Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Barat

Jangan Pernah Sendirian di Goa Kalisuci… Mereka Masih Menunggu

10
×

Jangan Pernah Sendirian di Goa Kalisuci… Mereka Masih Menunggu

Share this article

Jangan Pernah Sendirian di Goa Kalisuci… Mereka Masih Menunggu

Goa Kalisuci. Namanya mengalirkan kesejukan, janji akan keindahan alam yang memukau. Terletak jauh di pedalaman, tersembunyi di antara rimbunnya hutan. Goa ini dikenal dengan sungai bawah tanahnya yang jernih.

Namun, di balik keindahan itu, tersimpan kisah yang membeku. Bisikan-bisikan dingin yang dibawa angin. Cerita-cerita tentang keberadaan tak kasat mata. Penunggu yang menolak damai.

Arya adalah seorang antropolog muda. Pikiran ilmiahnya menolak takhayul. Ia datang ke Kalisuci bukan untuk mencari hantu. Misinya adalah mengungkap peradaban kuno yang mungkin bersemayam di dalam perut bumi itu.

Timnya terdiri dari empat orang. Peneliti yang bersemangat. Mereka membawa peralatan canggih. Keyakinan mereka pada logika tak tergoyahkan. Goa Kalisuci akan menyerahkan rahasianya pada ilmu pengetahuan.

Hari pertama mereka memasuki goa. Udara dalam goa dingin, kelembaban merayapi kulit. Aroma tanah basah menusuk indra. Lampu sorot mereka membelah kegelapan. Menampakkan stalaktit dan stalagmit raksasa.

Keindahan itu memukau. Arya mencatat setiap detail. Rekan-rekannya sibuk mengambil sampel. Mereka melangkah lebih dalam. Menuju lorong-lorong sempit yang belum terpetakan.

Saat itulah gangguan pertama muncul. Kompas digital mereka mulai berputar liar. Lampu senter berkedip-kedip tak menentu. Meskipun baterai baru terisi penuh.

Rina, ahli geologi, mengernyitkan dahi. “Interferensi medan magnet?” gumamnya. Arya mengangguk setuju. Menuliskan anomali itu sebagai catatan kaki.

Mereka melanjutkan perjalanan. Lorong semakin gelap. Udara terasa lebih berat. Seperti ada sesuatu yang mengawasi mereka. Menunggu di balik setiap bayangan.

Bisikan samar mulai terdengar. Seperti desiran angin. Atau mungkin gumaman dari kedalaman goa. Arya mencoba mengabaikannya. “Hanya gema,” pikirnya.

Namun, bisikan itu semakin jelas. Tidak seperti angin. Lebih mirip suara yang terdistorsi. Berasal dari segala arah. Memeluk mereka dalam lingkar ketakutan.

Malam itu, di tenda kemah dekat mulut goa. Mereka berbagi cerita. Ada yang merasa disentuh sesuatu yang dingin. Ada yang melihat bayangan bergerak cepat. Arya tetap skeptis.

“Mungkin kelelahan,” katanya. “Atau imajinasi yang terlalu aktif.” Tapi ia tak bisa menyembunyikan getaran di suaranya. Ada sesuatu yang berbeda di Goa Kalisuci ini.

Keesokan harinya, mereka kembali masuk. Kali ini, perasaan cemas sudah membayangi. Mereka membawa peralatan lebih lengkap. Termasuk sensor gerak dan perekam suara sensitif.

Dinding goa mulai menunjukkan tanda-tanda. Ukiran-ukiran purba yang belum teridentifikasi. Simbol-simbol misterius. Arya merasakan kegembiraan seorang penemu.

Namun, kegembiraan itu tak bertahan lama. Perekam suara mereka mulai menangkap sesuatu. Desisan aneh. Seperti ular raksasa. Atau mungkin nafas dari makhluk tak berwujud.

Sensor gerak menyala tanpa henti. Menunjukkan pergerakan di sekitar mereka. Padahal tidak ada siapa pun. Hanya tim mereka di sana. Kecuali…

Tiba-tiba, lampu senter Dani mati total. Gelap pekat menyergap. Kepanikan mencengkeram. “Dani, kau baik-baik saja?” Arya berseru.

Suara Dani terdengar gemetar. “Ada yang menyentuhku, Arya! Dingin sekali!” Detik berikutnya, lampu kembali menyala. Dani pucat pasi. Ia bersumpah melihat mata merah di kegelapan.

Arya mencoba menenangkan mereka. “Mungkin hanya halusinasi,” katanya. Tapi ia tahu itu bohong. Getaran di dalam dirinya semakin kuat. Ini bukan halusinasi.

Mereka menemukan sebuah lorong sempit. Belum pernah dijelajahi sebelumnya. Udara di sana terasa sangat dingin. Bahkan lebih dingin dari bagian goa lainnya.

Di ujung lorong itu, terdapat sebuah ruangan kecil. Ada altar batu kuno di tengahnya. Ukiran di dindingnya berbeda. Lebih primitif. Lebih mengerikan.

Gambar-gambar makhluk aneh. Bukan manusia. Bukan hewan. Gabungan dari mimpi buruk. Seakan dilukis oleh tangan yang bukan berasal dari dunia ini.

Dari celah sempit di altar, terdengar suara. Seperti bisikan ribuan jiwa. Menggema dari kedalaman bumi. Mengajak mereka masuk lebih jauh.

Rina mulai terisak. “Kita harus pergi, Arya,” desaknya. “Tempat ini tidak aman.” Tapi Arya terlalu terpaku. Ia merasakan tarikan aneh. Penasaran yang membakar.

Ia mendekati altar. Mengulurkan tangan untuk menyentuhnya. Tiba-tiba, suhu di ruangan itu turun drastis. Embun beku muncul di dinding.

Sebuah bayangan hitam pekat muncul dari celah altar. Bukan bayangan biasa. Itu adalah kumpulan kegelapan. Menggeliat. Membentuk siluet raksasa.

Wujudnya tak jelas. Namun kehadirannya begitu nyata. Menekan. Menghimpit. Seakan memeras udara di sekitar mereka. Membuat sulit bernapas.

Suara desisan berubah menjadi raungan. Bukan suara dari tenggorokan. Melainkan dari ruang hampa. Dari dimensi lain. Mengguncang seluruh goa.

Arya merasakan otaknya berputar. Logikanya hancur berkeping-keping. Makhluk itu bukan hantu. Bukan jin. Ini adalah entitas purba. Penjaga batas.

Mereka berlari. Tak peduli lagi pada peralatan atau penemuan. Ketakutan murni mengambil alih. Mereka hanya ingin keluar dari sana. Dari cengkeraman kegelapan itu.

Suara langkah kaki mereka menggema. Disusul oleh suara desisan yang mengejar. Seolah makhluk itu bergerak tanpa suara. Namun kehadirannya terasa di setiap helaan napas.

Saat mereka mencapai mulut goa, cahaya matahari terasa seperti penyelamat. Mereka terhuyung keluar. Terengah-engah. Pucat pasi. Tubuh mereka gemetar tak terkendali.

Mereka tidak pernah kembali ke Goa Kalisuci. Tidak ada yang berani. Arya, sang rasionalis, kini dihantui. Ia tahu, di balik dinding-dinding batu itu. Ada sesuatu yang menanti.

Penunggu itu bukan sekadar legenda. Itu adalah realitas yang mengerikan. Sebuah entitas yang menjaga rahasia kuno. Dan ia tidak suka diganggu.

Kini, Goa Kalisuci tetap berdiri. Indah di permukaan. Namun di dalamnya, kegelapan bersemayam. Menunggu mangsa berikutnya. Menanti mereka yang berani melampaui batas.

Bisikan-bisikan masih terdengar. Bagi siapa saja yang mendekat. Mengundang mereka ke kedalaman. Di mana waktu dan ruang menjadi ilusi. Di mana kengerian sejati bersembunyi.

Arya menulis laporannya. Bukan sebagai penelitian ilmiah. Melainkan sebagai peringatan. Sebuah pengakuan akan misteri yang tak terpecahkan. Keberadaan yang tak terpahami.

Ia tahu, penunggu itu tidak pernah pergi. Ia hanya menunggu. Di dalam kegelapan abadi Goa Kalisuci. Menjadi penjaga gerbang ke dimensi lain. Selamanya.

Dan terkadang, di malam sunyi. Arya bersumpah ia masih mendengar bisikan itu. Memanggil namanya. Dari jauh. Dari dalam perut bumi yang gelap.

Goa Kalisuci bukan hanya goa. Itu adalah gerbang. Gerbang menuju kengerian. Gerbang yang sebaiknya tidak pernah dibuka. Selamanya.

Penunggu Goa Kalisuci yang Menyeramkan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *