Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Barat

Sang Tumbal Penjaga Itu Masih Menanti di Kalimaya Garut…

11
×

Sang Tumbal Penjaga Itu Masih Menanti di Kalimaya Garut…

Share this article

Sang Tumbal Penjaga Itu Masih Menanti di Kalimaya Garut…

Purnama Kalimaya: Sang Tumbal Penjaga Garut

Garut, sebuah permata di jantung Jawa Barat, selalu memancarkan pesona yang memikat. Lembah hijau yang subur, gunung-gunung menjulang, dan danau-danau berkilauan seolah menjadi kanvas lukisan abadi. Namun, di balik keindahan yang memesona itu, tersimpan sebuah rahasia kelam, sebuah ritual tahunan yang telah mengikat jiwa-jiwa penduduknya selama berabad-abad.

Setiap tahun, tepat pada puncak bulan purnama yang paling terang di bulan kesepuluh kalender Sunda, Garut diselimuti ketegangan yang nyata. Bukan karena perayaan, melainkan karena “Purnama Kalimaya,” sebuah ritual kuno yang menuntut lebih dari sekadar persembahan biasa. Ia menuntut sesuatu yang tak terkatakan, demi keseimbangan alam dan perlindungan dari ancaman yang tak kasat mata.

Aku adalah Aris, seorang peneliti urban legend yang terobsesi dengan kisah-kisah tak masuk akal. Bisikan tentang Purnama Kalimaya sampai ke telingaku, mengusik rasa penasaranku hingga tak tertahankan. Konon, roh-roh penjaga alam Garut, yang disebut Karuhun Jagat, membutuhkan “energi” tertentu untuk tetap menjaga tanah ini dari kemurkaan yang mengerikan.

Kedatanganku disambut senyum ramah penduduk, namun ada sesuatu yang janggal di mata mereka. Sebuah kilatan ketakutan yang tersimpan rapat, seperti bara api di balik abu. Setiap kali aku mencoba mengorek informasi tentang ritual itu, percakapan mereka terhenti tiba-tiba, digantikan keheningan yang mencekam.

“Jangan terlalu ingin tahu, Nak,” ujar seorang kakek tua dengan suara bergetar, matanya menerawang jauh. “Ada hal-hal yang lebih baik tetap menjadi misteri. Demi kebaikanmu sendiri.” Kata-katanya bukan ancaman, melainkan peringatan yang tulus, menambah bobot kengerian yang sudah kurasakan.

Aku belajar bahwa ritual ini dipimpin oleh seorang sesepuh yang dikenal sebagai Sang Juru Kunci, keturunan langsung dari penjaga tradisi kuno. Ia adalah satu-satunya yang diizinkan berinteraksi langsung dengan Karuhun Jagat, mediator antara dunia manusia dan dunia gaib. Tanggung jawabnya terasa begitu berat, memanggul takdir seluruh Garut di pundaknya.

Mendekati hari H, suasana di Garut berubah drastis. Pasar-pasar menjadi sepi, rumah-rumah tertutup rapat, dan tawa anak-anak pun lenyap. Kabut tebal mulai menyelimuti pegunungan, bukan lagi kabut biasa, melainkan kabut yang terasa dingin dan menusuk hingga ke tulang, seolah membawa pesan dari alam lain.

Ada cerita-cerita yang beredar, bisikan-bisikan samar tentang “tumbal” yang harus diberikan. Bukan hewan, bukan harta benda, melainkan sesuatu yang jauh lebih berharga. Jantungku berdebar kencang setiap kali mendengar kata itu, berusaha merangkai kepingan teka-teki yang sengaja disembunyikan.

Beberapa hari sebelum Purnama Kalimaya, seorang gadis muda bernama Sari menghilang dari desanya. Ia dikenal sebagai gadis tercantik dengan hati paling tulus di seluruh Garut. Tidak ada jejak, tidak ada keributan. Seolah ia lenyap ditelan bumi, tanpa perlawanan.

Keluarganya tidak menangis histeris, tidak pula mencari-cari dengan panik. Hanya tatapan kosong, pasrah, dan kesedihan yang tak terlukiskan. Mereka tahu, dan aku mulai curiga, bahwa Sari bukanlah korban penculikan biasa. Ia adalah bagian dari ritual itu.

Malam Purnama Kalimaya tiba. Bulan bersinar bulat sempurna, memancarkan cahaya perak yang dingin ke seluruh Garut. Aku memutuskan untuk memberanikan diri, menyusup ke lokasi ritual yang dirahasiakan, sebuah gua kuno di lereng Gunung Cikuray yang diyakini sebagai gerbang menuju dimensi Karuhun Jagat.

Udara di sekitar gua terasa berat, dipenuhi energi yang asing dan mencekam. Aroma kemenyan bercampur dengan bau tanah basah dan sesuatu yang lebih primitif, lebih purba. Suara gamelan sayup-sayup terdengar, mengalunkan melodi kuno yang mendayu, seolah memanggil entitas tak kasat mata.

Aku bersembunyi di balik rerimbunan semak berduri, merasakan dinginnya tanah meresap ke tulang. Jantungku berdebar kencang, suaranya seperti genderang perang di telingaku. Cahaya obor yang menari di kejauhan adalah satu-satunya petunjukku, menarikku lebih dalam ke jantung kegelapan.

Dari kejauhan, aku melihat iring-iringan penduduk desa, mengenakan pakaian tradisional serba putih, berjalan dalam keheningan absolut. Di tengah barisan, diusung sebuah tandu kayu berukir, di atasnya terbaring sesosok tubuh yang diselimuti kain putih bersih. Sari.

Mataku terpaku. Sari tampak damai, seolah tertidur pulas, namun ada aura aneh yang menyelimutinya. Wajahnya pucat pasi, bibirnya sedikit terbuka, dan rambutnya terurai indah di atas bantal beludru. Ia tampak seperti patung lilin yang sempurna, tak bernyawa namun memancarkan keindahan yang mengerikan.

Sang Juru Kunci, seorang lelaki tua dengan rambut perak dan mata tajam yang memancarkan kebijaksanaan sekaligus kesedihan, memimpin prosesi itu. Ia berdiri di depan sebuah altar batu yang dipahat kasar, dihiasi ukiran simbol-simbol kuno yang tak kukenal.

Di sekeliling altar, para tetua desa duduk bersila, melantunkan mantra-mantra dalam bahasa Sunda kuno yang tak kumengerti. Suara mereka bergema di dalam gua, menciptakan harmoni yang magis namun juga penuh ancaman, seolah mengundang sesuatu dari kedalaman bumi.

Tandu Sari diletakkan di tengah altar. Sang Juru Kunci mengangkat kedua tangannya, menghadap ke langit-langit gua yang gelap. Sebuah cahaya kebiruan samar mulai memancar dari puncak gua, menyorot langsung ke tubuh Sari. Cahaya itu berdenyut, seolah bernapas.

Kemudian, yang terjadi selanjutnya adalah sesuatu yang tak pernah bisa kulupakan. Cahaya biru itu semakin terang, semakin pekat, dan mulai meresap ke dalam tubuh Sari. Perlahan, seperti air yang diserap spon, cahaya itu menghilang ke dalam dirinya.

Tubuh Sari sedikit bergetar, kejang sesaat, lalu kembali tenang. Namun, ketika cahaya itu benar-benar lenyap, ada perubahan yang kentara. Wajah Sari, yang sebelumnya pucat, kini memancarkan aura yang aneh, seolah ada sesuatu yang baru mendiami dirinya. Matanya terbuka, menatap kosong ke atas, namun tanpa jiwa.

Tidak ada darah, tidak ada jeritan. Hanya keheningan yang memekakkan telinga. Para penduduk desa menghela napas lega, namun ada air mata yang mengalir di pipi mereka. Mereka telah melakukan tugas mereka, membayar harga yang harus dibayar.

Sang Juru Kunci menoleh, matanya menyapu kegelapan, seolah tahu aku ada di sana. Senyum tipis terukir di bibirnya, senyum yang dingin dan penuh rahasia. Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya mengangguk pelan, seolah memberiku izin untuk pergi.

Aku melarikan diri dari gua itu, napasku terengah-engah, jantungku berdegup kencang seolah ingin keluar dari rongga dada. Aku tidak mengerti sepenuhnya apa yang kulihat, namun kengeriannya meresap hingga ke tulang. Sari tidak mati, namun jiwanya telah lenyap, digantikan oleh entitas lain.

Ketika aku kembali ke Garut keesokan harinya, semuanya terasa normal kembali. Matahari bersinar cerah, pasar kembali ramai, dan tawa anak-anak terdengar lagi. Namun, aku tahu kebenaran di balik kedamaian itu. Sari, sang tumbal, kini menjadi “wadah” bagi Karuhun Jagat.

Ia terlihat berkeliaran di desa, wajahnya tenang namun matanya hampa, tak mengenali siapa pun. Ia menjadi penjaga diam, simbol dari harga yang harus dibayar demi keseimbangan. Penduduk menghormatinya, namun juga menghindarinya, takut pada tatapan kosongnya.

Aku meninggalkan Garut dengan pertanyaan yang tak terjawab. Apa sebenarnya Karuhun Jagat itu? Apakah mereka roh pelindung atau entitas kuno yang haus energi? Dan sampai kapan ritual Purnama Kalimaya ini akan terus menelan jiwa-jiwa tak bersalah?

Misteri itu tetap menggantung di udara, sepekat kabut pagi di lereng Cikuray. Aku tahu satu hal pasti: keindahan Garut tidaklah gratis. Ia dibayar dengan harga yang mahal, dengan jiwa-jiwa yang dikorbankan setiap tahunnya. Dan mungkin, suatu hari nanti, giliranmu yang akan tertarik pada pesonanya, dan menemukan dirimu terperangkap dalam siklus abadi Purnama Kalimaya.

Purnama Kalimaya: Sang Tumbal Penjaga Garut

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *