Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Barat

Jejak Panggung Tanpa Penari di Desa Bayangan Angin

10
×

Jejak Panggung Tanpa Penari di Desa Bayangan Angin

Share this article

Jejak Panggung Tanpa Penari di Desa Bayangan Angin

Jejak Panggung Tanpa Penari di Desa Bayangan Angin

Kabut abadi selalu menyelimuti Desa Bayangan Angin. Letaknya terpencil, di antara punggung bukit yang seolah enggan dilewati mentari. Desa ini tak tercatat di peta mana pun, hanya dikenal dari bisikan legenda lama.

Legenda itu bercerita tentang sebuah panggung kuno. Konon, di sana, setiap malam purnama, tarian-tarian agung dipentaskan. Namun, yang mengerikan, panggung itu selalu kosong.

Arka, seorang peneliti folklor urban, terobsesi dengan kisah itu. Ia nekat menyusuri jalur setapak yang hampir lenyap, membelah hutan purba yang seakan menolak kedatangan orang luar. Udara dingin menusuk tulang, membawa aroma tanah basah dan lumut tua.

Setelah berhari-hari dalam keheningan yang menyesakkan, Arka akhirnya tiba. Desa Bayangan Angin tampak seperti lukisan kusam yang dilupakan waktu. Rumah-rumah kayu reyot berdiri membisu, jendelanya seperti mata-mata kosong.

Penduduk desa menyambutnya dengan tatapan waspada. Wajah-wajah mereka pucat, garis-garis ketakutan terukir jelas. Mereka jarang bicara, lebih sering berkomunikasi melalui isyarat dan gumaman samar.

Arka bertanya tentang panggung itu. Para sesepuh hanya menunjuk ke arah timur, ke sebuah punggung bukit kecil. Mereka memperingatkan: "Jangan dekati saat tirai malam tiba. Jangan ganggu mereka yang menari."

Panggung itu terbuat dari batu hitam yang menghitam. Lumut tebal menyelimutinya, seolah ingin menelannya kembali ke bumi. Bentuknya melingkar, dengan undakan-undakan yang mengarah ke tengah.

Di tengah panggung, Arka menemukan jejak kaki. Jejak-jejak itu halus, seolah milik penari bertelanjang kaki. Anehnya, jejak itu terlihat sangat baru, padahal tidak ada tanda-tanda kehadiran manusia.

Keesokan paginya, jejak itu bertambah banyak. Polanya rumit, membentuk alur tarian yang rumit. Arka mengamati dengan takjub sekaligus merinding. Siapa yang menari di sini? Dan mengapa tak ada seorang pun terlihat?

Ia memutuskan untuk berkemah tak jauh dari panggung. Malam pertama dilalui dengan keheningan mencekam. Hanya suara angin yang berdesir, seolah membawa bisikan tak terlihat.

Malam berikutnya, Arka memasang kamera inframerah. Ia ingin merekam fenomena ini. Namun, saat fajar tiba, rekaman itu kosong. Hanya kabut tebal yang terlihat, tanpa bayangan penari.

Jejak-jejak baru kembali muncul di panggung. Kali ini, mereka lebih dalam, seolah penari itu menari dengan intensitas yang lebih besar. Arka mulai merasa ganjil. Rasanya seperti ada yang mempermainkannya.

Ia mulai bertanya lebih jauh kepada penduduk. Seorang wanita tua dengan mata cekung akhirnya bercerita. "Dulu, ada festival tari setiap purnama," bisiknya. "Tapi bencana datang, dan para penari… mereka pergi."

"Pergi ke mana?" tanya Arka. Wanita itu menggeleng pelan. "Tubuh mereka tak pernah ditemukan. Hanya jejak tarian mereka yang tetap ada. Jiwa mereka terperangkap di panggung itu."

Arka mencoba menjelaskan secara logis. Mungkin angin, atau perubahan suhu, atau hewan-hewan tertentu. Tapi di dalam hatinya, ia tahu itu bukan penjelasan yang cukup. Jejak itu terlalu presisi.

Malam ketiga, Arka memberanikan diri mendekat. Ia bersembunyi di balik semak-semak, menatap panggung yang diselimuti kabut. Hawa dingin merayap, bukan hanya dari suhu, tapi dari aura yang menusuk.

Tepat saat bulan purnama mencapai puncaknya, sesuatu terjadi. Kabut di atas panggung mulai berputar. Udara terasa berat, dan Arka bersumpah mendengar alunan musik lirih, seperti suling yang ditiup dari jauh.

Jejak-jejak baru muncul secara spontan. Bukan satu per satu, melainkan serentak, seolah lusinan kaki menapak bersamaan. Mereka membentuk formasi tarian yang kompleks, bergerak tanpa henti.

Arka menahan napas. Ia melihatnya. Gerakan-gerakan itu begitu jelas, seolah penari-penari tak kasat mata sedang meliuk. Ia bahkan merasa hembusan angin dari gerakan mereka, atau ilusi dari kabut yang bergerak.

Kamera Arka masih merekam, namun layarnya hanya menunjukkan kabut tebal. Entitas-entitas itu tidak terlihat oleh lensa, hanya oleh mata telanjang yang terpaku pada fenomena supernatural.

Arka mulai merasa ada yang menariknya ke panggung. Sebuah desakan tak terlihat, namun kuat, seolah tarian itu memanggilnya untuk bergabung. Ia berjuang melawan dorongan itu, gemetar hebat.

Tiba-tiba, sebuah jejak kaki baru muncul, sangat dekat dengannya. Jejak itu menunjuk langsung ke arahnya, seolah ada penari yang berhenti tepat di depannya. Aroma melati yang samar tercium, disusul bau anyir yang menusuk.

Arka terkesiap. Ia merasakan sentuhan dingin di pergelangan kakinya. Seolah jemari tak terlihat mencoba meraihnya. Panic menyerbu, dan ia sontak melarikan diri, berlari sekencang-kencangnya.

Ia tak tahu berapa lama ia berlari. Saat ia berhenti, ia sudah jauh dari panggung, napasnya tersengal. Ia bersembunyi di gubuk kecil yang ditinggalkan, hatinya berdegup tak karuan.

Keesokan harinya, Arka memeriksa pergelangan kakinya. Ada sebuah memar kecil, berbentuk seperti jemari ramping. Bekas sentuhan dingin itu nyata, bukan hanya halusinasi.

Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu hanya sugesti, hasil dari kelelahan dan ketakutan. Tapi ingatan akan musik lirih dan gerakan tak terlihat itu terus menghantuinya.

Penduduk desa menatapnya dengan pandangan iba. "Kau sudah melihatnya, bukan?" kata kepala desa. "Kau sudah merasakan panggilannya. Mereka akan terus memanggilmu."

Arka memutuskan untuk pergi. Ia harus meninggalkan tempat terkutuk ini. Ia mengemasi barang-barangnya dengan terburu-buru, tanpa berani menoleh ke arah panggung.

Perjalanan pulangnya terasa lebih panjang. Hutan seolah ingin menahannya, bisikan-bisikan angin terdengar seperti ejekan. Ia merasa tidak lagi sendiri.

Ketika ia akhirnya tiba di peradaban, Arka tampak kurus dan pucat. Rambutnya memutih di beberapa bagian, dan matanya menyimpan ketakutan yang mendalam. Ia mencoba menuliskan pengalamannya.

Namun, setiap kali ia mencoba, tangannya gemetar. Kata-kata terhenti di tenggorokannya. Ia merasa ada sepasang mata tak terlihat yang mengawasinya dari balik bahu.

Suatu malam, Arka mendengar alunan musik lirih yang sama. Itu datang dari dalam rumahnya sendiri. Jantungnya berdebar kencang, keringat dingin membasahi tubuhnya.

Ia mengikuti suara itu, yang membawanya ke ruang tamu. Di sana, di lantai berdebu, ia melihatnya. Jejak-jejak kaki telanjang. Sama persis seperti yang ada di panggung.

Jejak-jejak itu menari di sekelilingnya, membentuk pola yang familiar. Mereka semakin dekat, mengelilinginya, seolah menariknya ke dalam tarian yang tak terlihat.

Arka mencoba lari, namun kakinya terasa beku. Dingin yang mematikan merayap, disusul aroma melati dan anyir. Ia merasakan sentuhan di seluruh tubuhnya, seperti puluhan tangan dingin menyentuhnya.

Pagi harinya, tetangga Arka menemukan pintunya terbuka. Rumah itu kosong. Barang-barang Arka tertinggal rapi, kecuali satu hal: sebuah kamera inframerah yang rusak di lantai.

Layar kamera itu retak, namun masih menampilkan satu gambar terakhir. Sebuah jejak kaki telanjang yang sempurna, tercetak jelas di atas debu, tepat di tengah ruang tamu.

Tidak ada tanda-tanda Arka. Tidak ada jejak perjuangan. Hanya keheningan yang tersisa. Dan di Desa Bayangan Angin, di panggung batu hitam itu, jejak-jejak baru terus bermunculan setiap malam purnama.

Kadang-kadang, di antara jejak-jejak tarian kuno, penduduk desa yang berani bersumpah melihat jejak kaki yang lebih baru. Sebuah jejak sepatu bot, ukuran orang dewasa.

Jejak itu bergabung dalam tarian, berputar bersama jejak-jejak yang tak terlihat. Misteri panggung tanpa penari itu kini memiliki tambahan yang mengerikan.

Dan di antara bisikan angin, kadang terdengar alunan musik yang lebih lengkap. Seperti paduan suara suling dan nyanyian lirih. Seolah tarian itu kini memiliki penari baru.

Seorang penari yang tidak pernah terlihat. Seorang penari yang mungkin masih berusaha menuliskan kisahnya. Namun, ia kini menjadi bagian dari jejak abadi di panggung itu.

Jejak Panggung Tanpa Penari di Desa Bayangan Angin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *