Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Barat

Suara Teriakan Itu Datang dari Arah Laut… Tapi Ombaknya Tenang

10
×

Suara Teriakan Itu Datang dari Arah Laut… Tapi Ombaknya Tenang

Share this article

Suara Teriakan Itu Datang dari Arah Laut… Tapi Ombaknya Tenang

Misteri Suara Teriakan di Pantai Baron

Pasir putih Pantai Baron memeluk kakiku dengan lembut. Ombak berdesir pelan, seolah berbisik rahasia purba. Arif, seorang peneliti fenomena anomali, datang ke sini bukan untuk liburan. Sebuah laporan samar tentang suara misterius menarik perhatiannya.

Malam pertama di penginapan sederhana, hening mencekam. Hanya desau angin laut yang menemaninya. Kegelapan pekat menyelimuti segalanya, menelan garis pantai yang familier. Sebuah ketenangan yang menipu, ia tahu.

Tepat saat jarum jam menunjuk pukul dua dini hari, sebuah suara melengking. Teriakan itu menusuk telinga, membelah keheningan malam. Bukan suara binatang, bukan pula raungan badai. Ini adalah jeritan pilu, penuh penderitaan.

Arif terkesiap, jantungnya berdebar kencang. Ia bangkit, mendekati jendela. Gelap gulita di luar tak menunjukkan apa-apa. Suara itu menghilang secepat ia datang, meninggalkan jejak dingin di udara.

Pagi harinya, ia bertanya pada pemilik penginapan. Seorang wanita tua dengan mata teduh namun menyimpan banyak cerita. Wanita itu hanya menggelengkan kepala, bibirnya terkatup rapat. Ada ketakutan di sorot matanya.

“Laut punya caranya sendiri, Nak,” bisiknya pelan. “Beberapa rahasia lebih baik dibiarkan terkubur.” Jawaban itu tidak memuaskan Arif, justru memicu rasa penasarannya. Ia harus menyelidiki lebih jauh.

Siang itu, Arif menyusuri garis pantai. Mencari petunjuk, jejak kaki, apa saja. Ia mengamati tebing-tebing curam yang menjulang gagah. Gua-gua kecil tersebar di sepanjang pesisir, mulutnya menganga misterius.

Ia bertanya pada beberapa nelayan yang sedang memperbaiki jaring. Mereka semua menunjukkan respons serupa: tatapan kosong, desahan napas berat, dan keengganan untuk berbicara. Mereka tampak tahu, namun enggan berbagi.

“Jangan mencari yang tidak perlu ditemukan,” kata seorang nelayan tua, matanya menatap tajam ke arah laut lepas. “Baron menyimpan banyak cerita yang tidak ingin didengar manusia.” Kata-kata itu beresonansi dalam benak Arif.

Malam kedua, suara itu kembali. Kali ini lebih dekat, lebih jelas. Jeritan itu terdengar seperti wanita, namun dengan resonansi yang aneh. Seolah berasal dari kedalaman, dari suatu tempat yang bukan di dunia ini.

Arif nekat. Ia meraih senter dan bergegas keluar. Menyusuri pantai yang gelap gulita, ia mengikuti arah suara. Angin laut berhembus kencang, seolah ingin menghalangi langkahnya. Pasir terasa dingin di telapak kakinya.

Teriakan itu membimbingnya menuju sebuah celah di antara tebing. Sebuah gua sempit yang nyaris tak terlihat dari kejauhan. Udara di sekitarnya terasa lebih dingin, membawa aroma lembap dan amis.

Dengan hati-hati, ia masuk ke dalam gua. Senter menyapu dinding batu yang basah. Suara tetesan air memecah keheningan. Teriakan itu kini terdengar seperti lolongan, menggema di lorong sempit.

Semakin dalam ia melangkah, semakin kuat suara itu. Namun, ia tidak menemukan sumbernya. Tidak ada jejak, tidak ada tanda-tanda kehadiran manusia. Hanya batu-batu purba dan kegelapan abadi.

Tiba-tiba, suara itu berhenti. Hening mencekam menyelimuti gua. Arif menahan napas, telinganya menajam. Ia merasa tidak sendiri. Sebuah kehadiran tak terlihat menyelimutinya, mengirimkan getaran dingin ke tulang sumsumnya.

Ia memutuskan kembali, langkahnya dipercepat. Rasa merinding tak bisa ia tepis. Ada sesuatu di gua itu, sesuatu yang tak bisa dijelaskan secara logis. Sesuatu yang bersembunyi di balik kegelapan.

Keesokan harinya, Arif mencoba mencari informasi dari sumber lain. Ia menemukan beberapa catatan lama tentang legenda lokal. Kisah-kisah tentang jiwa-jiwa yang terperangkap, tentang pengorbanan yang tak pernah usai.

Ada cerita tentang seorang gadis yang hilang ditelan ombak, jiwanya terperangkap di antara dua dunia. Atau tentang seorang pelaut yang dikutuk, suaranya abadi di hembusan angin laut. Semua hanya legenda.

Namun, suara itu terlalu nyata. Terlalu pilu. Bukan sekadar desiran angin atau pantulan ombak. Itu adalah suara penderitaan yang mendalam, yang mampu menggetarkan jiwa.

Arif kembali ke gua itu pada siang hari. Cahaya matahari masuk sebagian, menyingkap detail yang tak terlihat di kegelapan malam. Ia mencari retakan, celah, atau apa pun yang bisa menjadi petunjuk.

Di salah satu sudut gua, ia menemukan sebuah ukiran kuno di dinding batu. Simbol-simbol asing yang ia tidak kenali. Ukiran itu tampak sangat tua, seolah sudah ada sejak ribuan tahun lalu.

Di bawah ukiran itu, terdapat sebuah cekungan kecil. Di dalamnya, tergeletak sehelai kain lusuh yang tampak usang oleh waktu. Kain itu berwarna gelap, dengan motif yang sudah pudar.

Arif meraih kain itu. Saat jemarinya menyentuh materialnya, ia merasakan dingin yang menusuk. Bukan dingin suhu, melainkan dingin yang berasal dari kedalaman, dari energi yang tersimpan di dalamnya.

Ia membawa kain itu kembali ke penginapan. Mencoba menganalisisnya, mencari tahu asalnya. Kain itu terasa berat di tangannya, seolah memikul beban sejarah yang tak terbayangkan.

Malam ketiga. Kali ini Arif sudah siap. Ia duduk di teras penginapan, merekam suara dengan perangkat canggihnya. Hatinya berdebar, bukan hanya karena takut, tetapi juga karena antisipasi.

Tepat pukul dua dini hari, teriakan itu kembali. Lebih keras, lebih memilukan dari sebelumnya. Kali ini, Arif merasa suara itu memanggil namanya. Sebuah bisikan serak di balik lolongan.

Ia merasakan kehadiran yang lebih kuat. Seolah entitas tak terlihat itu kini berada di dekatnya, mengawasinya. Udara di sekitarnya terasa berat, menyesakkan. Jantungnya berpacu gila.

Arif memutar rekaman yang telah ia dapatkan. Suara itu terekam jelas, namun dengan distorsi aneh. Ada frekuensi di luar jangkauan pendengaran manusia, sebuah resonansi yang tidak biasa.

Ia menyadari sesuatu. Suara itu tidak datang dari satu titik. Ia bergerak. Seolah entitas itu mampu berpindah tempat, bersembunyi di antara tebing dan gua, bermain-main dengannya.

Rasa takut bercampur dengan obsesi. Arif harus menemukan jawabannya. Ia tidak bisa pergi dari Baron sebelum misteri ini terpecahkan, atau setidaknya, ia mendapatkan pemahaman yang lebih dalam.

Ia menghabiskan siang hari berikutnya dengan menjelajahi setiap gua, setiap celah di tebing. Mencari petunjuk, meskipun samar. Ia merasa semakin dekat, namun juga semakin terjebak dalam jaring misteri ini.

Ia menemukan jejak kaki yang aneh di pasir, terlalu besar untuk manusia biasa. Namun, jejak itu tiba-tiba menghilang, seolah pemiliknya lenyap ke udara tipis. Ini semakin membingungkan.

Malam itu, Arif memutuskan untuk bermalam di dekat gua tempat ia pertama kali mendengar suara. Ia membawa tenda kecil, berharap dapat menangkap sesuatu yang lebih substansial.

Kegelapan pantai terasa lebih pekat di sana. Suara ombak yang memecah karang terdengar seperti bisikan menakutkan. Bintang-bintang di langit tampak jauh dan dingin, seolah tak peduli.

Pukul dua dini hari, teriakan itu kembali. Kali ini, ia bisa merasakan getaran di tanah. Suara itu berasal dari bawah tanah, dari kedalaman yang tak terjangkau. Gua itu seolah bernapas.

Arif mendekati pintu gua, senternya bergetar di tangan. Ia mendengar suara lain. Bukan teriakan, melainkan rintihan pelan, seperti tangisan tertahan. Sangat dekat, sangat nyata.

Ia memberanikan diri masuk kembali. Senter menyapu kegelapan. Di ujung lorong, sebuah cahaya samar terlihat. Cahaya itu berdenyut, memanggilnya untuk mendekat.

Semakin dekat, ia melihat cahaya itu berasal dari sebuah celah sempit di dinding. Dari celah itu, terdengar bisikan. Kata-kata yang tidak ia pahami, namun mengandung kesedihan yang mendalam.

Arif mengintip melalui celah itu. Yang ia lihat hanyalah kegelapan yang lebih pekat, tak berujung. Namun, ia merasakan hembusan napas dingin dari dalam, membawa serta aroma kematian.

Tiba-tiba, suara teriakan itu meledak. Tepat di telinganya. Begitu keras, begitu menusuk, hingga Arif terhuyung mundur. Ia merasakan sentuhan dingin di lehernya, seperti jari-jemari es.

Ia terjatuh, senternya terlepas dari genggaman. Cahaya padam. Kegelapan mutlak menyelimutinya. Teriakan itu kini mengelilinginya, datang dari segala arah, memekakkan telinga.

Rasa takut yang luar biasa mencengkeramnya. Ia merangkak mundur, berusaha keluar dari gua. Teriakan itu tak berhenti, seolah ingin menariknya ke dalam kegelapan abadi.

Dengan napas terengah-engah, ia berhasil keluar. Ia berlari sekencang-kencangnya, menjauhi gua, menjauhi pantai. Teriakan itu masih menggema di telinganya, bahkan setelah ia jauh.

Arif tidak pernah kembali ke Pantai Baron. Misteri suara teriakan itu tetap tak terpecahkan. Ia tahu, ada sesuatu di sana yang berada di luar nalar manusia, sesuatu yang tak seharusnya diganggu.

Beberapa orang mengatakan itu adalah arwah pelaut yang tenggelam. Lainnya menyebutnya penjaga gaib lautan. Namun, bagi Arif, itu adalah jeritan penderitaan abadi, yang terkunci di antara ombak dan karang Baron.

Hingga kini, di malam-malam tertentu, ketika angin laut berhembus kencang, penduduk sekitar masih mendengar suara itu. Sebuah melodi pilu dari kedalaman, sebuah misteri yang takkan pernah usai.

Pantai Baron tetap menyimpan rahasianya. Pasir putihnya masih memeluk ombak, namun kini membawa serta kisah tentang jeritan yang tak pernah terdiam. Sebuah pengingat akan batas tipis antara dunia nyata dan yang tak terlihat.

Dan setiap kali ada pendatang baru yang bertanya tentang suara aneh itu, penduduk lokal hanya akan tersenyum samar. “Laut punya caranya sendiri,” bisik mereka, “beberapa rahasia lebih baik dibiarkan terkubur.”

Arif tahu, suara itu akan selalu menghantuinya. Setiap desiran angin, setiap deburan ombak, akan membangkitkan kembali ingatan tentang jeritan memilukan di Pantai Baron. Sebuah misteri abadi.

Misteri Suara Teriakan di Pantai Baron

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *