Scroll untuk baca artikel
Kabupaten Bandung

Jangan Menginap di Villa Tua Ini Kalau Tak Siap Mendengar Bisikan

10
×

Jangan Menginap di Villa Tua Ini Kalau Tak Siap Mendengar Bisikan

Share this article

Jangan Menginap di Villa Tua Ini Kalau Tak Siap Mendengar Bisikan

Bisikan Abadi di Villa Tua Lembang

Udara Lembang selalu membawa selimut dingin. Kabut sering berarak turun, menyelimuti puncak pinus dan rumah-rumah tua. Di sanalah, tersembunyi di balik rerimbunan pepohonan, berdiri Villa Seruni.

Bukan villa biasa. Villa Seruni adalah peninggalan era kolonial, arsitektur megah yang kini termakan usia. Dindingnya ditumbuhi lumut, jendelanya buram, dan atapnya seolah menyimpan ribuan rahasia.

Arjun, seorang penulis novel misteri, menyewanya untuk mencari inspirasi. Ia mencari kesunyian, jauh dari hiruk-pikuk kota, berharap menemukan ide-ide baru di antara dinding-dinding bisu.

Pak Raden, penjaga villa yang sudah tua, menyambutnya dengan tatapan sendu. “Hati-hati, Den. Villa ini punya penghuni lain,” bisiknya serak, sebelum menghilang di balik gerbang.

Arjun tersenyum geli. Kisah hantu adalah bumbu wajib villa tua, pikirnya. Ia masuk, koper di tangan, dan langsung merasakan kelembaban serta aroma debu bercampur kayu lapuk.

Malam pertama berlalu tanpa insiden. Hanya suara jangkrik dan embusan angin dingin yang menemaninya. Ia merasa nyaman, bahkan sedikit terlalu nyaman untuk sebuah villa berhantu.

Namun, di malam kedua, saat hujan rintik membasahi jendela, sebuah suara muncul. Samar, nyaris tak terdengar, seperti desisan angin yang menembus celah-celah dinding.

Arjun menghentikan ketikannya. Ia menajamkan pendengaran. Suara itu berulang, lebih jelas kali ini. Bukan angin, melainkan serangkaian bisikan, seperti orang berbisik di ruangan sebelah.

Ia bangkit, berjalan ke arah suara. Ruang tamu gelap, disinari rembulan temaram. Tidak ada siapa-siapa. Ia menyalakan lampu, memeriksa setiap sudut. Nihil.

“Mungkin hanya ilusi pendengaran,” gumamnya, kembali ke meja. Tapi bisikan itu kembali, lebih dekat, seolah tepat di belakang telinganya. Dingin merayap di punggung Arjun.

Kali ini, bisikan itu terasa seperti tawa. Tawa anak kecil, renyah namun sangat aneh, seolah bergema dari lorong waktu. Jantung Arjun berdebar kencang.

Ia menyalakan semua lampu di lantai bawah. Berjalan dari satu ruangan ke ruangan lain, memeriksa lemari, kolong meja. Tak ada jejak apapun yang bisa menjelaskan suara itu.

Malam itu, Arjun tidur dengan lampu menyala. Bisikan itu masih terdengar samar, kadang seperti nyanyian lirih, kadang seperti tangisan tertahan. Ia mulai merasa gelisah.

Keesokan paginya, Arjun mencoba bersikap rasional. Ia memeriksa ventilasi, retakan dinding, bahkan pipa air. Ia mencari penjelasan ilmiah, namun tak menemukan apapun.

Ia memutuskan untuk menjelajahi villa lebih dalam. Ada sebuah pintu kecil di balik rak buku tua, nyaris tak terlihat. Penasaran, Arjun mendorongnya perlahan.

Sebuah tangga sempit, gelap, dan berdebu menuruni ke lantai bawah tanah. Udara di sana jauh lebih dingin, menusuk hingga ke tulang. Aroma apak dan lembab sangat pekat.

Arjun menyalakan senter ponselnya. Ruangan bawah tanah itu luas, penuh dengan perabot tua yang ditutupi kain putih. Seperti museum yang ditinggalkan.

Di sudut ruangan, ada sebuah kursi goyang tua yang bergerak perlahan. Tidak ada angin di sana. Jantung Arjun berpacu. Bisikan itu kini terdengar lebih jelas.

“Jangan pergi… jangan pergi…”

Suara itu terdengar seperti suara wanita, sangat sedih, penuh keputusasaan. Kali ini, kata-katanya jelas. Arjun merasakan bulu kuduknya meremang.

Ia mundur perlahan, naik kembali ke atas. Pikiran rasionalnya mulai runtuh. Apa yang sebenarnya terjadi di villa ini? Ia harus mencari tahu sejarahnya.

Arjun mengunjungi perpustakaan kota. Ia mencari arsip lama tentang Villa Seruni. Ternyata, villa itu dulunya milik keluarga bangsawan Belanda bernama Van der Velde.

Sebuah artikel koran tua tahun 1940-an menarik perhatiannya. Sebuah tragedi. Putri bungsu keluarga Van der Velde, Elara, menghilang tanpa jejak di villa itu.

Elara, seorang gadis kecil berusia tujuh tahun, bermain petak umpet di villa. Ia tidak pernah ditemukan. Polisi menyimpulkan ia diculik, tetapi tidak ada bukti kuat.

Keluarga Van der Velde pindah tak lama setelah kejadian itu. Villa Seruni dibiarkan kosong selama bertahun-tahun, sebelum akhirnya dijual dan berpindah tangan beberapa kali.

Arjun kembali ke villa dengan perasaan campur aduk. Bisikan-bisikan itu kini memiliki konteks. Apakah itu arwah Elara? Atau ibunya yang berduka?

Malam itu, bisikan itu tak henti-henti. Kadang seperti panggilan nama, kadang seperti isak tangis. “Elara… Elara…” sebuah suara wanita memanggil.

Lalu, suara anak kecil menjawab. “Mama… aku di sini…”

Arjun terpaku. Bisikan itu datang dari arah ruang kerja yang ia gunakan. Ia memberanikan diri, melangkah mendekat, dan menyalakan lampu.

Tidak ada siapa-siapa. Namun, kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Sebuah boneka porselen tua tergeletak di tengah ruangan, yang sebelumnya tidak ada.

Boneka itu berwajah cantik, dengan gaun renda usang dan mata biru kosong. Aura dingin memancar darinya. Arjun tahu, ini bukan boneka biasa.

Ia memungut boneka itu. Tiba-tiba, bisikan itu semakin kencang, nyaris menjadi erangan. “Dia bersamamu… jangan lepaskan…”

Arjun merasakan tekanan di udara, seolah ada sesuatu yang tak kasat mata di sekelilingnya. Ia meletakkan boneka itu kembali di meja.

Ia mulai memeriksa ruangan dengan cermat. Dinding, lantai, langit-langit. Bisikan itu seolah membimbingnya, berputar-putar di sekelilingnya.

Bisikan anak kecil itu sekarang terdengar jelas: “Di balik… di balik…”

Arjun melihat ke rak buku tua yang pernah ia dorong. Ia teringat pintu rahasia menuju ruang bawah tanah. Apakah ada lagi?

Ia memeriksa bagian belakang rak buku itu. Ada panel kayu yang sedikit longgar. Dengan susah payah, ia membukanya.

Di baliknya, ada sebuah lorong sempit, gelap gulita, yang mengarah ke bawah tanah. Bukan yang sama dengan yang ia temukan sebelumnya.

Arjun mengambil senter dan memberanikan diri masuk. Lorong itu sangat sempit, ia harus merangkak. Udara semakin dingin, dan bau apak semakin menyengat.

Bisikan itu kini terdengar seperti dua suara yang tumpang tindih. Satu suara wanita, putus asa. Satu suara anak kecil, ketakutan.

Lorong itu berakhir di sebuah ruangan kecil yang tersembunyi. Ruangan itu sangat sempit, hanya cukup untuk satu orang dewasa berbaring.

Di tengah ruangan, ada sebuah kotak kayu tua yang tertutup rapat. Di atasnya, terukir inisial “E.V.”

Arjun gemetar saat membuka kotak itu. Di dalamnya, ia menemukan sebuah gaun anak kecil yang sudah usang, beberapa helai rambut pirang, dan sebuah foto.

Foto itu menunjukkan seorang gadis kecil tersenyum, persis seperti boneka porselen itu. Elara. Di belakangnya, ada tulisan tangan: “Elara, putriku tercinta.”

Sebuah fakta mengerikan menghantamnya. Elara tidak diculik. Ia terkunci di ruangan rahasia ini, mungkin saat bermain petak umpet. Ia tidak pernah ditemukan hidup-hidup.

Bisikan-bisikan itu kini bukan lagi tawa atau tangisan. Mereka adalah jeritan putus asa. “Gelap… dingin… Mama…!”

Arjun segera menutup kotak itu. Ia merangkak keluar dari lorong itu, tubuhnya menggigil bukan karena dingin, melainkan karena kengerian.

Bisikan itu masih ada, tetapi kini terdengar berbeda. Bukan lagi bisikan misterius, melainkan suara duka yang mendalam. Mereka adalah bisikan penyesalan dan keputusasaan.

Arjun tidak bisa tinggal lebih lama di Villa Seruni. Misteri telah terungkap, namun ketenangan yang ia cari telah berganti dengan ketakutan yang mendalam.

Ia meninggalkan Villa Seruni pada pagi hari berikutnya, tanpa menoleh ke belakang. Pak Raden hanya mengangguk, seolah sudah tahu apa yang terjadi.

Bisikan di Villa Seruni mungkin akan tetap ada, abadi, terperangkap di antara dinding-dinding usang. Sebuah kisah duka yang tak akan pernah usai.

Dan Arjun, ia membawa pulang bukan hanya inspirasi untuk novel barunya, tetapi juga bisikan-bisikan itu. Bisikan abadi dari Villa Tua Lembang yang tak akan pernah hilang dari ingatannya.

Suara Bisikan di Villa Tua Lembang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *