Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Barat

Siapa Perempuan Berkebaya di Jalur Gunung Papandayan? Sosoknya Tak Pernah Terekam Kamera

15
×

Siapa Perempuan Berkebaya di Jalur Gunung Papandayan? Sosoknya Tak Pernah Terekam Kamera

Share this article

Siapa Perempuan Berkebaya di Jalur Gunung Papandayan? Sosoknya Tak Pernah Terekam Kamera

Perempuan Berkebaya di Puncak Papandayan: Bisikan Misteri dari Kawah Belerang

Gunung Papandayan, permata Jawa Barat, selalu memanggil dengan pesonanya. Kawah belerang yang mengepul, padang edelweiss yang memukau, dan hutan mati yang bisu. Namun, di balik keindahan itu, tersimpan kisah-kisah yang dibisikkan angin pegunungan, menunggu untuk terungkap.

Kami, sebuah tim kecil pendaki, datang mencari kedamaian dan tantangan. Kamera kami siap mengabadikan setiap sudut keajaiban alam. Dinginnya udara pagi menusuk, namun semangat kami membara untuk menaklukkan setiap jengkal trek.

Perjalanan dimulai dari Camp David, menapaki jalur berbatu yang menanjak. Kabut tipis masih menyelimuti puncak, menciptakan ilusi optik yang membingungkan. Kami tahu Papandayan punya legenda, tapi tak pernah menyangka akan menjadi bagian darinya.

Saat melintasi jalur menanjak menuju Pondok Salada, sebuah bayangan melintas. Sekilas, di antara pepohonan yang rimbun, sosok ramping terlihat. Sebuah kebaya, kain tradisional, tampak ganjil di ketinggian yang didominasi jaket gunung.

Mungkin hanya fatamorgana, efek kelelahan mata kami yang belum terbiasa. Atau pendaki lokal yang unik, sengaja mengenakan busana berbeda. Kami saling pandang, mencoba meyakinkan diri bahwa itu hal wajar dan tak perlu dipikirkan.

Namun, perasaan aneh itu tak mau hilang. Seolah ada sepasang mata yang mengawasi dari balik pepohonan. Suhu udara mendadak terasa lebih dingin, disertai hembusan angin yang membawa aroma melati samar, ganjil di tengah bau belerang.

Kami melanjutkan perjalanan menuju Kawah Baru, di mana asap belerang mengepul tak henti. Pemandangan sureal dengan tanah berwarna kekuningan dan bebatuan vulkanik. Di sinilah, misteri itu mulai menampakkan dirinya dengan lebih jelas.

Di tengah asap belerang yang menyesakkan, ia muncul lagi. Lebih jelas kali ini, berdiri membelakangi kami di tepi kawah. Kebaya hijau lumutnya menyatu sempurna dengan lanskap, seolah bagian dari alam itu sendiri.

Rambutnya disanggul rapi, kontras dengan para pendaki lain yang berantakan. Ia tak bergerak, tak menoleh, seolah tak menyadari kehadiran kami. Sebuah aura kuno memancar darinya, keheningan yang menyesakkan, membuat kami terpaku.

Jantung kami berpacu, napas tertahan, kamera-kamera tergantung di leher, tak berani membidik. Ada ketakutan, namun juga rasa penasaran yang tak tertahankan. Siapakah dia, dan mengapa ia berdiri sendirian di tempat berbahaya ini?

Satu kedipan mata, satu hembusan angin dingin, dan ia lenyap. Seolah ditelan kabut yang tiba-tiba menebal, meninggalkan kami dalam kebingungan. Kami mencari jejak yang tak ada, hanya menyisakan pertanyaan tanpa jawaban.

Diskusi kami di Pondok Salada malam itu penuh spekulasi. Ada yang menyebutnya penjaga gunung, ada yang menganggapnya arwah penunggu. Namun tak ada yang bisa menjelaskan kejanggalan itu sepenuhnya, kecuali rasa ngeri yang merayapi.

Malam di Papandayan terasa lebih panjang. Bisikan angin seolah membawa suara-suara lain, bayangan pepohonan menari di tenda. Setiap suara binatang malam terasa seperti langkah kaki yang mendekat, menguji keberanian kami.

Keesokan paginya, kami memutuskan menjelajah Hutan Mati, sebuah labirin pohon-pohon mati yang menghitam. Suasananya mencekam, seperti berada di dunia lain, tempat waktu dan kehidupan berhenti. Bau belerang semakin pekat, menusuk hidung.

Di antara siluet dahan-dahan kering, ia berdiri lagi. Menghadap kami kali ini, namun wajahnya samar, seperti tertutup kabut tipis. Matanya, meski tak terlihat jelas, terasa menatap tajam, menembus sampai ke relung jiwa.

Gerakannya sangat halus, hampir tak terlihat. Ia mengangkat tangannya perlahan, menunjuk ke arah tebing yang curam, sedikit tersembunyi. Sebuah isyarat tanpa suara, mengundang kami mendekat ke arah yang tak dikenal.

Rasa ingin tahu bercampur ketakutan mencengkeram. Ini bukan lagi sekadar penampakan, melainkan sebuah interaksi. Apakah ia memberi petunjuk, ataukah justru memancing kami ke dalam bahaya yang lebih besar?

Dengan langkah ragu, kami mengikuti arah yang ditunjuknya. Di balik tebing itu, terhampar jurang yang dalam, diselimuti kabut tebal. Di dasarnya, kami melihat kilatan air, dan samar-samar, sebuah reruntuhan kuno.

Bukan di peta, bukan di cerita mana pun yang pernah kami dengar tentang Papandayan. Struktur batu yang gelap, tertutup lumut dan semak, seolah tersembunyi dari peradaban. Sebuah rahasia yang terkubur waktu.

Saat kami menoleh kembali, ia telah tiada. Hanya kabut yang bergerak, dan keheningan yang menelan segalanya. Reruntuhan itu pun seolah ikut lenyap, tertutup tebalnya kabut Papandayan, seperti ilusi yang tak pernah ada.

Kami mencoba mendekati jurang itu lagi, mencari reruntuhan yang baru saja kami lihat. Namun, kabut begitu tebal, dan yang ada hanyalah kehampaan. Seolah sosok perempuan berkebaya itu datang hanya untuk menunjukkan, lalu menyembunyikannya kembali.

Perjalanan turun terasa lebih berat, dihantui bayangan kebaya itu. Kami tak lagi bicara banyak, hanya saling melirik dengan tatapan yang sama. Ada sesuatu yang tertinggal di Papandayan, yang tak akan pernah bisa kami lupakan.

Sejak hari itu, Papandayan tak lagi sekadar gunung biasa. Ia adalah gerbang menuju dimensi lain, tempat legenda menjadi kenyataan, tempat misteri bersemayam. Sebuah pengalaman yang mengubah cara pandang kami terhadap alam.

Kami mencari informasi, membaca setiap catatan sejarah dan cerita rakyat tentang Papandayan. Tak ada yang menyebut tentang reruntuhan kuno di jurang, atau sosok perempuan berkebaya yang menghuni puncaknya.

Sosok perempuan berkebaya itu menjadi bagian tak terpisahkan dari pengalaman kami. Apakah ia penjaga rahasia Papandayan, yang hanya menampakkan diri pada mereka yang berani menjelajah lebih dalam?

Ataukah ia arwah yang terikat pada keindahan dan kengerian gunung itu, terperangkap antara dua dunia? Sebuah penjaga, sebuah peringatan, atau hanya sebuah bayangan dari masa lalu yang tak ingin dilupakan.

Dan setiap kali angin pegunungan berbisik, kami teringat akan sosok itu. Perempuan berkebaya di Papandayan, yang mungkin masih menanti, mengawasi, di balik tirai kabut dan waktu, menyimpan misteri abadi.

Ia adalah legenda hidup, bisikan dari kedalaman Papandayan, yang akan terus menghantui dan memanggil. Mengundang siapa pun yang berani, untuk mencari tahu lebih jauh, tentang perempuan berkebaya, sang penunggu misteri.

Mungkin ia adalah penjaga harta karun tersembunyi, atau mungkin ia adalah penjaga dari sebuah kebenaran yang tak boleh terungkap. Keheningannya lebih menakutkan daripada seribu jeritan.

Hingga kini, pertanyaan itu tetap menggantung, tanpa jawaban pasti. Papandayan menyimpan rahasianya erat, dan perempuan berkebaya itu adalah kuncinya. Sebuah misteri yang abadi, memanggil untuk dipecahkan.

Sosok Perempuan Berkebaya di Gunung Papandayan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *