Scroll untuk baca artikel
Provinsi Sulawesi Selatan

Di Balik Batu Makam Kuno Ini, Ada Rahasia yang Disembunyikan Selama Ratusan Tahun

10
×

Di Balik Batu Makam Kuno Ini, Ada Rahasia yang Disembunyikan Selama Ratusan Tahun

Share this article

Di Balik Batu Makam Kuno Ini, Ada Rahasia yang Disembunyikan Selama Ratusan Tahun

Makam Arka: Ketika Masa Lalu Bangkit Berbisik

Debu gurun berputar, menelan jejak kaki tim ekspedisi Arkeolog Dr. Aris. Di bawah terik matahari, jauh di jantung gurun tak bernama, tersembunyi sebuah legenda. Kisah kuno tentang Makam Arka, sebuah kuburan yang dilarang disentuh.

Desas-desus menyebutnya Makam Raja Tanpa Nama, tempat di mana waktu sendiri bertekuk lutut. Dr. Aris, dengan reputasi cemerlang namun jiwa yang gelisah, yakin ini lebih dari sekadar mitos. Ia membawa Elara, seorang linguis jenius, dan Markus, geolog skeptis.

Berbulan-bulan pencarian melelahkan akhirnya membuahkan hasil. Sebuah formasi batuan aneh, hampir seperti pahatan alam, muncul dari pasir. Di baliknya, retakan gelap menganga, menelan cahaya siang. Udara di sekitarnya terasa dingin, menusuk.

Langkah pertama masuk ke dalam Makam Arka adalah penyelaman ke kegelapan abadi. Bau apak tanah dan sesuatu yang tak teridentifikasi menusuk hidung. Obor mereka menari, mengungkap ukiran dinding yang mengerikan. Mata-mata terukir mengawasi dari segala sisi.

Elara dengan cepat mengenali aksara kuno yang tidak dikenal. “Ini bukan bahasa yang pernah tercatat,” bisiknya, suaranya tercekat. “Ini lebih tua dari peradaban manapun yang kita tahu.” Simbol-simbolnya adalah peringatan, bukan persembahan.

Setiap lorong menyempit, dihiasi relief makhluk-makhluk berwujud aneh. Bentuknya tak lazim, bukan dewa, bukan binatang. Mereka adalah penjaga, atau lebih tepatnya, sipir dari sesuatu yang terkunci rapat di dalam sana. Ketegangan merayapi setiap napas.

Markus, yang awalnya mencemooh takhayul, mulai merasakan tekanan. Alat-alatnya menunjukkan anomali magnetik dan energi yang tak bisa dijelaskan. “Ada sesuatu yang salah di sini, Aris,” gumamnya, keringat dingin membasahi pelipisnya.

Mendadak, Markus tergelincir. Sebuah jebakan kuno, tersembunyi sempurna. Mereka nyaris kehilangan dia ke dalam jurang tak berdasar. Makam itu seolah hidup, bernapas, menolak setiap intrusi dengan ancaman laten yang mengerikan.

Jauh di dalam kompleks, mereka menemukan sebuah ruang melingkar. Di tengahnya, sebuah batu besar berdiri tegak, memancarkan aura dingin. Bukan makam, melainkan semacam segel. Ukiran di sekitarnya jauh lebih rumit, lebih gelap.

Elara mendekat, jari-jarinya menyentuh permukaan batu yang kasar. “Ini… ini bukan makam,” gumamnya, matanya membelalak. “Ini adalah penjara. Untuk sesuatu yang sangat, sangat berbahaya.” Suaranya bergetar, ketakutan mulai nyata.

Aris merasakan jantungnya berdebar kencang. Selama ini, ia mencari pengetahuan, bukan kutukan. Simbol-simbol yang Elara terjemahkan sebagian berbicara tentang “Kekosongan yang Bernapas” dan “Mata yang Tidur”. Kata-kata itu menggema, mengganggu.

Tiba-tiba, suara gemuruh rendah terdengar dari dalam batu. Getaran merambat dari tanah, membuat obor bergetar. Udara menjadi berat, dingin yang menusuk tulang. Seolah-olah sesuatu di dalam sana mulai terbangun dari tidurnya yang panjang.

Markus panik, mencoba mundur. “Kita harus pergi, Aris! Sekarang juga!” Tapi Aris terpaku, terhipnotis oleh ukiran yang kini tampak bergerak-gerak. Rasa ingin tahu yang mematikan menguasai akal sehatnya.

Elara menunjuk sebuah celah kecil di dasar batu. “Ini adalah kuncinya,” bisiknya. “Ada sesuatu yang harus dimasukkan ke sini untuk membukanya. Sebuah pengorbanan, mungkin.” Ketegangan mencengkeram ruang itu.

Dengan tangan gemetar, Aris mengeluarkan liontin kuno yang ia temukan di lorong sebelumnya. Liontin itu terasa hangat di telapak tangannya. Bentuknya persis seperti lekukan pada celah di batu segel itu. Sebuah firasat buruk merayap.

“Tidak, Aris!” teriak Elara, menyadari niatnya. “Jangan! Kita tidak tahu apa yang akan terjadi!” Namun Aris, didorong oleh dorongan tak terkendali, sudah memasukkan liontin itu.

Cahaya biru samar memancar dari celah, menyebar perlahan ke seluruh permukaan batu. Ukiran-ukiran kuno mulai bersinar, berkedip-kedip. Suara gemuruh berubah menjadi dengungan bernada rendah, menggetarkan gendang telinga mereka.

Dinding-dinding ruangan retak. Debu dan puing-puing berjatuhan. Markus jatuh berlutut, menutupi telinganya. Aris dan Elara menyaksikan dengan ngeri saat batu segel itu perlahan-lahan terbelah.

Dari dalam, bukan harta karun atau kerangka raja yang muncul. Melainkan kegelapan yang lebih pekat, tanpa dasar, seolah menelan cahaya. Dari kegelapan itu, muncul bisikan tak berwujud, bahasa yang tak bisa dipahami, namun penuh ancaman.

Bisikan itu mendera pikiran mereka, membawa gambaran-gambaran mengerikan. Kota-kota yang runtuh, bintang-bintang yang padam, dan kehampaan yang menanti. Itu adalah suara Kekosongan itu sendiri, kebenaran yang terlalu besar untuk dicerna.

Elara menjerit, mencengkeram kepalanya. Markus merangkak mundur, matanya dipenuhi teror. Aris merasakan jiwanya terkoyak, akalnya diambang batas. Rahasia yang mereka cari bukanlah pengetahuan, melainkan horor kosmik.

Makam Arka bukanlah kuburan seorang raja. Ia adalah penjara bagi entitas kuno, kekuatan yang melampaui pemahaman manusia. Yang mereka bebaskan bukanlah roh, melainkan keberadaan yang haus akan kehancuran.

Dengan kekuatan terakhir, Aris menarik kembali liontin itu. Cahaya biru memudar. Batu segel itu kembali menutup, namun tidak sempurna. Sebuah celah tipis tetap ada, seperti kelopak mata yang sedikit terbuka.

Mereka melarikan diri dari makam itu, berlari tanpa henti, meninggalkan kegelapan yang baru saja mereka bangkitkan. Markus tidak pernah berbicara lagi. Elara sering terbangun di malam hari, berteriak dalam bahasa kuno yang mengerikan.

Aris sendiri selamat, namun jiwanya tercemar. Ia membawa pulang bukan artefak, melainkan pengetahuan yang melumpuhkan. Makam Arka telah menutup dirinya, namun rahasia yang terkandung di dalamnya kini telah merembes keluar.

Di bawah gurun yang tak berpenghuni, sebuah celah kecil tetap ada. Dari sana, bisikan Kekosongan terus terdengar, sangat samar, nyaris tak terdengar. Menunggu saatnya untuk membuka mata sepenuhnya.

Dan dunia, dalam ketidaktahuannya, terus berputar. Tidak menyadari ancaman kuno yang kini kembali bernapas, di bawah pasir yang diam. Makam Arka telah membuka tabirnya, dan rahasianya adalah kegelapan yang tak terbayangkan.

Makam Kuno yang Menyimpan Rahasia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *