Langkah Lembut Tanpa Bayangan di Jalan Setapak
Dusun Senyap, namanya, sesuai dengan bisikan anginnya. Namun ketenangan itu fatamorgana belaka. Saat matahari tergelincir, seorang bocah lenyap dari jalan setapak. Hanya jejak sepatu mungilnya yang terhenti tiba-tiba.
Tidak ada tanda perlawanan, tidak ada jejak seretan. Seolah bocah itu menguap begitu saja. Penduduk desa berbisik, mata mereka nanar menatap hutan. Mereka menyebutnya “Langkah Tanpa Bayangan.”
Arjuna, seorang jurnalis yang haus misteri, tiba di sana. Ia mencari fakta, menolak takhayul desa. Bisikan penduduk tentang “Langkah Tanpa Bayangan” ia anggap omong kosong belaka. Namun udara dingin di dusun itu terasa aneh, menusuk sampai ke tulang.
Kapten Rendra, kepala kepolisian setempat, menyambutnya dengan skeptis. “Tidak ada bukti, Arjuna. Hanya histeria massal. Mungkin bocah itu tersesat, atau diculik.” Namun wajahnya tak bisa menyembunyikan kegelisahan.
Beberapa hari kemudian, seorang wanita muda menghilang. Kali ini dari ambang pintu rumahnya sendiri, di sore hari yang terang benderang. Saksi bersumpah melihatnya berdiri di sana, lalu tiba-tiba lenyap.
Seorang tetangga histeris, menunjuk ke arah jalan setapak. “Aku melihatnya! Sebuah bayangan aneh, melintas begitu saja. Tapi tidak ada yang dilewatinya, tidak ada jejak kaki!”
Arjuna menelusuri jalan setapak itu lagi. Jalan itu berliku, diapit pohon-pohon tua yang menjulang. Udara di sana selalu lebih dingin, seolah cahaya matahari enggan menyentuhnya.
Ia menemukan sehelai syal milik wanita yang hilang. Tergeletak di tengah jalan, tidak kusut, tidak kotor. Seolah diletakkan dengan sengaja, bukan jatuh.
Arjuna mengambil foto syal itu. Saat ia melihat hasilnya, jantungnya berdegup kencang. Ada sebuah anomali: di bawah terik mentari, syal itu tak memiliki bayangan. Padahal, pohon di sebelahnya memproyeksikan bayangan panjang.
Pikirannya berputar. Bagaimana mungkin? Ia mencoba mengambil foto lain dari objek berbeda, semua bayangan tampak normal. Hanya syal itu, dan beberapa objek kecil lain yang ia temukan kemudian, yang tak berbayangan.
Arjuna menemui Pak Tua Karta, sesepuh desa yang bijaksana. Mata tuanya memancarkan kesedihan. “Ini sudah lama, Nak. Mereka datang dan pergi. Mengambil apa yang mereka inginkan.”
“Siapa ‘mereka’, Pak?” desak Arjuna. Pak Karta menunjuk ke arah hutan. “Bukan manusia. Bukan hantu. Sesuatu yang tak punya raga, tak punya beban. Mereka bergerak tanpa jejak, tanpa bayangan.”
Ia bercerita tentang legenda kuno. Tentang entitas yang berasal dari celah dimensi. Mereka melangkah tanpa menyentuh tanah, bergerak tanpa mengganggu udara. Mereka adalah kehampaan yang berjalan.
Malam itu, Arjuna memutuskan berkemah di dekat jalan setapak. Ia menyiapkan kamera inframerah dan sensor gerak. Ia ingin membuktikan keberadaan “Langkah Tanpa Bayangan” itu.
Udara semakin dingin. Suara jangkrik lenyap. Hutan membisu, seolah menahan napas. Sebuah ketegangan tak terlihat menyelimuti.
Pukul dua pagi, sensor geraknya berkedip. Jantung Arjuna mencelos. Ia mengintip melalui teropong malam. Kabut tipis mulai menyelimuti jalan setapak.
Dari dalam kabut, sebuah siluet samar muncul. Bentuknya ramping, tinggi, bergerak dengan keanggunan yang aneh. Bukan berjalan, lebih seperti meluncur.
Arjuna menahan napas. Sosok itu mendekat. Kakinya tidak menyentuh tanah, melayang beberapa sentimeter di atasnya. Dan di bawah cahaya rembulan yang samar, tidak ada bayangan yang jatuh dari tubuhnya.
Ngeri menggerogoti Arjuna. Ini bukan ilusi. Ini bukan takhayul. Ini nyata. Sosok itu terus bergerak, melewati pepohonan, menembus kabut tanpa sedikit pun mengganggunya.
Ia mengarahkan kamera inframerah. Layar menunjukkan anomali termal. Sebuah area dingin yang bergerak, tanpa wujud fisik yang jelas. Seolah ruang itu sendiri yang mendingin dan bergerak.
Sosok itu berhenti di tengah jalan setapak, tepat di tempat bocah itu menghilang. Ia tampak “mengamati” sekeliling, meskipun tidak memiliki mata yang terlihat.
Arjuna merasakan hawa dingin yang menusuk tulang, bukan dari udara, melainkan dari dalam dirinya. Ketakutan yang membeku. Ia tahu ia sedang diawasi, meskipun sosok itu tidak menatapnya.
Tiba-tiba, sosok itu berbalik, menghadap langsung ke arah persembunyian Arjuna. Tidak ada suara, tidak ada gerakan mendadak. Hanya pergeseran posisi yang mulus.
Arjuna merasa pandangan tak terlihat itu menembus dirinya. Ia tak bisa bergerak, terperangkap oleh kengerian. Sosok itu perlahan-lahan “meluncur” mendekat.
Bau aneh tercium, seperti udara yang terlalu tipis, terlalu bersih, tanpa kehidupan. Sebuah bau kehampaan. Arjuna merasakan napasnya tertahan di tenggorokan.
Sosok itu semakin dekat. Ia bisa melihat detail yang tak ada: garis samar, seperti distorsi di udara. Ia mengulurkan “tangan” – atau lebih tepatnya, sebuah bayangan lengan yang tak nyata.
Arjuna memejamkan mata, menunggu sentuhan yang dingin itu. Ia merasa seolah ditarik, ditarik ke dalam kehampaan yang sama. Sebuah rasa pusing melanda.
Namun, sentuhan itu tak pernah datang. Ia merasakan tekanan di kepalanya, sebuah bisikan tanpa suara, seolah pikiran lain menyusup ke dalam benaknya.
“Bukan waktumu,” bisikan itu bergaung, namun bukan dengan suara, melainkan dengan perasaan. Kemudian, tekanan itu lenyap.
Ketika Arjuna membuka mata, sosok itu sudah pergi. Jalan setapak kembali kosong, diselimuti kabut yang mulai menipis. Hanya dingin yang tersisa, dan kekosongan yang tak terlukiskan.
Ia melihat rekaman kameranya. Ada distorsi aneh di tempat sosok itu berdiri, seperti piksel yang rusak. Namun tidak ada bentuk yang jelas, tidak ada bayangan.
Arjuna mengemasi barangnya, tangannya gemetar. Ia tahu ia tidak bisa lagi tinggal. Dusun Senyap bukan hanya tempat, melainkan sebuah portal.
Ia kembali ke kota, menulis laporannya. Namun kata-kata tak cukup untuk menggambarkan kengerian yang ia alami. Bagaimana menjelaskan keberadaan tanpa bayangan?
Kapten Rendra menganggapnya gila. Artikelnya dicap sebagai sensasi murahan. Namun Arjuna tahu kebenaran. Ia telah melihatnya.
Sejak itu, Arjuna tak pernah lagi berjalan di jalan setapak yang sepi di malam hari. Setiap kali ada bayangan yang tak sesuai, atau udara dingin yang tiba-tiba, ia akan teringat.
Ia akan teringat akan Langkah Lembut Tanpa Bayangan. Sebuah keberadaan yang bergerak di ambang realitas, menunggu waktu untuk mengambil lagi, tanpa meninggalkan jejak, tanpa pernah terlihat. Dan bisikan tanpa suara itu akan selalu menghantuinya.




