Scroll untuk baca artikel
Provinsi Sumatera Selatan

Motor Mogok Serentak di Tikungan Tua Tebing Tinggi

60
×

Motor Mogok Serentak di Tikungan Tua Tebing Tinggi

Share this article

Motor Mogok Serentak di Tikungan Tua Tebing Tinggi

Baik, ini dia artikel misteri tentang motor mogok serentak di Tikungan Tua Tebing Tinggi, dengan setiap paragraf maksimal 4 baris dan bertujuan membangun rasa penasaran dan ketegangan.

Misteri Tikungan Tebing Kembar: Ketika Mesin Meraung Mati Serentak

Tebing Tinggi selalu menyimpan pesonanya. Namun, ada satu sudut jalan yang kini diselimuti misteri pekat. Tikungan tajam di kaki Bukit Kembar, yang kini dijuluki Tikungan Angker Tebing Kembar. Bukan karena kecelakaan biasa, melainkan fenomena yang tak masuk akal.

Cerita bermula dari bisik-bisik. Beberapa pengendara motor melaporkan hal aneh. Mesin mereka tiba-tiba mati total di titik yang sama. Tanpa sebab, tanpa peringatan. Seolah ada tangan tak kasat mata yang mencabut nyawa kendaraan.

Awalnya, itu hanya insiden terisolasi. Mungkin busi kotor, atau karburator bermasalah. Para mekanik lokal menggelengkan kepala. Tidak ada kerusakan berarti ditemukan. Motor-motor itu hidup kembali normal setelah didorong menjauh dari tikungan.

Namun, kejadian itu mulai berulang. Lebih sering, lebih banyak korban. Bukan lagi satu dua motor, tapi rombongan kecil. Mereka semua mengalami hal yang sama: mesin mati mendadak, lampu padam, keheningan mencekam.

Arif, seorang jurnalis lepas dan penggemar misteri, tertarik. Ia mendengar desas-desus. Cerita tentang tikungan terkutuk itu mulai menyebar cepat. Rasa penasarannya mengalahkan naluri hati-hatinya.

Ia mulai mengumpulkan kesaksian. Setiap pengendara menceritakan hal serupa. Dingin yang menusuk tulang, bau aneh seperti lumut basah, dan bisikan lirih yang tak jelas asalnya. Selalu terjadi di malam hari.

"Rasanya seperti ada yang menarik napas terakhir," ujar seorang korban, tangannya bergetar. "Seolah tikungan itu hidup. Dan tidak suka dengan kehadiran kami." Kata-katanya menggantung di udara, penuh ketakutan.

Arif menggali lebih dalam. Ia menemui sesepuh desa. Mereka enggan bicara pada awalnya. Namun, setelah didesak, kisah lama mulai terkuak. Kisah tentang Tikungan Tebing Kembar dan sejarah kelamnya.

Dulu sekali, puluhan tahun silam, sebuah rombongan pengantin melintas di sana. Hujan lebat mengguyur, jalan licin. Truk pengangkut pengantin dan iring-iringan motor terjun ke jurang. Tak ada yang selamat.

Pengantin wanita, konon, mengenakan gaun putih yang berlumuran lumpur. Arwahnya tidak tenang. Ia mencari sesuatu yang hilang. Atau mungkin, ia tidak ingin ada yang bahagia melintas di sana.

"Mereka bilang, pada malam tertentu, kau bisa melihat bayangan putih melayang," kata seorang kakek, suaranya pelan. "Mungkin itu adalah peringatan. Agar tidak mengganggu ketenangan mereka."

Arif tak bisa menahan diri. Ia harus membuktikan. Ia memantau kalender. Tanggal kecelakaan tragis itu adalah malam bulan purnama. Hanya tinggal beberapa hari lagi. Ia mempersiapkan diri.

Malam yang ditunggu pun tiba. Langit gelap, bulan purnama bersinar terang. Arif mengendarai motornya menuju Tikungan Angker Tebing Kembar. Ia tidak sendiri. Beberapa pengendara lain yang penasaran juga hadir.

Suasana mulai berubah saat mendekati tikungan. Angin berhembus lebih kencang. Suhu udara turun drastis. Kabut tipis mulai merayap dari balik jurang. Aroma lumut basah yang aneh semakin pekat tercium.

Jantung Arif berdebar kencang. Ia menguatkan pegangan pada setang motornya. Lampu motor-motor di sekelilingnya membelah kegelapan. Ada ketegangan yang terasa nyata di udara.

Tepat saat mereka memasuki area tikungan, sebuah sensasi aneh melanda. Seperti gelombang energi tak terlihat. Rambut-rambut halus di lengan Arif berdiri. Dinginnya menusuk hingga ke tulang sumsum.

Lalu, itu terjadi. Serentak. Semua lampu motor berkedip liar. Mesin-mesin yang tadinya meraung, kini batuk-batuk. Lalu, satu per satu, padam. Keheningan tiba-tiba menyelimuti seluruh area tikungan.

Kegelapan total. Hanya cahaya bulan yang temaram. Nafas tertahan. Suara bisikan lirih mulai terdengar, seperti ratapan jauh. Ada desiran aneh, seolah ada kain basah yang terseret di aspal.

Panik mulai menyebar. Beberapa orang berteriak. Mereka mencoba menyalakan motor mereka, tapi tak ada respons. Mesin mati total. Bagaikan mainan yang kehabisan baterai.

Arif merasakan sesuatu. Sebuah kehadiran. Ia menoleh ke arah jurang. Sekilas, ia melihat siluet putih. Samar, berkelebat, lalu lenyap ditelan kabut. Seperti bayangan yang berputar-putar.

Bau melati yang menusuk tiba-tiba tercium kuat. Lalu menghilang secepatnya. Udara terasa semakin dingin. Rasa tercekik. Seolah ada beban berat menimpa dada.

Semua orang terdiam. Mereka hanya bisa menunggu. Ketakutan merayapi setiap pori. Tak ada yang berani bergerak. Hanya suara nafas yang memburu, dan detak jantung yang berpacu.

Setelah apa yang terasa seperti keabadian, tiba-tiba, keajaiban terjadi. Satu per satu, lampu motor mulai berkedip lagi. Mesin-mesin terbatuk, lalu meraung hidup. Seolah tak ada yang pernah terjadi.

Tanpa komando, semua pengendara langsung memutar balik. Gas dipelintir habis-habisan. Mereka melarikan diri dari tikungan itu. Meninggalkan kabut dan keheningan mencekam di belakang.

Arif mengendarai motornya dengan kecepatan penuh. Pikirannya kalut. Ia telah menyaksikan sendiri. Apa yang tadinya hanya desas-desus, kini adalah kenyataan yang mengerikan.

Tikungan Angker Tebing Kembar bukanlah mitos belaka. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang tak kasat mata, yang menuntut ketenangan. Atau mungkin, mencari keadilan yang tak pernah didapatkan.

Hingga hari ini, misteri motor mogok serentak itu tak terpecahkan. Tikungan itu tetap ada. Dengan reputasi yang semakin gelap. Sebuah peringatan bagi siapa pun yang berani melintasinya.

Orang-orang kini memilih jalan memutar. Lebih jauh, tapi lebih aman. Mereka tahu, di malam tertentu, Tikungan Angker Tebing Kembar akan menuntut persembahan. Bukan nyawa, tapi keheningan mesin.

Dan kadang-kadang, di malam yang sangat sepi, jika kau cukup berani melintas, kau mungkin akan mendengar bisikan. Sebuah ratapan pilu. Atau mungkin, melihat bayangan putih berkelebat di antara pepohonan.

Misteri itu tetap hidup. Menggantung di udara dingin Tikungan Angker Tebing Kembar. Menunggu korban berikutnya. Atau mungkin, hanya menunggu kedamaian yang tak pernah datang.

Motor Mogok Serentak di Tikungan Tua Tebing Tinggi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *