Sosok Kepala Bercahaya di Tangga Tua
Arga, seorang peneliti misteri yang tak kenal lelah, tiba di sebuah desa terpencil. Desas-desus tentang Rumah Reksadana yang terbengkalai telah lama memanggilnya. Konon, di tangga kayu tua rumah itu, sering muncul sosok kepala bercahaya. Arga haus akan kebenaran, bukan sekadar cerita.
Reputasinya dibangun di atas kasus-kasus aneh yang berhasil ia pecahkan. Namun, desas-desus kali ini terasa berbeda, lebih pekat. Warga desa menjauhinya, bisikan mereka penuh ketakutan. Rumah itu, kata mereka, menyimpan rahasia yang tak seharusnya diusik.
Arga menepis keraguan itu. Ia adalah seorang rasionalis yang percaya pada bukti. Malam pertama ia habiskan dengan mengamati rumah dari kejauhan. Struktur megah yang rapuh, diselimuti kegelapan malam, tampak seperti siluet raksasa. Angin berdesir, seolah mengeluh.
Pagi harinya, ia memberanikan diri mendekat. Gerbang besi berkarat terbuka dengan decitan pilu. Halaman rumah ditumbuhi semak belukar liar, menutupi jalan setapak. Udara terasa berat, dingin, membawa bau apek dan sejarah yang terpendam.
Pintu utama terbuka sedikit, mengundang. Arga mendorongnya perlahan, suara engsel berkarat mengiris kesunyian. Di dalam, kegelapan pekat menyambutnya, diselingi berkas cahaya dari celah jendela. Debu tebal menyelimuti setiap permukaan, saksi bisu waktu yang berhenti.
Fokus utama Arga adalah tangga. Sebuah mahakarya kayu jati yang kini melapuk, melengkung anggun ke lantai atas. Setiap anak tangganya berderit pelan, seolah meratap. Ia bisa merasakan energi aneh memancar dari sana, sebuah kehadiran tak kasat mata.
Ia mulai memasang peralatannya. Kamera inframerah di sudut-sudut strategis, sensor gerak di setiap pintu, perekam suara digital yang siap menangkap bisikan terkecil. Arga bekerja dengan cermat, metodis, berusaha menyingkirkan semua kemungkinan rasional.
Ia membawa perlengkapan berkemah mini, memutuskan untuk tinggal di dalam rumah. Ini adalah metode yang paling efektif, baginya. Merasakan sendiri atmosfernya, menjadi bagian dari misteri itu. Setiap detik yang berlalu adalah data berharga.
Malam pertama, ia duduk di kursi tua yang rapuh, menghadap tangga. Kegelapan menyelimutinya, hanya diterangi cahaya senter. Ia mendengar suara-suara aneh: derit lantai, hembusan angin dari celah dinding, tetesan air dari atap yang bocor.
Arga mencatat semuanya, membedakan antara suara alamiah rumah tua dan anomali. Ia menunggu, kesabarannya diuji oleh keheningan yang menyesakkan. Setiap bayangan yang bergerak di ujung pandangan membuatnya menahan napas, namun hanya ilusi.
Lewat tengah malam, saat kelelahan mulai menyergap, sesuatu terjadi. Sebuah cahaya pudar muncul. Berasal dari anak tangga ketiga belas, mengambang di udara. Bulat sempurna, memancarkan rona kehijauan yang samar. Jantung Arga berdebar kencang.
Itu dia. Sosok kepala bercahaya yang diceritakan warga. Ia mematung, nyaris tak berani bernapas. Cahaya itu berkedip perlahan, seolah bernapas. Bukan refleksi, bukan halusinasi. Ini nyata. Ketakutan merayap, namun rasa penasaran menguasainya.
Arga meraih kameranya, merekam setiap detail. Cahaya itu tetap di sana selama beberapa menit, sebelum perlahan meredup dan lenyap. Ruangan kembali diselimuti kegelapan pekat, meninggalkan Arga dalam keheningan yang lebih mencekam dari sebelumnya.
Ia tak bisa tidur malam itu. Pikirannya dipenuhi gambaran kepala bercahaya. Apakah itu hantu? Roh yang terperangkap? Atau ada penjelasan ilmiah yang belum ia pahami? Tekadnya untuk mengungkap misteri ini semakin membara.
Hari-hari berikutnya, Arga melakukan riset mendalam. Ia menemukan arsip lama tentang keluarga Reksadana, pemilik rumah. Sebuah keluarga kaya dan eksentrik. Dulu mereka dikenal karena minat pada ilmu pengetahuan dan eksperimen aneh.
Ada seorang putri bernama Amara, yang menghilang secara misterius bertahun-tahun lalu. Kisahnya kabur, penuh celah. Beberapa mengatakan ia kabur, yang lain menduga ia meninggal tragis di dalam rumah. Tidak ada catatan resmi kematiannya.
Malam kedua, kepala bercahaya itu muncul lagi. Kali ini, ia sedikit bergerak. Melayang perlahan, naik satu anak tangga, lalu berhenti. Seolah memanggil, mengundang Arga untuk mengikutinya. Arga ragu, namun dorongan rasa ingin tahu lebih kuat.
Ia menaiki tangga itu, setiap langkahnya diiringi derit kayu yang memilukan. Kepala bercahaya itu bergerak lagi, naik perlahan, selalu menjaga jarak. Arga mengikutinya, napasnya tertahan, tegang. Setiap bayangan terasa seperti ancaman.
Cahaya itu memimpinnya ke lantai dua. Koridor panjang yang gelap, diapit deretan kamar-kamar tertutup. Kepala itu berhenti di depan sebuah pintu ganda yang terbuat dari kayu gelap, berukiran rumit. Cahayanya berkedip lebih intens.
Arga mencoba membuka pintu itu, namun terkunci rapat. Ia berusaha mendorongnya, mengguncangnya. Kepala bercahaya itu berkedip lagi, seolah kecewa, lalu melayang kembali ke tangga dan menghilang. Arga merasa frustrasi.
Ia kembali ke lantai bawah, menyusun ulang strategi. Jika kepala itu memimpinnya, pasti ada alasannya. Ia mulai memeriksa setiap sudut di lantai dua, mencari petunjuk. Menjelajahi kamar-kamar lain yang terbuka, menemukan perabotan usang dan kenangan masa lalu.
Suatu sore, saat memeriksa dinding di koridor, ia menemukan retakan aneh. Bukan retakan biasa, melainkan seperti sambungan yang disamarkan. Arga mengetuk-ngetuknya, mendengarkan gema. Ada ruang kosong di baliknya.
Ia menggunakan obeng dan pahat kecil, dengan hati-hati melepaskan lapisan plester. Perlahan, sebuah panel tersembunyi terungkap. Di baliknya, sebuah lorong sempit, gelap, dan berdebu. Udara dingin menyergap dari dalamnya.
Malam harinya, Arga memasuki lorong itu dengan senter di tangan. Udara di sana sangat pengap, berbau seperti lumut dan tanah basah. Lorong itu berliku, membawanya semakin dalam ke jantung rumah yang tersembunyi.
Di ujung lorong, sebuah ruangan kecil tersembunyi. Tidak ada jendela, hanya kegelapan abadi. Di tengah ruangan, sebuah meja kerja usang dan beberapa rak penuh botol kimia kosong. Ini pasti laboratorium pribadi salah satu Reksadana.
Di sudut ruangan, Arga melihat sebuah kotak kayu berdebu. Ia meraihnya, merasakan getaran aneh. Ketika ia membukanya, di dalamnya terdapat sebuah diari berdebu dan sebuah liontin kuno. Liontin itu terbuat dari material yang aneh, memancarkan kilau samar.
Diari itu milik Amara. Arga membukanya, membaca setiap baris dengan cermat. Tulisan tangan yang rapi namun penuh keputusasaan. Amara menulis tentang ayahnya, seorang ilmuwan yang terobsesi dengan "cahaya abadi" dan eksperimennya yang berbahaya.
Ayahnya mencoba menciptakan luminol yang stabil, yang bisa memancarkan cahaya terus-menerus. Ia melakukan eksperimen di laboratorium tersembunyi ini. Amara sering membantu, atau setidaknya mengamati dengan ketakutan.
Pada suatu malam yang mengerikan, sebuah kecelakaan terjadi. Cairan kimia tumpah, reaksi tak terkendali. Amara berada di sana, mengenakan liontin aneh yang diberikan ayahnya, konon untuk "melindunginya" dari efek samping eksperimen.
Ledakan kecil terjadi, disusul kepulan asap beracun. Amara tidak sadarkan diri. Ayahnya terluka parah. Saat ia sadar, ia merasa berbeda. Liontin itu, yang terbuat dari material radioaktif langka, telah menyerap sebagian energi ledakan.
Amara mulai merasakan gejala aneh. Kadang-kadang, liontin itu memancarkan cahaya redup. Ia juga mulai melihat bayangan-bayangan aneh. Ketakutan akan efek jangka panjang eksperimen itu membuatnya tertekan.
Diari itu berakhir dengan catatan yang mengkhawatirkan. Amara merasa energinya terkuras, tubuhnya melemah. Ia takut cahaya dari liontin itu adalah bagian dari dirinya, yang perlahan menghilang. Ia menyebutnya sebagai "jejak cahaya jiwaku."
Arga menutup diari itu, jantungnya berdegup kencang. Ia memegang liontin itu, merasakan kehangatan samar. Kepala bercahaya itu bukanlah hantu dalam artian tradisional. Itu adalah manifestasi dari Amara, dari energi yang terserap ke dalam liontin.
Setiap kali seseorang mendekati tangga, tempat Amara sering berdiri dan mengamati ayahnya, liontin itu, atau lebih tepatnya, energi yang tersimpan di dalamnya, bereaksi. Proyeksi cahaya dari "jejak cahaya jiwanya" muncul.
Ia telah menemukan kebenaran, sebuah perpaduan antara sains yang salah dan tragedi manusia. Kepala bercahaya itu adalah sisa dari Amara, terjebak antara dunia ini dan ketiadaan, sebuah penanda kehadirannya yang tak kasat mata.
Arga meninggalkan rumah itu pada pagi hari berikutnya. Ia membawa diari dan liontin itu bersamanya. Misteri Rumah Reksadana terpecahkan, namun tidak sepenuhnya. Sosok kepala bercahaya itu tetap menjadi pengingat mengerikan.
Ia telah melihatnya, merekamnya, memahaminya. Namun, ia juga merasakan ketidakberdayaan. Ada hal-hal di dunia ini yang tidak bisa sepenuhnya dijelaskan, bahkan dengan bukti paling rasional sekalipun. Beberapa jejak energi, atau jiwa, terlalu kuat untuk hilang.
Kisah itu akan selamanya menghantuinya. Setiap kali ia memejamkan mata, ia bisa melihat cahaya kehijauan yang samar, mengambang di kegelapan. Sebuah pengingat akan tragedi, sebuah rahasia yang terungkap, dan misteri yang tak pernah benar-benar mati.




