Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Timur

Rumah Sakit Kosong yang Masih Beroperasi

11
×

Rumah Sakit Kosong yang Masih Beroperasi

Share this article

Rumah Sakit Kosong yang Masih Beroperasi

Bisikan di Lorong Kosong: Misteri Rumah Sakit Harapan Baru

Rumor berbisik di sudut-sudut kota lama. Tentang Rumah Sakit Harapan Baru, sebuah struktur megah yang seharusnya telah mati. Bangunan itu tampak kosong, kusam, dengan jendela-jendela buram. Namun anehnya, tercatat masih beroperasi penuh.

Ardi, seorang jurnalis investigasi dengan reputasi tak kenal takut, tergelitik. Informasi dari sumber anonim menyebutkan, ada sekitar seratus "pasien" yang terdaftar. Namun tak seorang pun pernah melihat ambulans tiba, atau keluarga berkunjung.

Ia memutuskan untuk menyelidiki sendiri. Sore yang muram menyelimuti fasad rumah sakit itu. Hanya satu dua lampu yang menyala samar di lantai atas. Keheningan yang mencekam menyambutnya bahkan sebelum ia melangkah masuk.

Pintu utama yang berat, entah mengapa, sedikit terbuka. Seolah mengundang Ardi masuk ke dalam pusaran misteri. Udara dingin dan pengap langsung menusuk indra. Aroma antiseptik bercampur bau apek yang tak bisa diidentifikasi.

Lobi luas menyambutnya dengan kegelapan. Meja resepsionis kosong, kursi berputar anehnya. Ardi memanggil, suaranya menggema tanpa jawaban. Setiap langkahnya terasa seperti menembus lapisan kesunyian yang tebal.

Tiba-tiba, dari balik sebuah tiang, muncul seorang wanita. Mengenakan seragam perawat bersih, wajahnya pucat. Senyumnya kaku, matanya seperti boneka. "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" suaranya datar, tanpa emosi.

Ardi memperkenalkan diri, berpura-pura mencari informasi kerabat. Perawat itu mengangguk, tanpa menunjukkan ekspresi. Ia menyerahkan sebuah formulir pendaftaran yang tampak terlalu baru. Lalu menghilang kembali ke balik bayangan.

Lorong-lorong panjang membentang di hadapannya, gelap dan sunyi. Hanya cahaya remang-remang dari lampu darurat yang menerangi sebagian. Ardi memberanikan diri melangkah lebih jauh, mengikuti intuisi anehnya.

Ia melewati ruang tunggu pasien yang seharusnya ramai. Kursi-kursi tertata rapi, majalah-majalah usang berserakan. Namun tidak ada jejak kehidupan, tidak ada tanda-tanda kehadiran manusia. Hanya kekosongan yang menyesakkan.

Dari kejauhan, ia mendengar desiran samar. Seperti suara mesin yang beroperasi terus-menerus. Bukan suara hiruk pikuk rumah sakit. Melainkan desisan mekanis yang monoton, membosankan, dan anehnya, menakutkan.

Ardi mengintip ke beberapa kamar pasien. Tirai tertutup rapat, hanya siluet samar ranjang yang terlihat. Ia bisa merasakan hawa dingin yang menusuk dari balik pintu. Seperti ada sesuatu yang membeku di dalamnya.

Di salah satu kamar, ia melihat sebuah mesin penunjang hidup. Lampu indikatornya berkedip hijau, menunjukkan aktivitas. Namun di baliknya, hanya bayangan tipis yang tergeletak di ranjang. Tanpa gerakan, tanpa tanda-tanda kehidupan.

Ia terus berjalan, mencari tanda-tanda penghuni. Sesekali ia melihat sosok perawat lain melintas cepat. Mereka semua bergerak tanpa suara, seperti bayangan. Tidak ada percakapan, tidak ada tawa, hanya keheningan.

Sampai akhirnya, ia berpapasan dengan seorang dokter. Pria itu memakai jas putih bersih, rambutnya disisir rapi. Matanya tajam, namun senyumnya terlalu lebar, tidak wajar. "Anda tersesat, Tuan?" tanyanya lembut.

Dokter itu memperkenalkan diri sebagai Dr. Surya, direktur rumah sakit. Ia menjelaskan bahwa Harapan Baru melayani kasus-kasus sangat khusus. "Pasien kami membutuhkan ketenangan total dan privasi mutlak," katanya.

Penjelasan Dr. Surya terdengar masuk akal, namun Ardi merasakan keganjilan. Aura dingin terpancar dari pria itu. Ada sesuatu yang disembunyikan di balik senyum ramahnya, di balik mata tajamnya.

Ardi memutuskan untuk kembali malam itu. Kali ini tanpa izin, sembunyi-sembunyi. Nalurinya menjerit bahwa ia harus mengungkap kebenaran. Ia membawa kamera dan alat perekam, siap untuk segala kemungkinan.

Malam itu, Harapan Baru terasa lebih angker. Kegelapan merayap di setiap sudut. Desiran mesin yang tadi samar, kini terdengar lebih jelas. Seperti bisikan ratusan jiwa yang terperangkap dalam tidur abadi.

Ia menemukan ruang arsip yang tidak terkunci. Debu tebal melapisi rak-rak usang. Namun, ada beberapa folder yang terlihat baru. Tertulis di sana: "Data Pasien Aktif". Jantung Ardi berdegup kencang.

Ia membuka salah satu folder. Nama-nama tercantum, namun tanpa riwayat medis lengkap. Tanggal masuknya membingungkan, puluhan tahun lalu. Namun teknologi penunjang hidup yang tercatat sangat modern.

Di salah satu berkas, ia menemukan foto. Wajah seorang wanita muda, tersenyum cerah. Di bawahnya, sebuah catatan singkat: "Pasien N. Status: Koma Stabil. Donasi Tubuh." Kata "Donasi Tubuh" membuatnya merinding.

Ardi segera mencari kamar N. Dengan penerangan ponsel, ia membuka pintu. Di dalamnya, terbaring seorang wanita. Wajahnya pucat pasi, seperti lilin, matanya terpejam rapat. Tabung-tabung terhubung ke tubuhnya yang kurus.

Wanita itu persis seperti di foto, namun jauh lebih tua. Ia bernapas, tapi tanpa kesadaran. Gerakan dadanya mekanis, diatur oleh mesin. Seolah ia hidup, namun sebenarnya telah lama tiada.

Ia memeriksa kamar lain, menemukan pola yang sama. Orang-orang yang seharusnya sudah tiada, terbaring kaku. Hidup dalam koma abadi, tanpa harapan. Semuanya tercatat sebagai "donasi tubuh" atau "kasus khusus."

Satu nama menarik perhatiannya: "Daftar Orang Hilang." Sebuah berkas tersembunyi di balik tumpukan lama. Berisi nama-nama yang familiar, kasus-kasus yang pernah menghebohkan kota, namun tak pernah terpecahkan.

Ardi menyadari kengerian di balik tembok ini. Ini bukan rumah sakit biasa, bukan panti jompo. Ini adalah gudang rahasia, sebuah penjara bagi jiwa-jiwa yang terperangkap dalam raga. Yang "disumbangkan" tanpa persetujuan mereka.

Tiba-tiba, suara langkah kaki mendekat. Cahaya senter menembus kegelapan. Dr. Surya berdiri di ambang pintu, tersenyum dingin. "Anda melihat terlalu banyak, Tuan Ardi," katanya, suaranya kini tanpa kehangatan.

"Rahasia kami tidak untuk konsumsi publik," lanjut Dr. Surya. Di belakangnya, perawat-perawat bermata kosong itu muncul. Mereka mengepung Ardi, wajah-wajah pucat mereka tidak menunjukkan belas kasihan.

Ardi lari, jantungnya berdegup kencang. Lorong-lorong gelap terasa seperti labirin yang tak berujung. Suara langkah kaki Dr. Surya dan para perawat mengejar di belakangnya, semakin dekat, semakin mematikan.

Ia harus keluar, dengan bukti di tangannya. Rekaman suara Dr. Surya, foto-foto "pasien" dan daftar orang hilang. Bukti-bukti ini adalah satu-satunya harapannya untuk mengungkap kebenaran.

Ia mencapai pintu samping yang berkarat. Dengan sekuat tenaga, ia mendobraknya. Suara dentuman keras memecah keheningan malam. Ardi terhuyung keluar, menghirup udara bebas dengan paru-paru terbakar.

Lampu sorot dari rumah sakit tiba-tiba menyala terang. Menyorot Ardi yang terengah-engah di luar gerbang. Ia melihat siluet Dr. Surya berdiri di ambang pintu, menatapnya tanpa ekspresi.

Ardi menerbitkan ceritanya, sensasi merebak di seluruh negeri. Pemerintah melakukan penyelidikan besar-besaran. Namun, Rumah Sakit Harapan Baru dinyatakan bersih, tidak ada "pasien" yang ditemukan di sana.

Bangunan itu kini benar-benar kosong, disegel pemerintah. Tapi Ardi tahu apa yang dilihatnya. Mimpi buruknya terus menghantuinya. Dan pertanyaan itu tetap ada: Di mana mereka sekarang? Jiwa-jiwa yang terperangkap itu.

Rumah Sakit Kosong yang Masih Beroperasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *