap jauh ke jantung bumi, dan cabangnya merangkul langit kelabu.

Pohon itu, yang dikenal sebagai "Si Tua Berbisik," bukan sekadar pemandangan alam. Ia adalah entitas hidup, menurut cerita, dan penjaga rahasia yang paling gelap. Namun, bukan usianya yang membuatnya ditakuti, melainkan suara yang kadang-kadang, hanya di malam-malam tertentu, mengalir dari rongga-rongga batangnya yang keriput.

Suara itu adalah tawa. Bukan tawa sukacita atau kegembiraan, melainkan tawa kering, serak, seolah ribuan daun kering bergesekan di atas batu nisan. Tawa yang menusuk, dingin, dan menggema, seolah mengejek setiap napas yang berani melewati batasnya. Penduduk desa bersumpah, tawa itu bukanlah suara angin.

Arga, seorang peneliti fenomena paranormal yang skeptis namun haus akan misteri, mendengar desas-desus tentang Si Tua Berbisik. Kisah-kisah tentang orang hilang, kegilaan mendadak, dan bayangan yang menari di antara dahan-dahan tua, semua itu menarik perhatiannya. Ia memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Lembah Sunyi, membawa serta peralatan canggih dan keberanian yang berlebihan.

Desa itu sunyi, bahkan terlalu sunyi. Wajah-wajah penduduknya pucat, mata mereka menyiratkan ketakutan yang mendalam. Mereka memandang Arga dengan campuran ingin tahu dan iba, seolah ia adalah domba yang akan dikorbankan. "Jangan dekati pohon itu, Nak," bisik seorang tetua, suaranya bergetar.

Arga tersenyum tipis, menganggapnya sebagai takhayul pedesaan. Ia mendirikan kemah tidak jauh dari batas hutan, sekitar satu kilometer dari Si Tua Berbisik. Kamera inframerah dan perekam audio ia siapkan, berharap menangkap anomali suara atau mungkin hanya sekadar hembusan angin yang salah diinterpretasikan.

Malam pertama berlalu tanpa insiden berarti, hanya suara jangkrik dan desir dedaunan. Skeptisisme Arga menguat, menganggap semua ini hanya mitos yang dibesar-besarkan. Namun, pada malam kedua, saat bulan sabit mengintip malu-malu dari balik awan, ia mendengarnya.

Sebuah bisikan tipis, nyaris tak terdengar, mengambang di udara. Mirip tawa, namun begitu samar, Arga hampir yakin itu hanyalah imajinasinya. Ia menajamkan pendengaran, merekam setiap hembusan angin, setiap gesekan dahan. Suara itu menghilang secepat ia datang.

Rasa penasaran Arga semakin membara. Ia memutuskan untuk mendekat. Pada hari ketiga, ia menghabiskan siang hari mempelajari pohon itu dari jarak aman. Batangnya berongga, dengan celah-celah gelap yang terlihat seperti mata kosong. Lumut tebal menyelimuti permukaannya, memberinya aura kuno yang mencekam.

Beberapa cabang menjulur ke tanah, membentuk semacam terowongan alami. Di bawahnya, Arga menemukan beberapa benda aneh: sebuah boneka lusuh tanpa mata, tumpukan tulang-tulang kecil yang tak bisa ia identifikasi, dan ukiran-ukiran primitif pada batuan yang tersebar di sekitarnya. Ini bukan sekadar pohon.

Malam itu, Arga mendirikan kemah lebih dekat, hanya beberapa ratus meter dari Si Tua Berbisik. Udara terasa dingin menusuk tulang, meskipun tidak ada angin berarti. Kesunyian hutan terasa begitu pekat, seolah semua makhluk hidup menahan napas, menunggu sesuatu yang tak terhindarkan.

Sekitar tengah malam, suara itu datang lagi. Kali ini lebih jelas, lebih dekat. Tawa kering yang tidak wajar, seolah seseorang tercekik di antara napasnya sendiri. Ia menggema, memantul dari pepohonan, menciptakan ilusi bahwa suara itu datang dari segala arah sekaligus.

Arga merasakan bulu kuduknya merinding. Ini bukan angin, bukan hewan, bukan tipuan pikiran. Suara itu memiliki kualitas yang mengerikan, seperti ejekan tanpa wajah. Ia menyalakan senter, mengarahkannya ke arah pohon, namun hanya kegelapan yang lebih pekat yang menyambutnya.

Perekam suaranya menunjukkan lonjakan aktivitas aneh. Frekuensi-frekuensi rendah yang tidak dapat dijelaskan, gelombang suara yang tidak teratur, seolah ada entitas tak kasat mata yang berkomunikasi melalui tawa itu. Arga mulai merasakan ketakutan primordial merayap di punggungnya.

Tawa itu semakin intens, semakin dekat. Sekarang, ia terdengar seolah berasal dari dalam kemahnya sendiri, bergema di telinganya. Arga mematikan senter, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu gila-gilaan. Ia merasakan hawa dingin yang menusuk, seolah ada sesuatu yang berdiri tepat di belakangnya.

Sebuah bisikan, bukan tawa, namun sebuah bisikan yang lebih menakutkan, kini terdengar. "Kau datang mencariku, bukan?" Suara itu serak, seperti pasir bergesekan, dan ia tahu, bisikan itu bukan dari pohon. Itu dari sesuatu di dalam pohon.

Arga merasakan kakinya lemas. Ia tidak bisa bergerak. Tawa itu kembali, kali ini lebih keras, lebih kejam, seolah menertawakan ketidakberdayaannya. Ia mencium bau busuk yang samar, seperti tanah lembap dan sesuatu yang membusuk, berbaur dengan aroma hutan.

Dalam kegelapan yang pekat, Arga merasa seperti ada tangan tak terlihat yang mengelus pipinya. Dingin, basah, dan lengket. Ia berteriak, sebuah suara yang tertahan di tenggorokannya. Ia tahu, ia tidak sendirian di dalam kemah itu. Ia tidak sendirian di bawah bayangan Si Tua Berbisik.

Dengan sisa kekuatan terakhir, Arga merangkak keluar dari kemahnya, tanpa memedulikan peralatan yang tertinggal. Ia berlari, tersandung akar-akar pohon, napasnya memburu. Tawa itu mengikutinya, menggema di telinganya, menertawakan setiap langkahnya yang putus asa.

Ia terus berlari, tanpa arah, hanya ingin menjauh dari suara itu, dari pohon itu. Ia tidak tahu berapa lama ia berlari, atau bagaimana ia akhirnya berhasil mencapai batas desa. Saat fajar menyingsing, ia ditemukan oleh beberapa penduduk, terkapar di tanah, pucat pasi, dan gemetar tak terkendali.

Arga tidak pernah kembali ke Lembah Sunyi. Peralatannya tertinggal di sana, di dalam kemah yang ia tinggalkan. Ia tidak pernah lagi berani membahas Si Tua Berbisik, atau tawa yang ia dengar malam itu. Ia hanya tahu, ada sesuatu yang hidup di dalam pohon itu.

Misteri tentang Si Tua Berbisik tetap tidak terpecahkan. Tawa itu masih terdengar di malam-malam tertentu, menakuti penduduk desa dan menjaga rahasia Lembah Sunyi. Dan Arga, setiap kali ia mendengar suara tawa yang aneh, akan selalu merasakan hawa dingin yang sama, seolah tangan tak terlihat itu masih mengelus pipinya, menertawakan sisa kewarasannya.

Suara Tertawa dari Pohon Tua

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *