Kisah di Balik Kabut Kawah Putih: Jejak Langkah yang Hilang
Udara dingin menusuk tulang saat Adnan dan Rina tiba di Kawah Putih. Langit kelabu menyelimuti puncak gunung, menambah nuansa misterius pada danau belerang berwarna pualam. Adnan, seorang fotografer lanskap, bersemangat menangkap keindahan surealis ini, sementara Rina hanya ingin menikmati ketenangan.
Kawah Putih, dengan pepohonan mati yang menjulang di tengah kabut, tampak seperti lukisan surealis. Namun, di balik keindahannya, tersimpan cerita-cerita tak kasat mata. Penduduk lokal sering berbisik tentang roh penunggu, tentang jejak yang tiba-tiba lenyap, dan suara-suara aneh di tengah keheningan.
Adnan, yang cenderung skeptis, hanya tersenyum mendengar cerita itu. Dia justru tertarik pada komposisi visualnya. Rina, di sisi lain, merasa ada aura aneh yang menyelimuti tempat itu, desiran angin seolah membawa bisikan tak kasat mata di telinganya.
“Aku akan mencoba mengambil gambar dari sisi sana,” kata Adnan, menunjuk area yang sedikit terpencil. “Pohon-pohon di sana terlihat sangat dramatis.” Rina mengangguk, sibuk dengan ponselnya. “Hati-hati, ya. Jangan terlalu jauh,” pesannya, samar-samar.
Adnan melangkah menjauhi keramaian, menembus kabut tipis yang mulai menebal. Bau belerang semakin pekat, menusuk hidung. Langkah kakinya terasa berat, seolah ada sesuatu yang menahannya. Pepohonan mati tampak semakin menyeramkan dari dekat, seperti siluet raksasa yang mengawasi.
Tiba-tiba, ia merasakan hawa dingin yang luar biasa, jauh lebih menusuk dari sebelumnya. Kabut di sekitarnya seolah bergerak sendiri, membentuk bayangan-bayangan samar. Adnan mencoba mengabaikannya, menganggap itu hanya efek optik.
Ia menemukan sebuah celah di antara pepohonan, mengarah ke area yang belum pernah dilihatnya. Tanah di sana lebih gelap, dan kabut jauh lebih tebal, menyembunyikan apa pun di baliknya. Rasa penasaran mengalahkan keraguannya.
Adnan melangkah masuk, meninggalkan jejak sepatu di tanah basah. Begitu ia melewati celah itu, suara-suara di sekitarnya lenyap seketika. Hening, benar-benar hening, seolah dunia luar tidak ada lagi. Hanya detak jantungnya yang berdebar kencang.
Di tengah keheningan itu, ia mulai mendengar bisikan. Bukan suara angin, melainkan suara-suara lirih yang tak jelas, seperti gumaman dari kedalaman bumi. Mereka terdengar sangat dekat, seolah ada yang berdiri di sampingnya, berbicara dalam bahasa kuno.
Kabut di depannya mulai menipis, memperlihatkan sesuatu yang aneh. Sebuah pohon mati raksasa, jauh lebih besar dari yang lain, berdiri tegak di tengah area lapang. Batangnya berwarna putih pucat, hampir transparan, dan di sekelilingnya, tumbuh bunga-bunga aneh.
Bunga-bunga itu berwarna hitam pekat, kontras dengan tanah putih di sekitarnya. Mereka memancarkan cahaya redup, seolah berdenyut. Adnan merasa merinding, tetapi tangannya secara otomatis mengangkat kamera, ingin mengabadikan fenomena aneh ini.
Saat ia membidik, kabut di balik pohon raksasa itu mulai bergolak. Perlahan, sesosok bayangan mulai terbentuk. Samar pada awalnya, namun semakin jelas, mengambil bentuk menyerupai manusia, tetapi lebih tinggi dan kurus.
Sosok itu memiliki kulit seputih kawah, dengan rambut panjang tergerai yang tampak menyatu dengan kabut. Matanya, jika itu memang mata, bersinar merah redup, menatap lurus ke arah Adnan. Ketakutan merayap, mencengkeram jantungnya.
Adnan mencoba berteriak, namun suaranya tercekat di tenggorokan. Kakinya seolah terpaku di tanah. Sosok itu mulai bergerak, perlahan, melayang di atas tanah, mendekatinya tanpa suara. Setiap gerakan terasa memakan waktu lama, memperpanjang kengerian.
Dalam kepanikan, Adnan menjatuhkan kameranya. Suara bantingan itu memecah keheningan, dan entah bagaimana, itu memberinya dorongan untuk bergerak. Ia berbalik dan berlari, secepat yang ia bisa, tanpa melihat ke belakang.
Suara bisikan di telinganya berubah menjadi desisan tajam, seolah sosok itu mengejarnya. Ia merasakan hawa dingin yang menusuk di punggungnya, seperti sentuhan jari-jari yang panjang dan dingin. Kabut di sekelilingnya berputar-putar, mencoba menjebaknya.
Ia tersandung akar pohon, jatuh tersungkur. Saat ia mencoba bangkit, sebuah bayangan pucat melintas di sampingnya. Adnan menoleh, dan melihat sosok itu berdiri tak jauh di belakangnya, menatapnya dengan mata merah menyala.
Wajahnya pucat pasi, tanpa ekspresi, namun memancarkan kengerian yang tak terlukiskan. Adnan melihat detail mengerikan: jari-jari panjang yang ramping, kuku-kuku hitam yang tajam, dan senyuman tipis yang hampir tak terlihat, namun penuh ancaman.
Adnan berteriak sekuat tenaga, kali ini suaranya keluar, memecah keheningan. Ia merangkak bangkit dan berlari lagi, menuju celah tempat ia masuk tadi. Ia harus keluar dari tempat terkutuk ini.
Kabut mengejarnya, membentuk dinding-dinding bergerak yang mencoba menghalangi jalannya. Adnan merasakan napasnya tersengal, paru-parunya seperti terbakar. Ia terus berlari, didorong oleh insting bertahan hidup.
Akhirnya, ia melihat cahaya redup di kejauhan, pertanda ia hampir keluar. Dengan sisa tenaga terakhir, ia menerobos kabut tebal, dan tiba-tiba, ia kembali ke area yang lebih ramai, di mana suara-suara pengunjung lain mulai terdengar.
Ia terhuyung-huyung, terengah-engah, dan hampir menabrak Rina yang sedang menunggunya. “Adnan! Astaga, kamu kenapa?” Rina panik melihat wajahnya yang pucat pasi dan tubuhnya yang gemetar hebat.
Adnan tidak bisa menjawab. Tenggorokannya terasa tercekat, dan ia merasa pusing luar biasa. Ia hanya menunjuk ke arah celah yang baru saja ia lalui, matanya dipenuhi ketakutan. Rina melihat ke arah yang ditunjuk, namun hanya ada kabut tebal yang biasa.
Rina memapah Adnan kembali ke mobil. Sepanjang perjalanan pulang, Adnan hanya diam, tatapannya kosong. Ia demam tinggi malam itu, mengigau tentang kabut putih dan mata merah yang mengawasinya.
Beberapa hari setelah kejadian itu, Adnan masih dihantui. Ia sering terbangun di tengah malam dengan keringat dingin, merasa ada yang mengawasinya dari sudut ruangan. Foto-foto yang ia ambil di Kawah Putih tidak pernah ia sentuh lagi.
Kamera yang ia jatuhkan di kawah, tidak pernah ditemukan. Rina kembali mencarinya keesokan harinya, namun area yang dijelaskan Adnan seolah lenyap, tertutup kabut abadi. Jejak kaki Adnan di sana juga tidak ada.
Kawah Putih tetap menjadi misteri yang menghantui Adnan. Ia tidak pernah kembali ke sana, dan setiap kali ia melihat kabut atau mendengar bisikan angin, ia merasakan hawa dingin yang sama. Kisah itu menjadi rahasia kelam yang selamanya terukir dalam ingatannya.
Danau belerang yang indah itu kini baginya adalah pintu gerbang. Gerbang ke dunia lain yang tersembunyi di balik kabut. Gerbang yang ia buka sesaat, dan nyaris tidak bisa ia tutup kembali. Di Kawah Putih, keindahan dan kengerian berpadu menjadi satu, menunggu pengunjung berikutnya yang berani melangkah terlalu jauh.





