Baik, mari kita selami misteri pohon Trembesi itu. Siapkan diri Anda untuk ketegangan.
Bayangan Siluet di Pohon Trembesi: Misteri Kampung Sukarasa
Kampung Sukarasa tersembunyi jauh di balik bukit-bukit kapur yang menjulang, seolah sengaja memisahkan diri dari hiruk pikuk dunia. Jalan setapak berkelok, diselimuti lumut tebal, menjadi satu-satunya akses. Udara di sana selalu lembap, membawa aroma tanah basah dan dedaunan tua.
Di tengah kampung, berdiri megah sebuah pohon Trembesi raksasa. Batangnya selebar gerobak sapi, dahannya menjulur seperti lengan-lengan purba yang ingin memeluk langit. Penduduk setempat menyebutnya "Pohon Saksi Bisu", meski tak ada yang benar-benar tahu apa yang disaksikannya.
Arya, seorang peneliti folklor yang haus akan cerita-cerita lama, tertarik pada aura misterius kampung itu. Ia menyewa sebuah rumah tua di pinggir desa, tak jauh dari Trembesi. Dari jendelanya, pohon itu tampak seperti penjaga raksasa yang tak pernah tidur.
Malam pertama, Arya duduk di beranda, menikmati semilir angin dan suara jangkrik. Matanya terpaku pada siluet Trembesi yang gelap pekat di bawah cahaya rembulan tipis. Sekilas, ia melihat sesuatu bergerak di antara dedaunan.
Sebuah bayangan samar, menyerupai sosok manusia, menari perlahan. Arya mengernyit, mengira itu hanya ilusi optik atau pantulan cahaya yang bermain. Ia mengusap mata, dan bayangan itu menghilang, seolah tak pernah ada.
"Mungkin aku terlalu lelah," gumamnya, mencoba meyakinkan diri. Namun, rasa penasaran mulai menggerogoti. Pohon itu seolah memanggil, menyimpan rahasia yang tak terucap.
Malam kedua, bayangan itu kembali. Kali ini lebih jelas, membentuk siluet seorang wanita dengan rambut panjang terurai. Ia tampak melayang, bukan bertengger, di salah satu dahan tertinggi. Arya merasakan hawa dingin merambat di punggungnya.
Ia mengambil kameranya, mencoba mengabadikan fenomena aneh itu. Namun, setiap kali lensa fokus, siluet itu lenyap, hanya menyisakan kerimbunan daun yang bergerak oleh angin. Sebuah permainan cahaya yang sempurna, pikirnya, namun terlalu nyata.
Keesokan harinya, Arya bertanya kepada Pak Kusno, pemilik warung kopi di ujung jalan. "Pak, pohon Trembesi itu, apakah ada cerita khusus tentangnya?" Pak Kusno sontak pucat, tangannya gemetar saat menuangkan teh.
"Jangan pernah bertanya tentangnya, Nak Arya," bisiknya, suaranya tercekat. "Pohon itu… punya penghuni. Penghuni yang tak suka diganggu." Ia menatap Arya dengan tatapan penuh peringatan, seolah ada bahaya yang mengintai.
Rasa ingin tahu Arya semakin membara. Ia mencari buku-buku lama, catatan sejarah desa, bahkan berbicara dengan sesepuh yang enggan membuka mulut. Sedikit demi sedikit, fragmen-fragmen cerita mulai terhubung, membentuk mozaik kelam.
Dahulu kala, desa itu pernah dilanda wabah penyakit misterius. Banyak warga yang meninggal mendadak, tubuh mereka menghitam, wajah mereka membiru. Mereka dikuburkan di bawah pohon Trembesi, tempat yang diyakini sebagai portal ke alam lain.
Malam ketiga, Arya memberanikan diri mendekat. Ia membawa senter dan rekaman suara. Udara di sekitar pohon terasa lebih dingin, bahkan di malam terpanas sekalipun. Desiran daun terdengar seperti bisikan-bisikan yang tak jelas.
Kali ini, bukan hanya satu. Puluhan siluet menari di antara dedaunan, membentuk sosok-sosok yang beragam. Ada anak kecil yang berpegangan tangan, seorang pria tua yang membungkuk, dan wanita yang meratap dalam diam. Mereka semua gelap, tanpa detail wajah, hanya kontur kosong.
Jantung Arya berpacu. Ia merasakan sepasang mata tak terlihat mengawasinya dari kegelapan. Sebuah siluet, lebih besar dari yang lain, muncul di batang pohon. Bentuknya menyerupai raksasa dengan tanduk, menatap lurus ke arahnya.
Keringat dingin membasahi dahinya. Ia mencoba bernapas teratur, menekan rasa takut yang membuncah. Ia menyalakan senter, mengarahkannya ke siluet raksasa itu. Cahaya menembus bayangan, seolah tak ada apa-apa di sana.
Namun, siluet itu tidak menghilang. Ia tetap di sana, bergerak perlahan, seolah mengejek upayanya. Arya bisa merasakan kehadiran yang kuat, sebuah energi kuno yang berdiam di dalam pohon itu.
Malam-malam berikutnya menjadi siksaan. Arya tak bisa tidur nyenyak. Setiap pejam, bayangan-bayangan itu muncul dalam mimpinya, merangkak di dinding, berbisik di telinganya. Ia merasa gila, pikirannya terkoyak antara logika dan kengerian.
Ia mulai melihat siluet itu di siang hari, meski hanya sekilas. Di balik jendela rumah, di pantulan genangan air, atau bahkan di bayangan dirinya sendiri. Mereka mengikutinya, menempel padanya, seolah menunggu waktu yang tepat.
Penduduk desa mulai menatapnya aneh. Mereka berbisik-bisik setiap kali Arya melintas, menunjuk ke arahnya seolah ia membawa kutukan. Beberapa bahkan terang-terangan menyuruhnya pergi, sebelum "mereka" mengambilnya.
"Mereka haus," kata seorang wanita tua dengan mata cekung. "Mereka haus akan kehidupan. Dan kau, Nak, kau membawa terlalu banyak kehidupan." Kata-kata itu menusuk Arya, menciptakan ketakutan yang lebih dalam.
Suatu malam, badai hebat melanda Sukarasa. Angin menderu, hujan turun bagai dicurahkan dari langit. Petir menyambar-nyambar, menerangi Trembesi dengan cahaya putih yang menakutkan. Arya tak bisa menahan diri.
Ia keluar dari rumah, langkahnya terhuyung oleh angin kencang. Ia harus menghadapi ini, atau ia akan selamanya hidup dalam ketakutan. Ia berjalan menuju Trembesi, diiringi suara petir dan raungan angin.
Saat ia tiba di bawah dahan-dahan raksasa, pemandangan itu membuatnya membeku. Ratusan, bahkan ribuan siluet memenuhi setiap celah, setiap daun, setiap ranting pohon. Mereka menari liar, berputar-putar dalam badai.
Mereka bukan sekadar bayangan. Mereka adalah entitas, terjebak di antara dunia, terikat pada pohon kuno itu. Wajah-wajah kesedihan, kemarahan, dan keputusasaan terukir dalam bentuk-bentuk gelap itu.
Sebuah siluet anak kecil melayang turun, mendekati Arya. Tangannya yang mungil, namun gelap pekat, terulur. Dari dalam bayangan itu, Arya mendengar bisikan yang jelas, namun tak bermakna, sebuah bahasa yang mati ribuan tahun lalu.
Ia mundur perlahan, ketakutan melumpuhkannya. Tapi siluet itu terus mendekat, diikuti oleh puluhan lainnya. Mereka mengelilinginya, membentuk lingkaran yang mencekam. Udara menjadi sesak, dingin menusuk sampai ke tulang sumsum.
Arya menutup mata, berteriak sekencang-kencangnya. Ia tidak tahu apa yang ia teriakkan, mungkin hanya suara-suara primal dari rasa takut yang paling murni. Ia merasakan sentuhan dingin di pipinya, seolah jari-jari tak kasat mata menyentuhnya.
Saat ia membuka mata, ia melihat sebuah siluet berdiri tepat di depannya. Bentuknya menyerupai dirinya sendiri, namun kosong, tanpa jiwa. Bayangan itu mengulurkan tangan, seolah ingin menyatukan diri dengannya.
Arya berlari. Ia berlari sekencang-kencangnya, tanpa menoleh ke belakang, tanpa mempedulikan badai yang menerpanya. Teriakan kengerian tertahan di tenggorokannya, berubah menjadi isakan putus asa. Ia hanya ingin jauh dari pohon itu, dari bayangan-bayangan itu.
Ia meninggalkan Kampung Sukarasa keesokan harinya, tanpa pamit, tanpa menoleh. Mobilnya melaju kencang, meninggalkan jejak debu di jalan setapak yang sunyi. Ia tak pernah kembali, dan tak pernah lagi berani menatap bayangan pohon.
Namun, di setiap sudut gelap, di setiap pantulan cahaya yang salah, ia sering melihatnya. Siluet-siluet itu, menari dalam diam, mengawasinya dari kejauhan. Sebuah misteri tak terpecahkan, terukir dalam kegelapan, di bawah dahan-dahan Pohon Trembesi yang saksi bisu.
Dan di Kampung Sukarasa, di bawah rimbunnya Pohon Trembesi, bayangan-bayangan itu masih menari. Menunggu siapa lagi yang akan datang, siapa lagi yang akan tergoda oleh misteri yang mereka simpan, dan siapa lagi yang akan menjadi bagian dari kisah kelam mereka.





