Di antara riuhnya desa-desa di kaki Hutan Talang Lintang, hiduplah seorang petani bernama Pak Slamet. Ia adalah sosok yang ramah, pekerja keras, dan sangat akrab dengan belantara. Setiap pagi, ia berangkat ke ladangnya yang tersembunyi jauh di dalam hutan, membawa bekal dan harapan.
Hutan Talang Lintang bukanlah hutan biasa. Pepohonannya menjulang tinggi, kanopinya begitu rapat hingga cahaya matahari sulit menembus. Udara di dalamnya selalu lembap, dingin, dan dipenuhi bisikan-bisikan aneh yang konon berasal dari arwah penunggu.
Penduduk desa selalu mengingatkan Pak Slamet untuk berhati-hati. Banyak cerita tentang orang hilang di sana, tentang jalur yang tiba-tiba lenyap, atau suara-suara menyesatkan yang memanggil nama. Namun, Pak Slamet selalu tersenyum, yakin akan pengetahuannya tentang hutan.
Pada suatu senja yang temaram, ketenangan desa terusik. Pak Slamet tak kunjung kembali dari ladangnya. Istrinya, Bu Sumi, mulai gelisah, matanya tak henti memandang ke arah batas hutan yang kini diselimuti kegelapan.
Kecemasan itu segera menular ke tetangga. Beberapa pemuda desa, dipimpin oleh kepala dusun, segera membentuk tim pencari. Dengan obor dan senter seadanya, mereka memberanikan diri masuk ke dalam hutan yang gelap gulita.
Malam itu, Hutan Talang Lintang terasa lebih pekat dari biasanya. Suara jangkrik dan serangga malam seolah berhenti, digantikan oleh keheningan mencekam. Langkah kaki tim pencari bergema, menciptakan gema yang justru mempertebal rasa takut.
Mereka memanggil-manggil nama Pak Slamet, namun hanya gema yang menjawab. Hutan seolah menelan setiap suara, setiap harapan. Bau tanah basah dan dedaunan membusuk menusuk hidung, menambah kesan horor.
Pencarian berlanjut hingga dini hari. Jejak Pak Slamet, yang seharusnya mudah ditemukan oleh mata terlatih, lenyap tanpa bekas. Hanya ada semak belukar yang tak terusik dan pohon-pohon raksasa yang tampak mengawasi.
Keputusasaan mulai merayapi hati tim pencari. Mereka membayangkan skenario terburuk: Pak Slamet tersesat, diserang binatang buas, atau bahkan diculik oleh "sesuatu" yang tak kasat mata. Ketakutan itu nyata, dingin, dan menyesakkan.
Saat fajar mulai menyingsing, mewarnai langit timur dengan semburat jingga, tim pencari memutuskan untuk kembali. Mereka membawa kabar buruk: Pak Slamet tak ditemukan. Desa pun diselimuti kesedihan dan tanda tanya besar.
Namun, keajaiban, atau mungkin kengerian, datang tak lama setelah matahari naik. Seorang warga yang hendak ke sungai menemukan sesosok tubuh tergeletak di tepi hutan, tak jauh dari jalan setapak utama.
Itu adalah Pak Slamet. Ia terbaring lemas, tubuhnya kotor oleh tanah dan lumpur. Pakaiannya compang-camping, dan wajahnya pucat pasi, seperti mayat hidup. Matanya terbuka, namun kosong, tanpa ekspresi.
Warga segera berhamburan mendekat. Pak Slamet diangkat perlahan, tubuhnya terasa ringan, seolah berat badannya menyusut drastis dalam semalam. Ia tidak merespons panggilan atau sentuhan.
Di rumahnya, Pak Slamet dibaringkan. Bu Sumi menangis histeris, antara lega dan ketakutan. Kondisi suaminya begitu mengkhawatirkan, seolah ia baru saja melalui perjalanan ke alam lain.
Dokter desa dipanggil. Ia memeriksa Pak Slamet dengan saksama. Secara fisik, Pak Slamet hanya mengalami dehidrasi parah dan kelelahan ekstrem. Namun, ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan secara medis.
Matanya yang dulu ceria kini hampa, seolah jiwanya telah direnggut. Ada pola-pola aneh, seperti goresan tipis, di beberapa bagian kulitnya yang terpapar. Goresan itu tidak seperti luka biasa.
Yang lebih aneh lagi, Pak Slamet mengeluarkan bau aneh. Bukan bau keringat atau tanah ladang. Itu adalah bau yang sulit didefinisikan, seperti bau lumut tua yang bercampur dengan sesuatu yang dingin dan asing.
Selama beberapa hari, Pak Slamet hanya terbaring. Ia tidak makan, tidak minum, dan hanya sesekali mengerang pelan. Setiap kali ia terbangun, tatapan matanya selalu tertuju ke arah jendela, seolah ia melihat sesuatu di kejauhan.
Penduduk desa mulai berbisik-bisik. Cerita-cerita lama tentang Hutan Talang Lintang kembali mencuat. Ada yang bilang Pak Slamet tersesat ke alam gaib, ada yang menyebut ia bertemu penunggu hutan.
Beberapa tetua desa datang menjenguk. Mereka mengamati Pak Slamet dengan pandangan penuh selidik. Mereka tidak berbicara banyak, hanya mengangguk-angguk seolah mengerti sesuatu yang tak terucap.
Pada malam ketujuh, Pak Slamet tiba-tiba terbangun. Matanya masih hampa, namun ia mulai mencoba berbicara. Suaranya serak, nyaris tak terdengar, seperti bisikan angin dari kedalaman hutan.
"Dingin… sangat dingin…" bisiknya, menggigil meskipun cuaca tidak begitu dingin. Bu Sumi mendekat, mencoba mendengarkan.
"Gelap… tak ada cahaya…" lanjut Pak Slamet, tangan kanannya terangkat, mencoba meraih sesuatu yang tak terlihat. "Suara… mereka… memanggil…"
Bu Sumi menahan napas. "Siapa, Pak? Siapa yang memanggil?" tanyanya, suaranya bergetar.
Pak Slamet menatapnya kosong. "Bukan manusia… bukan dari sini…" Ia terdiam sejenak, wajahnya menunjukkan ekspresi ketakutan yang mendalam.
"Mereka… melihatku…" bisiknya lagi, lalu pandangannya kembali kosong. Ia terhuyung-huyung, seolah baru saja kembali dari tempat yang mengerikan. Tubuhnya kembali lemas, dan ia pun tak sadarkan diri lagi.
Kata-kata Pak Slamet menyebar cepat di desa. Kecemasan berubah menjadi ketakutan yang membeku. Apa yang sebenarnya terjadi pada Pak Slamet di dalam hutan selama satu malam itu?
Tidak ada yang bisa menjelaskan bagaimana ia menghilang tanpa jejak, dan muncul kembali dalam keadaan yang begitu mengenaskan. Tidak ada luka fisik yang serius, namun jiwanya tampak terkuras habis.
Beberapa orang mencoba kembali ke tempat Pak Slamet ditemukan, mencari petunjuk. Namun, tak ada yang aneh. Hutan tetap sama, sunyi, dan menyimpan rahasianya rapat-rapat.
Pak Slamet perlahan pulih secara fisik, namun ia tak pernah kembali menjadi dirinya yang dulu. Matanya selalu menyimpan bayangan ketakutan. Ia jarang berbicara, dan setiap kali ia melakukannya, ia selalu menyebutkan tentang "dingin" dan "mereka."
Ia tak lagi berani masuk ke dalam Hutan Talang Lintang, bahkan untuk sekadar memandang batasnya. Ladangnya kini terbengkalai, menjadi saksi bisu dari kengerian yang tak terucapkan.
Misteri hilangnya Pak Slamet semalam di hutan menjadi legenda di desa itu. Sebuah kisah tentang batas tipis antara dunia nyata dan sesuatu yang tak terpahami. Sebuah peringatan tentang kekuatan gelap yang mungkin bersembunyi di balik kanopi hutan purba.
Hutan Talang Lintang kini dipandang dengan rasa hormat yang bercampur ketakutan. Setiap kali angin berdesau di antara pepohonannya, penduduk desa merasa seolah bisikan-bisikan dingin itu kembali.
Dan Pak Slamet, sang petani yang hilang semalam, adalah bukti hidup dari teror yang tak terlukiskan. Ia kembali, namun sebagian dirinya seolah tertinggal di suatu tempat yang tak boleh dikunjungi manusia.
Tempat yang dingin, gelap, dan dihuni oleh "mereka" yang tak terlihat. Misteri itu tetap menggantung, dingin dan mencekam, di atas Hutan Talang Lintang.





