Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Tengah

Warung Kopi Senja: Bisikan dari Kehampaan

11
×

Warung Kopi Senja: Bisikan dari Kehampaan

Share this article

Warung Kopi Senja: Bisikan dari Kehampaan

Warung Kopi Senja: Bisikan dari Kehampaan

Bima selalu memimpikan kedai kopi sendiri.
Sebuah tempat yang hangat, penuh tawa dan cerita.
Maka, saat warung tua di ujung jalan itu dijual, ia tak ragu.
"Kopi Senja," namanya, terasa pas dengan impiannya.

Warung itu sederhana, berdinding kayu usang.
Meja-meja kecil, kursi-kursi rotan yang nyaman.
Aroma kopi robusta dan arabika selalu menguar.
Siang hari ramai, malam pun syahdu dan tenang.

Namun, ketenangan itu hanya saat warung buka.
Saat lampu dimatikan dan pintu terkunci rapat.
Saat Bima sendirian, menghitung pemasukan hari itu.
Di sanalah misteri mulai menampakkan diri.

Suara pertama muncul samar, nyaris tak terdengar.
Seperti bisikan angin di antara daun kering.
Bima mengira itu suara tikus di atap, atau kucing.
Ia mengabaikannya, fokus pada angka-angka.

Tapi suara itu kian sering, dan makin jelas.
Bukan lagi desauan, melainkan gumaman pelan.
Mirip percakapan orang banyak, tapi teredam.
Seolah ada keramaian di balik dinding tipis.

Bima terdiam, tangannya berhenti menghitung.
Ia menoleh ke sekeliling, warung itu gelap gulita.
Hanya ada dirinya, di antara tumpukan cangkir kotor.
Tidak ada siapa-siapa, warung itu kosong melompong.

Jantungnya berdebar, ia mencoba menenangkan diri.
Mungkin itu suara dari warung sebelah, atau jalanan.
Tapi suara itu datang dari dalam, terasa dekat.
Suara tawa pelan, dentingan sendok, gesekan kursi.

Ia bangkit, menyalakan senter ponselnya.
Menyapu setiap sudut, di bawah meja, di balik konter.
Tak ada apa pun, hanya bayangan dan debu.
Warung Kopi Senja memang benar-benar kosong.

Malam-malam berikutnya, fenomena itu makin intens.
Suara-suara itu bukan lagi bisikan, melainkan riuh.
Seolah warung itu dipenuhi pelanggan yang tak terlihat.
Mereka berbicara, tertawa, bahkan mengeluh.

Bima mulai sulit tidur, pikirannya terusik.
Ia mencoba mencari penjelasan logis.
Apakah ada radio yang tertinggal menyala?
Atau mungkin kabel listrik yang korslet?

Ia memeriksa setiap instalasi, setiap celah.
Semua aman, tak ada yang aneh secara fisik.
Tapi begitu ia mengunci pintu, suara itu datang lagi.
Lebih jelas, lebih nyata, lebih menyeramkan.

Kadang ia bisa mendengar percakapan yang spesifik.
"Kopi hitam satu, ya, Pak!" terdengar jelas.
Lalu suara batuk pelan, atau derit kursi bergeser.
Seolah ia adalah pelayan yang tak terlihat oleh mereka.

Ketakutan perlahan merayapi benaknya.
Ia mulai merasa warung itu tidak sendirian.
Ada entitas tak kasat mata yang menghuninya.
Para pengunjung misterius yang hanya muncul saat kosong.

Bima mencoba menceritakan pada teman-temannya.
Mereka hanya tertawa, menganggapnya lelah bekerja.
"Mungkin kamu halusinasi, Bim," kata salah satu.
"Kurang tidur, tuh, makanya banyak pikiran."

Tapi Bima tahu ini bukan sekadar pikiran.
Sensasi dingin seringkali menyertai suara-suara itu.
Seolah embusan napas dari dunia lain menyentuhnya.
Merinding, bulu kuduknya berdiri setiap kali.

Ia mulai bertanya pada penduduk lokal yang tua-tua.
Tentang sejarah Warung Kopi Senja, atau tanahnya.
Seorang nenek tua dengan mata sendu menatapnya.
"Warung itu punya cerita, Nak," bisiknya pelan.

"Dulu, tempat ini bukan warung kopi," lanjut nenek itu.
"Itu adalah aula pertemuan warga, sangat ramai."
"Tapi terjadi musibah besar puluhan tahun lalu."
"Kebakaran, atau mungkin longsor," katanya tak jelas.

"Banyak yang terjebak di dalamnya, Nak."
"Mereka yang tak sempat menyelamatkan diri."
"Arwah mereka mungkin masih mencari kehangatan."
"Mencari keramaian yang pernah mereka miliki."

Mendengar cerita itu, Bima merasakan pukulan di dada.
Penjelasan nenek itu terdengar begitu masuk akal.
Para korban musibah itu, mencari tempat bernaung.
Mencari kebersamaan yang terenggut dari mereka.

Malam itu, Bima menunggu di dalam warung.
Ia membiarkan semua lampu padam, hanya senter kecil.
Ia ingin mendengar mereka, merasakan kehadiran mereka.
Tidak lagi dengan takut, tapi dengan rasa ingin tahu.

Suara-suara itu muncul, lebih kuat dari sebelumnya.
Riuh rendah seperti pasar malam yang sibuk.
Ada suara anak kecil tertawa riang.
Ada suara orang tua mengeluh tentang harga beras.

Bima mencoba berbicara, suaranya tercekat.
"Siapa kalian?" bisiknya, gemetar.
Suara-suara itu sejenak mereda, seolah mendengarkan.
Lalu kembali ramai, seolah tak peduli pertanyaannya.

Tiba-tiba, sebuah suara jelas terdengar di dekatnya.
"Kopi pahit satu, Bang," bisik sebuah suara serak.
Bima terkesiap, melompat mundur beberapa langkah.
Suara itu begitu nyata, seolah ada seseorang di depannya.

Ia menyalakan senter, menyapu udara kosong.
Tak ada siapa-siapa, tapi sensasi dingin menusuk.
Ada hawa keberadaan yang tak terlihat.
Sebuah tangan tak kasat mata seolah menyentuh bahunya.

Bima ambruk di kursi, napasnya memburu.
Ia tidak bisa lagi menyangkal, ini bukan imajinasi.
Warung Kopi Senja adalah rumah bagi para arwah.
Mereka yang terjebak dalam memori masa lalu.

Keputusan harus diambil, apakah ia akan menyerah?
Menjual warung itu, melarikan diri dari teror ini?
Atau ia akan mencoba hidup berdampingan dengan mereka?
Menjadi penjaga, bahkan pelayan, bagi para pelanggan tak kasat mata.

Beberapa hari berikutnya, Bima terus merenung.
Ia melihat warung itu dengan mata yang berbeda.
Bukan lagi sekadar bangunan, tapi sebuah portal.
Jembatan antara dua dunia yang tak terlihat.

Ia memutuskan untuk tidak menyerah.
Ia akan tetap membuka Warung Kopi Senja.
Mungkin, dengan kehadirannya, arwah-arwah itu tenang.
Mungkin, ia bisa memberi mereka tempat istirahat.

Malam hari, setelah pelanggan terakhir pulang.
Bima tidak lagi buru-buru mengunci pintu.
Ia kadang meninggalkan satu atau dua cangkir bersih.
Berisi kopi panas, diletakkan di meja favorit.

Suara-suara itu tetap ada, tak pernah hilang.
Kadang riuh, kadang hanya gumaman samar.
Tapi Bima tidak lagi merasa takut.
Ia merasa mereka adalah bagian dari warungnya.

Sebuah keberadaan tak terlihat, namun nyata.
Para pelanggan setia yang hanya muncul di kegelapan.
Warung Kopi Senja terus beroperasi.
Menjadi satu-satunya kedai yang ramai, bahkan saat kosong.

Bima terkadang tersenyum dalam kesendiriannya.
Mendengar dentingan sendok dan tawa yang menggema.
Ia tahu, ia tidak benar-benar sendirian di sana.
Warung Kopi Senja adalah rumah bagi banyak suara.

Dan ia adalah satu-satunya manusia yang mendengarnya.
Penjaga rahasia yang tak akan pernah terungkap.
Sebuah warung kopi yang bersuara, padahal kosong.
Menyimpan misteri di setiap aroma kopinya.

Warung Kopi Senja: Bisikan dari Kehampaan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *