Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Barat

Suara Pantun dari Kampung Usang

11
×

Suara Pantun dari Kampung Usang

Share this article

Suara Pantun dari Kampung Usang

Suara Pantun dari Kampung Usang: Misteri Melodi Kuno

Kabut tebal selalu menyelimuti Kampung Usang, seolah enggan melepaskan desa itu dari pelukannya yang dingin. Terletak jauh di pedalaman, terisolasi dari hiruk-pikuk dunia luar, desa itu menyimpan lebih dari sekadar sejarah kuno. Ada bisikan, desas-desus, tentang sebuah melodi yang tak kasat mata.

Arif, seorang peneliti folklor muda, tiba dengan harapan menemukan kisah-kisah lama. Namun, yang ia temukan adalah keheningan mencekam, tatapan mata warga yang penuh rahasia, dan aura ketakutan yang merayap. Mereka berbicara tentang "Suara Pantun."

Bukan pantun biasa, kata mereka. Ini adalah melodi kuno yang melenakan sekaligus menusuk. Ia muncul dari keheningan malam, dari balik pepohonan tua, atau dari dasar sumur kering yang ditinggalkan. Sebuah pantun yang membawa pesan, sebuah kutukan, atau mungkin, sebuah kebenaran.

Penduduk kampung enggan bercerita banyak. Setiap kali Arif mencoba mengorek informasi, mereka akan memalingkan wajah, atau bergegas pergi. Tatapan mata mereka menyiratkan peringatan: jangan mengusik apa yang sudah tenang.

Malam ketiga di Kampung Usang, Arif akhirnya mendengarnya. Sebuah melodi lembut, mengalun dari arah hutan bambu di belakang penginapannya. Bukan suara manusia, bukan pula hembusan angin. Itu adalah untaian kata, terangkai dalam irama pantun empat kerat.

"Dari mana datangnya, entah siapa penutur?" ia bergumam. Suara itu begitu dekat, namun tak ada wujud. Bulu kuduknya meremang, namun rasa penasaran mengalahkan ketakutan.

Pantun itu berbunyi: "Pohon ara tumbuh di kubur, / Daunnya gugur di pagi hari. / Sebuah janji telah terkubur, / Di bawah tanah yang tak suci."

Maknanya samar, namun terasa begitu personal. Arif mencoba mencari sumber suara itu, melangkah perlahan ke arah hutan. Suara pantun itu seolah memandu, menariknya lebih dalam ke dalam kegelapan.

Tiba-tiba, suara itu menghilang. Keheningan kembali meraja, kali ini lebih pekat, lebih mengancam. Arif berdiri sendirian di tengah kegelapan, dikelilingi bisikan daun dan bayangan menari. Ia merasakan tatapan, bukan dari manusia, melainkan dari sesuatu yang lebih tua, lebih dingin.

Sejak malam itu, pantun itu menjadi obsesi Arif. Ia muncul setiap malam, kadang lebih jelas, kadang hanya samar. Isinya selalu berbeda, namun selalu tentang pengkhianatan, dendam, dan rahasia yang tersembunyi.

"Bunga melati harum mewangi, / Dipetik tangan lalu dibuang. / Jiwa merana takkan pergi, / Menuntut darah di tanah usang."

Pantun-pantun itu membentuk sebuah narasi terputus, sebuah kisah tragis yang belum usai. Arif mulai menggambar peta kampung, menandai lokasi-lokasi di mana ia mendengar suara itu. Sebuah pola mulai terbentuk, mengarah ke pusat desa yang paling tua.

Di sana, berdiri sebuah rumah adat tua yang telah lama tak berpenghuni. Atapnya runtuh, dindingnya lapuk, seolah ditinggalkan tergesa-gesa. Penduduk kampung selalu menghindarinya, bahkan menyeberang jalan jika harus melewatinya.

Suatu sore, Arif mendengar pantun dari dalam rumah itu, di siang bolong. Itu adalah pertama kalinya suara itu muncul di luar kegelapan malam. "Tiada bulan tiada bintang, / Langit kelam tiada cahaya. / Sebuah hati telah hilang, / Dicengkeram dusta dan derita."

Ia memutuskan untuk masuk. Udara di dalamnya dingin dan pengap, berbau debu dan sesuatu yang lebih tua, lebih busuk. Lantai berderit di bawah langkahnya, setiap suara menggema memecah keheningan.

Di salah satu sudut ruangan, sebuah ranjang tua berukir masih berdiri tegak, tertutup kain usang. Di bawah ranjang, Arif menemukan sebuah peti kayu kecil yang terkunci rapat, seolah menunggu untuk ditemukan.

Pantun itu tiba-tiba mengalun keras, seolah membisikkan peringatan langsung ke telinganya. "Jangan dibuka, jangan digapai, / Rahasia lama jangan diusik. / Jika jiwa tak berniat damai, / Petaka datang menimpa diri."

Namun, rasa ingin tahu Arif sudah terlalu besar. Ia memecahkan gembok yang berkarat. Di dalamnya, ia menemukan beberapa lembar kertas lusuh, sebuah liontin perak, dan sehelai rambut panjang yang diikat pita.

Kertas-kertas itu adalah surat-surat lama, ditulis dengan tulisan tangan yang anggun. Surat-surat cinta, rupanya. Dari seorang pemuda bernama Jaya kepada seorang gadis bernama Purnama. Namun, surat terakhir berbunyi lain. Sebuah ancaman, sebuah pengkhianatan.

Purnama, gadis cantik dari desa itu, ternyata adalah korban sebuah tragedi. Ia dituduh melakukan sesuatu yang keji, dikhianati oleh orang yang dicintainya, dan dibiarkan mati di sebuah tempat yang tak pernah disebut.

Suara pantun itu kini mengalun lebih jelas, seolah Purnama sendiri yang berbicara. "Tertipu janji, terbuang kasih, / Dituduh nista tanpa bukti. / Terkubur hidup tanpa kasih, / Di dasar sumur yang tak sepi."

Sumur yang tak sepi? Arif teringat sumur kering di belakang rumah, yang disebut-sebut warga sebagai tempat keramat. Sumur itu sudah lama tak digunakan, ditutupi semak belukar dan bebatuan besar.

Ia bergegas ke sana, menerobos semak belukar. Di sana, ia menemukan sesuatu yang aneh. Sebuah batu besar di bibir sumur, seolah sengaja diletakkan untuk menutupi sesuatu. Di samping batu itu, terukir nama "Purnama" dengan coretan kasar.

Dengan sekuat tenaga, Arif menggeser batu itu. Dari dalam sumur yang gelap, bau busuk menyengat naik. Dan suara pantun itu, kini sangat jelas, begitu dekat, seolah melayang dari dasar kegelapan.

"Dendam membara takkan padam, / Walau jasad telah hancur. / Carilah kebenaran dalam kelam, / Agar jiwa ini dapat terkubur."

Arif menyalakan senternya dan mengarahkannya ke dalam sumur. Di dasar yang berlumpur, terlihat kerangka manusia, terbungkus kain kafan yang telah hancur. Dan di dekat kerangka itu, berserakan kepingan perhiasan dan sehelai kain batik yang familiar.

Itu adalah Purnama. Dikubur hidup-hidup di dalam sumur itu, ditinggalkan dalam kegelapan. Suara pantun itu bukan hantu, bukan pula kutukan. Itu adalah suara jiwanya yang terperangkap, merangkai kata-kata dari rasa sakit dan dendam, mencari kebenaran yang terkubur.

Kisah pengkhianatan Purnama, yang dituduh sihir dan dikubur hidup-hidup oleh kekasihnya sendiri yang pengecut, akhirnya terungkap. Ia telah menjadi tumbal ketakutan dan kebohongan, dan jiwanya menolak untuk diam.

Arif segera melaporkan temuannya. Penyelidikan pun dimulai, mengguncang ketenangan Kampung Usang yang selama ini menyimpan rapat rahasia kelamnya. Beberapa tetua desa, yang mungkin tahu kebenaran, menolak berbicara.

Sejak jasad Purnama ditemukan dan dikuburkan secara layak, suara pantun itu menghilang. Kampung Usang kembali ke dalam keheningannya, namun kali ini, keheningan itu terasa berbeda. Ada semacam kedamaian yang menyelimuti, seolah jiwa Purnama akhirnya menemukan ketenangan.

Namun, beberapa malam setelah itu, Arif kembali mendengar bisikan. Sebuah pantun baru, samar, namun jelas. "Malam pekat kini berlalu, / Fajar tiba membawa terang. / Namun rahasia kan selalu, / Di hati kampung yang usang."

Arif tahu, Kampung Usang akan selalu menyimpan misterinya. Suara pantun Purnama mungkin telah menemukan kedamaian, tetapi desa itu sendiri adalah sebuah pantun abadi, yang terus membisikkan kisah-kisah lama, menunggu untuk didengar oleh mereka yang berani mendengarkan.

Ia meninggalkan Kampung Usang, membawa serta kisah Purnama. Ia tahu, misteri itu belum sepenuhnya terpecahkan. Ada lebih banyak pantun yang belum terungkap, lebih banyak jiwa yang mungkin masih mencari suara. Dan di balik kabut tebal, Kampung Usang tetap berdiri, menunggu penutur berikutnya.

Suara Pantun dari Kampung Usang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *