Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Tengah

Artikel Misteri: Tirai Arwah Pelindung

64
×

Artikel Misteri: Tirai Arwah Pelindung

Share this article

Artikel Misteri: Tirai Arwah Pelindung

Artikel Misteri: Tirai Arwah Pelindung

Anya melangkah di ambang jurang. Bukan jurang fisik, melainkan jurang misteri yang memanggilnya dari balik kabut legenda. Sebagai antropolog yang haus akan kisah tak terjamah, ia terpikat oleh bisikan tentang Desa Tirta Kencana. Sebuah tempat yang konon dijaga oleh arwah leluhur, sebuah benteng terakhir di tengah kegelapan. Namun, bisikan itu juga membawa nada ketakutan, tentang harga yang harus dibayar.

Perjalanan menuju Tirta Kencana terasa seperti menembus dimensi lain. Jalan setapak yang tertutup lumut, pepohonan raksasa yang menjulang, seolah menelan cahaya matahari. Udara dingin merayap di kulit, membawa aroma tanah basah dan sesuatu yang lebih tua, lebih primordial. Hati Anya berdebar, antara antisipasi dan kegelisahan yang tak beralasan.

Akhirnya, gubuk-gubuk kayu tua muncul dari balik rimbunnya hutan. Mereka berjejer rapat, seperti sekelompok makhluk yang bersembunyi. Tidak ada suara tawa anak-anak, hanya keheningan yang pekat, sesekali dipecahkan oleh desiran angin melalui dedaunan. Wajah-wajah penduduk desa yang menyambutnya tampak ramah, namun sorot mata mereka menyimpan rahasia.

Malam pertama di Tirta Kencana terasa panjang dan mencekam. Anya merasa diawasi, bukan oleh mata manusia, melainkan oleh kehadiran yang tak kasat mata. Bisikan halus menembus dinding kayu, irama ritmis yang samar-samar terdengar dari kejauhan. Itu bukan nyanyian, melainkan semacam gumaman, seolah bumi itu sendiri yang berbicara.

Ia mencoba bertanya, mendekati para tetua desa dengan pertanyaan-pertanyaan hati-hati. Mereka menjawab dengan senyum tipis, "Kami dijaga, Nak." Namun, setiap kali Anya mendesak tentang siapa penjaga itu, atau mengapa mereka membutuhkan penjaga, wajah mereka mengeras, dan percakapan beralih ke hal lain. Ada tabir tebal yang menyelubungi kebenaran.

Pada hari ketiga, kekosongan di desa semakin terasa. Seorang anak kecil yang kemarin masih bermain, kini tak terlihat. Penduduk desa tampak gelisah, namun tak ada yang berani menyebut namanya. Seolah nama itu sendiri adalah pantangan, sebuah undangan bagi sesuatu yang tak diinginkan. Keheningan yang tadinya misterius kini berubah menjadi menakutkan.

Anya menyadari, ini bukan sekadar cerita rakyat. Ini adalah kenyataan pahit yang mereka jalani. Ia melihat bayangan bergerak di sudut matanya, merasakan hembusan napas dingin di tengkuknya saat ia menjelajahi batas desa. Ada aura yang menekan, seolah batas itu adalah garis demarkasi antara kehidupan dan ketiadaan.

Ia menemukan sebuah altar kuno di tengah hutan, tersembunyi di balik akar-akar beringin raksasa. Batu-batu hitam yang dipahat dengan simbol-simbol yang tak ia kenali, berlumuran noda kering yang gelap. Bau kemenyan yang kuat masih tercium, bercampur dengan aroma amis yang samar. Di sinilah rahasia desa itu terkunci.

Malam itu, bulan purnama bersinar penuh, memandikan desa dalam cahaya keperakan yang aneh. Suara gumaman yang ia dengar sebelumnya kini menguat, lebih jelas, lebih mendesak. Dari setiap rumah, satu per satu penduduk desa keluar, berjalan dalam barisan diam menuju altar. Anya mengikuti, jantungnya berdegup tak beraturan.

Upacara dimulai. Sesepuh desa, Nenek Siti, berdiri di depan altar, matanya terpejam. Penduduk lain duduk bersila di tanah, tangan mereka terentang ke depan, seolah menyambut sesuatu. Asap kemenyan mengepul, membentuk spiral ke langit, membawa serta doa dan bisikan yang tak dapat dipahami. Anya bersembunyi di balik semak, menyaksikan dengan napas tertahan.

Kemudian, sesuatu terjadi. Udara di sekitar altar mulai beriak, bergetar, seolah ada dinding tak kasat mata yang terbentuk. Cahaya biru samar memancar dari batu-batu altar, berdenyut seirama dengan gumaman penduduk. Anya merasakan tekanan di telinganya, seperti ada frekuensi lain yang menembus otaknya.

Sosok-sosok tembus pandang mulai muncul dari dalam riakan cahaya. Mereka bukan hantu berwujud manusia, melainkan gumpalan energi, bayangan yang samar. Namun, Anya merasakan kehadiran mereka yang kuat, kuno, dan penuh otoritas. Ini adalah arwah-arwah pelindung, bukan seperti yang ia bayangkan. Mereka bukan malaikat, melainkan penjaga yang tak berkompromi.

Nenek Siti mengangkat tangannya, dan gumaman berubah menjadi ratapan pilu. Salah satu penduduk, seorang pemuda yang kemarin masih bercanda dengannya, perlahan bangkit. Wajahnya pucat pasi, matanya kosong. Ia berjalan lurus menuju riakan cahaya, tanpa ragu, tanpa perlawanan. Anya menahan pekikan di tenggorokannya.

Pemuda itu melangkah masuk ke dalam riakan, dan tubuhnya mulai memudar, larut menjadi partikel-partikel cahaya biru. Ia tidak menjerit, tidak melawan. Hanya senyap, dan kemudian, ia lenyap sepenuhnya. Kehadiran arwah-arwah itu menjadi lebih kuat, lebih solid, seolah mereka telah menyerap sesuatu.

Ritual itu adalah tumbal. Tumbal yang tak selalu berupa darah, namun berupa kehidupan itu sendiri. Setiap bulan purnama, Tirta Kencana memberikan salah satu dari mereka. Bukan sebagai pengorbanan yang kejam, melainkan sebagai bagian dari perjanjian kuno. Perjanjian untuk tetap terlindungi dari sesuatu yang jauh lebih mengerikan.

Anya akhirnya memahami kengerian yang sebenarnya. Desa ini tidak dijaga dari kejahatan, melainkan dijaga oleh kejahatan itu sendiri, atau setidaknya, oleh entitas yang menuntut harga yang tak terbayangkan. Arwah-arwah itu adalah penjaga gerbang, yang mengizinkan mereka hidup, asalkan ada pertukaran yang terus-menerus.

Nenek Siti, dengan mata yang kini terbuka, menatap lurus ke arah persembunyian Anya. Tidak ada amarah, hanya kesedihan dan pemahaman yang mendalam. Seolah ia berkata, "Kini kau tahu. Inilah harga dari keberadaan kami." Cahaya di altar meredup, dan arwah-arwah itu perlahan kembali larut ke dalam kegelapan.

Pagi harinya, desa kembali sunyi, seolah tak ada yang terjadi. Namun, kali ini Anya merasakan keheningan itu sebagai beban yang menekan. Ia melihat penduduk desa, wajah-wajah mereka menunjukkan kelelahan yang mendalam, namun juga ketabahan yang mengerikan. Mereka hidup dalam bayang-bayang perjanjian, dari bulan ke bulan.

Anya memutuskan untuk pergi. Ia tidak bisa lagi menanggung beban rahasia itu, kengerian yang terungkap. Perjalanan pulangnya terasa lebih berat, seolah ia membawa serta bobot jiwa-jiwa yang telah lenyap di Tirta Kencana. Hutan yang tadinya misterius kini terasa mengawasi, seolah arwah-arwah itu mengikutinya.

Setiap malam, ia masih mendengar bisikan itu, gumaman ritual yang menghantui tidurnya. Ia melihat bayangan-bayangan tembus pandang di sudut ruangan, merasakan hembusan napas dingin yang akrab. Tirta Kencana telah menorehkan jejaknya dalam dirinya, sebuah luka yang tak akan pernah sembuh.

Ia menulis laporannya, namun bukan untuk dipublikasikan. Itu adalah pengakuan pribadinya, sebuah catatan tentang kengerian yang tak terbayangkan. Ia tahu, dunia tidak akan percaya. Dan mungkin, itu lebih baik. Biarkan Tirta Kencana tetap menjadi misteri yang terkunci, dijaga oleh arwah-arwah yang menuntut harga.

Sebab, di luar sana, di antara kegelapan yang tak terjamah, ada sesuatu yang jauh lebih buruk. Sesuatu yang arwah-arwah itu lindungi, dengan pengorbanan yang tak pernah berakhir. Dan Anya, kini, tahu persis apa yang menunggu jika penjagaan itu runtuh. Kengerian yang jauh melampaui kematian. Sebuah keberadaan yang tak berbentuk, hanya kehampaan yang menelan.

Artikel Misteri: Tirai Arwah Pelindung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *