Udara Talang Padang selalu memiliki aroma unik.
Perpaduan tanah basah, embun pagi, dan sedikit bau asap kayu bakar.
Rina, seorang gadis kota, sering datang mengunjung Neneknya di sana.
Kali ini, suasana terasa sedikit berbeda, lebih sunyi.
Rumah Nenek berdiri kokoh, tua dan dikelilingi rimbun pepohonan.
Bagian belakangnya langsung berbatasan dengan semak belukar lebat.
Di baliknya, terhampar sawah-sawah yang kini tak lagi digarap.
Sore itu, mendung menggantung pekat, menjanjikan hujan deras.
Malam tiba, membawa serta dingin yang menusuk tulang.
Rina berbaring di kamar, mencoba memejamkan mata.
Suara jangkrik bersahutan, sesekali diselingi lolongan anjing dari kejauhan.
Tiba-tiba, suara itu datang.
Dari arah belakang rumah, jelas sekali.
Sebuah langkah berat, menyeret, seolah ada sesuatu yang besar melangkah.
Suaranya nyaris memekakkan telinga dalam kesunyian malam.
Rina terkesiap, jantungnya berdegup kencang.
Ia menahan napas, menajamkan pendengarannya.
Langkah itu berulang, satu, dua, lalu berhenti.
Hening kembali menyelimuti, hanya menyisakan deru napas Rina yang terburu-buru.
"Angin, mungkin," bisiknya pada diri sendiri, mencoba menenangkan.
Pagi harinya, Rina menceritakan apa yang ia dengar pada Nenek.
Nenek hanya tersenyum tipis, matanya menatap jauh ke luar jendela.
"Hanya angin malam, Nak," katanya lembut.
"Atau mungkin babi hutan yang lewat."
Jawaban Nenek terasa terlalu mudah, terlalu menenangkan.
Rina merasakan ada sesuatu yang disembunyikan.
Namun ia memilih diam, tidak ingin membuat Nenek khawatir.
Ia mencoba melupakan kejadian semalam.
Namun, malam berikutnya, suara itu kembali.
Lebih jelas, lebih dekat, seolah berada tepat di luar dinding kamar Rina.
Langkah-langkah berat itu kini terdengar seperti jejak kaki raksasa.
Setiap langkahnya membuat lantai bergetar halus.
Rina bangkit dari ranjang, mendekat ke jendela.
Jendela kamarnya menghadap langsung ke area belakang rumah.
Di luar, kegelapan pekat menyelimuti, tanpa bulan, hanya bintang-bintang samar.
Ia memberanikan diri, mengintip melalui celah tirai.
Tidak ada apa-apa.
Hanya siluet pepohonan yang bergoyang ditiup angin.
Namun suara langkah itu masih terdengar, seolah ada di sana.
Tepat di bawah jendela, di antara semak belukar.
Rina menelan ludah, tenggorokannya tercekat.
Ia merasakan hawa dingin merambat di punggungnya.
Bulu kuduknya meremang.
Ini bukan angin, bukan pula babi hutan.
Ia mundur perlahan, kembali ke ranjang.
Membenamkan diri di balik selimut tebal.
Mencoba meyakinkan diri bahwa ini hanya mimpi buruk.
Namun suara langkah itu terus menghantuinya hingga menjelang subuh.
Beberapa hari berikutnya, pola itu terus berulang.
Setiap malam, antara pukul dua dan tiga dini hari.
Langkah berat itu selalu muncul dari belakang rumah.
Selalu diiringi keheningan yang mencekam setelahnya.
Rina mulai merasa tertekan.
Kantong mata menghitam, tidurnya tak pernah nyenyak.
Ia merasa ada sesuatu yang mengawasinya.
Setiap ia melangkah keluar, punggungnya terasa dingin.
Suatu sore, saat Nenek sedang menyiram tanaman.
Rina mencoba bertanya lagi, lebih serius.
"Nek, apakah di sini ada cerita tentang sesuatu di belakang rumah?"
Nenek terdiam sejenak, wajahnya mengeras.
"Kenapa, Nak?" tanyanya, suaranya lebih rendah dari biasanya.
Rina menceritakan semua yang ia alami, tanpa ada yang terlewat.
Nenek mendengarkan dengan saksama, sesekali mengangguk.
Ada gurat kesedihan di wajah tuanya.
"Dulu, di belakang sana, ada hutan yang sangat tua," kata Nenek pelan.
"Hutan itu dianggap sakral oleh leluhur kami."
"Ada penjaga di sana, Nak."
Rina merasa napasnya tertahan.
"Penjaga? Maksud Nenek… makhluk halus?"
Nenek mengangguk perlahan.
"Bukan yang jahat, Rina. Hanya… penjaga. Mereka tak suka diganggu."
"Dan mereka memiliki langkah yang berat, sangat berat."
Rina merasakan kengerian yang baru.
Ini bukan sekadar suara, ini adalah keberadaan.
Keberadaan yang purba, yang menjaga, yang tak terlihat.
Namun, mengapa ia mendengar langkah itu?
"Mungkin kau terlalu sering melihat ke arah sana, Nak," Nenek melanjutkan.
"Atau mungkin kau tanpa sengaja melewati batas mereka."
"Cukup abaikan saja, jangan hiraukan."
"Mereka hanya ingin menunjukkan keberadaan."
Namun bagaimana bisa mengabaikan?
Suara itu semakin jelas, semakin mengancam.
Rina mulai mendengar bisikan samar di antara langkah-langkah itu.
Bisikan yang tidak jelas, namun terasa mengundang.
Malam itu, Rina tidak bisa tidur sama sekali.
Ia memutuskan untuk menghadapi ketakutannya.
Ia ingin melihat, dengan mata kepalanya sendiri, apa yang sebenarnya terjadi.
Jika itu memang penjaga, ia ingin tahu bentuknya.
Hujan kembali turun, lebih deras dari sebelumnya.
Angin menderu, menggoyangkan pepohonan di luar.
Rina menunggu, jantungnya berdebar kencang.
Tepat pukul dua, suara itu datang.
Langkah-langkah itu kini terdengar sangat dekat.
Seolah ada sesuatu yang besar sedang berjalan mengelilingi rumah.
Rina beringsut dari ranjang, mendekat ke jendela.
Ia menarik sedikit tirai, mengintip ke luar.
Di bawah remang-remang cahaya kilat, ia melihatnya.
Bukan wujud, bukan bayangan.
Melainkan efek dari langkah-langkah itu.
Tanah basah di belakang rumah bergetar.
Air hujan yang menggenang di tanah terpental.
Seolah ada beban berat yang menginjaknya.
Rina melihat jejak-jejak samar di tanah berlumpur.
Jejak kaki yang begitu besar, jauh lebih besar dari manusia.
Dan anehnya, jejak itu muncul dan menghilang begitu saja.
Tanpa ada bentuk yang menjejakinya.
Rina merasakan dingin yang menusuk tulang.
Bukan karena cuaca, tapi karena teror yang nyata.
Langkah itu berhenti tepat di depan jendela kamarnya.
Hening.
Kemudian, sebuah suara, sangat rendah dan dalam.
Terdengar seperti gumaman purba, nyaris tak terdengar.
"Pulanglah…"
Suara itu berbisik, seolah langsung di telinganya.
Padahal tidak ada siapa-siapa di sana.
Hanya kegelapan dan jejak tak berwujud.
Rina menjerit, suara tertahan di tenggorokannya.
Ia terjatuh, mundur terhuyung-huyung.
Seluruh tubuhnya gemetar tak terkendali.
Air mata mengalir deras di pipinya.
Nenek, yang mendengar suara gaduh, bergegas masuk.
Ia melihat Rina meringkuk ketakutan di lantai.
"Ada apa, Nak? Kau melihatnya?" tanya Nenek lembut.
Suara Nenek terdengar sedih, seolah sudah tahu apa yang terjadi.
Rina hanya bisa mengangguk, terisak.
Nenek memeluknya erat, mengusap punggungnya.
"Sudah tahu, kan? Mereka tidak suka diganggu."
"Kita akan pulang besok pagi."
Esoknya, dengan sisa-sisa keberanian yang ada, Rina bersiap pulang.
Ia tak menoleh lagi ke arah belakang rumah.
Talang Padang yang dulu ia anggap damai, kini terasa mencekam.
Meninggalkan jejak kengerian yang mendalam.
Dalam perjalanan pulang, Rina hanya diam.
Pikirannya dipenuhi langkah-langkah berat itu.
Dan bisikan purba yang menyuruhnya pulang.
Ia tahu, ada rahasia yang tersembunyi di balik rumah Nenek.
Rahasia yang dijaga oleh entitas tak kasat mata.
Sebuah keberadaan yang hanya menunjukkan jejak dan suara.
Langkah berat dari belakang rumah, tapi tak ada siapa-siapa.
Sebuah misteri yang akan selalu menghantuinya.
Apakah ia benar-benar pulang, ataukah sesuatu telah mengikutinya?
Pertanyaan itu tetap menggantung di udara.
Teror Talang Padang mungkin telah berakhir.
Namun kengerian itu, ia tahu, baru saja dimulai.





