Scroll untuk baca artikel
Provinsi Sulawesi Selatan

Tak Ada yang Berani Membuka Tongkonan Itu Sejak Peristiwa Malam Itu

10
×

Tak Ada yang Berani Membuka Tongkonan Itu Sejak Peristiwa Malam Itu

Share this article

Tak Ada yang Berani Membuka Tongkonan Itu Sejak Peristiwa Malam Itu

Tongkonan Tua: Rahasia di Balik Atap Kerbau

Tongkonan Tua, sebuah mahakarya kayu dan ukiran, berdiri menjulang di tengah lembah Toraja. Atapnya melengkung gagah, seolah punggung kerbau raksasa yang membeku dalam waktu. Namun, di balik keagungannya, tersimpan bisikan kelam yang telah turun-temurun. Ia bukan sekadar rumah, melainkan penjaga rahasia.

Arga, pewaris terakhir garis keturunan yang hampir punah, melangkah memasuki pekarangan itu. Matanya menyapu ukiran rumit yang memudar, namun tetap memancarkan aura misteri. Ia datang bukan untuk merayakan, melainkan untuk mencari jawaban atas teka-teki keluarga yang telah menghantuinya.

Kisah tentang Tongkonan Tua selalu diselimuti tabir gelap. Banyak yang menghilang di dalamnya, atau menjadi gila setelah mencoba membongkar rahasianya. Arga, seorang pemuda skeptis, awalnya menganggapnya sebagai takhayul belaka. Namun, ia tidak tahu, Tongkonan itu punya caranya sendiri untuk berbicara.

Dingin menusuk tulang begitu Arga melewati ambang pintu utama. Udara di dalam terasa berat, penuh dengan aroma kayu tua dan sesuatu yang tak terdefinisikan, nyaris seperti bau tanah basah. Jendela-jendela kecil hanya membiarkan sedikit cahaya masuk, meninggalkan sebagian besar ruangan dalam kegelapan abadi.

Lantai papan berderit di setiap langkahnya, seolah mengeluh atau memperingatkan. Ukiran naga dan ayam jantan di dinding tampak hidup, mata mereka seolah mengawasinya dari setiap sudut. Sebuah perasaan tidak nyaman merayapi Arga, firasat buruk yang tak bisa ia abaikan.

Penduduk desa menjauhinya, bisikan mereka lebih menakutkan dari lolongan anjing hutan di malam hari. “Tongkonan itu haus,” kata seorang tetua, matanya dipenuhi ketakutan yang mendalam. “Ia telah menelan banyak nyawa, dan tidak akan berhenti sampai rahasianya terpenuhi.”

Malam pertama, Arga terbangun oleh suara ketukan samar dari lantai atas. Ia yakin itu hanya angin, namun ketukan itu berulang, ritmis, seolah ada yang mencoba berkomunikasi. Jantungnya berdebar, sebuah firasat tak menyenangkan merayapi jiwanya yang perlahan goyah.

Ia mencoba mencari sumber suara, namun ruangan atas kosong dan gelap gulita. Tidak ada jendela yang terbuka, tidak ada celah untuk angin masuk. Keheningan yang tiba-tiba kembali terasa lebih berat, seolah udara itu sendiri menyimpan rahasia yang tak terucap.

Esoknya, Arga mulai menjelajahi setiap sudut Tongkonan. Ruangan-ruangan besar dipenuhi artefak kuno, patung-patung leluhur yang menatap kosong. Setiap benda seolah punya cerita, namun Arga merasa seperti sedang mengganggu tidur panjang yang tak seharusnya ia sentuh.

Di sebuah sudut tersembunyi, di balik tumpukan kain tua, ia menemukan sebuah peti kayu. Di dalamnya, sebuah jurnal kulit yang usang tergeletak, baunya seperti tanah liat dan waktu yang terperangkap. Tulisan tangan di dalamnya mulai mengungkapkan kisah yang mengerikan.

Jurnal itu milik kakek buyutnya, menceritakan tentang ‘Pelanggaran Agung’ dan ‘Pengorbanan yang Tak Selesai’. Ada nama-nama yang terus disebut, nama-nama yang hilang tanpa jejak dari silsilah keluarga. Sebuah kegelapan yang disembunyikan di balik dinding Tongkonan.

Arga membaca dengan cemas, setiap kata memicu bayangan mengerikan dalam benaknya. Kakek buyutnya menulis tentang ‘Penjaga’, entitas yang mendiami Tongkonan, yang murka jika rahasia keluarga terancam. Ia merasakan merinding di punggungnya.

Malam-malam berikutnya semakin buruk. Bayangan-bayangan menari di tepi penglihatannya, seolah ada entitas tak kasat mata yang mengawasinya. Terkadang, ia mendengar bisikan, kata-kata kuno yang tak dimengerti, namun nadanya penuh kemarahan dan kesedihan yang mendalam.

Tongkonan itu terasa hidup, dan tidak menyukainya. Benda-benda kecil bergerak sendiri, pintu-pintu berderit dan tertutup tanpa hembusan angin. Arga mulai merasakan kedinginan yang menusuk, bahkan di bawah selimut tebal sekalipun.

Ia bermimpi buruk setiap malam. Mimpi tentang ritual kuno, jeritan yang teredam, dan wajah-wajah pucat yang menatapnya penuh kebencian. Dalam mimpinya, Tongkonan itu tampak hidup, atapnya berdenyut, dan ukirannya mengeluarkan cahaya merah samar.

Sebuah pola mulai terbentuk dalam jurnal. Kakek buyutnya sering menyebutkan ‘ruangan terlarang’ atau ‘tempat persembunyian’. Arga menyadari bahwa Tongkonan ini mungkin memiliki sebuah ruang rahasia yang belum ia temukan, inti dari misteri yang menyelimutinya.

Ia memeriksa setiap dinding, setiap pilar, mencari petunjuk. Di lantai dua, tepat di bawah puncak atap yang melengkung, sebuah dinding terasa berbeda. Lebih dingin, lebih padat, seolah ada sesuatu di baliknya yang memblokir suara dan energi.

Setelah pencarian teliti, Arga menemukan celah samar, sebuah garis tipis yang nyaris tak terlihat di antara ukiran-ukiran rumit. Itu adalah sebuah pintu tersembunyi, yang menyatu sempurna dengan pola dinding, dirancang untuk tidak pernah ditemukan.

Dengan segenap kekuatan, Arga mendorongnya. Pintu itu berderit pelan, mengeluarkan suara yang mengerikan, seperti rintihan panjang dari sesuatu yang telah lama terkunci. Udara di baliknya terasa pengap, dan sebuah aroma asing menusuk hidungnya.

Di balik pintu itu, sebuah ruangan kecil dan gelap terungkap. Tidak ada jendela, tidak ada penerangan. Di tengahnya, sebuah peti mati kayu kuno teronggok, dihiasi dengan simbol-simbol yang tak ia kenali, sebagian besar sudah usang dan berlumut.

Di sekeliling peti mati, sesajen kering dan sebuah pisau upacara berkarat tergeletak di lantai tanah. Aroma amis samar tercium, aroma darah yang sudah mengering entah berapa abad lamanya. Arga merasa mual, jantungnya berdegup tak karuan.

Jurnal kakek buyutnya tergeletak terbuka di sampingnya, seolah sengaja diletakkan di sana. Sebuah paragraf terakhir yang terbaca samar dengan tulisan tangan yang gemetar: “Untuk melindungi garis keturunan, ia harus dikorbankan. Rohnya terperangkap di sini, selamanya menjaga dan mengutuk.”

Kebenaran itu menghantam Arga seperti palu godam. Tongkonan ini bukan hanya rumah, melainkan makam. Makam dari seorang leluhur yang dikorbankan secara paksa, rohnya terkunci, menjadi ‘Penjaga’ yang murka, menuntut tumbal dari setiap generasi yang berani mendekati rahasianya.

Suara gemuruh tiba-tiba memenuhi ruangan, Tongkonan itu bergetar seolah murka. Ukiran-ukiran di dinding tampak hidup, mata mereka berkilat merah dalam kegelapan. Arga merasakan beban tak terlihat menekannya, mencoba menahannya di sana.

Bisikan-bisikan kuno berubah menjadi raungan. Aroma busuk semakin pekat, dan ia merasa seolah ada tangan-tangan dingin merayapi tubuhnya. Tongkonan itu tidak ingin ia pergi, ia ingin Arga menjadi tumbal berikutnya, melengkapi ‘Pengorbanan yang Tak Selesai’.

Dengan sisa tenaga, Arga berbalik, berusaha membuka pintu rahasia itu kembali. Namun, pintu itu seolah terkunci mati, menolak untuk bergerak. Ia terjebak, di dalam ruangan gelap bersama roh yang haus dan murka.

Bayangan-bayangan memanjang dari peti mati, bergerak mendekatinya. Arga bisa merasakan hawa dingin yang mematikan, kemarahan yang membakar. Ia memejamkan mata, menunggu apa pun yang akan terjadi.

Tiba-tiba, suara retakan keras memecah keheningan. Bukan dari dalam ruangan, melainkan dari luar. Tongkonan itu seolah runtuh, atapnya bergemuruh, dan Arga merasakan guncangan hebat.

Entah bagaimana, pintu rahasia itu terbuka sedikit, cukup untuk Arga merangkak keluar. Ia tidak menoleh ke belakang, berlari sekuat tenaga menuruni tangga, keluar dari rumah terkutuk itu.

Ia berlari tanpa henti, meninggalkan Tongkonan Tua yang kini mulai diselimuti kabut tebal. Di belakangnya, ia mendengar suara gemuruh yang semakin keras, seolah rumah itu sedang menangis atau meratap.

Arga tidak tahu apakah ia berhasil lolos dari genggaman Tongkonan Tua. Ia hanya berlari, meninggalkan kebenaran pahit itu di belakangnya, sebuah rahasia kelam yang terkubur dalam sejarah.

Namun, bisikan kuno itu masih terngiang, janji tentang rahasia yang tak pernah benar-benar mati. Tongkonan Tua tetap berdiri, penjaga abadi kegelapan, menunggu korban berikutnya.

Dan di balik atapnya yang megah, roh yang terkunci itu masih menunggu. Menunggu seseorang yang cukup berani untuk datang, membuka kembali peti mati itu, dan mengakhiri kutukan yang tak berkesudahan.

Kisah Tongkonan Tua masih akan terus diceritakan, dari bisikan ke bisikan, dari generasi ke generasi. Sebuah pengingat mengerikan akan harga dari sebuah rahasia yang terkubur terlalu dalam.

Tak Ada yang Berani Membuka Tongkonan Itu Sejak Peristiwa Malam Itu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *