Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Barat

Jejak Ilalang yang Menghilang Saat Disusuri

11
×

Jejak Ilalang yang Menghilang Saat Disusuri

Share this article

Jejak Ilalang yang Menghilang Saat Disusuri

Jejak Ilalang yang Menghilang: Misteri Dataran Lumut

Arya, seorang peneliti botani, tiba di Dataran Lumut dengan tujuan tunggal: mengamati spesies ilalang langka yang tumbuh subur di sana. Area itu terpencil, diselimuti kabut tipis nyaris sepanjang hari, memberikan kesan mistis yang tak dapat diabaikan. Ia telah mendengar desas-desus aneh, namun naluri ilmiahnya menepis semua takhayul.

Hari pertama, Arya mulai menjejakkan kaki ke dalam lautan hijau setinggi pinggang orang dewasa itu. Ia dengan cermat mencatat setiap pola pertumbuhan, setiap helai daun yang unik. Jejak langkahnya jelas membekas di antara rimbunnya ilalang, menjadi penanda arah yang ia lewati.

Namun, saat ia berbalik untuk memeriksa kembali titik awal, ada yang aneh. Jejak-jejak kakinya, yang baru saja ia buat, tampak samar. Seolah-olah ilalang itu perlahan bangkit kembali, menelan bekas pijakan dalam hitungan menit.

Arya mengerutkan kening, menganggapnya hanya ilusi optik akibat kelelahan atau pantulan cahaya. Ia kembali melangkah maju, membuat jejak yang lebih dalam dan jelas. Namun, setiap kali ia menoleh, jejak itu kembali memudar, seolah tak pernah ada.

Malam tiba, membawa serta dingin yang menusuk dan keheningan yang mencekam. Arya mendirikan tenda kecil di tepi dataran, rasa penasaran mulai mengalahkan logikanya. Ia yakin ada sesuatu yang tidak biasa di Dataran Lumut ini.

Keesokan paginya, ia kembali dengan peralatan lebih lengkap. Pita penanda berwarna cerah, sensor gerak mini, dan kamera timelapse. Arya ingin mendokumentasikan fenomena ini, membuktikan bahwa ia tidak berhalusinasi.

Ia mulai membuat serangkaian jalur melingkar, menancapkan pita di setiap lima meter. Dengan mata terpaku pada setiap pita, ia menyaksikan hal yang tak masuk akal. Pita pertama, yang baru saja ia pasang, kini tampak melayang di antara ilalang yang kembali tegak.

Bukan sekadar rumput yang rebah, melainkan seolah ilalang itu sendiri yang menarik diri, menelan kembali jejak-jejak yang baru saja ia ukir. Sensor gerak yang ia tinggalkan di jalur itu tidak merekam apa pun. Tidak ada angin, tidak ada hewan.

Keringat dingin membasahi pelipisnya, bukan karena lelah, melainkan karena rasa takut yang merayap perlahan dari dasar jiwanya. Ia mencoba berbagai pola, zigzag, lurus, namun hasilnya selalu sama. Setiap jejak yang ia buat, menghilang tanpa sisa.

Dataran Lumut seolah tidak ingin dijamah, tidak ingin ada yang meninggalkan tanda di permukaannya. Arya mulai merasa diawasi, sepasang mata tak kasat mata mengikuti setiap geraknya dari balik rimbunnya ilalang yang tak tergoyahkan.

Ia mencoba berteriak, suaranya tenggelam dalam keheningan yang absolut. Tidak ada gema, seolah suara itu pun ikut ditelan oleh ilalang. Panik mulai merayap, mencengkeram akal sehatnya.

Arya memutuskan untuk mencoba menembus lebih dalam, mencari inti dari anomali ini. Ia melangkah semakin jauh, masuk ke jantung dataran yang belum terjamah. Kabut semakin tebal, menelan pandangan, membuatnya merasa terisolasi sepenuhnya.

Di tengah ilalang yang tak berujung, ia mulai mendengar bisikan samar. Bukan kata-kata, melainkan desiran aneh, seolah ribuan daun bergesekan dalam irama yang tidak wajar. Bisikan itu terasa seperti memanggil, atau mungkin memperingatkan.

Ia merogoh sakunya, mengeluarkan kompas. Jarumnya berputar liar, tidak mampu menemukan arah utara. Ponselnya mati total, sinyal hilang sepenuhnya. Arya benar-benar terputus dari dunia luar.

Saat ia mencoba melangkah, tanah di bawah kakinya terasa aneh. Lebih lunak, seolah ilalang di bawahnya bergerak, bernapas. Sensasi itu membuat bulu kuduknya berdiri. Ini bukan lagi hanya tentang jejak yang menghilang.

Ia menoleh ke belakang, mencoba menemukan jalur yang baru saja ia lewati. Kosong. Bahkan jejak baru pun, yang belum sempat ia sadari lenyap, telah tiada. Ia terjebak dalam labirin ilalang yang terus-menerus mereset dirinya sendiri.

Kepanikan mencapai puncaknya. Arya berlari tanpa arah, menabrak dinding ilalang yang terasa kokoh. Setiap langkahnya sia-sia, tidak meninggalkan bekas. Ia seperti berlari di atas air, tanpa pijakan yang nyata.

Bayangan-bayangan samar mulai menari di antara ilalang, seolah entitas tak terlihat bergerak di sekitarnya. Arya tidak bisa melihat wujud jelas, hanya gumpalan gelap yang melesat cepat, selalu menghilang sebelum ia bisa fokus.

Udara menjadi lebih dingin, napasnya terengah-engah. Ilalang di sekitarnya seolah tumbuh lebih tinggi, lebih rapat, mengurungnya dalam penjara hijau yang tak berujung. Ia merasa waktu telah berhenti di tempat ini.

Akhirnya, setelah entah berapa lama, ia melihat cahaya. Samar, namun jelas. Dengan sisa tenaga, ia menerobos rimbunnya ilalang, jatuh terjerembap di tepi hutan yang berbatasan dengan dataran.

Arya terhuyung-huyung keluar dari Dataran Lumut, wajahnya pucat pasi, matanya memancarkan ketakutan yang mendalam. Ia berhasil lolos, namun pengalaman itu mengukir luka permanen dalam jiwanya.

Peralatan yang ia bawa lenyap, ditelan oleh dataran itu. Tidak ada bukti fisik yang tersisa, hanya cerita horor yang ia bawa pulang. Ia tidak pernah bisa menjelaskan apa yang terjadi di sana.

Sejak hari itu, Arya tidak pernah lagi menginjakkan kaki di Dataran Lumut. Misteri jejak ilalang yang menghilang tetap menjadi rahasia yang tak terpecahkan, tersembunyi di balik kabut tebal.

Dan konon, pada malam-malam tertentu, jika ada yang berani mendekat, mereka bisa mendengar bisikan samar dari dalam lautan hijau itu. Seolah ilalang itu masih menunggu, menanti jejak berikutnya untuk ditelan.

Jejak Ilalang yang Menghilang Saat Disusuri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *