Scroll untuk baca artikel
Provinsi Sumatera Selatan

Penjaga Batu Besar Muara Pinang: Sebuah Misteri Gerimis

64
×

Penjaga Batu Besar Muara Pinang: Sebuah Misteri Gerimis

Share this article

Penjaga Batu Besar Muara Pinang: Sebuah Misteri Gerimis

Penjaga Batu Besar Muara Pinang: Sebuah Misteri Gerimis

Desa Muara Pinang, sebuah titik terpencil di peta, diselimuti kabut abadi dan bisikan legenda yang menua. Dikelilingi hutan lebat yang tak tersentuh, desa ini menyimpan sebuah rahasia purba: sebuah bongkahan granit raksasa, hitam pekat, diselimuti lumut tebal, berdiri tegak di jantungnya. Batu Besar, demikian penduduk memanggilnya, bukan sekadar monumen geologis.

Ia adalah pusat dari segala kepercayaan, ketakutan, dan sebuah misteri yang tak pernah terpecahkan. Penduduk Muara Pinang hidup dalam bayang-bayang batu ini, menghormatinya dengan ketakutan yang mendalam, dan selalu menghindari mendekatinya saat rintik hujan mulai turun. Karena saat itulah, Sang Penjaga muncul.

Sosok Penjaga itu, menurut bisikan penduduk, bukan manusia biasa. Ia adalah entitas kuno, terjalin erat dengan esensi batu itu sendiri. Penampakannya selalu menjadi pertanda, sebuah pengingat akan batas yang tak boleh dilampaui oleh siapapun.

Keunikan lain dari penjaga misterius ini adalah kemunculannya. Ia hanya memperlihatkan diri saat gerimis tipis membasahi Muara Pinang. Seolah kabut dan rintik hujan menjadi selubung yang sempurna bagi keberadaannya yang samar, menjadikannya hampir tak terlihat oleh mata telanjang.

Para tetua desa berujar, sosok itu adalah arwah penunggu yang ditugaskan menjaga keseimbangan. Melindungi batu dari campur tangan manusia yang serakah, atau mungkin, menjaga rahasia yang terpendam di dalamnya, yang jika terkuak, bisa menghancurkan tatanan dunia.

Legenda ini telah diwariskan turun-temurun, dari generasi ke generasi. Sebuah cerita pengantar tidur yang justru membuat bulu kuduk merinding, membentuk karakter masyarakat yang patuh pada tradisi dan penuh kewaspadaan terhadap dunia tak kasat mata.

Aku, seorang peneliti budaya yang skeptis, datang ke Muara Pinang dengan niat murni untuk mendokumentasikan folklor lokal. Kisah tentang Sang Penjaga Batu Besar adalah magnet yang tak terbantahkan, memicu rasa ingin tahu yang lebih besar daripada rasa takut.

Masyarakat menyambutku dengan ramah, namun ada keraguan yang tersirat di mata mereka. Setiap kali aku bertanya tentang Sang Penjaga, senyum mereka memudar, digantikan oleh sorot mata yang waspada, dan kalimat-kalimat yang terucap penuh kehati-hatian.

"Jangan dekati Batu Besar saat hujan, Nak," ujar seorang nenek tua, suaranya serak. "Ada sesuatu di sana yang bukan untuk dilihat manusia. Sesuatu yang akan mengubahmu selamanya." Peringatan itu, alih-alih menakutiku, justru membakar rasa penasaran di dalam dadaku.

Beberapa minggu berlalu, aku mempelajari pola cuaca desa. Gerimis adalah fenomena yang sering terjadi, namun tidak setiap hari. Aku menunggu, mempersiapkan diri, dengan kamera dan catatan, untuk membuktikan atau membantah keberadaan sosok misterius itu.

Suatu sore, langit mulai meredup dengan cepat. Aroma tanah basah mulai menguar, dan udara dingin menusuk tulang. Rintik-rintik halus mulai jatuh, menari di atas atap seng dan dedaunan. Gerimis telah tiba. Jantungku berdebar kencang, antara antisipasi dan ketegangan.

Aku mengenakan jas hujan tipis, memastikan senterku berfungsi, dan diam-diam menyelinap keluar dari penginapan. Desa itu sepi, rumah-rumah terkunci rapat. Seolah seluruh penduduk telah lenyap ditelan kegelapan, meninggalkan aku sendiri dalam suasana mencekam.

Langkah kakiku terasa berat, namun tekadku lebih kuat. Jalanan licin dan gelap, hanya diterangi oleh cahaya remang dari lentera yang tergantung di beberapa teras rumah. Semakin dekat aku dengan Batu Besar, semakin pekat kegelapan di sekelilingku.

Suara gerimis menjadi satu-satunya melodi, berpadu dengan detak jantungku yang semakin cepat. Aku bisa merasakan keberadaan Batu Besar bahkan sebelum melihatnya. Auranya begitu kuat, dingin, dan entah mengapa, terasa sangat kuno, seolah ia telah menyaksikan ribuan tahun berlalu.

Siluet raksasa Batu Besar mulai terlihat, menjulang di tengah lapangan terbuka. Permukaannya berkilau basah di bawah cahaya senterku yang redup. Lumut-lumut tebal tampak hidup, seolah berdenyut dalam keheningan yang menyesakkan.

Kemudian, aku melihatnya. Bukan sebuah bayangan samar, melainkan sebuah siluet. Di sisi timur Batu Besar, nyaris menyatu dengan warna gelap granit, berdiri tegak sebuah sosok. Tinggi, kurus, dengan jubah panjang yang tampaknya terbuat dari kabut itu sendiri.

Ia tidak bergerak. Sama sekali tidak. Bahkan ketika senterku menyapu ke arahnya, sosok itu tetap diam, seolah patung yang diukir dari malam. Namun, aku merasakan sesuatu. Dua titik cahaya redup, seolah mata, menatap balik ke arahku dari balik kerudung kabutnya.

Bukan mata yang marah, bukan pula mata yang ramah. Melainkan mata yang tak beremosi, kuno, dan tak terhingga. Tatapan itu menembusku, merenggut napas dari paru-paruku, mengunci kakiku pada tanah yang basah. Aku merasa jiwaku telanjang di hadapannya.

Tidak ada suara yang keluar darinya, tidak ada gerakan yang mengancam. Hanya keheningan yang lebih dalam, dan tatapan yang tak pernah berkedip. Aku merasakan hawa dingin yang menusuk, bukan dari gerimis, melainkan dari keberadaan sosok itu sendiri.

Ketakutan murni, yang belum pernah kurasakan seumur hidupku, menyergap. Itu bukan ketakutan akan kematian, melainkan ketakutan akan kehilangan akal sehat. Ketakutan akan menyadari bahwa ada hal-hal di dunia ini yang melampaui pemahaman manusia.

Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri di sana, terpaku. Mungkin detik, mungkin menit. Waktu seolah berhenti di hadapan Sang Penjaga. Lalu, tanpa kusadari, kakiku bergerak mundur, perlahan, selangkah demi selangkah, menjauh dari Batu Besar dan sosok itu.

Aku tidak berani membalikkan badan, takut jika aku melakukannya, ia akan menghilang, atau lebih buruk, mengikutiku. Aku terus berjalan mundur, hingga siluet Batu Besar dan Penjaganya lenyap ditelan kegelapan dan gerimis yang semakin lebat.

Ketika aku akhirnya mencapai penginapan, tubuhku gemetar hebat. Pakaianku basah kuyup, bukan hanya oleh hujan, tetapi oleh keringat dingin. Aku mengunci pintu dan merosot ke lantai, mencoba mengatur napas, mencoba memahami apa yang baru saja kusaksikan.

Malam itu, aku tidak bisa tidur. Setiap kali memejamkan mata, aku melihat tatapan kuno itu, merasakan hawa dinginnya yang menusuk. Kepercayaan skeptisku hancur berkeping-keping, digantikan oleh kenyataan yang lebih besar, lebih menakutkan, dan tak bisa dijelaskan.

Aku meninggalkan Muara Pinang keesokan harinya, tanpa berpamitan. Rasa ingin tahu telah berubah menjadi ketakutan yang mendalam. Kisah-kisah tentang Sang Penjaga bukan lagi folklor belaka, melainkan sebuah realitas yang menakutkan, yang hidup dan bernapas di antara rintik gerimis.

Batu Besar itu masih ada di sana, di jantung Desa Muara Pinang, menjulang dalam kesunyiannya. Dan setiap kali gerimis turun, di antara kabut dan rintik hujan, Sosok Penjaga itu akan kembali muncul, mengawasi, menjaga, dan menyimpan rahasia abadi yang tersembunyi.

Misteri Muara Pinang tetap tak terpecahkan. Apa yang dijaga oleh sosok itu? Mengapa ia hanya muncul saat gerimis? Dan apa konsekuensinya bagi mereka yang berani menatap langsung ke dalam mata kunonya? Pertanyaan-pertanyaan itu akan terus menghantui, selamanya.

Penjaga Batu Besar Muara Pinang: Sebuah Misteri Gerimis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *