Sosok di Tengah Padang Savana Bekol
Padang Savana Bekol membentang luas. Hamparan rumput kering keemasan bergoyang pelan. Langit biru jernih tanpa awan, menyajikan panorama menakjubkan. Namun, di balik keindahannya, Bekol menyimpan misteri.
Sejak lama, bisikan tentang "Sosok" beredar. Sebuah kehadiran tak kasat mata, atau mungkin kasat mata namun tak bisa dijangkau. Ia muncul dan lenyap, meninggalkan jejak ketakutan.
Arif, seorang fotografer lanskap, terobsesi Bekol. Ia datang mencari keheningan sempurna. Kamera di tangan, ia siap mengabadikan setiap sudut. Ia percaya, alam hanya menyajikan keindahan.
Hari-hari pertamanya berjalan mulus. Arif menikmati setiap detik. Ia memotret kawanan rusa, merak hijau, dan siluet pohon lontar. Keindahan Bekol membius jiwanya.
Namun, di senja ketiga, segalanya berubah. Saat matahari terbenam, ia melihatnya. Di cakrawala, di antara ilalang tinggi. Sebuah siluet.
Bukan rusa, bukan pohon. Lebih tinggi, lebih ramping. Ia hanya sekilas, lalu menghilang. Arif mengernyit, mungkin fatamorgana. Kelelahan setelah seharian memotret.
Keesokan paginya, saat melintasi jalur setapak. Ia merasakan dingin menusuk. Padahal mentari Bekol sudah terik. Bulu kuduknya meremang tiba-tiba.
Di kejauhan, di balik semak akasia. Ia melihatnya lagi. Kali ini lebih jelas. Sebuah bayangan hitam pekat. Bergerak tanpa suara.
Bayangan itu seperti manusia. Namun terlalu tinggi, terlalu kurus. Gerakannya aneh, seolah melayang di atas tanah. Arif menahan napas.
Ia mencoba fokus, memotret. Namun lensa kameranya tak menangkap apa-apa. Hanya ilalang, dan langit kosong. Bayangan itu lenyap lagi.
Malam itu, Arif gelisah. Tidurnya tak nyenyak. Suara-suara aneh terdengar dari kejauhan. Bisikan angin yang terlalu teratur. Seperti sebuah nyanyian.
Ia memutuskan menemui penduduk lokal. Seorang penjaga pos yang sudah sepuh. Pak Rasyid, namanya. Wajahnya keriput, matanya menyimpan banyak cerita.
"Nak, Bekol itu ada penunggunya," Pak Rasyid berbisik. "Bukan hantu biasa. Tapi Sosok." Suaranya bergetar pelan.
"Sosok itu tidak mengganggu, jika tidak diganggu," lanjutnya. "Tapi ia suka mengamati. Ia tahu siapa yang datang ke Bekol."
Arif bertanya detail. Siapa Sosok itu? Apa wujudnya? Pak Rasyid hanya menggeleng. "Tidak ada yang tahu pasti. Hanya bayangan. Atau kadang, seperti asap."
Peringatan itu tak membuat Arif mundur. Justru rasa ingin tahu semakin membuncah. Ia ingin membuktikan. Atau setidaknya, mendapatkan satu foto.
Ia kembali ke savana. Lebih berhati-hati. Lebih peka. Setiap hembusan angin, setiap gerakan ilalang, kini terasa seperti sinyal.
Di hari kelima, saat ia bersiap pulang. Ia menemukan sesuatu di tendanya. Sebuah benda kecil. Kerudung usang berwarna gelap.
Aromanya aneh. Bukan bau tanah atau rumput. Lebih seperti bau lembab dan lumut tua. Jantung Arif berdegup kencang. Bagaimana ini bisa ada?
Ia yakin tidak pernah membawa kerudung. Tenda terkunci rapat. Kerudung itu seolah muncul dari udara tipis. Sebuah pesan.
Arif merasa diawasi. Bukan lagi sekadar perasaan. Ia yakin. Ada mata yang mengikutinya. Dari balik pohon. Dari balik bukit.
Ia mencoba berteriak. Suaranya hilang ditelan luasnya Bekol. Hanya gema hampa yang kembali. Kepanikan mulai merayapi jiwanya.
Di kejauhan, di antara rerimbunan semak. Ia melihatnya lagi. Kali ini Sosok itu berdiri tegak. Tidak bergerak. Menatap lurus ke arahnya.
Bentuknya semakin jelas. Tinggi menjulang, sangat kurus. Wajahnya tidak terlihat. Tertutup bayangan pekat. Atau memang tak punya wajah.
Arif mengangkat kamera. Tangannya gemetar. Ia mencoba memfokuskan lensa. Klik. Sebuah jepretan. Ia berharap kali ini berhasil.
Namun, saat ia melihat layar. Gambar yang muncul adalah kekosongan. Hanya ilalang dan langit. Sosok itu tak tertangkap. Ia merasa dipermainkan.
Kemarahan bercampur ketakutan. Arif berlari. Bukan kembali ke tenda. Tapi menuju Sosok itu. Dorongan tak masuk akal menguasai dirinya.
Ia ingin jawaban. Ia ingin melihatnya dari dekat. Ia ingin mengakhiri teror ini. Langkahnya cepat, membelah ilalang kering.
Sosok itu tidak lari. Ia tetap di sana. Menunggu. Seolah menantang. Arif mendekat, semakin dekat. Jarak tinggal puluhan meter.
Udara di sekitarnya terasa dingin. Dingin yang menusuk tulang. Ia bisa merasakan aura Sosok itu. Begitu kuat. Begitu asing.
Lalu, Sosok itu bergerak. Bukan lari. Tapi melayang ke samping. Seperti awan hitam yang tertiup angin. Namun tanpa angin.
Arif terkesiap. Ia berhenti mendadak. Hanya beberapa langkah dari tempat Sosok itu berdiri. Ia melihatnya. Jejak kaki.
Bukan jejak kaki manusia. Atau hewan. Itu adalah jejak yang aneh. Seperti cetakan cabang-cabang pohon kecil. Berbentuk spiral.
Lalu, sebuah suara. Berbisik di telinganya. Dingin. Kering. Bukan kata-kata. Lebih seperti desisan angin di padang tandus. Namun penuh makna.
"Kau melihatku. Tapi tidak mengenalku."
Suara itu menghilang. Bersamaan dengan lenyapnya jejak spiral. Sosok itu sudah tidak ada. Arif sendirian di tengah savana.
Malam itu, Arif tidak bisa tidur. Ia duduk di tendanya. Memeluk kamera. Menggigil kedinginan. Meskipun suhu udara masih hangat.
Ia memeriksa lagi foto yang diambil. Tetap kosong. Namun, ia melihat sesuatu. Sebuah titik kecil di sudut gambar. Hitam pekat.
Ia memperbesar gambar. Titik itu membesar. Menjadi bayangan. Siluet. Sosok itu. Ada di sana. Sangat kecil. Hampir tak terlihat.
Ia berhasil memotretnya. Tapi ia tak bisa melihatnya dengan mata telanjang. Sosok itu hanya muncul dalam resolusi tinggi. Seolah ia bukan bagian dari dimensi ini.
Pagi itu, Arif berkemas. Dengan tergesa-gesa. Ia harus pergi. Bekol yang dulu memanggilnya, kini mengusirnya. Ketakutan menguasai segalanya.
Ia tidak pamit pada Pak Rasyid. Ia hanya melesat pergi. Meninggalkan padang savana yang luas. Dan Sosok yang misterius itu.
Namun, bayangan Sosok itu tak pernah lepas. Setiap kali ia menutup mata, ia melihatnya. Siluet tinggi kurus. Dengan jejak spiral.
Arif tak pernah kembali ke Bekol. Ia tahu, Sosok itu masih di sana. Mengamati. Menunggu. Entah apa atau siapa dirinya.
Bekol tetap menyimpan rahasianya. Terhampar luas di bawah langit. Dengan bisikan angin yang membawa cerita. Tentang Sosok di tengah savana.
Dan setiap orang yang berani menatapnya, akan membawa pulang. Bukan hanya foto. Tapi juga sebuah misteri. Yang takkan pernah terpecahkan.




