Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Barat

Kenapa Warga Selalu Menghindari Jembatan Ini Saat Malam?

10
×

Kenapa Warga Selalu Menghindari Jembatan Ini Saat Malam?

Share this article

Kenapa Warga Selalu Menghindari Jembatan Ini Saat Malam?

Jembatan Batu Angker: Kisah Penjaga Alam Gaib di Lembah Sunyi

Jauh di pedalaman hutan, tersembunyi sebuah jembatan batu kuno. Dikenal sebagai Jembatan Batu Angker, ia membentang gagah namun menyimpan aura mencekam. Desas-desus tentang penjaga tak kasat mata selalu menyelimuti strukturnya yang lapuk. Setiap napas yang dihembuskan di dekatnya seolah diawasi oleh ribuan mata tak terlihat.

Sebagai jurnalis yang terobsesi dengan kisah-kisah takhayul, saya merasa terpanggil. Berita tentang hilangnya beberapa pendaki dan penduduk lokal di sekitar jembatan itu semakin memicu rasa penasaran. Banyak yang berbisik, mereka telah melanggar batas yang dijaga oleh entitas tak kasat mata.

Perjalanan menuju Desa Bayangan, desa terdekat dari jembatan, sungguh menguras tenaga. Jalan setapak yang sempit dan licin, diapit rimbunnya pohon-pohon tua, seakan enggan mengizinkan saya melangkah lebih jauh. Kabut tipis menyelimuti lembah, menambah misteri.

Setibanya di Desa Bayangan, saya disambut tatapan curiga bercampur ketakutan. Wajah-wajah penduduk desa pucat pasi, seperti menyimpan rahasia kelam. Mereka menghindari pertanyaan tentang Jembatan Batu Angker, seolah nama itu sendiri bisa memanggil bahaya.

“Jangan ke sana, Nak,” bisik seorang nenek tua dengan suara bergetar. “Jembatan itu bukan milik manusia. Ada yang menjaganya.” Kata-katanya menggantung di udara, diiringi hembusan angin dingin yang menusuk tulang.

Malam pertama di desa, saya menghabiskan waktu dengan mencoba menggali informasi. Pak Rahman, tetua desa yang dikenal bijaksana, akhirnya bersedia berbicara, namun dengan suara pelan dan mata yang tak lepas dari jendela. Ia menceritakan kisah-kisah seram yang telah turun-temurun.

“Jembatan itu dibangun ratusan tahun lalu, di atas aliran sungai yang dulu diyakini sebagai gerbang ke alam lain,” ujarnya. “Para leluhur kami membuat perjanjian dengan penjaga gerbang itu. Sebuah perjanjian darah, agar desa kami terlindungi dari malapetaka.”

Namun, ia melanjutkan, perjanjian itu kini telah rapuh. “Beberapa orang mencoba melintasi jembatan di malam hari, atau mengambil sesuatu dari sana,” katanya. “Mereka tidak pernah kembali, atau kembali dengan jiwa yang kosong, penuh ketakutan yang tak terucap.”

Rasa penasaran saya semakin membuncah, mengalahkan ketakutan yang mulai merayapi. Esok paginya, dengan berbekal kamera dan alat perekam, saya memutuskan untuk mendekati Jembatan Batu Angker. Kabut masih enggan menyingkir, membuat suasana semakin muram.

Siluet Jembatan Batu Angker mulai terlihat. Struktur batunya yang kokoh namun usang, ditumbuhi lumut dan akar pohon, memancarkan aura kuno yang menekan. Tidak ada suara burung, tidak ada riak air sungai di bawahnya; hanya keheningan yang memekakkan.

Saat melangkah ke atas jembatan, hawa dingin menusuk kulit, jauh lebih menusuk dari suhu pagi. Bulu kuduk saya merinding. Saya bisa merasakan sesuatu yang tak terlihat sedang mengawasi, setiap gerakan saya terasa berat, seperti terhimpit beban tak kasat mata.

Tiba-tiba, dari arah pilar jembatan, terdengar suara desisan halus. Bukan suara binatang, melainkan seperti bisikan-bisikan yang tak jelas maknanya. Suara itu berputar-putar di sekitar saya, seolah ingin merasuk ke dalam pikiran, memancing kegilaan.

Saya menguatkan diri, mencoba merekam suara-suara itu. Namun, setiap kali mikrofon saya arahkan, suara itu meredup, hanya menyisakan keheningan yang lebih dalam. Seolah ada kecerdasan di baliknya, yang tak ingin keberadaannya terekam.

Saya melihat ke bawah jembatan, ke arah sungai yang kering dan berbatu. Di sana, di antara celah-celah batu, saya melihat bayangan bergerak. Bukan bayangan awan atau pohon, melainkan bentuk-bentuk aneh yang meliuk-liuk, seperti asap hitam yang hidup.

Ketakutan mulai merayapi, namun obsesi saya untuk mengungkap kebenaran lebih kuat. Saya mencoba memotret, namun lensa kamera saya tiba-tiba berembun, seolah ada napas dingin yang menghembusnya langsung. Setiap foto yang saya ambil, hasilnya buram dan gelap.

Malam itu, kembali di penginapan, saya tidak bisa tidur. Suara desisan dari jembatan seolah masih terngiang di telinga. Mimpi buruk menghantui, menampilkan wajah-wajah pucat yang melayang-layang di antara pilar jembatan, mata mereka kosong dan penuh duka.

Dalam mimpi itu, saya melihat kilasan masa lalu: sebuah upacara kuno yang mengerikan, darah menetes di atas batu jembatan, dan siluet-siluet bayangan yang muncul dari kedalaman. Mereka tampak seperti penjaga, namun juga korban, terikat pada tempat itu.

Keesokan harinya, saya kembali ke jembatan, kali ini dengan persiapan lebih matang dan tekad bulat. Saya membawa alat-alat pendeteksi medan elektromagnetik dan perekam suara yang lebih canggih. Saya harus tahu apa yang sebenarnya terjadi di sana.

Saat mendekati jembatan, medan elektromagnetik melonjak tajam. Alat pendeteksi saya berbunyi nyaring, jarumnya bergetar liar. Udara terasa semakin berat, dan suhu turun drastis, hingga napas saya terlihat jelas di udara.

Kemudian, saya mendengar suara. Bukan bisikan lagi, tapi lolongan panjang yang menyayat hati, seolah datang dari ribuan jiwa yang tersiksa. Suara itu membuat tanah bergetar, dan daun-daun di pohon berjatuhan seperti hujan.

Dari balik pilar jembatan, muncul bayangan hitam pekat. Bentuknya tidak jelas, seperti gumpalan kegelapan yang bergerak, namun saya bisa merasakan kehadiran yang sangat kuat dan jahat. Jantung saya berdegup kencang, memukul-mukul rusuk.

Bayangan itu mulai mendekat, perlahan namun pasti. Saya bisa merasakan hawa dingin yang luar biasa, seolah es mencengkeram paru-paru saya. Tubuh saya kaku, tidak bisa bergerak, terperangkap dalam ketakutan yang mencekam.

Saya melihat mata. Sepasang mata merah menyala di tengah gumpalan kegelapan itu, menatap saya dengan kebencian yang mendalam. Mereka bukan mata manusia, melainkan mata makhluk purba yang telah lama terikat pada tempat itu.

Dalam kepanikan, saya berhasil mengangkat kamera dan memotret. Kilatan flash menerangi jembatan sesaat, dan pada sepersekian detik itu, saya melihatnya dengan jelas: Bukan satu, melainkan beberapa sosok mengerikan.

Ada sesosok wanita dengan rambut panjang yang menutupi wajah, melayang di udara. Di sampingnya, sesosok pria bertubuh besar dan gelap, dengan mata merah yang sama. Dan di bawah, beberapa sosok seperti bayangan yang merangkak.

Mereka bukan hantu biasa. Mereka adalah penjaga, terikat oleh perjanjian kuno, terperangkap antara dua alam. Mata mereka mengunci saya, dan saya tahu, saya telah melanggar batas yang tak seharusnya dilewati manusia.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar di belakang saya. Bukan langkah manusia. Itu adalah langkah berat, menyeret, seperti kain kafan yang basah. Saya menoleh, dan melihat sesosok pocong melompat-lompat mendekat, matanya kosong.

Saya berteriak. Jeritan itu seolah memecah keheningan yang mencekam. Ketakutan yang sebelumnya hanya merayapi, kini menguasai seluruh diri saya. Saya tahu, saya harus lari, atau saya akan menjadi bagian dari kisah kelam jembatan ini.

Dengan sisa tenaga, saya berbalik dan berlari sekuat tenaga. Suara lolongan dan desisan mengikuti saya. Saya bisa merasakan napas dingin di tengkuk, seolah ada yang mengejar, sangat dekat di belakang saya.

Saya berlari tanpa menoleh, menembus kabut dan pepohonan, kaki saya terantuk akar-akar pohon. Pikiran saya hanya satu: menjauh dari Jembatan Batu Angker, menjauh dari mata-mata merah yang menghantui.

Saya tidak tahu berapa lama saya berlari, hingga akhirnya saya terjatuh, terengah-engah, di batas desa. Penduduk desa yang melihat saya terkejut, mereka langsung membantu. Wajah saya pasti pucat pasi, penuh keringat dingin.

Pak Rahman menghampiri saya, matanya penuh kekhawatiran. “Kau melihat mereka, Nak?” bisiknya. Saya hanya bisa mengangguk, terlalu gemetar untuk berbicara, bayangan mata merah masih terbayang di benak.

Saya menghabiskan beberapa hari di desa, pulih dari trauma. Saya tidak bisa lagi menulis artikel tentang jembatan itu. Apa yang saya alami di sana terlalu nyata, terlalu mengerikan untuk ditulis dalam kata-kata biasa.

Saya meninggalkan Desa Bayangan dengan membawa lebih dari sekadar cerita. Saya membawa beban, sebuah pemahaman mengerikan tentang alam gaib yang tak terjamah. Jembatan Batu Angker tetap berdiri, kokoh namun menyimpan rahasia kelam.

Hingga kini, Jembatan Batu Angker masih di sana, di tengah hutan yang sunyi. Para penjaga tak kasat mata masih mengawasi, menunggu siapa pun yang berani melanggar perjanjian kuno. Dan saya tahu, beberapa misteri lebih baik tetap menjadi misteri, tersembunyi dalam kegelapan.

Jembatan Tua yang Dijaga Makhluk Gaib

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *