Bisikan dari Hutan Rengganis
Kinar tiba di kaki Hutan Rengganis.
Peralatan penelitiannya tertata rapi.
Ia seorang etnobotanis muda, bersemangat.
Mendokumentasikan flora langka menjadi tujuannya.
Namun, udara di sana terasa lain.
Dingin menusuk, bukan karena suhu.
Ada bisikan tak terlihat, menyelimuti.
Kisah kuno tentang penjaga hutan terdengar samar.
Pak Cokro, pemandu lokalnya, berwajah muram.
Mata tuanya menyorotkan keraguan.
"Hutan ini tak seperti hutan lain, Nona," ujarnya.
"Ada yang tak ingin diganggu di dalamnya."
Kinar hanya tersenyum tipis.
Ia peneliti, bukan penganut takhayul.
Ilmu pengetahuan adalah kompasnya.
Bukan cerita-cerita rakyat yang menyesatkan.
Langkah pertama masuk ke Rengganis, segalanya berubah.
Kanopi pohon purba menyaring cahaya matahari.
Hanya remang-remang yang menembus ke dasar.
Kelembapan tebal merangkul kulit, dingin dan lengket.
Bau tanah basah dan dedaunan membusuk menusuk hidung.
Namun ada aroma lain, samar namun aneh.
Seperti wangi bunga yang terlalu manis.
Atau mungkin, aroma sesuatu yang sudah lama mati.
Hari pertama berjalan lancar.
Kinar sibuk dengan spesimennya.
Mencatat, memotret, dan mengamati.
Pak Cokro hanya diam di belakangnya.
Menjelang senja, saat mereka mendirikan tenda.
Sebuah bisikan lembut melintas.
Sangat tipis, nyaris tak terdengar.
Seperti desiran angin melalui daun kering.
"Dengar itu, Pak Cokro?" Kinar bertanya.
Pemandu itu terkesiap, wajahnya pucat.
"Angin saja, Nona," jawabnya cepat.
Tapi matanya menyiratkan ketakutan mendalam.
Malam itu, bisikan itu datang lagi.
Kali ini lebih jelas, berirama aneh.
Seperti gumaman banyak suara bersamaan.
Kinar terbangun dengan jantung berdebar.
Ia mencoba meyakinkan diri.
Mungkin hanya suara serangga malam.
Atau imajinasinya yang terlalu lelah.
Namun, ketegangan mengisi udara tenda.
Pagi berikutnya, mereka melanjutkan ekspedisi.
Hutan terasa semakin sunyi.
Bahkan suara burung pun jarang terdengar.
Hanya derap langkah mereka yang memecah keheningan.
Kemudian bisikan itu datang lagi.
Lebih dekat, lebih jelas.
Seolah berbisik di telinga Kinar.
Ia menoleh, tapi tak ada siapa-siapa.
"Kinar…" suara itu memanggil namanya.
Sangat halus, namun begitu nyata.
Bulu kuduk Kinar meremang seketika.
Ia menatap Pak Cokro yang membeku.
"Anda juga mendengarnya?" tanya Kinar gemetar.
Pak Cokro mengangguk pelan, matanya nanar.
"Sudah kukatakan, Nona. Hutan ini hidup."
"Dan dia tidak suka tamu."
Ketakutan mulai merayapi benak Kinar.
Ia meraih perekam suaranya.
Mencoba menangkap fenomena aneh ini.
Demi pembuktian ilmiah, ia meyakinkan diri.
Bisikan itu semakin sering terdengar.
Kadang berupa peringatan yang tak jelas.
Kadang berupa melodi yang menusuk.
Kadang, hanya tawa dingin yang menggema.
Satu malam, Kinar terbangun oleh suara gemuruh.
Tenda mereka berguncang hebat.
Di luar, pepohonan meliuk-liuk tak wajar.
Padahal, tak ada angin sama sekali.
Bayangan-bayangan gelap menari di antara pepohonan.
Seolah-olah hutan itu sendiri bergerak.
Kinar memeluk lututnya, gemetar hebat.
Ini bukan lagi sekadar suara, ini ancaman.
"Kita harus kembali, Nona!" Pak Cokro memohon.
Wajahnya kini tak hanya pucat, tapi membiru.
"Tempat ini tak bisa kita sentuh!"
Namun, rasa penasaran Kinar kini bercampur ketakutan.
Ia harus tahu apa sumber bisikan ini.
Apakah ada fenomena alam yang belum tercatat?
Atau memang ada sesuatu yang tak kasat mata?
Ilmuwan dalam dirinya menuntut jawaban.
Kinar menemukan sebuah peta tua.
Peta yang diberikan seorang sesepuh desa.
Menandai lokasi yang disebut "Jantung Rengganis."
Sebuah area yang tak pernah dijelajahi manusia.
"Kita akan ke sana," Kinar memutuskan.
Pak Cokro menolak keras.
"Itu tempat terlarang, Nona! Tempat terkutuk!"
Namun Kinar bergeming, keyakinannya goyah namun kokoh.
Kinar akhirnya berhasil meyakinkan Pak Cokro.
Dengan janji akan segera kembali.
Mereka bergerak menuju jantung hutan.
Setiap langkah terasa berat, seperti ditarik.
Bisikan itu kini mengelilingi mereka.
Tak lagi samar, tapi jelas dan bertubi-tubi.
Ribuan suara, tumpang tindih.
Membentuk simfoni kegilaan yang mengerikan.
"Pergi!" "Jangan sentuh!" "Ini milik kami!"
Suara-suara itu berteriak di telinga Kinar.
Ia memegang kepalanya, pusing tak tertahankan.
Pak Cokro jatuh berlutut, wajahnya di tanah.
Mereka tiba di sebuah area terbuka.
Di tengahnya berdiri sebuah pohon raksasa.
Batangnya meliuk aneh, kulitnya menghitam.
Pohon itu memancarkan aura kuno yang pekat.
Di bawah pohon itu, sebuah altar batu.
Lumut tebal menyelimutinya, berabad-abad lamanya.
Di atas altar, terukir simbol-simbol aneh.
Belum pernah Kinar melihatnya dalam buku manapun.
Tiba-tiba, bisikan itu hening.
Keheningan yang lebih menakutkan dari suara apapun.
Udara terasa berat, mencekik.
Jantung Kinar berdegup kencang di dadanya.
Dari celah di batang pohon raksasa itu.
Cahaya kehijauan mulai memancar.
Terang, namun tak memberi kehangatan.
Justru dingin dan membekukan.
Cahaya itu membentuk siluet.
Sosok tinggi, kurus, dan berambut panjang.
Matanya bersinar hijau seperti lumut.
Ia tak memiliki wajah yang jelas.
"Kau berani datang kemari…" suara itu menggelegar.
Bukan lagi bisikan, tapi raungan.
"Kau mengganggu tidur panjang kami!"
Hutan itu sendiri terasa marah, bergetar.
Sosok itu melayang mendekat.
Kinar tak bisa bergerak, kakinya terpaku.
Ketakutan murni melumpuhkannya.
Ini bukan ilmiah, ini adalah kengerian.
"Alam ini memiliki penjaga," suara itu melanjutkan.
"Mereka yang menjaga keseimbangan."
"Kalian manusia, hanya perusak."
"Dan kini, kalian akan tahu akibatnya."
Cabang-cabang pohon raksasa itu bergerak.
Seperti lengan-lengan yang ingin meraih mereka.
Akar-akar di tanah menyembul keluar.
Mencoba menjerat kaki Pak Cokro dan Kinar.
Pak Cokro akhirnya menemukan kekuatannya.
Ia berteriak, "Lari, Nona! Lari!"
Ia menarik tangan Kinar dengan sekuat tenaga.
Mereka berbalik, berlari tanpa tujuan.
Bisikan-bisikan itu kembali.
Kini berupa tawa sinis yang menggema.
Seolah-olah mengejek pelarian mereka.
Mengejar di setiap langkah yang tergesa.
Mereka berlari tanpa henti.
Menembus semak belukar, melompati akar.
Terjatuh dan bangkit kembali.
Hingga akhirnya, cahaya remang-remang terlihat.
Itu adalah batas hutan.
Mereka keluar, terengah-engah.
Pak Cokro langsung ambruk ke tanah.
Kinar memandang kembali ke arah hutan.
Kanopi gelap Hutan Rengganis menjulang.
Menyimpan misteri dan kengeriannya.
Bisikan-bisikan itu tak lagi terdengar.
Namun, mereka berdua tahu itu hanya sementara.
Kinar tidak pernah lagi menjejakkan kaki di Rengganis.
Ia menulis laporannya, namun tak ada yang percaya.
Kisah tentang bisikan, pohon raksasa, dan sosok hijau.
Dianggap delusi akibat kelelahan.
Namun, di setiap malam yang sunyi.
Saat angin berdesir di jendela kamarnya.
Kinar kadang masih mendengar.
Bisikan lembut memanggil namanya.
Bisikan itu berasal dari jauh.
Dari kedalaman Hutan Rengganis yang tak tersentuh.
Sebuah pengingat yang mengerikan.
Bahwa ada kekuatan kuno yang tak bisa dijelaskan.
Dan mereka, para penjaga Rengganis.
Masih menunggu, masih mengawasi.
Siap membisikkan peringatan.
Kepada siapa pun yang berani mengusik tidur mereka.
Misteri Rengganis tetap tak terpecahkan.
Terbungkus dalam legenda dan ketakutan.
Kinar tahu, ia hanya satu dari banyak.
Yang pernah mendengar Bisikan dari Hutan Rengganis.





