Scroll untuk baca artikel
Provinsi Sulawesi Selatan

Pendakian ke Toraja yang Biasa… Berubah Jadi Teror Tak Terlihat

10
×

Pendakian ke Toraja yang Biasa… Berubah Jadi Teror Tak Terlihat

Share this article

Pendakian ke Toraja yang Biasa… Berubah Jadi Teror Tak Terlihat

Puang Tanduk: Misteri Bayangan di Puncak Toraja

Kabut tebal selalu menyelimuti puncak-puncak Toraja, seolah menyembunyikan rahasia kuno yang enggan terkuak. Di antara ukiran Tongkonan yang megah dan upacara Rambu Solo yang sakral, tersimpan bisikan tentang entitas tak kasat mata. Sebuah keberadaan yang lebih tua dari ingatan, lebih dingin dari batu nisan.

Dr. Arifin, seorang antropolog muda yang ambisius, tiba di Tana Toraja dengan semangat membara. Tujuannya adalah meneliti ritual kuno dan kepercayaan animisme yang masih kental. Ia ingin mendokumentasikan kearifan lokal sebelum tergerus zaman.

Namun, sejak kakinya menginjak tanah berbukit ini, Arifin merasakan aura yang berbeda. Bukan sekadar keagungan budaya, melainkan juga getaran misteri yang menusuk tulang. Penduduk desa memandangnya dengan tatapan hormat bercampur waspada.

“Anda datang jauh-jauh, Nak,” ujar Pak Rante, tetua adat berambut perak, suatu senja. “Toraja itu bukan hanya adat dan makam. Ada hal-hal yang tak perlu dicari tahu.”

Arifin hanya tersenyum maklum, menganggapnya sebagai nasihat seorang sesepuh. Ia menyewa sebuah Tongkonan kecil di pinggir desa, dikelilingi rimbunnya hutan pinus. Udara dingin pegunungan menyelimuti malam-malamnya.

Hari-hari pertamanya berjalan lancar. Ia mewawancarai warga, mengamati upacara, dan memotret lanskap. Namun, ia mulai merasakan kejanggalan kecil. Sebuah bayangan melintas di ujung matanya, suara gesekan daun padahal tak ada angin.

Awalnya, Arifin mengira itu hanya efek kelelahan. Otaknya terlalu banyak memproses informasi baru. Tetapi, sensasi dingin yang tiba-tiba muncul di ruangan hangat, atau bisikan samar yang terdengar seperti namanya dipanggil, membuatnya gelisah.

Suatu pagi, berita buruk menyebar di desa. Seorang pemuda, Tandi, yang dikenal suka berburu di hutan terlarang, menghilang tanpa jejak. Penduduk berbisik-bisik, wajah mereka pias ketakutan.

“Puang Tanduk,” bisik seorang wanita tua, jari keriputnya menunjuk ke arah puncak gunung yang diselimuti kabut abadi. “Dia datang lagi.”

Arifin, dengan naluri ilmiahnya, mencoba mencari penjelasan logis. Ia ikut dalam pencarian, menyusuri setiap jejak. Namun, ia tidak menemukan apa-apa selain keheningan hutan yang mencekam.

Pak Rante akhirnya menjelaskan lebih jauh tentang “Puang Tanduk”. Konon, ia adalah entitas purba berwujud bayangan pekat, bertanduk seperti kerbau, dan memiliki mata merah menyala. Ia adalah penjaga gunung dan pelindung makam leluhur.

“Puang Tanduk tidak suka dilanggar,” jelas Pak Rante. “Ia menghukum mereka yang merusak alam, mencuri benda suci, atau menodai adat. Ia tidak membunuh, Nak. Ia mengambil jiwa, mengosongkan raga.”

Cerita itu terdengar seperti mitos kuno, namun getaran ketakutan di mata Pak Rante begitu nyata. Arifin mulai merasa penasaran. Mungkinkah ada sesuatu di balik legenda ini?

Ia mulai menelusuri kisah-kisah lama, mencari pola di balik hilangnya orang-orang. Ia menemukan bahwa semua korban memiliki satu kesamaan: mereka pernah melanggar pantangan atau memasuki wilayah yang dianggap keramat.

Puncak gunung yang disebut-sebut sebagai sarang Puang Tanduk adalah daerah yang sangat dihindari. Konon, di sana terdapat gua-gua kuno yang menyimpan relik-relik purba dan roh-roh nenek moyang yang kuat.

Didorong rasa ingin tahu yang tak terbendung, Arifin memutuskan untuk mendaki. Ia tahu ini gila, tapi instingnya sebagai peneliti tak bisa dibendung. Ia ingin menemukan bukti, walau sekecil apa pun.

Pak Rante melarangnya keras. “Jangan, Nak. Itu bukan tempat manusia. Kau akan menyesal.” Namun, Arifin bergeming. Ia berbekal kamera, senter, dan tekad baja.

Perjalanan mendaki terasa sangat berat. Udara semakin dingin, kabut semakin pekat, dan pepohonan seolah membentuk labirin. Setiap langkah terasa diawasi. Suara napasnya sendiri terdengar begitu keras.

Akhirnya, setelah berjam-jam, ia menemukan sebuah celah batu yang nyaris tak terlihat. Sebuah pintu masuk ke dalam kegelapan. Udara dingin keluar dari sana, membawa bau tanah basah dan sesuatu yang busuk.

Arifin menyalakan senternya dan melangkah masuk. Dinding gua dipenuhi ukiran-ukiran kuno yang mengerikan, menggambarkan makhluk bertanduk yang memegang tengkorak. Hawa di dalam terasa menekan, seolah ada jutaan pasang mata mengawasi.

Ia menemukan jejak-jejak aneh di tanah lembap: bekas kaki yang tidak menyerupai manusia atau hewan. Lebih seperti cakar besar yang ditarik. Jantungnya berdebar kencang.

Semakin dalam ia melangkah, semakin kuat bau busuk itu. Lalu, ia melihatnya: sebuah tumpukan tulang-belulang yang berserakan di sudut gua. Beberapa di antaranya terlihat baru, sebagian lagi sudah lapuk.

Itu bukan tulang hewan. Itu adalah tulang manusia. Dan di antara tumpukan itu, ia melihat sebuah kalung perak yang dikenali Pak Rante sebagai milik Tandi.

Tiba-tiba, senternya berkedip-kedip, lalu padam sama sekali. Kegelapan total menyelimuti Arifin. Ia mendengar suara gesekan di dinding gua, seolah ada sesuatu yang merayap mendekat.

Napasnya tertahan. Jantungnya berpacu gila-gilaan. Ia merasakan hawa dingin yang menusuk, seolah embusan napas es di tengkuknya. Bau busuk itu semakin menyengat.

Sebuah bayangan hitam pekat mulai terbentuk di hadapannya. Lebih tinggi dari manusia, dengan siluet tanduk yang menonjol. Dua titik merah menyala muncul di tengah kegelapan, seperti mata iblis yang menatapnya.

Arifin menjerit, sebuah suara yang tertahan di tenggorokannya. Ia berbalik dan berlari sekuat tenaga, tanpa arah, menabrak dinding gua yang licin. Ketakutan murni menguasai dirinya.

Ia tidak tahu bagaimana, tetapi ia berhasil menemukan jalan keluar. Ia berlari menuruni gunung tanpa henti, tersandung akar, tergores dahan. Ia tidak peduli. Yang ada di benaknya hanya ingin jauh dari gua itu.

Ketika ia tiba di desa, tubuhnya gemetar hebat, wajahnya pucat pasi. Pak Rante dan beberapa warga segera mengerumuninya. Mereka melihat kengerian di matanya.

“Kau melihatnya, Nak?” tanya Pak Rante pelan, suaranya dipenuhi kesedihan.

Arifin tidak bisa bicara, hanya mengangguk lemah. Kata-kata tidak cukup untuk menggambarkan apa yang ia alami. Pikiran ilmiahnya hancur berkeping-keping.

Malam itu, Arifin tidak bisa tidur. Setiap suara angin, setiap bayangan di luar jendela, membuatnya melonjak ketakutan. Ia mendengar bisikan samar yang seolah memanggil namanya, lebih jelas dari sebelumnya.

Ia tahu Puang Tanduk telah melihatnya. Ia telah melanggar batas, dan kini ia menjadi sasaran. Ketakutan itu mencengkeramnya, lebih kuat dari apa pun yang pernah ia rasakan.

Keesokan harinya, Arifin memutuskan untuk pergi. Ia membereskan barang-barangnya dengan tergesa-gesa. Ia tidak peduli lagi dengan penelitian atau ambisinya. Ia hanya ingin selamat.

Pak Rante mengantarnya ke batas desa. “Toraja akan selalu ada di sini, Nak. Begitu juga dia. Kau telah melihat kebenaran yang tidak semua orang bisa hadapi.”

Arifin menatap puncak gunung yang diselimuti kabut, merasakan tatapan tak kasat mata dari sana. Ia tahu, meskipun ia pergi, bayangan Puang Tanduk akan selalu mengikutinya dalam mimpi.

Di dalam bus yang membawanya menjauh dari Toraja, Arifin terus menatap ke belakang. Kabut tebal semakin menyelimuti pegunungan, menyembunyikan rahasia gelap yang tak terpecahkan. Ia tidak tahu apakah ia akan pernah bisa melupakan mata merah menyala itu.

Misteri Puang Tanduk tetap hidup, sebuah peringatan menakutkan tentang batas antara dunia manusia dan dunia tak terlihat. Di puncak-puncak Toraja, di antara kabut dan bisikan angin, entitas purba itu terus menjaga wilayahnya.

Dan Arifin, seorang ilmuwan yang tadinya skeptis, kini menjadi saksi hidup. Ia tahu, di balik keindahan budaya Toraja, tersembunyi kegelapan yang siap menelan siapa pun yang berani melanggar. Sebuah misteri yang abadi, terukir di jantung pegunungan yang megah lagi menakutkan itu.

Makhluk Gaib di Pegunungan Toraja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *