Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Tengah

Cahaya Hijau dari Jalan Tengah Malam

11
×

Cahaya Hijau dari Jalan Tengah Malam

Share this article

Cahaya Hijau dari Jalan Tengah Malam

Cahaya Hijau dari Jalan Tengah Malam

Desa Sukamaju, sebuah permata tersembunyi di kaki pegunungan, selalu dikenal dengan ketenangannya yang tak terhingga. Dikelilingi hutan lebat dan sungai yang jernih, kehidupan di sana berjalan lambat, diatur oleh irama alam. Namun, ketenangan itu terkoyak oleh sebuah fenomena yang mengguncang setiap sendi kepercayaan penduduknya.

Ini bermula dari bisikan-bisikan, desas-desus yang menyebar seperti api di daun kering. Konon, ada cahaya hijau misterius yang muncul di "Jalan Tengah Malam," sebuah jalur setapak kuno yang membelah hutan di sisi barat desa. Jalan itu, yang dulunya digunakan para pemburu, kini nyaris tak terjamah.

Bukan sekadar cahaya biasa. Ia berdenyut, hijau pekat seperti lumut tua yang berpendar, terkadang memudar lalu kembali menyala terang. Cahaya itu tak mengeluarkan suara, tak meninggalkan jejak. Hanya ada hening yang mencekam, seolah alam pun menahan napas menyaksikan keanehan itu.

Pak Hadi, seorang sesepuh bijaksana yang telah menyaksikan berbagai musim berganti di Sukamaju, awalnya skeptis. Ia menganggapnya hanya cerita rakyat, bualan para pemuda yang gemar mencari sensasi. Namun, frekuensi penampakan yang semakin sering mulai menumbuhkan keraguan di hatinya.

Wajah-wajah penduduk desa mulai pucat pasi setiap kali matahari terbenam. Anak-anak dilarang bermain di luar rumah setelah magrib, para suami buru-buru pulang dari ladang. Ketakutan merayap, menjerat Sukamaju dalam selubung misteri yang mencekam.

Beberapa penduduk nekat mencoba melihatnya. Mereka kembali dengan cerita yang sama: cahaya itu ada, ia nyata, dan ia memancarkan aura dingin yang menusuk jiwa. Seorang pemuda bahkan pingsan setelah mencoba mendekat, mengaku merasakan hawa dingin yang luar biasa.

"Ini bukan hal baik, Pak Hadi," bisik Bu Sumi, tetangga Pak Hadi, suatu sore. "Dulu, nenek saya pernah cerita. Ada legenda tentang penjaga hutan kuno yang marah jika jalan itu diganggu." Matanya memancarkan ketakutan yang mendalam.

Pak Hadi menghela napas. Ia tahu cerita-cerita lama seringkali hanyalah mitos. Namun, kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Ada rasa gentar yang tak bisa ia sangkal, sebuah firasat buruk yang terus menghantuinya.

Suatu malam, tak tahan lagi dengan kerisauan yang mendera, Pak Hadi memutuskan untuk menyelidiki sendiri. Ia ditemani Adi, seorang pemuda berani yang sering menemaninya berburu di hutan. Mereka mempersiapkan senter, air, dan tekad yang kuat.

Udara dingin menusuk tulang, dedaunan bergesekan di atas kepala mereka, menciptakan simfoni bisikan yang mencekam. Setiap langkah terasa berat, membawa mereka lebih dekat pada jantung misteri. Hening hutan terasa begitu pekat, seolah menyembunyikan sesuatu yang mengerikan.

Tiba-tiba, di kejauhan, di antara rerimbunan pohon beringin tua yang menjulang, cahaya itu muncul. Hijau. Berdenyut. Lebih besar dari yang mereka bayangkan. Ia seolah mengambang di udara, memancarkan aura yang tak dapat dijelaskan.

Jantung Pak Hadi berdegup kencang. Ini bukan ilusi. Ini bukan fatamorgana. Ini adalah kenyataan yang jauh lebih menakutkan dari legenda manapun. Adi di sampingnya membeku, napasnya tertahan, matanya terpaku pada pemandangan di depan mereka.

Cahaya itu seolah memanggil, mengundang, namun sekaligus mengancam. Mereka merasakan hawa dingin yang menusuk, seolah puluhan pasang mata tak terlihat mengawasi dari balik kegelapan. Sebuah bisikan samar, nyaris tak terdengar, seolah melayang di antara pepohonan.

Mereka tak berani melangkah lebih jauh. Ketakutan itu nyata, membeku setiap otot. Cahaya hijau itu seolah hidup, bernapas, dan entah mengapa, terasa seperti memiliki kesadaran. Mereka mundur perlahan, tak melepaskan pandangan dari fenomena aneh itu.

Kembali ke desa, Pak Hadi dan Adi menceritakan apa yang mereka lihat. Ketakutan di Sukamaju semakin memuncak. Para tokoh agama dipanggil, doa-doa dipanjatkan, namun cahaya hijau itu tetap setia muncul setiap tengah malam.

Pak Lurah, yang biasanya tenang, mulai menunjukkan tanda-tanda stres. Pendapatan desa menurun drastis karena orang luar enggan datang. Anak-anak jatuh sakit dengan demam misterius, dan ternak beberapa kali ditemukan mati dengan luka aneh.

"Ini pasti kutukan," teriak seorang warga histeris di balai desa. "Kita harus pindah! Tinggalkan desa ini sebelum terlambat!" Suasana kacau, kepanikan mulai merajalela.

Pak Hadi tahu ia harus menemukan jawaban. Ia tak bisa membiarkan desa yang ia cintai hancur karena ketakutan yang tak beralasan. Ia mulai menelusuri arsip-arsip lama desa, catatan-catatan kuno yang jarang disentuh.

Ia menemukan peta kuno yang menunjukkan Jalan Tengah Malam sebagai "Jalur Hening." Di peta itu, ada simbol aneh di dekat lokasi penampakan cahaya: sebuah lingkaran dengan tiga titik yang membentuk segitiga di dalamnya.

Pak Hadi bertanya pada Nenek Sari, wanita tertua di desa yang konon mengetahui banyak cerita lama. Nenek Sari, dengan mata keruh karena usia, menceritakan sebuah legenda yang hampir terlupakan.

"Dahulu kala," katanya dengan suara bergetar, "ada sebuah tempat suci di Jalan Hening itu. Tempat di mana energi bumi bertemu dengan langit. Cahaya itu… itu adalah penjaganya." Ia terdiam, tatapannya menerawang jauh.

"Penjaga apa, Nek?" tanya Pak Hadi tak sabar. Nenek Sari hanya menggeleng. "Rahasia. Hanya mereka yang terpilih yang bisa memahaminya. Tapi, jika diganggu, ia bisa menunjukkan kemarahannya."

Pak Hadi dan Adi kembali ke Jalan Tengah Malam. Kali ini, mereka membawa perlengkapan yang lebih memadai dan tekad yang bulat. Mereka ingin mendekat, mengamati, dan mencoba memahami apa sebenarnya sumber cahaya itu.

Malam itu, cahaya hijau muncul lagi. Ia berdenyut lebih terang, seolah menyambut kedatangan mereka. Ada sesuatu yang berbeda. Sebuah pola dalam denyutannya, seperti sebuah ritme, sebuah panggilan.

Mereka melangkah maju, perlahan namun pasti. Setiap langkah terasa seperti menembus tirai es. Udara semakin dingin, dan bisikan-bisikan samar itu kini terdengar lebih jelas, seperti desahan panjang yang menyayat hati.

Semakin dekat, mereka melihat siluet samar di balik cahaya. Bukan sesosok makhluk, melainkan sebuah formasi batuan besar yang tertutup lumut pendar. Lumut itu lah yang memancarkan cahaya hijau itu.

Namun, lumut itu bukanlah lumut biasa. Ia berpendar dengan intensitas yang tak wajar, berdenyut selaras dengan irama tak terlihat. Di tengah formasi batuan itu, terdapat ukiran simbol yang sama persis dengan yang ada di peta kuno.

Ketika mereka menyentuh salah satu batu, lumut itu berpendar lebih terang. Cahaya hijau itu melesat, membentuk pola-pola aneh di udara, seolah menari. Mereka merasakan energi yang kuat, namun bukan energi jahat, melainkan sesuatu yang purba dan agung.

Mereka menyadari, cahaya itu bukan ancaman. Ia adalah penanda. Sebuah penjaga yang telah ada selama berabad-abad, merespons perubahan, mungkin energi dari alam itu sendiri. Entah bagaimana, aktivitas manusia akhir-akhir ini telah "membangunkannya."

Mereka kembali ke desa dengan cerita yang tak terduga. Bukan hantu, bukan makhluk gaib, melainkan sebuah fenomena alam yang luar biasa. Sebuah lumut pendar yang tak biasa, tumbuh di atas batuan dengan energi unik.

Penduduk desa awalnya tak percaya. Bagaimana bisa lumut sekecil itu menimbulkan ketakutan sebesar ini? Namun, Pak Hadi menjelaskan bahwa terkadang, hal paling sederhana bisa menjadi yang paling misterius.

Sejak saat itu, ketakutan mulai mereda, digantikan oleh rasa hormat dan kekaguman. Jalan Tengah Malam tak lagi dihindari, melainkan menjadi tempat yang dihormati. Cahaya hijau itu masih muncul setiap malam, namun kini ia dipandang sebagai pelindung, bukan lagi ancaman.

Misteri itu tak sepenuhnya terpecahkan. Mengapa lumut itu berpendar begitu kuat? Apa fungsi simbol kuno itu? Mengapa energinya bisa memengaruhi orang? Pertanyaan-pertanyaan itu tetap menggantung di udara.

Namun, Desa Sukamaju belajar untuk hidup berdampingan dengan misteri. Mereka memahami bahwa alam memiliki rahasia yang tak terbatas, dan terkadang, yang terbaik adalah menghormati keberadaan mereka. Cahaya hijau dari Jalan Tengah Malam tetap menjadi pengingat abadi akan keajaiban dan misteri yang tak pernah berakhir.

Cahaya Hijau dari Jalan Tengah Malam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *